Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Ethan
Ethan mengusir Ana secara paksa dari hadapannya. Gadis itu masih terus mempermasalahkan sikap sang kakak yang menurutnya sama sekali tidak pantas. Bagi Ana, tindakan Ethan terhadap ayah mereka telah melampaui batas.
Ethan memaksa Markus Gilbert turun dari jabatan sebagai pemimpin klan Dark Moon, padahal pria itu baru beberapa hari menduduki takhta tersebut. Bagi Ana, tindakan itu bukan hanya penghinaan, tetapi juga pengkhianatan terhadap ayah kandungnya sendiri.
"Kau sudah berubah, Kak!" bentak Ana dengan mata berkaca-kaca. "Bagaimanapun juga beliau ayahmu!"
Ethan bahkan tidak menoleh."Keluar."
Suara datarnya terdengar dingin tanpa sedikit pun emosi.
"Aku belum selesai bicara!"
"Aku sudah selesai mendengarkan." Tatapan Ethan tetap lurus ke depan, membuat Ana menggertakkan gigi menahan kesal.
"Suatu hari nanti kau akan menyesali semua ini."
Tidak ada jawaban.
Ana akhirnya membalikkan badan dan pergi dengan langkah berat, meninggalkan Ethan seorang diri di halaman kastil yang mulai diselimuti kegelapan malam.
Keheningan kembali menguasai tempat itu.
Ethan menajamkan pandangannya ke langit yang dipenuhi awan hitam. Embusan angin malam semakin dingin, namun sama sekali tidak mampu meredakan gejolak di dalam dadanya. Ia mengembuskan napas kasar. Udara yang dihirup malam itu justru terasa begitu menyesakkan.
Arthur...
Nama itu kembali berputar di dalam kepalanya. Pria itu telah mendahuluinya. Bayangan seorang gadis terus memenuhi pikirannya. Ketertarikan aneh yang bahkan tidak mampu ia jelaskan perlahan membangunkan sisi tergelap yang telah lama tertidur di dalam dirinya.
Apakah semuanya sudah terlambat?
Apakah takdir benar-benar telah memilih Arthur?
Kenapa takdir selalu tidak pernah berpihak kepadanya?
Dan kenapa gadis itu harus seorang manusia?
Wajah mungil dengan pipi lembut itu terus menghantuinya. Mata bening yang bulat seakan selalu menatapnya, membuat pikirannya kacau setiap kali mengingatnya. Belum pernah Ethan merasakan obsesi seperti ini. Dia menginginkan gadis itu. Bukan sekadar ingin memiliki, melainkan ingin menjadikannya miliknya seutuhnya. Selamanya.
"My Lord.." Suara seseorang memecah lamunannya.
Ethan perlahan menoleh. Iris mata kelamnya jatuh pada sosok Brad yang sedang membungkukkan tubuh dengan penuh hormat.
"Kuharap berita yang kau bawa tidak mengecewakanku," ucap Ethan tajam.
Brad menelan ludah sebelum menjawab."Ampun, My Lord. Para Strigoi menolak ajakan kita untuk bersekutu."
Tatapan Ethan berubah semakin dingin.
"Mereka mengatakan saya hanya membual. Menurut mereka, mustahil vampir dari klan Moroi mau bekerja sama dengan kaum Strigoi."
Brad menarik napas pelan sebelum melanjutkan."Bahkan, mereka hampir membunuh saya. Beruntung saya berhasil melarikan diri."
Keheningan menyelimuti keduanya. Lalu terdengar suara Ethan yang begitu pelan, tetapi dipenuhi ancaman."Kalau begitu, mereka sedang memilih kematian." Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Berani sekali para makhluk rendahan itu mengabaikan perintahnya.
Ethan membutuhkan para Strigoi. Kaum buangan itu memang dipandang rendah oleh bangsa vampir, tetapi kekuatan mereka sama sekali tidak bisa diremehkan. Jika mereka berhasil direkrut, peluang Ethan untuk menghancurkan Arthur akan semakin besar. Kali ini, dia tidak akan membiarkan Arthur kembali mendahuluinya. Apa pun caranya. Ia akan merebut gadis itu.
"My Lord..." Brad kembali membuka suara."Ada satu berita lagi."
"Katakan."
Nada bicara Ethan terdengar tidak sabar.
"Saya berhasil mengetahui identitas gadis terberkati."
Ethan langsung menatap Brad.
"Namanya Sonja."
Sonja...
Nama itu menggema pelan di dalam benaknya. Tanpa sadar, sudut bibir Ethan terangkat tipis. Nama yang indah. Sangat cocok untuk gadis dengan wajah yang terus mengganggu pikirannya.
"Dan..." Brad kembali terdiam, dia ragu melanjutkan ucapannya. Brad tahu betul perubahan yang terjadi pada Ethan sejak bertemu gadis itu. Sebelumnya, Ethan sama sekali tidak pernah tertarik pada takhta kepemimpinan Dark Moon. Namun sejak bertemu Sonja, pria itu berubah drastis. Dia merebut posisi Markus. Mengumpulkan pasukan. Mencari sekutu. Bahkan mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Arthur Fabian Kell. Semuanya persis seperti ramalan yang pernah diucapkan penyihir Marci.
