NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

"Selamat datang kembali, Tuanku."

Ucapan Bonna yang menggema halus seketika membuat seluruh atmosfer di lantai mezanin atas membeku.

Semua mata benar-benar tertuju lurus pada La Bonna. Mereka menantikan nasib apa yang akan menimpa wanita malang itu detik ini. Dorsila, yang baru saja bergabung berdiri di dekat barisan pengawal, tampak cukup terkejut dengan keberanian gila yang ditunjukkan La Bonna.

Namun, pandangan mereka semua tidak hanya tertuju pada Bonna, melainkan juga bertumpu pada raut wajah Ezequiel Nolan Ashford, menunggu bagaimana reaksi sang penguasa Velvet Noir.

Nolan tidak langsung mengusirnya atau memerintahkan anak buahnya untuk menghajarnya. Pria mafia itu secara perlahan mengulurkan tangannya yang kekar, meletakkan telapak tangannya yang besar—yang dipenuhi bekas luka dan ukiran tato hitam—ke puncak kepala La Bonna. Ia mengusap rambut wanita itu perlahan, seolah memberi Bonna sebuah pujian atas keberanian luar biasa yang ia tunjukkan hanya untuk menyambut kepulangannya.

Jemari Nolan yang terasa dingin merayap turun dari rambut Bonna, membelai kening, menyapu pipi yang tirus, mengusap bibirnya yang berpoles merah, hingga akhirnya berhenti rapat di dagu Bonna.

Pria itu mengencangkan cengkeramannya sedikit, mengangkat dagu itu tinggi-tinggi agar Bonna terpaksa mendongak menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya yang tak berdasar.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu selama aku pergi?" bisik Nolan, nadanya datar namun sarat akan ancaman berbahaya. "Sudah berapa banyak laki-laki yang engkau layani?"

Seraphina yang berdiri tak jauh di belakang Bonna dan mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba melangkah maju satu garis. Dengan raut wajah puas dan dagu terangkat tinggi, ia menyela, "Tidak ada satu pun pelanggan yang mau tidur dengannya, Tuan Nolan."

Seraphina melirik tajam ke arah Bonna dari sudut matanya, berusaha menunjukkan dengan jelas perbedaan status dan daya tarik di antara mereka berdua.

Satu alis Nolan terangkat tipis.

Pria itu seolah tidak menyangka bahwa selama satu bulan penuh, tidak ada satu pun pelanggan di Velvet Noir yang sudi mengeluarkan uang hanya untuk meniduri wanita yang ada di hadapannya ini.

Dengan raut wajah yang menggelap, Nolan berucap dingin, "Ini tidak bisa dibiarkan. Kau tidak bisa berada di tempat ini tanpa menghasilkan apa-apa. Aku tidak suka memelihara orang yang tidak berguna."

Cengkeraman tangan Nolan pada dagu Bonna mendadak semakin kuat, menekan tulang rahangnya hingga Bonna meringis pelan menahan sakit.

Melihat celah itu, Seraphina kembali memanaskan suasana. "Dia memang sama sekali tidak berguna, Tuan. Kenapa Tuan Nolan tidak bunuh saja dia malam ini? Kurasa tidak ada gunanya lagi membiarkan dia tetap hidup dan bernapas di tempat ini. Dia tidak akan pernah bisa membawa Tuan Nolan bertemu dengan Dorris. Lagipula, Dorris sangat sulit terlacak keberadaannya," desis Seraphina dengan senyum penuh kedengkian.

Namun, sebelum Nolan sempat membalas, Alena yang berdiri di dekat barikade pengawal tidak terima. Gadis muda itu melangkah maju, membalas tajam, "Kau tidak punya hak sedikit pun untuk mengambil keputusan atas nyawa orang di tempat ini, Seraphina! Jangan hanya karena kau sering ditiduri oleh kakakku, kau merasa berhak memberikan opini soal nyawa orang lain!"

Alena jelas tidak terima dengan sikap Seraphina yang secara terang-terangan sengaja menghasut Nolan agar Bonna disingkirkan dari tempat ini untuk selamanya.

