Nikah muda? ✅
Nikah online? ✅
Satu kelas sama suami sendiri yang ternyata idola sekolah? Nah, yang ini di luar prediksi BMKG!
Satu tahun lalu, sebuah ijab kabul via video call mengikat takdir Ellea dengan seorang pria di kota. Tanpa cinta, tanpa tatap muka langsung.
Kini, Ellea harus menyusul sang suami ke kota setelah kepergian neneknya. Namun, saat tiba di sana, justru pria itu kabur dari rumah dan takdir membawa mereka untuk bertemu kembali di koridor sekolah.
Pria itu bernama Albiru, pria yang paling dielu-elukan, sang kapten tim basket yang dingin dan tak tersentuh, ternyata adalah pemilik cincin yang sama dengan yang melingkar di jari Ellea.
Bagaimana cara Ellea menyembunyikan rahasia besar ini di depan teman-teman barunya? Dan mampukah sang kapten basket mengenali istrinya sendiri yang bercadar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilazahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepuluh Bulan
"Ayo duduk sini!" titah Albiru sekali lagi. Suaranya sedikit meninggi, tidak menerima penolakan lebih lanjut.
Ellea mengembuskan napas berat. Sadar bahwa meredam kemarahan Albiru jauh lebih aman daripada memancing macan yang sedang mengantuk, ia pun melangkah terpaksa. Dengan gerakan lambat, Ellea mendekati tempat tidur dan mendudukkan dirinya di ujung ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin dari suaminya.
Albiru mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Ia meraih sebuah buku tebal dari meja nakas dan melemparkannya pelan ke pangkuan Ellea.
"Mana tugas yang kemarin gue kasih? Sudah mengerti belum?" tanya Albiru sembari melipat kedua tangan di dada.
Ellea mengerjapkan matanya. Ia menatap buku paket matematika di pangkuannya, lalu beralih menatap Albiru dengan sisa-sisa kepanikan yang mendadak menguap, digantikan rasa bingung. "Oh ... kirain mau apa."
Tuk!
"Aduh!" pekik Ellea spontan sembari memegangi keningnya.
Albiru baru saja menyentil keningnya dengan jari telunjuk. Sentilan itu pelan, namun cukup sukses membuat Ellea kaget.
"Kamu pikir aku cowok mesum, hmmm?" tanya Albiru dengan sebelah alis terangkat, menatap ketus namun ada binar geli di matanya.
Ellea mendengus, tangannya masih setia mengusap kening di balik sela-sela khimarnya. "Memang. Buktinya kemarin ... Kakak cium aku di kelas?" ucapnya asal ceplos tanpa disaring terlebih dahulu.
Detik itu juga, suasana kamar mendadak hening. Albiru langsung membeku. Ia tidak menyangka gadis pemalu yang biasanya irit bicara ini bisa melontarkan kalimat seberani itu dengan wajah datar. Albiru salah tingkah sendiri. Ia berdeham canggung, lalu tangan kanannya naik untuk menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Itu ... itu kan karena lo yang mancing-mancing emosi gue duluan," kilah Albiru, memalingkan wajahnya sejenak demi menyembunyikan semburat merah yang mendadak muncul di telinganya.
Ellea merapatkan bibirnya, merutuki kebodohannya sendiri karena telah membahas insiden memalukan itu.
Namun, sifat jahil Albiru tidak butuh waktu lama untuk kembali bangkit. Pria itu mendadak memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka hingga Ellea bisa merasakan embusan napas hangat suaminya.
"Lagian, kalau elo salah dan nggak nurutin kata-kata gue, baru gue cium lagi. Adil, kan?" bisik Albiru dengan seringai usil yang membuat bulu kuduk Ellea meremang. "Sekarang gue tanya serius. Elo bohongin gue, kan, soal jadian sama si Andra?"
Ellea terdiam. Sepasang mata abu-abunya bergerak gelisah, menatap jemarinya yang saling bertautan di atas buku paket. Kebohongan yang ia susun kemarin di kelas rasanya sudah tidak ada gunanya lagi.
"Iya, maaf," cicit Ellea lirih, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Aku cuma ... aku cuma ingin kamu menjauh.”
Mendengar pengakuan jujur itu, ada sebersit rasa lega yang teramat besar menyeruak di dalam dada Albiru. Plong. Rasanya seperti beban berat yang menghimpit jantungnya sejak kemarin mendadak diangkat begitu saja. Berarti Ellea belum menjadi milik siapa pun. Pria brengsek bernama Andra itu belum berhasil menyentuh kepolosan istrinya.
Albiru mengulum senyum, namun dengan cepat ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedatar mungkin agar wibawanya sebagai suami tidak jatuh.
"Bagus kalau lo sadar," ujar Albiru, berpura-pura ketat. "Maka dari itu, mulai sekarang, gue ralat ucapan gue yang sebulan lalu. Soal kesepakatan kalau lo bebas deketin cowok lain ... itu resmi gue hapus."
Ellea tersentak, ia langsung mendongak menatap Albiru. "Apa?"
