"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Pesta Kemenangan dan Rahasia Kapolrestabes
Pesan Adira soal tas forensik belum sempat menjadi panggilan resmi.
Malam itu, Arka justru dibawa Bambang Wicaksono ke kantin internal Polrestabes.
"Makan dulu, Dok," kata Bambang. "Orang boleh mengejar pembunuh, tapi perut kosong membuat otak polisi jadi lambat."
"Ini rapat?"
"Makan-makan perkara Hendra. Jangan tegang. Tidak ada yang menyuruhmu membedah sate."
Ruang kecil di belakang kantin sudah penuh anggota Satreskrim. Meja panjang diisi nasi kotak, sate ayam, lalapan, es teh, kopi hitam, dan beberapa piring gorengan. Tidak ada alkohol. Semua orang bicara lebih keras daripada di kantor, tapi map perkara tetap ada di sudut meja.
Arka hendak duduk di ujung.
Bambang langsung menarik kursinya. "Bukan di situ. Kamu di sini."
Kursi itu berada di dekat Adira Larasati, agak ke sisi tengah, cukup jelas untuk menunjukkan ia diperlakukan sebagai bagian dari tim.
Beberapa penyidik bersiul pelan.
"Dokter muda kita sudah naik kelas," kata salah satu.
Arka duduk dengan canggung. "Saya masih Dokter Muda."
"Justru itu yang bikin cerita ini enak," suara muda menyela dari seberang meja. "Kalau yang bongkar kasus Sp.F senior, biasa. Kalau anak magang, baru viral."
Pria itu menyodorkan gelas es teh. "Dimas Surya Nugroho. Penyidik paling ganteng di unit ini, menurut saya sendiri."
Adira meliriknya. "Menurut laporan disiplin, paling berisik."
Dimas tertawa. "Itu juga prestasi, Bu. Mas Arka, salam kenal."
Arka menyentuhkan gelasnya. "Salam kenal, Mas Dimas."
"Jangan terlalu formal. Di sini kalau terlalu formal, nanti Pak Bambang mengira kamu mau minta pinjaman."
Bambang menunjuknya dengan tusuk sate. "Dimas, makan. Jangan wawancara korban baru."
Suasana mencair.
Adira malam itu tidak memakai seragam lapangan. Kemeja gelap sederhana, rambut tidak seketat biasanya. Tidak ada kesan lembut berlebihan, hanya berbeda dari sosok yang menendang pintu ruang autopsi. Ia tetap duduk tegak, tetap memantau ruangan.
Saat Dimas sibuk bercerita tentang Hendra yang gemetar setelah BAP, Adira mencondongkan badan sedikit ke Arka.
"IKF bukan besi solid," katanya pelan. "Jangan tertipu karena orang mulai memanggilmu Dok. Ada yang senang, ada yang tersinggung."
Arka tahu nama yang tidak disebut.
Galang Firmansyah duduk di meja samping, ikut tersenyum saat orang lain tertawa. Tapi ketika mata mereka bertemu, senyumnya berhenti terlalu cepat.
"Saya akan hati-hati, Bu Iptu."
"Jangan berhenti pada hati-hati. Simpan semua catatan. Kirim lewat jalur resmi. Jangan beri orang celah."
"Baik."
Bambang mengangkat gelas. "Untuk perkara Sari Rahayu. Untuk Bu Adira yang tidak tidur. Untuk Dimas yang hanya mengganggu sedikit. Dan untuk Dok Arka, anak magang yang membuat satu gedung sakit kepala."
Tawa pecah.
Semua orang mengangkat es teh atau kopi.
Arka ikut mengangkat gelas. Untuk sesaat, ia merasa berada di tempat yang aneh: di antara IKF dan polisi. Tempat yang berbahaya, namun mungkin memang jalurnya.
Pintu ruang kecil terbuka.
Tawa langsung turun.
Seorang pria tinggi berusia lima puluhan masuk tanpa banyak pengawal. Rambutnya rapi, langkahnya tenang, dan semua anggota Satreskrim langsung berdiri.
Waskito Harjono.
Kapolrestabes Surabaya.
"Duduk," kata Waskito. "Kalau semua berdiri, nasi kotak kalian dingin."
Tetap saja tidak ada yang benar-benar santai.
Waskito berjalan ke ujung meja, lalu menatap Arka. "Jadi ini Dokter Muda yang mengunci ruang autopsi?"
Ruangan hening.
Bambang menurunkan gelas. Dimas tidak lagi tersenyum. Adira tetap diam, tapi matanya sudah siap.
Arka berdiri. "Benar, Pak Kapolrestabes."
"Anda membuat Wakapolrestabes saya harus menulis catatan panjang. Anda membuat IKF panik. Anda membuat penyidik saya mengubah arah perkara malam itu juga."