Akan tetapi, Nolan sama sekali tidak peduli dengan perdebatan sengit kedua wanita tersebut. Pandangan matanya yang dingin masih terkunci lurus pada Bonna yang bersimpuh pasrah di hadapannya.

Nolan melepaskan cengkeramannya dari dagu Bonna, lalu bersuara datar, "Sebentar lagi Duke akan datang kemari. Sebagai gantinya karena kau tidak laku di panggung bawah, aku ingin kau menemani Duke saat ia tiba nanti. Dia orang yang tidak suka menunggu, jadi kau harus membuatnya senang selagi aku mengurus hal lain sebelum menemui Duke."

Nolan kemudian bangkit berdiri secara mendadak. Gerakan tiba-tiba itu membuat Seraphina, yang sejak tadi mencoba bersandar manja pada bahunya, kehilangan keseimbangan dan terjatuh agak memalukan ke atas sofa kulit yang sebelumnya diduduki Nolan.

Tanpa menoleh sedikit pun pada Seraphina, Nolan mengayunkan langkah kaki tegapnya menuju pintu lift khusus—lift rahasia yang dulu pernah dilewati Bonna saat pertama kali disiksa. Pria itu berjalan pergi ditemani oleh Lucifer dan beberapa anak buah bersenjata lainnya. Dorsila pun tampak menggeledah tas medisnya sejenak sebelum berjalan mengekor di barisan paling belakang.

Bonna yang masih berlutut di panggung merasa dadanya sedikit mual saat teringat apa yang tersimpan di balik lift khusus tersebut.

Di balik pintu baja itu, Bonna tahu betul ada tumpukan mayat, perdagangan organ manusia, eksperimen obat-obatan terlarang, dan entah hal mengerikan apalagi yang disembunyikan di sana. Berdasarkan ingatannya, di balik lift itu membentang lorong rahasia yang berisi hal-hal kejam di luar nalar manusia normal.

Bonna menarik napas panjang, lalu melirik ke arah Seraphina.

Wanita pirang itu rupanya juga tengah menatap Bonna dengan tatapan mata yang teramat tajam dan penuh dendam. Sudah Bonna duga, tindakannya yang berani menyambut Nolan tadi pasti akan mengusik ketenangan Seraphina.

"Kau tidak akan pernah bisa mencapai apa yang kau inginkan disini," desis Seraphina dingin seraya merapikan gaun minimnya yang tersingkap.

La Bonna tidak merespons dengan kemarahan. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap Seraphina dengan sepasang mata yang menyipit—sebuah tatapan yang secara jelas meremehkan dan mengejek wanita di hadapannya.

Tatapan sinis yang biasa Bonna gunakan saat berhadapan dengan musuh-musuhnya di California dulu.

"Iya kah?" bisik Bonna, suaranya tenang namun menusuk. "Bagaimana bisa kau sangat percaya diri, Seraphina? Kau pikir aku pasti akan gagal? Hanya karena kau merasa tubuhku tidak lebih menarik darimu? Kalau soal pengalaman melayani pria, aku juga sudah punya pengalaman. Memang tidak sebanding dengan dirimu yang sudah melayani puluhan orang... tapi baru bertindak seperti ini saja sudah bisa membuatmu begitu terusik. Aku jadi penasaran, sampai sejauh mana aku bisa bertindak untuk meruntuhkan kebanggaanmu itu."

Bonna langsung bangkit berdiri, menepis debu tipis di gaunnya, lalu melangkah pergi meninggalkan Seraphina yang membeku menahan amarah. Bonna tahu, kali ini ia tidak boleh mengecewakan Tuan Nolan lagi jika ia masih ingin bernapas esok hari.

***

Di dalam ruang VIP bernuansa mewah namun temaram, La Bonna berdiri terdiam di dekat sudut panggung kecil.

Ia mengingat nama 'Duke' dengan sangat jelas. Nama itu sudah beberapa kali diucapkan oleh Nolan, bahkan sejak hari pertama saat Bonna tertangkap basah menyusup ke panggung Velvet Noir.

