NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Kali Ini Aku Memilih Menikahi Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.

Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.

Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.

Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.

Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.

Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Konfrontasi Maya

Maya menelan ludahnya yang terasa pahit. Harga dirinya memberontak keras. Tiga tahun lamanya ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah berurusan dengan orang-orang berbau uang. Mereka adalah jenis manusia kotor yang menjebloskan ayahnya ke penjara demi menutupi lubang pajak triliunan rupiah milik perusahaan.

Namun, kejadian di apotek pagi tadi menghancurkan semua ego itu.

Maya hanya bisa berdiri kaku di depan kasir apotek saat apoteker menolak memberikan obat penenang ibunya karena uangnya kurang dua puluh ribu. Ia ingat betul tatapan mengasihani dari orang-orang di antrean belakangnya. Ia terpaksa

pulang dengan tangan kosong.

Sesampainya di rumah, ibunya duduk di sudut kamar yang temaram. Mata wanita

paruh baya itu kosong menatap dinding lembap. Tidak ada tangis. Tidak ada

amarah. Hanya kekosongan yang membekukan darah Maya. Bau minyak angin

murahan dan sisa obat gosok memenuhi udara kamar sempit mereka.

"Bapakmu sudah kamu antar makanannya, May?"

Satu gumaman pelan dari ibunya itu akhirnya membuat Maya menyerah total. Ibunya

mulai kehilangan pegangan pada realitas. Depresi itu menggerogoti kewarasan

ibunya hari demi hari. Maya butuh uang. Ia butuh psikiater sungguhan yang lebih baik. Ia butuh obat penenang yang tidak ditanggung oleh asuransi pemerintah kelas tiga.

Satu jam kemudian, Maya berdiri di depan sebuah ruko dua lantai di pinggiran kota. Cat dinding luarnya sudah memudar karena cuaca. Lonceng kecil berbunyi nyaring ketika ia mendorong pintu kaca.

Ruangan di dalam ruko itu sangat sederhana. Ada beberapa meja kerja, tumpukan kardus air mineral, dan papan tulis putih.

Shaquena duduk di salah satu kursi. Wanita itu menatap Maya dengan sangat tenang. Tidak ada senyum kemenangan di wajah Shaquena. Tidak ada tatapan merendahkan.

"Kamu datang," sapa Shaquena pelan.

Maya melangkah maju dengan kaku. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh. "Ibu saya butuh perawatan psikiater. Tabungan saya sudah habis."

"Saya mengerti kondisimu."

"Saya butuh uang tunai hari ini juga," tegas Maya tanpa basa-basi. "Sebagai gantinya, saya akan menjadi pengacara Anda. Saya akan hancurkan Sebastian Mahendra lewat jalur hukum."

Shaquena mengambil sebuah amplop cokelat dari laci mejanya. Ia meletakkan amplop tebal itu ke atas meja.

"Ini untuk biaya pengobatan ibumu selama enam bulan ke depan," kata Shaquena. "Dan kamu bukan bawahan saya, Maya. Kamu adalah rekan aliansi saya."

Maya menatap amplop itu cukup lama. Ia mengambilnya dengan tangan sedikit gemetar.

Stefanus berjalan masuk dari ruang belakang membawa dua botol air mineral dingin. Pria pendiam itu meletakkan satu botol di meja kerja kosong dekat jendela.

"Itu mejamu," ucap Stefanus singkat. "Kamu bisa mulai bekerja hari ini."

Maya hanya mengangguk kaku. Pria ini adalah adik tiri Sebastian. Maya masih menyimpan curiga yang besar, tapi ia sangat membutuhkan uang ini.

Di sudut ruangan lain, seorang pemuda berkacamata sedang mengetik cepat di depan laptop. Shaquena memperkenalkan mereka berdua secara singkat. Pemuda itu bernama Daniel, seorang analis keuangan.

Maya duduk di kursinya dan langsung membuka laptop tua miliknya. Ia mulai membaca berkas kasus pajak ayahnya yang diberikan oleh Shaquena.

Suasana ruko itu sangat hening. Hanya terdengar suara ketukan keyboard dan dengung mesin pendingin ruangan. Ini adalah hal yang aneh bagi Maya. Tidak ada teriakan pelanggan toko. Tidak ada tagihan yang mengetuk pintu.

Maya mencuri pandang ke arah Shaquena dan Stefanus. Mereka berdua bekerja dalam diam. Sesekali Stefanus menyorongkan segelas air untuk Shaquena tanpa diminta. Shaquena menerimanya dengan senyum tipis.

Dinamika mereka berdua amat berbeda dengan kelicikan Sebastian yang selalu diceritakan ayahnya.

Fokus Maya kemudian beralih pada Daniel. Maya adalah mahasiswi hukum yang dilatih untuk mencari celah dan keganjilan perilaku. Instingnya sangat tajam.

Ia mengamati gelagat Daniel dari sudut matanya. Pemuda itu terlihat sangat gelisah. Daniel berkali-kali melirik layar ponselnya yang mati. Keringat dingin sesekali muncul di dahi Daniel padahal suhu ruangan sangat sejuk.

Jari-jari Daniel sering berhenti di atas keyboard. Tatapannya kosong menatap layar laptop. Gestur tubuhnya memancarkan rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam.

Maya menyipitkan matanya. Mantan kasir toko kelontong ini tahu persis gelagat orang yang menyembunyikan barang curian di dalam saku bajunya.

