Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan Surat yang Tertukar
Hujan lebat mengguyur perbatasan utara sejak subuh, sehingga jalanan tanah di sekitar barak menjadi kubangan lumpur yang dalam.
Di dalam rumah dinas, hawa dingin terasa lebih menggigit dari biasanya. Erica Fiorenza duduk di kursi meja makan, menikmati hangatnya teh jahe buatannya sendiri sembari memeriksa hasil dari potongan kerah seragam Persit yang berhasil diselesaikan para ibu kemarin.
Tok! Tok! Tok!
Daun pintu depan terbuka dengan cepat. Axelo melangkah masuk dengan mantel hujan militer transparan yang basah kuyup.
Di bawah ketiaknya, dia mendekap sebuah tas kulit kedap air dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan, raut wajahnya memang tegang tapi sedikit ingin tertawa.
"Nyonya Besar, Jenderal ada di dalam?" tanya Axelo setengah berbisik sembari melepas mantelnya yang meneteskan air ke lantai papan.
"Eshar sedang memeriksa gudang senjata di sektor barat, Axelo. Ada apa?" Erica langsung meletakkan contoh kainnya, fokusnya beralih sepenuhnya pada asisten suaminya itu.
Axelo duduk di hadapan Erica dan membuka tas kulitnya. Dia mengeluarkan dua pucuk surat dengan amplop yang identik, tapi ada coretan kode pensil yang berbeda di sudut kanan atas.
"Siasat kita berhasil, Nyonya," ujar Axelo dengan binar mata jahil yang khas.
"Sesuai perintah Jenderal kemarin, saya menahan surat aduan Nyonya Ratna yang ditujukan untuk Nyonya Bianca di Jakarta, dan mengganti alamat penerimanya khusus untuk Daniel. Tapi tebak apa yang kami temukan? Tadi malam, kurir rahasia kiriman Daniel dari Jakarta mencoba menyelinap masuk melalui jalur belakang pos logistik untuk mengantarkan surat balasan untuk Nyonya Ratna. Dua-duanya berhasil dicegat oleh intelijen kita."
Erica menyipitkan matanya.
"Apa isi surat Daniel untuk Nyonya Ratna?"
Axelo pun menyodorkan salah satu surat yang segel lilinnya sudah dilelehkan dengan rapi oleh tim intelijen pangkalan.
Erica membukanya dan membaca tulisan tangan Daniel yang terlihat berantakan karena terburu-buru.
Dari: Daniel Megantara
Nyonya Ratna yang terhormat,
Saya sudah menerima surat Anda mengenai kehadiran Erica di perbatasan. Jangan biarkan perempuan licik itu mendapatkan simpati dari para istri perwira di sana. Saya tahu Paman Eshar membiayai proyek konveksinya menggunakan dana distrik.
Saat ini, saya sedang menyelesaikan kontrak besar dengan investor dari Hong Kong untuk menyelundupkan kain berkualitas tinggi lewat pelabuhan tikus di sektor utara yang dekat dengan wilayah kekuasaan suami Anda. Jika Mayor Bambang bisa melonggarkan patroli di titik koordinat yang saya lampirkan minggu depan, saya berjanji akan memberikan komisi sepuluh persen dari keuntungan bersih untuk menyuap atasan agar memberikan kenaikan pangkat suami Anda di Jakarta.
Pastikan Erica tidak mencium rencana ini.
Erica mendengus, lalu tawa hambar keluar dari bibirnya yang merah pucat.
"Daniel, Daniel... apakah dia benar-benar bodoh. Dia pikir dia bisa menyuap perwira di bawah komando Eshar dengan begitu mudah? Dia tidak tahu kalau setiap jengkal tanah di perbatasan ini bernapas atas izin suamiku."
"Benar sekali, Nyonya!" Axelo terkekeh puas.
"Dia kira Mayor Bambang punya kuasa penuh, padahal Mayor Bambang bahkan tidak tahu kalau istrinya bermain api di belakangnya. Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan surat-surat ini?" tanya Axelo penasaran akan langkah selanjutnya.
Erica mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja dengan ketukan yang teratur, sebuah kebiasaan yang muncul saat ia sedang menyusun strategi bisnis yang mematikan. Wajah memancarkan kilat kecerdasan yang dingin.
