Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 - Mall 2
Kaget secara tiba-tiba ada yang menamparnya sampai wajah Alea berpaling ke samping.
"Jangan cakiti Mama!" seru Azka marah mamanya di sakiti orang.
Panas sudah pasti Alea rasakan di pipi, malu sangat jelas sebab diperhatikan sama banyak orang. Alea menoleh, tatapan matanya tajam menahan emosi.
Wanita yang menampar Alea sempat melirik Azka, tangannya makin mengepal melihat wajah anak itu, ia makin yakin sama tebakannya.
"Tidak tahu malu! Beraninya lo ganggu tunangan gue sampai dia membatalkan pertunangan kita! MURAHAN LO! JAUHI FATHAN! DIA CALON SUAMI GUE!" sentak Silvi melampiaskan kemarahannya pada Alea.
Saat pertemuan pertamanya di cafe, ia merasa ada sesuatu diantara mereka berdua sampai kesimpulannya Alea dan Fathan mempunyai hubungan.
Alea tersenyum sinis, menyembunyikan Azka ke belakang tubuhnya lalu ...
Plak!
Alea membalas tamparan Silvi sampai wanita itu tersungkur ke lantai saking kerasnya.
Mereka menjadi tontonan banyak orang, banyak yang berbisik mengenai pertengkaran keduanya soal laki-laki. Ada yang mendukung Silvi dan ada juga yang mendukung Alea.
"Wah jadi yang bawa anak itu pelakor ya," bisik yang lain.
"Pantas saja tunangannya marah calon suaminya di goda sama janda."
"Iya ih, kayaknya dia janda."
"Eh tapi kita gak boleh asal nuduh tahu, siapa tahu wanita yang bawa anak istri sahnya terus yang ngaku tunangan yang pelakor," balas lainnya.
"Bisa juga sih, kalau gitu ceritanya aku dukung yang bawa anak."
"Kalau aku sih yakin yang bawa anak pelakornya jadi aku dukung tunangan cowoknya."
Begitulah kira-kira bisikan disekitar mereka yang sempat di dengar sama telinga tajam Alea.
Tak segan Alea menarik rambut Silvi sampai wajah wanita itu mendongak meringis kesakitan. "TUNANGAN YANG LO MAKSUD ITU SUAMI GUE! AYAH KANDUNG DARI ANAK GUE, CAMKAN ITU!"
Suara Alea menggelegar seolah menjelaskan siapa Fathan bagi dia dan Azka dan seolah memberi tahu jika pria itu miliknya. Ini cara Alea melindungi diri dari cibiran orang lain yang mungkin termakan sama ucapan Silvi. Jika dulu ia akan diam saat diperlakukan seenaknya sama orang, tidak dengan kali ini. Alea yang cupu sudah berubah menjadi Alea yang cantik, Alea yang lemah saat diganggu berubah menjadi Alea yang tangguh membalas setiap perlakuan jahat padanya.
Tarikan rambut Silvi ia lepas secara kasar tak peduli orang itu kesakitan ataupun tidak, baginya melindungi diri adalah hal yang harus dia lakukan.
"Nenek cihil jahat!" celetuk Azka mengintip di balik tubuh Alea tidak suka sama Silvi yang ia ingat duduk sama papanya.
"DIA BUKAN SUAMI ELO! DIA TUNANGAN GUE! LO JANGAN HALU!" sahut Silvi marah seraya mendongak tajam.
"Ck, di kasih tahu gak percaya." Lalu Alea mengambil ponselnya dari dalam tas, membuka galeri foto yang masih ia simpan, foto pernikahan mereka.
Lalu matanya memperhatikan sekelilingnya. "Kalian mau percaya saya atau dia silahkan tapi saya punya bukti kalau yang saya ucapkan benar. Lihat ini baik-baik!"
Alea memperlihatkan foto itu pada semua orang dan juga pada Silvi, mata wanita yang masih duduk di lantai terbelalak. Gadis cantik mengenakan gaun pengantin dan disampingnya ada Fathan yang sedang menjabat tangan seseorang, di foto itu keduanya terlihat serasi. Bahkan Alea menggeser fotonya memperlihatkan bagaimana Fathan mencium keningnya lembut, tak sampai disitu Alea juga menggesernya lagi memperlihatkan keduanya sedang tidur diatas ranjang dengan selimut menutupi tubuh mereka namun memperlihatkan bahu keduanya.