Duke bukanlah orang sembarangan; pria itu adalah salah satu kolega atau mitra bisnis mafia terpenting milik Nolan.

KLIK.

Pintu berukir di belakang Bonna mendadak terbuka lebar.

Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar—yang perawakannya sekilas tidak jauh berbeda dengan tinggi kekar milik Nolan—melangkah masuk ke dalam ruangan. Laki-laki itu memiliki rambut berwarna dirty blonde yang tertata rapi, dan sepasang iris matanya berwarna agak keabu-abuan yang sangat dingin.

Satu alis pria itu terangkat naik saat pandangannya pertama kali bergulir dan menangkap sosok La Bonna yang berdiri menunggunya.

Kening pria itu terlihat berkerut dalam ketika mengamati lekuk wajah Bonna dari kejauhan. "Aku merasa teramat familiar dengan wajahmu..." gumam pria itu dengan suara beratnya.

Laki-laki itu mengayunkan kakinya menuju sofa panjang yang berada di tengah ruangan VIP. Sembari mendudukkan tubuhnya, ia menggerakkan dagunya ke arah botol-botol minuman keras mahal di atas meja—memberikan isyarat tanpa suara pada La Bonna untuk segera menuangkan minuman untuknya.

Apakah laki-laki ini yang bernama Duke? batin Bonna dalam hati seraya melangkah mendekati meja dan meraih botol wiski kristal.

Bonna menuangkan cairan keemasan itu ke dalam gelas. Di saat yang sama, ia bisa merasakan bagaimana pria berambut dirty blonde itu terus mengawasi setiap gerak-gerik jemarinya dengan cermat. Dan ketika Bonna memberanikan diri mengangkat wajah untuk menyodorkan gelas tersebut, ia terkejut menemukan pria itu tengah menatap lurus dan tajam ke arah bola matanya.

"Kau punya mata yang sangat indah," ujar pria itu pelan, matanya menyipit mengagumi kejelasan iris mata Bonna.

Bonna sempat membeku sejenak, bingung harus melakukan apa lagi usai menyodorkan minuman tersebut.

Apakah sekarang ia harus bersimpuh berlutut di hadapan laki-laki ini dan membuka selangkangan atau resleting celananya untuk melayaninya sampai Tuan Nolan tiba?

Namun sebelum Bonna mengambil keputusan, pria itu kembali membuka suara. "Kau terlihat teramat familiar... namun di saat yang bersamaan kau juga terlihat begitu asing bagiku."

Duke menggoyang-goyangkan gelas kristal di tangannya, membiarkan es batu beradu gemerincing, sebelum akhirnya meneguk sedikit cairan beralkohol itu. Matanya kembali menatap Bonna penuh selidik.

"Siapa namamu?"

"La Bonna," jawab Bonna cepat dan lugas.

"Namamu terasa asing di telingaku. Apa kau barang baru di tempat ini?" tanya Duke lagi.

Bonna menganggukkan kepalanya pelan untuk mengiyakan. Sebenarnya, Bonna tidak perlu membeberkan hal-hal pribadi pada tamu VIP. Namun entah mengapa, dorongan di dalam dadanya membuat bibirnya bergerak menyampaikan alasan di balik rasa familiar yang dirasakan pria itu.

"Mungkin saya terlihat tidak asing bagi Anda... karena wajah saya sangat mirip dengan seorang wanita bernama Electra," ujar Bonna tenang. "Orang-orang di markas ini selalu berkata bahwa saya sangat mirip dengan mendiang Electra."

Mendengar nama itu terlontar dari bibir Bonna, gerakan tangan Duke yang memegang gelas seketika terhenti. Perkataan Bonna rupanya berhasil memicu ingatan lama di kepala pria itu.

Mata keabu-abuan milik Duke melebar sempurna. Ia kembali mengamati Bonna dari ujung rambut hingga ujung kakinya dengan kecermatan yang berbeda. Tak lama kemudian, sudut bibir Duke bergerak naik, membentuk sebuah seringai tipis yang penuh ironi.

