Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Lima jam berlalu dalam keheningan yang mencekam hingga perlahan, kelopak mata Arka bergerak.
Di bawah pendar lampu kamar VIP yang mulai meremang seiring bergantinya waktu, pria itu mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang masih kabur akibat sisa obat bius.
Hal pertama yang tertangkap oleh manik matanya adalah sosok wanita yang teramat ia cintai, sedang duduk setia di kursi tepat di samping ranjangnya.
"Mas Arka..." bisik Sari lirih.
Suaranya bergetar menahan haru melihat sepasang mata teduh itu akhirnya kembali terbuka.
Arka tidak langsung memikirkan rasa sakit di tubuhnya sendiri.
Sorot matanya yang sayu justru langsung tertuju pada dahi Sari yang kini terbalut kain perban putih.
Dengan suara yang teramat serak dan parau, ia memaksakan diri untuk berbicara.
"Dik... kamu... kamu nggak apa-apa?" tanya Arka, menatap perban itu dengan raut cemas yang begitu ketara.
Air mata Sari kembali menetes, namun kali ini bercampur dengan senyum lega.
Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari kanan Arka.
"Aku tidak apa-apa, Mas. Cuma luka kecil. Kamu jangan banyak bergerak dulu ya."
Arka perlahan mengalihkan pandangannya ke bawah.
Detik itu juga, dadanya terasa seperti dihantam godam yang teramat berat.
Ia melihat lengan kirinya yang kaku terbungkus gips putih tebal, begitu pula dengan kaki kanannya yang lurus tak bertenaga di balik balutan semen medis.
"Dik..." panggil Arka lagi, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lirih dan bergetar, sarat akan keputusasaan yang mendalam.
Sari yang memahami sorot mata itu segera mencoba mengalihkan pembicaraan agar Arka tidak larut dalam kesedihan.
"Mas haus, ya? Sebentar, aku ambilkan air hangat dulu.
Sebelum Sari sempat berdiri untuk mengambil gelas, Arka menahan jemari Sari dengan sisa tenaga di tangan kanannya.
Air mata perlahan mengalir dari sudut mata pria tegap itu, membasahi bantal rumah sakit.
Harga dirinya sebagai seorang lelaki seketika runtuh melihat kondisinya yang kini lumpuh tak berdaya.
"Dik... lupakan aku ya," bisik Arka, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Lihat kaki dan tanganku seperti ini. A-aku sudah tidak pantas lagi jadi suamimu. Aku, tidak akan bisa bekerja, tidak bisa mencari nafkah lagi untukmu."
Mendengar kalimat menyerah itu keluar dari bibir Arka, dada Sari terasa sesak luar biasa.
Ia langsung mencondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat manik mata Arka dengan tatapan yang sangat tegas, menyiratkan watak keras seorang CEO Maheswara yang tak pernah mundur dari badai.
"Ssshh... Mas, dengarkan aku," potong Sari dengan suara yang ditekan dalam, menahan isak tangisnya sendiri.
"Aku tidak peduli dengan semua gips ini. Mulai hari ini, aku yang akan menjadi tangan dan kakimu, Mas. Aku yang akan menopangmu."
Arka menggelengkan kepalanya perlahan, air matanya kian deras. "Tapi aku hanya membebani—"
"Kalau Mas tetap memaksaku untuk pergi dan melupakanmu," sela Sari dengan kilat mata yang nekat dan bersungguh-sungguh, "lebih baik aku melompat dari jendela rumah sakit ini sekarang juga!"
Ceklek!
Tepat saat kalimat bernada ancaman ekstrem itu selesai diucapkan oleh Sari, pintu penghubung kamar rawat terbuka.
Nenek Maheswara melangkah masuk dengan anggun namun berwibawa, bertumpu pada tongkatnya yang mengetuk lantai keramik dengan ritme yang teratur.
Nanda juga mengekor dengan wajah yang terkejut.
Nenek Maheswara menaikkan sebelah alisnya, menatap lurus ke arah cucunya yang sedang berdiri tegak di samping ranjang Arka dengan wajah yang memerah karena emosi.
"Ini ada apa? Kok baru sadar sudah ribut-ribut mau melompat dari rumah sakit?" tanya Nenek dengan nada suara yang datar namun sarat akan penekanan, mengintimidasi atmosfer dramatis di dalam ruangan tersebut.
Mendengar pertanyaan sang nenek, Sari langsung menoleh.
