Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Siasat di Balik Segel
Setelah mengatasi serangan mendadak Pasukan Bayangan, Kaelen dan Lyra melangkah lebih dalam ke inti reruntuhan. Di tengah ruangan berbentuk lingkaran, terdapat sebuah altar batu apung yang melayang beberapa senti di atas lantai.
Di atas altar tersebut, sebuah bola kristal berisi energi merah menyala terus berputar lambat.
"Artefak Jiwa Naga..." gumam Lyra dengan mata melebar. "Ternyata legenda itu nyata."
Namun, sebelum Kaelen sempat melangkah mendekat, sebuah gelombang tekanan gaib yang dahsyat menghantam dada mereka dari arah lorong samping. Suara tawa dingin bergema di dalam ruangan batu tersebut.
"Menakjubkan... Tikus-tikus kecil Sekte Awan Bintang ternyata bisa membantuku membuka segel ini," ujar sebuah suara berat yang familiar. Vance perlahan muncul dari kegelapan.
Gelombang tekanan gaib itu mengempas Kaelen dan Lyra, membuat napas mereka tercekat. Kaelen segera mengayunkan Pedang Sampah, memancarkan aura es tipis sebagai pertahanan insting. Di sampingnya, Lyra mengatupkan gigi, mengaktifkan perisai spiritual transparan yang bergetar menahan tekanan.
Vance muncul sepenuhnya dari bayangan, jubah hitamnya berkibar pelan seolah ditiup angin tak kasat mata. Wajahnya yang keriput dihiasi senyum licik, dan matanya memancarkan cahaya kejahatan yang akrab. Namun, ada kilatan aneh di kedalamannya—sesuatu yang lebih dari sekadar kesenangan seorang musuh yang berhasil.
"Vance!" geram Kaelen, siap menerjang. "Apa maumu dengan Artefak Jiwa Naga ini?!"
Vance hanya tertawa, tawa kering dan meremehkan yang mengisi setiap sudut ruangan. "Oh, betapa bodohnya kalian, anak-anak Sekte Awan Bintang. Kalian selalu melihat permukaan, bukan esensi." Ia melangkah perlahan mendekati altar batu apung, tatapannya terfokus pada bola kristal merah yang berputar. Namun, tak ada keserakahan di matanya, hanya semacam kepuasan yang dingin.
"Aku datang bukan untuk mengambil 'mainan berkilau' itu," lanjutnya, suaranya kini terdengar seperti bisikan beracun yang menguar di antara dinding batu kuno. "Kalianlah yang telah menyelesaikan pekerjaan yang tak sanggup kulakukan sendiri."
Kaelen dan Lyra saling pandang dengan bingung. Kata-kata Vance terdengar ganjil, tak sesuai dengan perilakunya yang biasa mengincar kekuatan.
"Apa maksudmu?" tanya Lyra, suaranya sedikit bergetar.
Senyum Vance melebar, menunjukkan deretan giginya. "Maksudku, kalian para 'pahlawan' yang sok suci ini telah dengan bodohnya merusak segel yang menahan teror purba di dalamnya." Jari telunjuknya menunjuk langsung ke arah bola kristal merah. "Artefak Jiwa Naga? Itu hanya nama manis yang diberikan oleh leluhur bodoh kalian untuk menyembunyikan kebenaran. Itu bukan jiwa naga, melainkan penjara."
Saat Vance mengucapkan kata terakhir, bola kristal merah di atas altar tiba-tiba berdenyut. Energi merah yang tadinya tampak stabil kini bergejolak, memancarkan gelombang panas yang membakar dan dingin yang menusuk secara bersamaan. Desir aneh terdengar, seolah ada sesuatu yang menggesek dari dalam.
"Kalian pikir Pasukan Bayangan yang kalian kalahkan itu adalah milikku?" Vance menggelengkan kepala, tawa sinisnya kembali menggelegar. "Mereka adalah pelayan setia dari entitas yang terkunci di dalam sini—para penjaga yang ditugaskan untuk memastikan tak ada makhluk hidup yang bisa mencapai inti ini dan secara tak sengaja melemahkan penjaranya. Dan kalian, dengan segala keberanian dan kebodohan kalian, telah menghancurkan mereka, membuka jalan bagi kehancuran."
Bola kristal itu bergetar hebat. Retakan-retakan kecil mulai muncul di permukaannya, memancarkan cahaya merah yang kini tampak lebih pekat, lebih gelap, dan dipenuhi kebencian primordial. Suara geraman dalam, yang tak menyerupai naga manapun, mulai terdengar dari dalam kristal, memenuhi ruangan dengan vibrasi yang menyesakkan jiwa.
Wajah Vance kini tak lagi tersenyum. Ada ketegangan yang nyata di rautnya, seolah ia sedang mengamati bom waktu yang baru saja diaktifkan. "Aku mencoba menghentikan kalian. Aku mencoba mengendalikan sisa-sisa Pasukan Bayangan itu untuk menghalangi jalan kalian," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri. "Tapi kalian terlalu gigih. Dan sekarang, monster purba itu bukan naga, melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dan jahat dari yang bisa kalian bayangkan akan dilepaskan."