"Astaga... tidak kusangka Nolan akan benar-benar mencari dan menyimpan wanita yang mirip dengan mendiang kekasihnya," gumam Duke seraya tertawa terkekeh pelan. "Hanya karena pria itu mendadak rindu pada wanita yang sudah mati? Padahal kekasihnya itu mati di tangannya sendiri... mati dalam keadaan sedang mengandung anak mereka."

DEG.

Dada Bonna bergetar hebat. Sebuah informasi penting baru saja terungkap di hadapannya mengenai Nolan dan mendiang kekasihnya, Electra. Wanita yang selama ini disebut-sebut sangat mirip dengan wajah Bonna itu ternyata tewas dibunuh oleh Nolan saat sedang mengandung buah hati mereka sendiri.

Bonna tidak bisa menahan rasa merinding dan penasaran yang membakar benaknya. Mengapa wanita itu bisa dibunuh secara brutal oleh Nolan?

Bonna teringat perkataan Nolan sebelumnya—bahwa Nolan tidak pernah suka memiliki kelemahan, dan ia akan membinasakan siapa pun yang menjadi kelemahannya dengan tangannya sendiri.

Namun, apakah manusia bernama Ezequiel Nolan Ashford itu sekejam dan seiblis itu? Sampai hati membantai wanita yang dicintainya beserta calon anak kandungnya sendiri hanya demi mempertahankan prinsip bahwa dirinya tak boleh memiliki kelemahan?

Ah... Bonna mendadak tersadar dan merutuki kebodohannya sendiri. Tentu saja Nolan mampu melakukan hal sebiadab itu.

Pria itu memang penjelmaan iblis di dunia nyata. Nolan bukan manusia biasa; ia sangat amat kejam. Dorris bahkan sudah berkali-kali memperingatkan Bonna mengenai fakta tersebut.

Bahkan, Bonna sendiri pernah menyaksikan bagaimana Nolan mengeksekusi dan menembak mati dua kepala anak buahnya tanpa berkedip hanya dalam hitungan detik.

CEKLEK.

Engsel pintu ruang VIP kembali berbunyi.

Nolan melangkah masuk ke dalam ruangan. Pria itu tampak sibuk menyapu dan membersihkan sisa-sisa bercak darah segar di jemarinya menggunakan sebuah sapu tangan sutra putih. Entah nyawa siapa lagi yang baru saja dihabisi oleh pria itu di lorong rahasia bawah tanah.

Mengikuti dari belakang langkah Nolan, muncul seorang pria berjas dokter putih yang gerak-geriknya terasa sangat familiar bagi Bonna.

Bonna sempat lupa siapa nama dokter pria itu, namun ia tidak akan pernah bisa melupakan kengerian dari sorot matanya. Bonna teringat bagaimana dokter gila itu dulu dengan sangat santai mengatakan ingin mengoperasi dan mencungkil mata Bonna hanya karena menganggap iris matanya indah.

Nolan berjalan santai lalu mendudukkan tubuh kekarnya di sofa yang berada tepat di seberang Duke.

Melihat kedatangan sang pemilik markas, Bonna dengan sigap mengabaikan rasa gemetarnya. Ia melangkah maju dan menuangkan minuman keras ke dalam gelas Nolan, berusaha menjalankan perannya seprofesional mungkin.

Tindakan cepat Bonna membuat Nolan meliriknya dari sudut mata seraya menyunggingkan sebuah senyuman miring yang dingin.

Ya, Bonna sadar betul betapa menyedihkannya dirinya saat ini.

Namun ia harus bisa beradaptasi dengan sangat cepat terhadap situasi sekelilingnya. Persetan dengan harga diri atau kehormatan—selama kepatuhan ini bisa membuatnya tetap hidup dan bernapas, Bonna akan melakukannya.

Duke meletakkan gelasnya ke atas meja, lalu membuka pembicaraan dengan nada berat. "Mantan kakak iparmu kembali berulah dalam seminggu ini, Nolan. Dia menembak mati lima orang anak buahku di perbatasan. Mantan kakak iparmu itu benar-benar membuatku rugi puluhan ribu dollar dalam minggu ini saja."

