Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unknown Power
"Apa kau siap Dark?."
Dia menjawab dengan hentakan kaki belakangnya, sepertinya pesta kecil akan segera di mulai.
Mulai berlari ke arah mereka, ku ayunkan pedang miliku dan membunuh satu per satu para monster itu, itu hal yang sangat mudah.
Tetapi ternyata gerombolan monster itu tak berhenti berdatangan.
"Desmon, mereka semakin banyak."
"Ya Fiora, aku akan pergi dari sini."
Aku kabur dari tempat itu karna kalau terus melawan mereka tidak akan ada waktu untuk sampai ke sana.
"kabur huh?, ya memang lebih baik kabur sih, tapi kau kehilangan uang yang mudah."
Aku kabur dengan cepat berkat bantuan Dark, sepertinya dia masih punya banyak stamina.
Jalur ini masih mengingatkanku ketika menjadi tentara kerajaan, dan kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
Ketika menjadi tentara tingkat bawah dan belum menjadi kesatria, aku pernah di tugaskan untuk membunuh para monster yang sering meneror warga sekitar.
Waktu itu aku bersama temanku Regin berjalan menelusuri hutan ini dan menemukan beberapa goblin yang sering meneror dan mencuri ke penduduk terdekat.
"Regin, kau yang bunuh mereka."
"lalu kau Desmon?."
"Aku akan duduk menonton."
"Dasar sialan."
Candaan ringan tidak akan hilang ketika bersama dengan Regin, karna dia adalah sahabat pertama yang pernah ku temui.
Kami mulai menyerang mereka, dan para goblin itu bisa di kalahkan oleh kita berdua.
"Fuih, Kau sepertinya lemah sekali Desmon."
"Hei, kau yang membunuh 2 goblin karna bantuanku."
"Ya ya, dasar."
"Hei Regin, sepertinya aku melihat beruang besar di sana."
"Di mana?."
"Semak semak itu tolol, kau tak melihatnya."
"Ah sial, Desmon apa kau bisa menggunakan tehnik terkuat dari assassin?."
"Apa itu?."
"Itu....... KABUR BEGO."
"AAAH SIALAN KAU REGIN."
Dia berlari secepat kilat meninggalkan ku, sementara beruang mulai mengejar. 5 menit aku berlari mengejar Regin dan sepertinya beruang jumbo itu berhenti mengejar ku.
"Huh huh huh, sialan kau Regin." ucapku yang basah kuyup oleh keringat.
"Ha ha, kau tidak berhasil mengejarku."
Aku dan Regin duduk di samping pohon dekat ujung tebing, melihat pemandangan yang belum pernah ku lihat sebelumnya.
"Kau tau Desmon," menunjuk ke arah kota yang cukup besar, "Aku ingin memiliki rumah di sana."
"pasti mahal untuk memiliki rumah di sana."
"Bukan bukan, aku ingin memiliki rumah di sana."
Ku perhatikan arah yang ia tunjuk, ternyata dia bermaksud membuat rumah di dekat kota.
"Kau ingin membuat rumah di sebelah kota?."
"Tidak, coba lihat lagi."
Aku perhatikan dengan serius, arah yang ia tunjuk adalah sebuah bukit yang tertutup pohon.
"Dasar kau Regin, ku kira kau ingin punya rumah di dekat kota."
"Hehe, itu lebih baik bukan?."
"Ya .. iya juga."
Setelah beberapa lama beristirahat, aku dan Regin pergi dari tempat itu dan bersiap melaporkan tugas yang selesai. Setelah mengingat apa yang terjadi dulu ketika bersama Regin aku mendengar sesuatu.
"Hei miskin, kau seharusnya tak menghalangi jalanku."
Terdengar dari kejauhan seseorang sedang bertengkar, aku bergegas mencari tau apa yang terjadi di sana.
Terlihat seorang kakek tua dan kereta kuda yang cukup mewah di depan ku, kereta kuda itu pergi meninggalkan kakek tua yang terjatuh di tengah jalan.
"Apa kau terluka kakek?," Fiora loncat dari depanku dan berlari ke arah kakek itu, akupun turun untuk membantunya.
"Tidak apa apa, kakek tidak terluka," ucap kakek itu dengan darah di lututnya.
"kakek sebaiknya diam sejenak, biarkan aku mengobati luka ini," ucap Fiora yang berusaha membalut luka kakek itu dengan kain yang ia bawa.
"Kalau boleh tau, apa yang terjadi tadi kek?."
"Yah... pertengkaran kecil yang biasa terjadi kepada masyarakat bawah nak."
"Ah, mereka tadi menyalahkan kakek padahal mereka yang salah ya? benar kan kek?."
"Ya nak, kau benar sekali."
Fiora terlihat kebingungan dengan pembicaraan ku bersama kakek ini.
"Uh Desmon, bisa kau beritau apa yang terjadi?."
