NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25 - APA BEDANYA?

"Kalau begitu, menurut sepupu, apa yang harus Wulan lakukan?" Wulan sama sekali tidak ingin memikirkan tipu daya licik mereka, tetapi ia tetap bertanya dengan berpura-pura tertarik, bahkan sedikit mencondongkan tubuh ke depan seolah sangat penasaran dengan usulan mereka, seperti anak kecil yang menunggu cerita menarik. Ia ingin melihat sejauh apa mereka berani menipu dirinya di depan matanya sendiri.

Kirana dan Aryati dengan cepat saling berpandangan, dan masing-masing melihat cibiran sinis yang tak bisa mereka sembunyikan di mata yang lain. Mereka tampaknya sangat puas dengan reaksi Wulan yang naif itu, seolah mangsa sudah masuk ke dalam perangkap yang mereka susun rapi. Tanpa mereka sadari, senyuman Wulan di hadapan mereka hanyalah topeng yang sama sekali berbeda dengan isi hatinya.

Tampaknya Nona Ketujuh keluarga Ardani ini masih sama bodohnya seperti sebelumnya, mudah sekali dipancing dengan sedikit rayuan manis dan janji-janji kosong yang mereka ucapkan dengan mulut manis. Kedua sepupu itu saling tersenyum puas, seolah kemenangan sudah ada di genggaman mereka. Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa yang sedang mereka tipu hari ini bukanlah Wulan yang dulu.

"Bagaimana kalau besok sepupu keluar dan membantu Sepupu Ketujuh menyampaikan pesan kepada Yang Mulia Pangeran Cendana?" Aryati berbicara dengan mata berkilat di depan Kirana. "Melihat seberapa tergila-gilanya Yang Mulia Pangeran Cendana kepada Sepupu Ketujuh, jika Sepupu Ketujuh mengatakan tidak ingin menikah dengan Pangeran Nalendra, Pangeran Cendana pasti akan membawa Sepupu Ketujuh pergi dari semua ini." Kata-kata itu keluar dengan lancar, seolah sudah dipersiapkan sejak lama, dan Wulan memperhatikan bagaimana tatapan Aryati mencoba membaca reaksinya.

"Apa yang dikatakan sepupu sangat masuk akal." Wulan tampak tergugah oleh perkataan itu. Ia menganggukkan dagunya pelan dan bertanya dengan cemas, "Hanya saja ayahku sangat ketat terhadapku sekarang dan tidak mengizinkanku keluar rumah sesuka hati. Aku tidak tahu apakah sepupu punya... kapan waktu yang tepat untuk pergi?" Suaranya dibuat ragu-ragu, seolah benar-benar mempercayai mereka, dan kedua sepupunya itu tampak semakin yakin bahwa rencana mereka berjalan mulus.

Aryati menekan kegembiraan yang meluap di dalam hatinya, tetapi suaranya tetap saja memperlihatkan rasa mendesak yang tak bisa ia tutupi. "Pada hari pernikahan besar, orang-orang begitu ramai pada hari itu, penjagaan kediaman Adipati Ardani akan longgar, dan akan lebih mudah bagi Sepupu Ketujuh untuk menyelinap keluar tanpa menarik perhatian siapa pun." Ia menekankan kata-kata itu seolah sangat peduli, padahal di baliknya tersimpan niat yang jauh dari tulus.

"Baiklah." Wulan tampak sangat tersentuh oleh perhatian mereka, melangkah maju dan menjabat tangan Aryati dengan erat, berkata dengan penuh rasa terima kasih, "Ini akan merepotkanmu. Sepupu benar-benar baik. Kebaikan ini, Wulan tidak akan pernah melupakannya." Bibirnya tersenyum, tetapi hatinya berkata sebaliknya. Ia bahkan menundukkan kepala sedikit, memberi kesan bahwa ia benar-benar mempercayai setiap kata yang mereka ucapkan.

Ketika Aryati melihat Wulan setuju, wajahnya tampak lega dan berseri. Kemudian ia menepuk punggung tangan Wulan dengan puas dan berkata sambil tersenyum, "Kita sama-sama bersaudara, kenapa harus mengucapkan banyak sekali kata-kata baik? Tentu saja sepupu akan membantu." Ia dan Kirana saling bertukar pandangan penuh kemenangan, seolah rencana mereka sudah setengah berhasil.