Dua makhluk terkutuk.
Akan bertekuk lutut kepada seorang gadis.
Arthur Fabian Kell.
Dan Ethan Gilbert.
Dua nama yang telah lama dikenal sebagai makhluk terkutuk setelah Lucifer menganugerahkan kekuatan luar biasa kepada mereka. Kini ramalan itu perlahan menjadi kenyataan. Ethan sedang membangun kekuatan besar. Dia berusaha menghimpun kaum Strigoi demi satu tujuan. Mengalahkan Arthur.
"Brad." Suara Ethan membuyarkan lamunan pria itu."Lanjutkan."
Brad berdeham pelan. Jantungnya berdegup semakin cepat."Malam ini..." Ia menundukkan kepala lebih dalam."Arthur Fabian Kell dan Sonja telah melangsungkan pernikahan."
Sunyi.
Tidak ada suara apa pun.
Ethan hanya berdiri mematung. Namun perlahan, wajah datarnya berubah semakin kelam. Aura hitam yang pekat mulai menguar dari tubuhnya, menyelimuti halaman kastil dengan tekanan yang begitu mencekam. Angin berembus semakin kencang. Pepohonan di sekitar mereka bergoyang hebat seolah ikut merasakan amarah sang pemimpin baru.
Secepat itu...
Arthur bahkan rela menjalani ritual manusia yang selama ini selalu dianggapnya tidak berarti, yaitu pernikahan.
Brad menahan napas. Ia dapat merasakan tekanan mengerikan yang keluar dari tubuh Ethan. Udara di sekitarnya terasa begitu berat hingga sulit dihirup."My Lord..." Suara Brad bergetar dipenuhi kekhawatiran.
Namun Ethan tidak menjawab. Tatapannya kosong mengarah ke langit malam. Tidak ada kemarahan yang meledak. Tidak ada teriakan. Justru diamnya Ethan terasa jauh lebih mengerikan. Karena Brad tahu. Semakin diam Ethan Gilbert, semakin besar badai yang akan segera datang.
***
Dengan langkah perlahan, Arthur menghampiri Sonja yang masih berdiri mematung di hadapannya. Tatapan mereka saling bertemu. Di balik wajah tenang Arthur, tersimpan keraguan yang begitu besar, sementara di balik mata Sonja, rasa takut berusaha ia sembunyikan.
Tanpa berkata apa-apa, Arthur merapatkan tubuhnya. Salah satu tangannya melingkari punggung Sonja dengan hati-hati, seolah takut gadis itu akan hancur hanya karena sentuhannya. Tangan lainnya terangkat perlahan, lalu berhenti di leher putih Sonja yang terasa hangat di bawah telapak tangannya yang dingin.
"Jangan tegang, Sonja..." bisiknya lembut.
Sonja menarik napas panjang. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terdengar di telinganya sendiri. Ia sudah membayangkan rasa sakit yang akan datang. Namun, beberapa detik berlalu dan Arthur hanya diam menatapnya.
"Arthur..." panggil Sonja pelan. "Kenapa diam saja?"
Arthur menundukkan pandangannya."Ini akan menyakitkan dan aku tidak ingin menyakitimu," gumamnya lirih.
Sonja mengulas senyum tipis, meski ketakutan masih jelas terlihat di wajahnya."Lakukan."
Arthur menggeleng pelan."Aku masih bisa mencari cara lain."
"Tidak." Sonja memotong ucapannya dengan tegas. "Lakukan sekarang."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Arthur mengembuskan napas kasar. Hatinya terus diliputi kebimbangan. Haruskah dia benar-benar melakukan ritual ini?
Melihat Arthur yang masih ragu, Sonja kembali membuka suara."Lakukan, atau aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk selamanya."
Kedua alis Arthur terangkat."Apa kau sedang mengancamku?"
Sonja justru tersenyum tipis."Aku tidak keberatan kalau kebaikan hatiku kau sebut sebagai ancaman."
Sudut bibir Arthur terangkat membentuk seringai kecil."Kebaikan hati?"
"Iya." Sonja mengangguk mantap. "Bukankah sekarang aku sedang menawarkan darahku? Jadi cepatlah Arthur, sebelum aku berubah pikiran." Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat serius."Dan kalau kau tetap tidak mau menggigitku, besok pagi aku akan kabur dari tempat ini."
Mata Arthur langsung membelalak."Sonja..."
"Aku serius."
Arthur menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala kecil."Ancaman yang sangat bodoh."
"Kalau begitu, jangan buat aku melakukannya."
Arthur tidak bisa lagi menahan senyumnya. Gadis kecil di hadapannya memang selalu berhasil membuatnya kehabisan kata-kata.