Retakan di kristal melebar. Energi merah di dalamnya berputar semakin gila, membentuk siluet mengerikan yang tak jelas, seperti gumpalan bayangan yang meronta. Udara di sekitar mereka menjadi tebal, berbau belerang dan kematian. Kaelen dan Lyra merasakan inti jiwa mereka bergetar ketakutan, bukan lagi karena ancaman Vance, melainkan karena horor tak terlukiskan yang kini sedang mengoyak selubung penjaranya.
Vance menatap Kaelen dengan sorot mata yang tak pernah Kaelen lihat sebelumnya: bukan permusuhan, melainkan semacam desakan putus asa. "Kita punya masalah yang jauh lebih besar sekarang, anak-anak. Dan jika kita tidak menghentikannya, reruntuhan ini, bahkan dunia ini, akan tahu arti sebenarnya dari kepunahan."
Bola kristal itu pecah dengan suara dentuman dahsyat, melepaskan gelombang kejut energi merah pekat yang langsung menyapu Kaelen dan Lyra. Tubuh mereka terpelanting bagai boneka kain, menghantam dinding batu dengan keras hingga rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Namun, lebih dari itu, gelombang energi tersebut bagai badai memori dan emosi purba yang mendera kesadaran mereka. Ribuan bayangan penderitaan, jutaan jeritan keputusasaan, dan bisikan kekosongan yang tak terhingga berkelebat di benak mereka, mengancam untuk merobek akal sehat. Itu bukan hanya serangan fisik, melainkan serbuan ke inti jiwa.
Saat Kaelen dan Lyra mengerang, berusaha menolak invasi mengerikan di pikiran mereka, sebuah pekikan nyaring—lebih mirip lolongan kesakitan yang tak tertahankan—membelah udara. Itu adalah suara Vance. Mereka mendongak, dan pandangan yang kabur menangkap pemandangan yang membuat darah membeku. Dari punggung Vance, sebuah tentakel bayangan hitam pekat, berdenyut dengan energi yang sama seperti yang baru saja menghantam mereka, mencuat keluar dengan paksa. Tentakel itu menggeliat seolah ditarik dari dalam dirinya oleh kekuatan tak kasat mata, menyisakan luka menganga yang mengucurkan kegelapan alih-alih darah.
"Tidak... tidak mungkin... aku sudah menguncinya..." Vance berbisik parau. Tubuhnya ambruk ke tanah, seluruh kekuatannya terkuras habis. Wajahnya pucat pasi, namun di matanya tak ada lagi kilatan kekejaman atau ketegangan yang Kaelen kenal. Yang ada hanyalah kehampaan, keputusasaan, dan kelelahan yang mendalam, seolah topeng yang dikenakannya selama ini baru saja hancur.
Dari celah retakan yang menganga pada altar, sesuatu yang tak berbentuk namun memancarkan aura kegelapan purba kini sepenuhnya merangkak keluar. Bukan naga, bukan pula iblis dalam bayangan biasa. Ia adalah ketiadaan yang mengambil bentuk—gumpalan bayangan yang tak memiliki mata namun memancarkan tatapan mengamati, tak memiliki mulut namun suaranya menggema di setiap sudut jiwa. Ukurannya raksasa, mengisi seluruh rongga gua dengan kehadirannya yang menindas. Permukaannya beriak, seolah terbuat dari mimpi buruk yang paling pekat, dan dari intinya terpancar pusaran energi merah gelap yang sama, kini jauh lebih kuat dan mengancam.
"Hanya pion... yang lemah... dan bodoh..." Suara berat itu menggelegar, namun bukan berasal dari gumpalan bayangan itu sendiri, melainkan dari udara di sekitar mereka, dari dinding, hingga dari dalam pikiran mereka. Itu adalah suara yang tak memiliki sumber, namun merasuki segalanya.
Gumpalan bayangan raksasa itu mengulurkan salah satu tentakelnya yang tak berbentuk ke arah Vance yang terkapar. Tentakel bayangan yang baru saja lepas dari punggung Vance kini melayang di udara, bergetar. Dengan gerakan keji, entitas purba itu menarik tentakel tersebut kembali ke dalam dirinya, seolah menyerap kembali bagian dari esensinya. Sebuah dengungan kepuasan yang mengerikan menggema.
Kaelen, meski tubuhnya nyeri tak terperi, kini mengerti. Gelombang energi yang menyapu mereka telah mengungkap sebuah kebenaran yang kejam. Vance bukanlah dalang utama. Ia hanyalah boneka sebuah wadah sebuah benteng yang, entah bagaimana, selama ini berusaha menahan monster purba ini dari dalam. Setiap Pasukan Bayangan yang mereka lawan, setiap jebakan yang mereka lewati, mungkin bukan upaya Vance untuk menghancurkan mereka, melainkan usahanya yang putus asa untuk memperlambat, untuk menahan, dan untuk mencegah kehancuran yang kini terhampar di depan mata. Mereka tidak mengalahkan musuh, melainkan justru membebaskan malapetaka yang jauh lebih besar.
"Kalian... telah membuka pintu neraka," bisik Vance, suaranya nyaris tak terdengar, sementara matanya menatap kosong ke arah entitas yang kini memandang mereka dengan tatapan tanpa wajah. "Dan sekarang... tak ada yang bisa menghentikannya."