Lima tahun lalu, Adeline Wijaya dijebak oleh adik tirinya sendiri hingga keguguran dan diusir oleh suaminya, Bramantara, dalam kondisi sekarat. Semua orang mengira Adeline telah tewas di dasar jurang.Lima tahun kemudian, ia kembali ke Kota Jakarta dengan identitas baru sebagai Elena Vance, seorang desainer perhiasan kelas dunia yang genius dan kejam. Tujuannya hanya satu: menghancurkan mereka yang telah merebut kebahagiaannya.Demi melancarkan aksinya, Elena mendekati Nicholas Syailendra, CEO tertinggi di balik konglomerat nomor satu sekaligus musuh bebuyutan mantan suaminya.
Nicholas menawarkan kesepakatan: "Jadilah istriku, dan aku akan memberikan dunia untukmu membalas dendam." Namun, Elena tidak tahu bahwa di balik pernikahan kontrak itu, ada rahasia masa lalu yang jauh lebih besar yang siap menguji hatinya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
happy reading guys
------------------------------
BAB 10: Perjanjian di Atas Kertas Emas
Malam harinya, riuh rendah dan kepulan asap dari skandal Bram Corp seolah menghilang begitu Elena Vance melangkah masuk ke dalam restoran privat yang terletak di lantai teratas Hotel Syailendra Luxury.
Restoran itu sengaja dikosongkan total oleh Nicholas.
Tidak ada pengunjung lain, tidak ada pelayan yang mengganggu, hanya alunan musik piano klasik yang lembut mengalir di udara.
Elena duduk di sebuah kursi beludru maroon, berhadapan langsung dengan Nicholas Syailendra.
Pria itu tampak sangat menawan malam ini dengan kemeja kasual hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka, memancarkan aura maskulin yang sangat kuat.
Cklek.
Nicholas meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam dengan ukiran emas elegan di atas meja marmer, tepat di antara mereka berdua.
Ia menggeser map itu perlahan ke hadapan Elena.
"Apa ini, Nicholas?"
tanya Elena, melirik map tersebut dengan sebelah alis yang terangkat tinggi.
"Ini adalah langkah selanjutnya untuk mengunci kemenanganmu, Elena. Sekaligus pelindung mutlak untuk sisa hidupmu di kota ini,"
jawab Nicholas, suaranya terdengar berat, dalam, dan penuh dengan penekanan yang berwibawa.
"Buka dan bacalah."
Dengan jemari tangannya yang lentik, Elena membuka lembaran kertas tebal di dalam map tersebut.
Judul di halaman pertama langsung membuat sepasang mata indahnya membelalak samar.
‘Surat Perjanjian Ikatan Pernikahan Kontrak Resmi – Nicholas Syailendra & Elena Vance.’
Elena menarik napasnya perlahan, matanya dengan cepat memindai poin-poin yang tertulis di atas kertas putih tersebut.
"Pernikahan kontrak selama dua tahun?"
Elena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang milik sang penguasa kota.
"Nicholas, Bram Corp sudah hancur, Siska sudah mendekam di penjara, dan Bramantara sekarang tidak lebih dari sekadar gelandangan yang dikejar utang bank. Balas dendamku secara garis besar sudah selesai. Kenapa kita harus melangkah sejauh ini sampai ke jenjang pernikahan?"
Nicholas memajukan tubuhnya sedikit, menumpukan kedua lengannya di atas meja sembari menatap Elena tanpa berkedip.
"Kamu pikir aliansi keluarga Wijaya dan Bramantara akan diam saja melihat takhta bisnis mereka dirampas oleh seorang wanita asing dari Prancis bernama Elena Vance? Pihak pengacara mereka saat ini sedang mencari celah hukum untuk menggugat identitas barumu atas tuduhan spionase korporat."
Nicholas menjeda kalimatnya, menyunggingkan sebuah senyuman miring yang terlihat begitu dominan.
"Tapi, jika kamu resmi menjadi istriku, menjadi Nyonya Muda Syailendra yang sah di mata hukum negara, tidak akan ada satu pun pengacara atau penguasa di negeri ini yang berani menyentuh seujung kuku dari dirimu. Syailendra Group akan menjadi perisai paling kokoh untuk melindungi seluruh aset dan dirimu."
Elena terdiam sejenak, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut pria di hadapannya.
Apa yang dikatakan Nicholas memang benar.