Akhirnya, satu tangannya kembali melingkari pinggang Sonja, menarik tubuh mungil itu semakin dekat. Tangan yang lain menyingkirkan helaian rambut panjang Sonja hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
"Tetaplah tenang," bisik Arthur. "Semakin kau tenang, rasa sakitnya tidak akan terlalu terasa."
Sonja mengangguk pelan meski jemarinya masih gemetar.
Arthur memiringkan kepalanya. Sorot mata merah gelapnya tertuju pada denyut nadi yang bergerak pelan di leher Sonja. Perlahan bibirnya terbuka, memperlihatkan sepasang taring tajam khas seorang vampir. Sesaat kemudian, taring itu menembus kulit lembut Sonja.
Tubuh Sonja menegang seketika. Rasa nyeri yang tajam menjalar dari leher hingga ke seluruh tubuhnya. Refleks, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak terlalu keras.
Darah hangat mengalir perlahan. Arthur memejamkan mata ketika cairan kehidupan itu menyentuh lidahnya. Selama berabad-abad kehidupannya sebagai vampir, belum pernah ia merasakan darah seistimewa ini. Darah Sonja terasa begitu hangat, manis, dan dipenuhi energi yang luar biasa. Seolah setiap tetesnya menghidupkan kembali kekuatan yang telah lama terkikis dalam dirinya. Namun Arthur tidak membiarkan dirinya terlena.
Hanya beberapa tegukan. Begitu merasa cukup, ia segera menarik diri. Napasnya terdengar sedikit berat. Energi asing mengalir deras ke seluruh tubuhnya, memenuhi setiap pembuluh darah dan membangkitkan kekuatan yang selama ini tersegel.
Sementara itu, wajah Sonja mulai memucat. Pandangannya berangsur kabur. Tubuhnya kehilangan tenaga.
"Kau baik-baik saja?" tanya Arthur dengan nada penuh kekhawatiran.
Sonja menggeleng lemah. "Sedikit pusing..."
Arthur mengusap pipinya dengan lembut."Tahanlah, ritual ini belum selesai."
Tanpa membuang waktu, Arthur menggigit pergelangan tangannya sendiri hingga darah hitam pekat mengalir keluar. Aroma darah vampir memenuhi ruangan. Ia mengulurkan tangannya ke hadapan Sonja."Buka mulutmu dan minumlah."
Sonja menatap Arthur sesaat, lalu tanpa ragu mendekatkan bibirnya. Ia menelan beberapa tetes darah yang mengalir dari luka di tangan suaminya. Baru beberapa detik berlalu, kelopak mata Sonja langsung terasa begitu berat. Tubuhnya limbung.
Bruk.
Arthur sigap menangkap tubuh Sonja sebelum jatuh ke lantai."Sonja..."
Tanpa menunggu lebih lama, Arthur kembali mendekatkan wajahnya ke leher gadis itu. Taringnya menyentuh dua bekas luka gigitan sebelumnya. Dengan kemampuan penyembuhan milik vampir murni, kedua lubang kecil itu perlahan menutup, seolah tidak pernah ada luka sedikit pun. Kulit Sonja kembali mulus tanpa meninggalkan bekas. Tak lama kemudian, bulu mata Sonja bergetar. Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya yang sempat buram kini kembali jernih. Napasnya pun terasa jauh lebih ringan.
"Sakit?" tanya Arthur lembut.
"Lumayan." jawab Sonja dengan suara serak. Refleks Sonja menyentuh lehernya. Alisnya terangkat."Tidak ada bekas." Dia juga menyadari tubuhnya terasa jauh lebih segar dibanding sebelumnya. Rasa lemas yang tadi menguasainya lenyap begitu saja.
"Aku sudah menghapus bekasnya," bisik Arthur, seolah mampu membaca isi pikirannya.
Sonja menatap wajah suaminya penuh rasa penasaran."Apa sekarang, aku sudah menjadi vampir?"
Arthur terkekeh pelan sebelum menggeleng."Tidak."Ia mengusap rambut Sonja dengan lembut."Aku hanya meminum sedikit darahmu. Itu tidak akan mengubahmu menjadi apa pun."
"Seorang manusia hanya akan berubah menjadi vampir apabila seluruh darahnya dikuras hingga habis, kemudian digantikan dengan darah vampir dalam jumlah yang cukup. Ritual yang kita lakukan barusan sama sekali berbeda."
Sonja mengangguk pelan, mencoba mencerna setiap penjelasan itu."Jadi ritual penyatuan darahnya sudah selesai?"
Arthur menganggukkan kepala.
Wajah Sonja akhirnya tampak sedikit lega. Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tatapan Arthur berubah menjadi lebih dalam. Ia menggenggam lembut tangan Sonja.
"Kita sudah menyelesaikan ritual yang kau inginkan." Arthur berhenti sejenak, lalu menatap tepat ke dalam mata istrinya."Dan sekarang..." Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis."Izinkan aku melakukan ritual yang aku inginkan."