"Axelo, ambil surat Daniel ini. Lalu salin isinya, tapi ubah bagian koordinat pelabuhan tikus itu ke titik koordinat Pos Pemeriksaan Utama Batalyon Infanteri tempat pasukan inti Eshar berjaga dua puluh empat jam," perintah Erica, senyumnya melebar sampai menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Biarkan Nyonya Ratna memberikan informasi 'palsu' itu pada Daniel. Daniel akan mengira jalur penyelundupannya aman, padahal dia sedang mengirimkan seluruh muatan ilegalnya langsung ke tangan pasukan penyergap."
Axelo membelalakkan matanya, lalu memberikan jempol besar dengan wajah kagum.
"Luar biasa! Gila! Nyonya Besar, Anda benar-benar lebih kejam dari Jenderal kalau sedang menyusun taktik!"
"Ada apa denganku, Axelo?"
Suara berat yang berwibawa itu seketika menggema dari arah pintu depan.
Jenderal Eshar Megantara melangkah masuk, mengibaskan sisa air hujan dari pet topi militernya. Paras tampannya yang misterius itu terlihat sangat segar. Mata coklatnya langsung mengunci amplop-amplop di atas meja.
Axelo dengan sigap berdiri dan melaporkan siasat yang baru saja dirancang oleh Erica. Eshar mendengarkan setiap detail dengan saksama tanpa memotong satu kata pun.
Setelah Axelo selesai berbicara, Eshar melangkah mendekati Erica.
Pria itu menumpukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuh tegapnya hingga wajahnya berada hanya beberapa senti dari wajah Erica. Nafas pria itu menyapu helaian rambut yang jatuh di wajah Erica. Aroma maskulin, tanah basah dan minyak pelumas senjata dari tubuh Eshar langsung menyerbu indra penciuman Erica.
"Istriku ternyata tidak hanya pintar menjahit baju, tapi juga pintar menjahit jebakan maut," bisik Eshar, sepasang mata coklatnya berkilat dipenuhi rasa bangga dan intensitas ketertarikan yang semakin tidak bisa disembunyikan.
Erica mendongak, menantang tatapan suaminya dengan senyuman manisnya yang paling menawan.
"Saya hanya memastikan bahwa investasi dua tahun kita tidak diganggu oleh hama dari Jakarta, Jenderal."
Eshar menatap bibir Erica yang merah itu tersenyum, dia merasakan debaran posesif yang semakin kuat di dadanya.
"Axelo, laksanakan perintah Nyonya Besar. Jalankan operasi umpan ini minggu depan. Kita akan menyambut kiriman dari keponakanku dengan upacara militer yang tidak akan pernah dia lupakan."
"Siap, laksanakan, Jenderal!" Axelo segera menyambar tas kulitnya dan pamit undur diri dengan langkah seribu, sengaja meninggalkan kedua atasannya di ruang tengah yang mendadak kembali merasakan ketegangan intim.
Eshar langsung tersadar, menegakkan tubuh tegapnya, lalu membalik badan dan melangkah ke ruang kerjanya.
Sial! Kalau begini terus, aku bisa Khilaf. gumam Eshar dalam hati, menekan dadanya yang berdebar kencang.
Sementara Erica, keadaan wajahnya sudah memerah seperti tomat. Wanita itu memang sudah runtuh seruntuh-runtuhnya karena pesona Eshar yang tidak bisa dia tolak.
😁😁😁😁
kalian udh punya harta masing2 , keluarga masing2 Dan kebahagiaan masing2 ( tu pun kalo bnran punya) ,,,,
Masih aj ganggu hidup org lain ,, Masih aj ngurusin yg bukan hak ny ,,
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
😒😒😒😒😒😒
km slah justru dy pergi krn sedang menyiapkan serangan balasan yg lebih dr kejam ,, 😏😏😏😏😏😏
semangat 💪💪💪
liat kuat imronmun saja pak eshra 🤭🤭
begitulah kalau berhadapan dengan seorang yg berpangkat jendral, apa lagi plis tampan nya ga ketolongan 🤣🤣🤣
awas jangan pingsan 🤭🤭🤭