Wajahnya yang pucat tampak berkerut menahan rasa sesak di dada.
Ia menunjuk gips yang membungkus tangan dan kaki Arka, lalu menatap neneknya dengan pandangan mengadu.
"Mas Arka meminta agar aku melupakannya, Nek! Dia bilang dia tidak pantas lagi menjadi suamiku hanya karena kondisinya yang sedang terluka seperti ini," ucap Sari dengan suara yang kembali bergetar, menumpahkan kekesalannya.
Arka yang terbaring kaku hanya bisa menundukkan kepala.
"Nenek, maafkan saya. Saya hanya tidak ingin menjadi beban untuk Sari. Dengan tangan dan kaki yang hancur begini, bagaimana saya bisa menjaga cucu Nenek?" bisiknya penuh penyesalan.
Nenek Maheswara berjalan mendekat, mengetukkan tongkatnya ke lantai sekali dengan pelan.
Beliau menatap bergantian ke arah cucunya dan Arka, lalu mengembuskan napas panjang.
Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, terukir di wajah sepuhnya yang berwibawa.
"Ishhh... kalian ini benar-benar ya. Masih muda tapi dramatisnya sudah seperti Romeo dan Juliet saja," seloroh Nenek, membuat atmosfer ketegangan di dalam kamar VIP itu seketika sedikit mencair.
Nanda yang berdiri di belakang Nenek bahkan harus menyembunyikan senyum kecilnya di balik telapak tangan.
Nenek Maheswara melangkah lebih dekat ke sisi ranjang Arka.
Sorot mata tuanya yang tajam kini berubah menjadi sangat teduh, memancarkan kearifan seorang wanita yang sudah menepis ratusan badai kehidupan.
"Arka, dengarkan Nenek," ujar Nenek dengan suara yang dalam dan menenangkan.
"Laki-laki yang hebat itu bukan diukur dari seberapa kuat otot tangan dan kakinya saat ini, melainkan dari seberapa kokoh tanggung jawab dan ketulusan di dalam hatinya. Gips di tubuhmu itu bisa dilepas dalam beberapa bulan, tapi ketulusanmu yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk cucuku kemarin, itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun."
Nenek lalu melirik Sari yang masih cemberut dengan mata sembap.
"Dan kamu, Sari. Berhenti mengancam hal-hal bodoh seperti melompat dari jendela. Kamu itu CEO, gunakan otakmu, bukan cuma emosimu."
Sari mendengus pelan, namun ia langsung menggenggam kembali jemari tangan Arka dengan erat, seolah menegaskan bahwa ia tidak akan melepaskannya.
Nenek Maheswara kembali menegakkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Arka dengan pandangan yang tidak menerima bantahan.
"Nenek tidak suka menunda-nunda sesuatu yang baik. Apalagi setelah melihat ada orang yang sengaja ingin mencelakai kalian," tegas Nenek, menyiratkan bahwa beliau tahu ada dalang di balik kecelakaan ini.
"Nenek tidak mau mengambil risiko lagi. Berkas-berkas yang sudah kalian siapkan kemarin akan Nenek minta Nanda untuk urus hari ini juga."
Arka dan Sari tertegun, saling berpandangan dengan bingung.
"Maksud Nenek bagaimana?" tanya Sari.
"Kalian akan tetap menikah secepatnya," titah Nenek mantap.
"Tidak perlu menunggu Arka sembuh total atau keluar dari rumah sakit. Nenek meminta agar kalian menikah secara sederhana dulu di dalam ruangan rumah sakit ini. Nanda akan memanggil pihak KUA dan penghulu untuk datang ke sini besok pagi."
Arka membelalakkan matanya, jantungnya berdegup kencang.
"N-Nenek... tapi keadaan saya—"
"Tidak ada tapi-tapi, Arka," potong Nenek dengan senyum hangat namun penuh kuasa.
"Kamu sudah sah menjadi pilihan cucuku, dan kamu juga sudah menjadi pilihan Nenek. Besok pagi, di kamar ini, kamu akan resmi menjadi bagian dari keluarga Maheswara."
Mendengar keputusan mutlak sang Nenek, air mata haru kembali menetes di pipi Sari.
Ia menatap Arka yang akhirnya hanya bisa pasrah dengan binar kebahagiaan yang mulai kembali menyeruak di matanya.
Di dalam ruangan bernuansa putih itu, sebuah ikatan suci yang tak tergoyahkan oleh lumpuhnya raga kini siap diikrarkan.
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