Alea tersenyum sinis melihat raut wajah kaget Silvi, untungnya dia masih menyimpan foto itu jadi masih bisa ia gunakan untuk memanasi orang.
'Kaget kan? Makanya jangan ngusik gue, nah lihat nih gue lebih dulu menang. Menang dalam segala hal termasuk gue yang pertama merasakannya.'
"Elo ..." Silvi berdiri hendak meraih ponselnya Alea namun secepat mungkin Alea menghindar.
"Apa? Masih mau bilang dia tunangan elo? Fathan itu suami gue dan ELO YANG UDAH REBUT DIA DARI GUE DAN ANAK GUE!" sentak Alea mendorong bahu Silvi.
"Tuh kan, yang punya anak istri sahnya terus cewek itu pelakornya," bisik pengunjung.
"Ih gak nyangka ya cantik-cantik jadi pelakor, kalau saya sih udah malu labrak istri sahnya."
"Jaman sekarang gak ada tahu malunya, pelakor teriak pelakor. Pelaku lebih sadis daripada korban."
Masih banyak lagi cibiran dari orang-orang untuk Silvi. Wanita itu mengepalkan tangan marah sama cemoohan orang.
"Saya tidak salah! Dia yang salah! Saya ini tunangannya dan dia sudah jadi orang ketiga dalam hubungan saya!" Silvi tidak terima dirinya disalahkan, niat hati mempermalukan Alea malah dia yang dipermalukan.
Niatnya ke mall mau belanja malah tidak sengaja ketemu Alea menuju area parkiran, hatinya terusik mengingat tatapan mata Fathan penuh kerinduan namun juga marah, pikirannya yakin Alea wanita masa lalu Fathan. Makanya tanpa aba-aba Silvi menampar Alea mengikuti kekesalan hatinya.
"Yeeeee mana ada maling ngaku, sudah salah gak mau ngaku, emang pelakor jaman sekarang gak tahu malu," sahut pengunjung.
"SAYA BUKAN PELAKOR!"
Alea tersenyum menyeringai, dia mundur membiarkan Silvi membalas omongan orang dan tangannya kembali menggandeng Azka pergi dari sana. "Ayo sayang, kita pulang."
"Ok. Nenek cihil itu gila," balas Azka sesekali menengok kebelakang memperhatikan Silvi mengamuk pada orang.
"Iya, kasihan ya, gara-gara mau sama barang orang jadi gila kayak gitu. Kamu gak boleh menyukai barang orang ya sayang."
"Ok Mama."
***********
Prang..
"Akhhhh!!! Brengsek!" Setibanya di rumah Silvi mengamuk menghancurkan barang yang bisa ia gapai. "Beraninya dia melakukan ini padaku, aku gak terima!"
Mendengar keributan di ruang depan, Anita ibu sambungnya Silvi berlari melihat keadaan. Setibanya di depan matanya terbelalak melihat kekacauan dengan guci berserakan pecah dilantai.
"Apa-apaan ini?"
Silvi menoleh. "Apa hah? Mau marah? Aku gak peduli! Akhhh kalian sama saja, kalian jahat!" serunya membanting pas bunga ke kaca.
Prang.
"SILVI! JANGAN GILA KAMU! SEMUA BARANGNYA MAHAL!"
"AKU GAK PEDULI! KALIAN HARUS MATI!" Silvi tak segan meraih leher Anita mendorongnya ke tembok. Matanya merah, tenaganya kuat, emosi meledak-ledak dengan keadaan berantakan.
"SILVI! SADAR KAMU!" teriak Anita terbata seraya mendorong kuat tubuh putrinya, jika tidak begitu dia yang bisa mati ditangan putri sambungnya. Nafasnya tersengal sesak ketika lehernya terus di tekan kuat.
Dug.
Tubuh Silvi tersungkur namun bukannya sadar dia makin menjadi marah, tapi lebih dulu suara papanya menggema sebelum dia berdiri.
"ANITA! KETERLALUAN KAMU!"
Deg.