"Nggak ada bantahan," tegas Albiru, menatap sepasang mata abu-abu itu dengan intensitas yang tinggi. "Pokoknya, lo nggak boleh dekat sama cowok mana pun selain gue. Di sekolah, di luar sekolah, di mana pun. Jarak aman lo sama cowok lain itu minimal dua meter. Paham?"
"Kakak egois!" protes Ellea, suaranya naik satu oktav. "Kakak sendiri bebas jalan sama Sandra, kenapa sekarang aku malah dikurung seperti ini? Ini tidak adil namanya!"
Albiru menaikkan sebelah alisnya, tidak terganggu sama sekali dengan protes istrinya. "Mau membantah? Mau dihukum pakai ciuman lagi kayak kemarin?"
Ellea secara refleks langsung memundurkan tubuhnya hingga ke tepi ranjang, sementara kedua tangannya bergerak cepat menutup mulutnya yang sebenarnya sudah tertutup rapat oleh selembar kain cadar. Tindakan yang spontan itu membuat Albiru tidak bisa lagi menahan tawa renyahnya.
“Makanya, jadi istri itu yang penurut,” ledek Albiru sembari mengacak rambutnya sendiri dengan gemas, lalu kembali menarik laptopnya. “Dah, sekarang buka halaman seratus dua puluh. Kerjain lima soal pertama. Kalau ada yang nggak paham, tanya gue.”
Ellea mendengus kesal di balik cadarnya, namun ia tetap membuka buku matematika tersebut dengan kasar. Tangannya dengan sengaja membalik halaman buku dengan suara robekan kecil yang kentara untuk menunjukkan protesnya. Albiru yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis, kembali memfokuskan dirinya pada layar laptop tanpa berniat menggoda Ellea lebih jauh lagi.
Namun, keheningan itu kembali merayap di antara mereka selama beberapa menit. Ellea hanya menatap nanar deretan angka di hadapannya tanpa benar-benar menggoreskan pena. Pikirannya melayang jauh, dipenuhi gumpalan rasa sesak yang tak kasat mata.
Albiru yang menyadari pergerakan tangan istrinya terhenti, langsung menoleh. Ia mengetuk meja dengan pulpennya. “Ellea, ayo kerjakan. Kenapa diam saja?”
Ellea tersentak, lalu buru-buru memosisikan penanya di atas kertas. “Iya, iya, ini juga lagi ngerjain kok.”
“Sebulan lagi kita ujian, kamu harus fokus,” ujar Albiru, nadanya melembut, menyiratkan perhatian yang samar. “Gue nggak mau nilai lo turun cuma gara-gara pikiran lo bercabang ke mana-mana.”
Ellea menghentikan gerakan penanya lagi. Kalimat Albiru barusan seolah memicu sesuatu yang sejak lama mengganjal di dadanya. Ia mendongak, menatap langsung ke sepasang netra elang suaminya. “Kakak juga harus fokus. Bukannya Kakak mau kuliah di Singapura bersama Sandra?”
Albiru mengernyitkan dahi dalam-dalam. Dahinya berkerut heran mendengar nama mantan kekasihnya disebut dalam rencana masa depannya. “Nggak. Kata siapa?”
“Kata Sandra langsung. Siapa lagi?” jawab Ellea, suaranya terdengar datar namun ada nada getir yang tipis di sana. “Dia bilang kalian sudah merencanakan ini sejak lama.”
“Nggak. Jangan dengerin omongan dia,” tangkis Albiru cepat, seolah enggan membahas topik itu lebih jauh. “Mana mungkin Bunda dan Papa ngizinin gue kuliah jauh-jauh ke luar negeri di situasi kita yang sekarang.”
Ellea tersenyum kecut di balik kain cadarnya. Entah kenapa, jawaban Albiru justru memancing rasa ingin tahunya yang lebih dalam atau mungkin, rasa sakit yang ingin ia pastikan kebenarannya.
“Jadi ... kalau mereka ngizinin, Kakak bakal jadi dong kuliah sama Sandra di sana?” tanya Ellea, menatap lurus ke dalam manik mata Albiru. “Kalian itu benar-benar pasangan yang nggak mau dipisahkan, ya? Tapi tenang saja, Kak. Sisa sepuluh bulan lagi kok pernikahan kita. Setelah itu, Kakak bebas pergi ke mana pun bersama dia.”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ellea, terdengar seperti sebuah kepasrahan, namun sekaligus sebuah hantaman telak bagi Albiru. Suasana kamar seketika berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.
Mata mereka saling menatap dalam keheningan yang menyiksa, mengunci satu sama lain. Ada riak emosi yang tertahan di sana, seakan-akan ada sebuah pembatas transparan yang membuat mereka tak bisa saling menjangkau lagi. Albiru mengepalkan tangannya di bawah meja, dadanya bergemuruh hebat mendengar bagaimana Ellea menghitung sisa waktu kebersamaan mereka dengan begitu mudah.
Albiru memutus kontak mata itu terlebih dahulu. Ia menarik napas panjang demi menguasai gemuruh di dadanya, lalu kembali menatap buku paket di depan Ellea.
“Kerjakan dengan benar!” perintah Albiru perlahan, menutup rapat-rapat ruang perdebatan siang itu.