Menjelang sore, Maya perlu mencetak beberapa dokumen kontrak kesepakatan hukum. Ia bangkit dan berjalan menuju mesin pencetak dokumen yang terhubung ke jaringan komputer lokal ruko tersebut.

Mesin itu mengalami kendala kertas macet. Maya mendengus pelan. Ia menekan beberapa tombol pada layar sentuh mesin untuk memperbaiki perintah sistemnya.

Layar itu tiba-tiba menampilkan riwayat cetak dokumen terakhir dari semua perangkat.

Mata Maya langsung membelalak lebar.

Ada puluhan lembar dokumen berjudul "Analisis Distribusi Logistik Mahendra" yang dicetak pada pukul dua dini hari tadi. Nama pengguna yang mencetak dokumen fisik itu tertera sangat jelas. Daniel Prasetyo.

Maya mengingat ucapan Shaquena tadi siang. Data kelemahan logistik pelabuhan adalah senjata rahasia utama mereka untuk menyerang Sebastian. Data itu bersifat sangat rahasia.

Untuk alasan apa seorang analis keuangan mencetak dokumen fisik berisi data rahasia itu di tengah malam buta?

Insting hukum Maya langsung merangkai setiap kepingan fakta. Seseorang mencetak data fisik untuk menghindari pelacakan rekam jejak digital pengiriman email. Seseorang mencetak data di luar jam kerja agar tidak ada anggota tim lain yang melihat aksinya.

Ada mata-mata di dalam ruangan ini.

Dada Maya mendidih oleh amarah. Ingatan tentang ayahnya kembali menyambar kepalanya. Ayahnya dijebloskan ke penjara karena dikhianati oleh rekan kerja satu divisinya sendiri. Orang-orang yang berpura-pura menjadi teman, lalu menikam dari belakang demi uang.

Maya membatalkan perintah cetaknya. Ia mencabut paksa kabel mesin pencetak itu.

Gadis itu berbalik badan. Ia berjalan lurus menghampiri meja Daniel. Langkah kakinya sangat berat dan penuh perhitungan.

Daniel sedang sibuk mengetik pesan teks di ponselnya. Pemuda itu terkejut hingga ponselnya hampir jatuh ketika Maya tiba-tiba berdiri menjulang tepat di depannya.

"Ada apa, Maya?" tanya Daniel gugup.

Maya tidak langsung menjawab. Ia menatap lekat wajah pucat pemuda itu. Maya paling benci melihat wajah seorang pengecut.

"Kamu mencetak data logistik pelabuhan jam dua pagi tadi," tembak Maya dengan nada dingin.

Wajah Daniel langsung memucat pasi. Tangannya membeku kaku di atas meja.

"Aku... aku cuma mau membacanya ulang di rumah," jawab Daniel terbata-bata.

"Alasan yang sangat bodoh." Maya menatap mata Daniel dengan tajam. "Kamu bisa menyimpannya di ponsel jika hanya ingin membacanya. Salinan fisik hanya dibutuhkan jika kamu ingin menyerahkannya secara langsung tanpa jejak digital."

Daniel menelan ludah. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya.

"Kamu sengaja mencetaknya di tengah malam saat ruko ini kosong," cecar Maya tanpa ampun. "Kamu menemui seseorang pagi ini sebelum datang ke mari, kan?"

"Bukan begitu maksudku!" bantah Daniel panik. "Kamu tidak tahu apa-apa soal posisiku."

"Aku tahu persis posisi seorang pengkhianat murahan sepertimu." Maya menggebrak meja kerja Daniel dengan sangat keras.

Brak!

Suara gebrakan itu memecah kesunyian ruko. Shaquena dan Stefanus langsung menoleh dari meja mereka.

"Data itu bersifat sangat krusial bagi keselamatan kita semua," desis Maya menahan amarah. "Kamu mencetak salinan fisiknya untuk diserahkan kepada pihak luar. Kamu menjual informasi kita demi uang."

Stefanus bangkit dari kursinya dan melangkah cepat mendekati mereka. Wajah pria itu sangat tenang, tapi postur tubuhnya memancarkan intimidasi yang mematikan.

"Ada masalah apa ini, Maya?" tanya Stefanus tegas.

Maya menunjuk tepat ke wajah Daniel. Napas gadis itu memburu keras karena amarah yang tidak bisa lagi dibendung.

"Pria ini membocorkan data kita!"

1
watno antonio
lanjut thor
Carisoy
Baca nti ajh tunggu kalau sudah selesai revisi deh👍
DdCantik
Emang bisaan bikin cerita seru, jadi si shqena paling udah gila, mantaplah ayok lanjut
DdCantik
Semangat 💪💪💪💪
Fahreziy
👣👣👣
falea sezi
jd saquena uda gila kali q 😓
falea sezi
baru aja baca😕 uda nyesek😓 air mata keluar sendiir😓
DdCantik
ribet banget jadi orang kaya🤭
Pratiwiajah
kaya gini palingan beneran ada di Konoha sini ya????🤭
Pratiwiajah
ok Fik aku benci si basbas ini
Pratiwiajah
tragis bgt/Sob/
NolaRona
up🙏
Betharia Anggita Dominique
thor, bikin cerita mesti sadis👍
Betharia Anggita Dominique
bagussss👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
wih, kaga bisa bayangin begimana jadi shaqena duh
Betharia Anggita Dominique
keluarga lucknut
Jitison
ditunggu 🙏
Jitison
kasihan skali
Carisoy
lanjutkan yu
DdCantik
makin seru👍👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!