Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017
Suara hempasan pintu depan apartemen terdengar begitu keras, memecah keheningan mencekam yang sempat menyelimuti kamar tidur utama selama beberapa puluh menit.
Langkah kaki Killian terdengar tergesa-gesa, menghentak di atas lantai marmer menuju kamar, membawa aura dingin yang langsung menusuk kulit.
Killian melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu.
Rambutnya berantakan, dan di dalam genggaman tangannya, ada sebuah kantong plastik putih kecil dari apotek 24 jam.
Tanpa membuang waktu, dia mendekati ranjang, mengeluarkan sebotol air mineral dan satu obat kontrasepsi darurat, lalu menyodorkannya tepat di hadapan wajah Michaela.
"Minum ini!" perintah Killian, suaranya berat, mutlak, dan tidak menerima bantahan.
Michaela, yang saat itu sudah memakai kembali pakaian kasualnya dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, hanya melirik benda medis itu dengan tatapan kosong.
Dia tidak mengulurkan tangannya.
Alih-alih meraih obat tersebut, dia justru menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ketenangan yang terasa begitu dingin.
"Tidak mau," jawab Michaela pelan, namun sarat akan penolakan yang tegas.
"Simpan saja obatmu itu. Tidak apa-apa. Aku tidak akan menuntutmu atau meminta pertanggungjawaban apa pun setelah ini. Kau bisa memegang kata-kataku."
Deg.
Killian tertegun sejenak, tangannya yang memegang obat menggantung di udara.
Matanya menyipit, menatap heran pada respons dingin yang ditunjukkan istrinya.
Pria itu menurunkan tangannya perlahan, namun tatapannya tidak lepas dari wajah Michaela yang kini tampak begitu datar tanpa emosi.
"Apakah kau tidak takut?" tanya Killian dengan suara yang mendadak melunak, bahkan terdengar lirih—sebuah nada yang sangat jarang dia gunakan sejak semalam.
"Apakah kau tidak akan dimarahi oleh Madam-mu kalau kau sampai hamil?"
Killian mencondongkan tubuhnya sedikit, mengamati reaksi Michaela.
"Aku mendengar dari informasi intelijen mengenai jaringan kalian... para wanita Roses akan disiksa dengan sangat kejam jika ketahuan hamil atau merusak aset kalian. Kau sedang mempertaruhkan nyawamu sendiri jika menolak obat ini, Cecilia."
Mendengar nama organisasi itu lagi, sudut bibir Michaela terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang dipenuhi dengan rasa muak yang mendalam.
Dia menatap lurus ke dalam manik mata elang Killian, memberikan jawaban dengan nada sedingin es yang mampu membekukan udara di sekitar mereka.
"Aku tidak punya Madam, dan aku tidak peduli dengan apa pun yang kau katakan tentang siksaan itu," jawab Michaela acuh tak acuh.
Killian menggerakkan rahangnya dengan gusar.
Dia menganggap ketenangan Michaela sebagai bentuk keras kepala yang bodoh atau mungkin bagian dari strategi licik yang belum dia pahami.
Rasa frustrasinya kembali naik ke permukaan.
"Buka mulutmu, Cecilia, dan telan obat ini! Apa susahnya?!" bentak Killian, suaranya kembali meninggi, memenuhi sudut-sudut kamar
"Aku tidak ingin kau mengandung! Paham?!"
Kalimat 'Aku tidak ingin kau mengandung' itu menghantam dada Michaela dengan telak.
Sesuatu di dalam dirinya—sebuah harga diri yang selama ini dia jaga mati-matian—mendadak meledak.
Batas kesabarannya runtuh.
Rasa sakit, kehinaan dilempari uang, dan tuduhan sebagai pelacur lelang yang dia terima sepanjang hari ini mengkristal menjadi kemurkaan murni yang belum pernah Killian lihat sebelumnya.
Michaela bangkit berdiri di atas kasur, membuat posisinya lebih tinggi dari Killian yang berdiri di tepi ranjang.
Wajahnya memerah padam, matanya menyala-nyala oleh amarah yang membakar.
"APA AKU BEGITU MENJIJIKKAN DI MATAMU?!" teriak Michaela dengan suara melengking yang bergetar hebat karena amarah yang tak tertahankan.
"Katakan padaku, Brengsek!! Apa aku begitu hina di matamu sampai kau sama sekali tidak sudi aku hamil anakmu?! Hah?!"
Michaela melangkah maju di atas kasur, menunjuk dada Killian dengan telunjuknya yang bergetar.
"Kau memperlakukanku seperti sampah di atas ranjang ini! Kau melemparkan uang ke wajahku seolah aku adalah jalang murahan yang bisa kau beli! Dan sekarang, kau bertingkah seolah rahimku akan mengotori garis keturunanmu Tuan agung?!"
"Dengarkan aku baik-baik, Killian Vale-Knight!" Michaela berteriak tepat di depan wajah pria itu, napasnya memburu dengan air mata kemarahan yang mendadak tumpah membasahi pipinya.
