Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lah Kesel? 35
"Kamu apa-apaan sih, Far? Tujuan kita ke sini kan mau healing sejenak. Katanya kamu sumpek, minta jalan-jalan? Aku lho udah ngegagalin planning aku buat ketemu sama calon klien karena mau nemenin kamu. Tapi apa yang kamu lakuin ini sekarang?"
Amar merasa kesal saat ini atas tingkah Farrah yang menurutnya kekanak-kanakan. Bagaimana tidak, Farrah langsung naik pitam ketika melihat dirinya yang tanpa sengaja bertemu dengan Arimbi.
Wanita itu hanya diam, tak menjawab apa yang Amar katakan. Rasa kesal dalam dirinya masih memenuhi hatinya.
Sebenarnya ada sebab lain yang membuat Farrah bersikap demikian. Ketika dia menginjakkan kaki di pusat perbelanjaan itu, ucapan-ucapan buruk tentang dirinya langsung terdengar. Farrah awalnya tidak peduli. Akan tetapi perkataan orang-orang semakin tidak karuan apalagi saat menyinggung Afira.
"Karma sih itu. Anaknya meninggal. Tapi sebenarnya bagus juga, kasihan anaknya lahir dari hasil selingkuhan. And then, kita nggak tahu itu anak hasil zina atau hasil setelah menikah."
"Bener juga. Malah yang ada kasihan sama anaknya, selamanya bakalan di cap sebagai anak pelakor. Lagian, dia kok ya pede gitu lho keluar jalan-jalan, nunjukkin mukanya. Lihat tuh, jilbab besarnya sana gamis lebarnya, nggak sesuai banget sama kelakuannya kan?"
Perkataan demikian tak hanya terdengar sekali dua kali ketika Farrah lewat. Hampir setiap tempat yang dilewati dan dikunjunginya selalu membicarakan tentang dirinya.
Dan, perkataan yang lebih membuatnya geram yakni ketika dirinya berada di kamar mandi. Farrah meminta izin kepada Amar untuk ke kamar mandi sejenak. Di sana ada dua wanita yang tengah memperbaiki riasan. Ketika Farrah masuk ke toilet, dua wanita itu langsung membicarakannya.
"Gila, masih cakepan istri sah kemana-mana woy. Apa sih yang dilihat dari tuh cewek."
"Hush, nanti denger."
"Sengaja, biar denger. Lagian emang bener kok, fakta ini mah kalau cakepan Arimbi ketimbang si Parah."
Farrah sangat geram. Ingin sekali dia menyumpal mulut wanita itu. Namun ketika dia keluar dari toilet dua wanita tersebut sudah tidak ada.
Rasa kesal yang belum hilang tersebut kembali mencuat dan menggebu-gebu ketika melihat Amar berdiri berhadapan dengan Arimbi.
Dada Farrah terasa penuh sesak, dan emosinya membara. Kata-kata "Arimbi lebih cantik dari pada Farrah" langsung terngiang di kepalanya.
Dengan langkah besar, Farrah menghampiri Arimbi lalu terjadilah keributan kecil tersebut.
Alhasil bukan healing yang ia dapatkan melainkan rasa kesal dan omelan Amar. Amar memutuskan untuk pulang dan tak jadi berkeliling pusat perbelanjaan. Bukan pulang ke rumah melainkan pulang ke kantor.
"Sekarang terserah kamu mau apa. Aku bakalan pergi buat nemuin calon klien. Far, seharusnya kamu bantu aku. Kamu bantu aku dengan bersikap tenang jika emang kamu nggak bisa bantu aku dalam hal pekerjaan. Please, saat ini usahaku beneran lagi nggak baik-baik aja. Kalau kayak gini terus aku bisa beneran bangkrut, kamu tahu nggak."
Amar bicara dengan tegas. Dia sangat pusing memikirkan nasib perusahaan. Terlebih sekarang tabungan modal yang dimilikinya juga semakin menipis.
Jika klien yang masuk hanya klien kecil-kecil, maka itu akan membuat perusahaannya rugi. FAE membutuhkan banyak klien besar agar bisa terus berkembang.
Blak!
Amar keluar dari ruangannya sambil menutup pintu dengan keras sehingga bunyinya begitu nyaring. Jujur Farrah merasa sangat terkejut. Dia sama sekali tidak pernah menduga jikalau Amar bisa berbicara seperti itu dengannya.
Selama mengenal dan akhirnya menikah, belum pernah Amar bicara dengan nada tinggi dan keras seperti ini. Maka dari itu, sepanjang Amar berbicara Farrah sangat terkejut.
Hiks
Tangisnya pecah. Hatinya terasa sangat sakit dengan perlakuan Amar kepadanya. Alhasil Farrah hanya bisa duduk termenung sendirian di ruangan Amar sambil meratapi keberadaan dirinya yang merasa sepi.
"Kenapa aku harus mengalami ini? Apakah anak sebatang kara, anak yatim piatu sepertiku pantas mendapatkan rasa sakit begini. Kenapa Ya Allah, kenapa. Orang tua aku tak punya, dan anak yang kumiliki pun Engkau ambil. Semua orang bicara buruk tentang ku dan sekarang suamiku juga bersikap dingin serta tak acuh. Kenapa, kenapa aku harus mendapatkan perlakuan kayak gini."
Sambil mengeluhkan kenyataan yang menimpanya, air mata Farrah sama sekali tak mau berhenti. Berkali-kali dirinya mengusap pipinya yang basah, air mata itu akan kembali menggenang di sana.
"Dia, hidup dia jelas sempurna. Dia punya orangtua yang lengkap dan menyayanginya. Dia juga punya harta. Lalu kenapa malah aku yang harus ngerasain sakitnya? Kenapa dia bisa bersikap baik-baik saja padahal kehidupannya jelas tersandung?"
Farrah rupanya membandingkan dirinya dengan Arimbi. Dari perkataannya, Farrah seolah merasa tidak adil dengan apa yang saat ini menimpa dirinya.
Mungkin dia juga ingin Arimbi merasakan kesedihan yang dirasakannya. Akan tetapi melihat wajah Arimbi yang sangat tenang dan berseri itu, jelas bahwa Arimbi baik-baik saja seolah dirinya sama sekali tidak mengalami hal buruk.
Padahal jelas-jelas pernikahannya selama tujuh tahun itu baru saja kandas. Farrah merasa ada hal yang mengusik hatinya ketika melihat Arimbi yang bisa berdiri tegap tanpa ada kesedihan di wajahnya.
"Nggak, aku nggak boleh nangis-nangis kayak gini. Udah udah beberapa bulan berlalu. Meski putusan cerainya baru tadi pagi, tapi aku yakin orang-orang udah mulai lupa dengan aku. Bener, aku juga harus bangkit. Aku harus wujudin keinginan aku buat bikin butik. Aku masih punya follower di media sosial. Aku bakalan promosiin baju aku di sana."
Farrah mengusap wajahnya. Ia seolah mendapatkan semangat kembali. Tangannya mulai bergerak di atas tablet, membuat rancangan baju yang sangat diimpikannya. Bukan baju yang ribet tapi sebuah gamis dimana dia sangat ingin membuat brand nya sendiri.
TBC
masih muda kaya raya ganteng setia dan mencintai pa lgi🤔🤔🤔🤔
NT nya yg eror ya
semangat Thor ...