"Kakek ini sedang berjalan kembali ke arah rumahnya, tetapi ia di tabrak oleh kereta kuda tadi dan di tuduh bersalah oleh mereka Fiora."
"Iya nak, yang suami mu bicarakan benar sekalai."
"SU-SUAMI?," Fiora terkejut oleh perkataan kakek itu.
"Uh kek, sebenarnya kami-," tanganku di genggam Fiora dengan erat dan membuatku terkejut.
"YA-YA, DIA SU-SUAMIKU," Dia mengucapkan itu dengan sangat jelas. Aku melihat ke arah wajahnya dan yap, wajahnya memerah seperti biasanya.
"Hahaha, kalian pasangan yang lucu." Ucap kakek itu sembari tertawa kecil.
Aku masih tak menyangka apa yang baru saja di katakan Fiora.
Setelah beberapa lama berbincang dengan kakek itu, aku ingin menanyakan siapa yang menabraknya.
"Gilbert, pemilik Gilbert's Gold And Diamond."
Fiora gemetar seperti ketakutan setelah mendengar itu.
"Uh, aku akan mencari tumbuhan herbal di dekat sini Desmon," gerak gerik yang aneh dan seperti ketakutan membuatku penasaran.
Ketika Fiora telah cukup jauh pergi, kakek itu menepuk pundak ku.
"Nak, apakah kau mempunyai kekuatan penghancur di dalam tubuhmu?."
"Kekuatan penghancur?," ucapku kebingungan.
"Ya, kekuatan yang bisa membuatmu menjadi monster."
"Bagaimana kakek tau tentang itu?."
"Kakek memiliki mata yang dapat melihat jiwa seseorang nak, sepertinya sesuatu yang buruk ada di dalam tubuhmu."
"Ya, aku memang memiliki kekuatan itu tetapi tak tau itu adalah hal yang buruk."
"Sebaiknya kau jangan terlalu bergantung terhadap kekuatan itu nak, atau kau akan mengalami nasib yang sangat tragis."
Setelah mendengar apa yang kakek katakan, aku mengingat apa yang pernah Fury ucapkan.
"Baiklah kek, aku akan mengingat itu."
"Baguslah, raja iblis." Ucap kakek itu dengan senyuman kecilnya, aku tak mengerti apa yang ia katakan.
Sebelum aku berhasil menanyakan apa yang ia maksud, Fiora telah kembali dengan beberapa tumbuhan.
"Aku akan membawa ini ke tasku Desmon untuk berjaga jaga."
"Baiklah Fiora."
Setelah memberi salam perpisahan kepada kakek itu, aku melanjutkan perjalan bersama Fiora Menunggangi Kuda kesayanganku.
Perjalanan ini akan memakan waktu yang lebih lama dari dugaanku, melihat matahari terbenam menandakan bulan akan Menjadi penerang.
"Fiora, aku akan mencari kota atau desa terdekat, sebaiknya kau pegangan kepadaku karna ini akan menjadi perjalanan yang cukup cepat."
"Baik Desmon."
Dark mulai berlari, tak lama kemudian aku melihat gerbang kota.
"Kita akan bermalam di kota ini Fiora."
Dia menganggukkan kepalanya
"Hei, apakah kau ingin memasuki kota ini tuan?," ucap penjaga kota itu.
"Ya, aku ingin beristirahat semalam di kota ini."
"Baiklah, berikan tanda pengenalmu dan istrimu tuan."
Setelah selesai dengan itu, aku mencari penginapan yang cocok untuk kami berdua tempati, aku melihat sebuah penginapan yang cukup mewah di dekat alun alun kota.
Ku masukan Dark ke dalam kandang kuda di samping penginapan itu.
"Tuan, mohon maaf kami tak menerima tamu seperti anda tuan," ucap penjaga penginapan ini.
"Kenapa?."
"Kau tau tuan, penginapan ini memiliki harga yang cukup mahal, saya sarankan untuk mencari yang lebih murah untuk kalian tuan."
"Berapa harga 1 kamari disini?."
"100 koin emas untuk 1 minggu tuan."
Ku simpan 200 koin emas ke mejanya dan penjaga itu terlihat cukup terkejut.
"Aku butuh 1 kamar untuk satu malam dengan kasur yang cukup untuk kami."
".............." penjaga itu seperti tak percaya.
"Apa ada masalah?." tanyaku
"Ti- tidak tuan, tetapi ini terlalu banyak untuk 1 malam."
"Bawa saja untukmu."
Dia memberikan kunci kamar yang akan kami gunakan, memasuki kamar itu terlihat seperti tempat tidur kerajaan.
Kamar mandi, kasur yang mewah, dan ruangan yang indah tidak terlalu buruk untuk penginapan ini, membuka seluruh pelindung dan rasa lelah membuatku langsung tertidur pulas.
"Kau selalu baik padaku, terimakasih Desmon," ucap Fiora.
"Sebaiknya kau segera beristirahat karna esok akan menjadi hari yang berat untukmu," Ucap Fury