"Aku tidak akan meminum obat itu! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meminumnya! Kau dengar itu, hah?! Kau tidak bisa mengatur atau memaksa apa yang terjadi pada tubuhku!"
Deg.
Killian terpaku di tempatnya berdiri. Dia benar-benar tertegun, terpaku melihat ledakan kemurkaan yang begitu besar dan murni dari wanita di hadapannya.
Ini bukan akting.
Ini bukan manipulasi dari seorang penipu ulung yang mencoba mencari simpati.
Ini adalah kemarahan seorang wanita yang jiwanya telah tercabik-cabik oleh penghinaan.
Melihat dada Michaela yang naik turun karena napas yang memburu dan air mata yang terus mengalir, ada sesuatu yang berkedut nyeri di dalam dada Killian.
Dia menyadari satu hal: Cecilia telah salah paham secara total atas niatnya.
Killian bukan tidak sudi wanita ini hamil anaknya.
Demi Tuhan, fakta bahwa dialah pria pertama yang merobek kesucian Cecilia, fakta bahwa sprei putih di belakang mereka ternoda oleh darah kesucian wanita itu, telah mengubah seluruh fondasi kebencian di dalam diri Killian.
Tidak mungkin dia menganggap Michaela menjijikkan setelah mengetahui bahwa wanita ini menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya kepadanya, terlepas dari apa pun konspirasi di luar sana.
Keputusannya untuk berlari keluar seperti orang gila demi membeli kontrasepsi darurat bukan karena rasa jijik.
Semua itu dia lakukan semata-mata karena dia tahu betapa berbahayanya situasi saat ini.
Killian tahu, jika Jaringan Madam's Roses atau bahkan pihak luar mengetahui bahwa Cecilia Lynch kembali berada di dalam radar atau mengandung anak dari pewaris keluarga Vale-Knight, wanita ini akan menjadi target pembunuhan atau penculikan yang sangat rentan.
Ini adalah bentuk perlindungan kasar yang dia bungkus dalam ego yang terluka. Ini demi kebaikan Cecilia sendiri.
Killian menatap obat di tangannya, lalu beralih menatap wajah Michaela yang masih menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan luka yang mendalam.
Pria itu menyadari bahwa di dalam perang yang dia kobarkan ini, dia telah menorehkan luka yang mungkin tidak akan pernah bisa dia sembuhkan pada wanita yang—jauh di dalam hatinya—masih sangat ingin dia lindungi.
...ΩΩΩΩ...
Sementara ketegangan membakar atmosfer di dalam kamar apartemen mewah milik Killian Vale-Knight, badai yang tak kalah dingin justru sedang berembus di belahan kota Los Angeles yang lain.
Di dalam ruang kerja bernuansa klasik milik Madam Margareth, aroma lavender yang menenangkan sama sekali tidak mampu mencairkan ketegangan yang mendadak tercipta di antara ibu dan anak tersebut.
Gabriella Margareth berdiri di dekat meja kerja mahoni ibunya.
Dia menatap sang Madam yang sedang sibuk menyusun beberapa berkas profil pria-pria kaya yang menjadi target operasi Madam’s Roses berikutnya.
Gabriella meremas jemarinya sendiri, ada rasa tidak tega yang menyelinap di dadanya saat memikirkan kondisi Cecilia Lynch yang baru saja keluar dari rumah sakit hari ini setelah operasi transplantasi kornea mata.
"Madam... bolehkah Cecilia mendapatkan waktu istirahat sedikit lebih lama?" tanya Gabriella dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba merayu otoritas tertinggi di rumah itu.
"Mata kanannya memang sudah sembuh, tapi mentalnya pasti masih terguncang setelah kecelakaan enam bulan lalu. Ditambah lagi, dia baru tahu bahwa pria yang dicintainya ternyata berniat membunuhnya."
Madam Margareth menghentikan gerakan penanya.
Dia mendongak, menatap putri kandungnya dengan sepasang mata yang tajam, dingin, dan tidak menyisakan ruang untuk kompromi.
"Tidak ada kata istirahat di dalam kamusku, Gabriella," jawab Madam Margareth dengan nada suara yang datar namun mutlak.
"Dua hari lagi, Cecilia sudah harus turun ke lapangan. Aku sudah menyiapkan target baru yang jauh lebih menguntungkan untuknya di Los Angeles ini. Pengkhianatan Killian Vale-Knight harus dibayar mahal, dan cara terbaik untuk membayarnya adalah dengan membuktikan bahwa mawar terbaikku tidak patah hanya karena satu duri."
Margareth menutup berkas di depannya dengan ketukan yang keras, lalu melayangkan tatapan menguliti pada Gabriella.
"Dan kau... berhenti mengirimkan uang tunai secara diam-diam untuk ayahmu di San Francisco."
Mendengar kalimat terakhir ibunya, tubuh Gabriella menegang seketika.