"Saya siap menerima evaluasi, Pak."
Waskito menatapnya dua detik.
Lalu ia mengambil segelas es teh dari meja.
"Evaluasi sudah berjalan. Malam ini saya hanya ingin melihat orang yang membuat semua orang repot, tapi benar."
Ruangan menghela napas bersama.
Bambang berbisik, "Jantung saya hampir ikut otopsi."
Waskito mengangkat gelas ke arah Arka. "Untuk kebenaran yang terlambat sedikit saja bisa hilang. Kerja bagus, Dokter Arka."
Semua orang kembali mengangkat gelas.
Saat Arka hendak duduk, pandangannya bergetar.
Di sisi pinggang Waskito, label kuning muncul. Bukan emosi seperti Galang. Ini lebih padat, dengan garis tipis seperti citra medis.
[Kelainan lama: protrusi diskus intervertebralis L4/L5]
[Nyeri pinggang kronis]
[Rekomendasi: hindari duduk terlalu lama, evaluasi neurologis bila baal tungkai meningkat]
Di belakang label itu, sekejap muncul gambaran seperti potongan MRI: ruas tulang belakang bawah, bantalan yang menonjol, tekanan ringan ke arah saraf.
Arka bereaksi sebelum sempat menahan diri.
"Pak Kapolrestabes, pinggang Bapak sering nyeri sampai kaki kanan kesemutan?"
Seluruh ruangan mati suara.
Dimas menoleh perlahan. Bambang menutup mata. Adira menatap Arka dengan ekspresi: jangan bilang kau baru saja melakukan itu.
Waskito berhenti dengan gelas di tangan.
"Apa?"
Arka sadar sudah melewati batas.
Tapi mundur sekarang lebih buruk.
"Maaf, Pak. Saya melihat cara Bapak duduk tadi. Berat tubuh lebih banyak ditahan sisi kiri. Saat masuk, langkah kanan Bapak sedikit lebih pendek. Bukan cedera baru. Sepertinya masalah L4/L5 lama. Kadang nyeri menjalar ke kaki kanan."
Waskito tidak berkedip.
"Siapa yang memberi tahu Anda?"
"Tidak ada, Pak. Saya hanya mengamati."
"Hasil MRI saya tiga bulan lalu menyebut L4/L5." Waskito meletakkan gelas. "Bahkan beberapa perwira di sini tidak tahu."
Dimas berbisik, "Mas Arka, kamu ini dokter atau dukun legal?"
Adira langsung berkata, "Dimas."
"Siap, diam."
Waskito justru tertawa kecil. "Tidak apa-apa. Pertanyaan itu wajar."
Ia menatap Arka lagi. "Kalau Anda bisa melihat itu dari langkah saya, apa lagi yang Anda lihat dari orang mati?"
Arka menjawab hati-hati. "Orang mati tidak bisa berbohong, Pak. Tapi kami yang hidup sering terlalu cepat menyimpulkan."
Ruangan kembali diam. Kali ini semua orang benar-benar mendengar.
Waskito mengangguk pelan. "Gunawan benar. Anda berbahaya kalau tidak diarahkan, tapi sayang kalau dibiarkan mencuci botol saja."
Galang di meja samping menunduk, pura-pura mengambil gorengan. Label kuning samar muncul di tepi pandangan Arka.
[Iri]
[Permusuhan meningkat]
Waskito mengambil ponsel, mengetik pesan singkat, lalu memasukkannya kembali ke saku.
"Saya setujui rekomendasi Piagam Penghargaan untuk perkara Sari Rahayu. Evaluasi kompetensi Dokter Arka dipercepat. Bu Adira, Pak Bambang, pastikan kalau ada perkara yang membutuhkan pendamping forensik, jalurnya resmi, tapi jangan buang bakat ini di gudang arsip."
"Siap, Pak Kapolrestabes," jawab Adira.
Bambang mengangguk. "Siap, Pak."
Dimas mengangkat gelas lagi. "Berarti boleh toast sekali lagi, Pak? Pakai es teh."
Waskito meliriknya. "Kalau kamu yang bayar."
Tawa pecah lebih keras.
Arka duduk kembali. Di depannya, gelas es teh sudah mencair. Di ujung meja, Waskito berbicara dengan Adira soal berkas Hendra. Di samping, Dimas masih menatapnya seperti baru menemukan alat bukti berjalan.
Panel kuning tadi menghilang, tapi bekasnya tertinggal di kepala Arka.
Jangkauan sistem sudah melewati kematian.
Ia bisa membaca luka orang hidup.
Pintu menuju jalur resmi sudah terbuka. Tapi malam itu Arka sadar, pintu lain juga ikut terbuka: kemampuan yang ia miliki jauh lebih luas daripada yang ia pahami.
Dan orang-orang di ruangan ini baru saja melihat secuilnya.