Nolan mengangkat sebelah alisnya yang tebal sembari menenggak minuman wiski yang baru saja disodorkan oleh Bonna hingga kandas. "Bagaimana kau bisa begitu yakin kalau itu adalah ulah Dorris?"

Telinga Bonna seketika memburu informasi begitu nama yang sangat familiar itu terucap dari bibir Nolan. Dorris. Orang bajingan yang telah menjerumuskannya ke dalam neraka Velvet Noir ini.

Alasan utama mengapa Bonna masih berjuang keras untuk tetap hidup—meski ia tahu hidupnya yang hancur ini rasanya sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan—adalah hanya untuk bertemu dengan Dorris sekali lagi.

Bonna harus memastikan sendiri bahwa Dorris menepati janji manisnya: membebaskan ibunya dari tahanan dan mengembalikan sang ibu kepada adik-adiknya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.

Duke melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Nolan tajam. "Siapa lagi bajingan di tanah Texas ini yang cukup berani untuk mencari masalah denganku dan kau kalau bukan Dorris? Hanya dia yang punya kegilaan seperti itu. Pria itu berubah menjadi iblis gila sejak adiknya tiada."

Duke menghela napas panjang, lalu menyalakan sebuah cerutu tebal. "Ini semua salahmu karena telah membunuh adiknya dulu... dan sekarang, pria sialan itu terus-menerus berusaha menjatuhkan kekuasaan kita berdua."

Duke menempelkan cerutu itu di bibirnya, lalu tangannya merogoh saku jasnya mencari-cari korek api yang sepertinya tertinggal di dalam mobilnya.

Melihat hal itu, Nolan merogoh saku kemeja hitamnya. Ia mengeluarkan sebuah lighter korek api berwarna perak mengkilap dengan ukiran gambar ular naga yang rumit, lalu melemparnya santai ke tengah meja kaca.

Baik Nolan maupun Duke secara bersamaan memalingkan pandangan mereka ke arah Bonna, memberikan perintah tanpa suara agar wanita itu mengambil alih tugas menyalakan cerutu.

Bonna melangkah mendekat, meraih korek perak yang dingin itu, lalu menyalakan api untuk membakar ujung cerutu di bibir Duke.

Namun, tepat setelah cerutu itu menyala dan Bonna hendak menarik tubuhnya mundur untuk menjauh, tangan Duke yang besar tiba-tiba bergerak cepat meraih pinggang Bonna—menarik tubuh kurus Bonna secara paksa untuk duduk langsung di atas pangkuannya.

"Aku memang merasa wajah wanita ini teramat familiar sejak awal..." ujar Duke seraya mengembuskan asap cerutunya yang pekat secara sengaja tepat ke arah wajah Bonna.

Bonna terbatuk-batuk kecil, matanya pedih tersengat asap tembakau yang keras, namun ia tak berani berontak dari cengkeraman tangan Duke di pinggangnya.

Duke menatap Nolan dari balik kepulan asap, lalu menyunggingkan senyum curiga. "Tapi setelah kuamati lebih dekat... aku baru teringat bahwa wanita ini bukan hanya mirip Electra, tapi juga sangat mirip dengan Iris mata istriku. Katakan padaku, Nolan... apa kau sengaja mempekerjakan dan memelihara pelacur ini di panggungmu untuk menjebak Dorris?"

Nolan yang duduk santai di seberang mereka menyandarkan punggungnya ke sofa. Pria itu menyunggingkan senyuman dingin, lalu menjawab dengan nada tenang yang mematikan:

"Justru sebaliknya, Duke... Dorris sendiri yang mengirim musuh ini kemari. Dan aku merasa sangat mustahil jika Dorris mengirim wanita ini hanya untuk mati konyol di tanganku... pasti ada alasan yang jauh lebih besar di balik kehadirannya."

......................

Tinggalkan Komentarnya Kak Readers, Untuk dukung dan author semangat Lanjut cerita ini 🙏🏻

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!