Wajah cantiknya memucat. "Tapi Madam... Ayah sangat membutuhkan uang itu untuk membayar biaya hidupnya. Jika aku berhenti mengirimkannya—"
"Aku tidak peduli," potong Margareth kejam.
"Pria tua bangka itu bukan lagi urusanku sejak aku meninggalkan San Francisco. Lagipula, bukankah dia memiliki anak kesayangannya yang lain untuk diperas?"
Gabriella menggigit bibir bawahnya, ada kilatan kecemasan sekaligus kepedihan yang mendalam di matanya saat dia terpaksa membuka rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat.
"Madam... Michaela sudah tidak memberikannya uang hampir setahun ini. Adikku... dia sudah tidak lagi berada di San Francisco."
Mendengar nama Michaela disebut, pergerakan Madam Margareth membeku sejenak.
"Apa maksudmu?" tanya Margareth, matanya menyipit tajam menuntut penjelasan.
"Julian... mantan kekasih Michaela, sempat menghubungi ku di San Francisco enam bulan lalu sebelum jaringan kita bergeser," ucap Gabriella dengan suara yang sedikit bergetar.
"Julian mengatakan bahwa Michaela sudah kabur dari kota setelah dia bebas dari tahanan kota akibat kasus penculikan. Tidak ada yang tahu ke mana Michaela pergi. Dia menghilang bagai ditelan bumi, Madam. Ayah mencarinya ke mana-mana karena tidak ada lagi tempat untuk memeras uang, tapi Michaela benar-benar memutus semua jejaknya."
Sang Madam, yang memiliki nama asli Margareth Hokked sebelum dia membuang masa lalunya yang kelam dan membangun dinasti Madam’s Roses, terdiam seribu bahasa.
Di balik topeng wajahnya yang kaku dan penuh kuasa, ada sebuah riak emosi yang sangat langka melintas di matanya.
Michaela Hokked. Putri bungsunya.
Anak yang dia tinggalkan bersama sang suami belasan tahun lalu demi mengejar ambisi dan kekuasaan di dunia hitam, sementara dia hanya membawa Gabriella bersamanya karena Gabriella memiliki bakat yang lebih sesuai dengan keinginannya.
Margareth selalu mengira bahwa Michaela, dengan ketangguhan jalanannya, akan tetap bertahan hidup sebagai mesin uang bagi ayahnya yang brengsek.
Namun mendengar bahwa putri bungsunya itu kini menghilang tanpa jejak tepat di saat mereka semua juga terpaksa pindah ke Los Angeles, membuat sebuah firasat buruk yang aneh mendadak mencuat di hatinya.
Margareth bersandar pada kursi kebesarannya.
Dia mengetukkan jemarinya yang mengenakan cincin berlian besar ke atas meja, menciptakan irama yang konstan di dalam keheningan ruang kerja tersebut.
Setelah beberapa saat terdiam dalam pikirannya yang rumit, dia kemudian berkata dengan nada yang teramat dingin namun sarat akan intrik.
"Jika anak liar itu kabur dari San Francisco, itu artinya dia sedang mencoba mencari tempat persembunyian baru. Dan Los Angeles... adalah magnet terbesar bagi orang-orang kalah yang ingin mengubah nasib mereka." Margareth menatap Gabriella dengan pandangan yang tak terbaca.
"Perintahkan mata-mata kita untuk mulai memantau area pinggiran kota ini. Jika Michaela menginjakkan kakinya di Los Angeles, aku ingin tahu secepatnya. Jangan sampai darah dagingku yang tidak terlatih itu justru merusak rantai bisnis yang sedang kita bangun di kandang singa ini. Paham, Gabriella?"
"Baik, Madam," jawab Gabriella patuh, meskipun di dalam hatinya, dia terus berdoa agar adik kembarnya, Michaela, berada di tempat yang aman dan jauh dari neraka yang sedang mereka jalani saat ini.
Gabriella yang melangkah ke arah kamarnya tiba-tiba menghentikan langkahnya di koridor yang sepi.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyuman mengerikan yang sangat kontras dengan wajah porselennya yang biasa terlihat lembut.
Ingatannya berputar kembali ke kejadian enam bulan lalu di San Francisco.
Saat itu, dia yang memang memantau sang adik secara Rahasia dan mendengar kabar bahwa Michaela telah dijebak masuk penjara atas kasus penculikan palsu yang didalangi oleh Julian—pria brengsek yang menjebak adiknya.
Kemarahan Gabriella membumbung tinggi.
Dia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh adiknya.
Tanpa ragu, malam itu juga Gabriella bergerak dalam kegelapan.
Dengan tangannya sendiri yang terlatih, dia melenyapkan nyawa pria malang itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Ya, Julian malam itu ternyata telah dibunuh oleh Gabriella Margareth demi membalaskan rasa sakit Michaela, jauh sebelum Gabriella sempat mencari tahu ke mana Michaela pergi setelah bebas.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