Wulan menurunkan bulu matanya dan tersenyum tipis, menyembunyikan cibiran dingin di balik matanya. Ia membiarkan mereka merasa menang untuk sementara waktu, sementara rencana sebenarnya sudah tersusun rapi di kepalanya tanpa sepengetahuan mereka. Saat kedua sepupunya itu berbalik, senyuman di wajah Wulan perlahan menghilang, digantikan tatapan yang tenang dan penuh perhitungan.

Melihat kedua sosok itu perlahan menjauh dan hilang di balik lorong, Intan menutup pintu dengan perasaan kesal, dan tidak bisa menahan diri untuk membujuk. "Nona, kedua putri dari keluarga kedua itu jelas-jelas gelisah dan berpura-pura baik. Hamba selalu merasa mereka menyimpan rencana lain di balik senyuman manis mereka. Nona tidak boleh termakan bujuk rayu mereka dan melakukan hal-hal bodoh." Intan berjalan mondar-mandir di depan pintu, tak mampu menyembunyikan kecemasannya.

Wulan memandangi wajah kecil Intan yang sedang cemberut, tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangan mencubit pipi gembulnya dengan suasana hati yang baik, lalu berkata sambil tersenyum, "Intan, aku tidak sebodoh itu. Tentu saja aku tahu mereka punya niat buruk di balik semua kebaikan mereka." Ia menepuk pundak Intan, mencoba meyakinkannya bahwa segalanya berada di bawah kendalinya.

"Ah?" Intan tidak mengerti. "Kalau begitu, mengapa Nona menyetujuinya?"

"Aku berjanji. Aku berjanji. Apakah aku tidak diizinkan untuk mengulanginya?" Wulan berkedip dengan penuh misteri, tersenyum seperti rubah kecil yang berbahaya dan licik. Ia tahu betul bahwa mengulang kata janji dua kali bukan berarti mengikat janji yang sesungguhnya.

Intan butuh beberapa saat sebelum ia mengerti maksud di balik kata-kata itu, "Ternyata Nona hanya berpura-pura setuju?" Matanya membulat, seolah baru saja menyingkap sebuah rahasia besar, dan ia menutup mulutnya sendiri dengan tangan sebagai isyarat bahwa ia mengerti tanpa perlu bertanya lagi.

"Tentu saja. Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal bodoh." Wulan berkedip lagi, menegaskan jawabannya dengan penuh keyakinan, membuat Intan merasa sedikit lega. Ia tahu bahwa Nona-nya yang baru ini berbeda dari yang dulu, dan kali ini ia memilih untuk mempercayainya sepenuh hati.

Intan merasa lega mendengar perkataan itu. Setelah menatap Wulan beberapa saat dengan saksama, ia berkata dengan bingung, "Nona, hamba tidak tahu apakah ini hanya perasaan hamba. Hamba selalu merasa sejak Nona terbangun dari jatuh ke air... ada yang berbeda dari diri Nona." Ia menggigit bibirnya, ragu-ragu apakah ia berhak mengungkapkan hal itu.

"Hah?" Wulan tidak menyangka gadis yang tampak sederhana itu bisa begitu tajam dalam mengamati perubahan sekecil apa pun. Ia tersenyum dan berkata, "Apa bedanya?" Namun, senyumnya sedikit memudar, karena ia sendiri sadar betul bahwa perubahan itu nyata dan tak bisa ia sembunyikan selamanya.

"Hamba tidak bisa mengatakannya." Intan berpikir keras untuk waktu yang lama, mengerutkan dahinya sekecil mungkin, lalu berkata dengan jujur, "Hamba hanya merasa Nona berbeda, tetapi jika diminta menjelaskan secara spesifik, hamba tidak bisa." Ia menggaruk kepalanya dengan bingung, seperti seorang anak kecil yang kesulitan merangkai kata.

"Apakah menurutmu aku aneh?" Wulan menyangga dagunya dan menatap Intan dengan rasa ingin tahu. Bahkan Intan menyadari keanehannya. Tidak ada alasan mengapa Nalendra tidak menyadarinya juga. Ia menghela napas pelan, menyadari bahwa perubahan dirinya semakin sulit disembunyikan, meskipun ia belum siap untuk menjelaskannya kepada siapa pun.

"Itu tidak aneh." Intan membusungkan mulutnya, duduk bersimpuh di samping kaki Wulan, menatapnya dengan serius. "Hamba justru merasa Nona tumbuh dalam semalam." Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa membuat hati Wulan terasa hangat. Ia tersenyum dan mengusap rambut Intan, merasa beruntung masih memiliki dayang yang setia seperti ini di sisinya.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!