Logika hukum di dunia konglomerat sangat kejam, dan ia masih membutuhkan perlindungan besar untuk mempertahankan apa yang sudah ia rebut dari Bram.
"Lalu, apa keuntungan untukmu, Nicholas?"
tanya Elena lagi, menatapnya dengan penuh selidik.
"Kita berdua tahu kamu tidak pernah melakukan investasi bisnis tanpa mengharapkan keuntungan timbal balik yang besar. Apa yang diinginkan seorang Nicholas Syailendra dari pernikahan kontrak ini?"
Nicholas terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat seksi di telinga Elena.
Pria itu bersandar kembali ke kursinya, menatap Elena dengan sorot mata yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan posesif.
"Keuntunganku adalah posisi keluarga," ucap Nicholas santai.
"Kakek tua di keluarga besar Syailendra terus mendesakku untuk segera menikah dan memberikan pewaris takhta jika aku tidak ingin posisi CEO-ku digoyang oleh sepupu-sepupuku yang serakah. Dengan menikahimu, aku bisa membungkam mulut mereka semua selama dua tahun ke depan."
Nicholas mengulurkan tangan kekarnya ke atas meja, telapak tangannya terbuka menunggu sambutan dari Elena.
"Dua tahun, Elena. Selama dua tahun ini, kita akan berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai di depan publik. Aku akan memberikan seluruh kemewahan, kekuasaan, dan perlindungan dunia untukmu. Dan setelah dua tahun selesai, kita bisa bercerai secara damai dan kamu bebas pergi membawa seluruh harta gono-gini yang melimpah."
Elena menatap telapak tangan Nicholas yang besar dan hangat.
Pikirannya berputar hebat. Menikah lagi setelah trauma pernikahan pertamanya yang begitu berdarah tentu bukan hal yang mudah.
Namun, Nicholas bukanlah Bram. Nicholas adalah pria yang menyelamatkannya dari kematian, pria yang melatihnya menjadi wanita kuat, dan pria yang memberikannya senjata untuk membalas dendam.
Elena mengulas senyuman miring yang begitu cantik di bibirnya yang merona.
"Dua tahun tanpa ada batasan fisik yang nyata di balik pintu kamar pribadi, Nicholas. Apakah itu tertulis di sini?"
"Tentu saja, Sayang. Kamar kita akan terpisah jika kita sedang berada di rumah utama. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu,"
balas Nicholas dengan nada suara yang merendah, namun ada kilat misterius di matanya yang seolah mengatakan hal yang berbeda.
Elena mengambil pena bertinta emas yang tergeletak di samping map, lalu tanpa ragu sedikit pun menandatangani namanya dengan guratan tegas di atas kertas perjanjian tersebut.
Sret. Sret.
"Kesepakatan tercapai, Tuan Nicholas Syailendra," ucap Elena sembari menutup map kulit tersebut dan menyerahkannya kembali pada Nicholas.
Nicholas menerima map itu dengan senyuman puas yang terlihat begitu menawan sekaligus kejam.
Ia bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja marmer, lalu berdiri tepat di samping tempat duduk Elena.
Sebelum wanita itu sempat bereaksi, Nicholas sudah lebih dulu membungkukkan tubuhnya, meraih jemari tangan kanan Elena, lalu menyematkan sebuah cincin berlian hitam besar yang sangat mewah di jari manisnya.
Deg!
Jantung Elena mendadak berdegup kencang secara tidak teratur saat merasakan sentuhan bibir Nicholas yang mengecup punggung tangannya dengan begitu lembut namun posesif.
"Mulai malam ini, kamu adalah tunanganku, Elena Vance,"
bisik Nicholas tepat di depan wajah Elena, aroma parfum maskulin yang mahal bercampur tembakau tipis miliknya seketika mengepung indra penciuman Elena.
"Dan bulan depan, aku akan membuat mantan suamimu menyaksikan pernikahan termegah di abad ini, dari balik jeruji besi tempatnya membusuk."
Elena mendongak, mengunci pandangannya pada sepasang mata elang milik pria yang kini resmi menjadi pelindungnya.
Api dendam di dalam dirinya kini telah bertransformasi menjadi ambisi baru yang jauh lebih besar.
Aliansi maut di atas kertas emas itu telah ditandatangani, dan lembaran baru dari kehidupan Elena Vance sebagai calon penguasa takhta Syailendra Group baru saja dimulai.
------------------------------
Bersambung.......