Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Sudah Ceraikan Keith!
Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar, namun sinarnya tidak mampu menghangatkan suasana hati Jeslyn yang terasa mendung. Ia baru saja turun ke lantai bawah dan mendapati kursi di ujung meja makan kosong melompong.
"Di mana Keith?" tanya Jeslyn pada pelayan yang sedang merapikan meja.
"Tuan sudah berangkat sejak pukul lima pagi, Nyonya. Beliau tampak terburu-buru," jawab pelayan itu sopan.
Jeslyn hanya bisa menghela napas panjang. "Menghindar, ya?" batinnya getir.
Apakah keberanian Keith tadi malam hanya sebuah ilusi? Apakah pria itu merasa terbebani oleh pengakuan jujurnya sendiri? Jika Keith saja bisa goyah dan melarikan diri, mampukah Jeslyn benar-benar mengubah takdir Lucian yang begitu kelam dalam novel ini? Keraguan mulai menggerogoti hatinya.
Saat Jeslyn sedang melamun di depan secangkir teh yang mulai dingin, langkah kaki beradu dengan lantai marmer terdengar mendekat. Ia menoleh dan mendapati Vivian sudah berdiri di sana. Penampilannya sangat kontras dengan situasi kacau di mansion ini, Vivian tampil begitu rapi dengan setelan branded mahal dan dua buah koper besar di tangannya.
"Mau ke mana?" tanya Jeslyn, meskipun ia tahu Vivian pasti akan mengabaikannya.
Vivian tidak menoleh. Ia justru sibuk memeriksa jam tangannya, menunjukkan sikap tidak peduli yang luar biasa. Jeslyn bangkit dari duduknya, hatinya berdegup kencang karena firasat buruk.
"Vivian, tunggu!" Jeslyn melangkah cepat, menghampiri wanita itu.
"Aku sudah menceraikan Keith," potong Vivian dingin, tanpa basa-basi sedikit pun.
Jeslyn terbelalak. Dunianya seolah berputar. Bercerai? Di dalam novel yang ia baca, tidak pernah ada narasi tentang perceraian antara Keith dan Vivian. Mereka tetap terikat dalam pernikahan yang dingin hingga akhir hayat. Apakah karena kehadiranku, takdir novel ini mulai melenceng jauh?.
"Bercerai? Apa maksudmu?" Jeslyn meraih tangan Vivian dengan tangan yang gemetar. Air matanya tanpa sadar mulai menggenang.
"Apa kamu sudah bicara dengan Lucian? Sudahkah kamu menanyakan pendapatnya? Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah menorehkan begitu banyak luka di hatinya!"
Vivian menghela napas panjang, ekspresinya tampak lelah namun tetap angkuh. Ia melepaskan tangan Jeslyn dengan gerakan yang sangat rapi.
"Lucian sudah cukup besar untuk memahami bahwa hidup bukan tentang kesempurnaan keluarga yang dipaksakan," ujar Vivian tenang.
"Dia sudah cukup menderita selama ini bersamaku dan Keith yang sama-sama tidak tahu cara menjadi orang tua. Dia punya hidupnya sendiri, dan aku... aku punya mimpi yang selama ini terkubur."
"Tapi, Vivian, dia anakmu!" Jeslyn menyela, suaranya naik satu oktaf karena emosi.
"Kamu bisa mengejar mimpimu tanpa harus meninggalkan dia dalam kondisi mental yang hancur!"
Vivian menatap Jeslyn dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sejak aku memutuskan untuk menyandang nama belakang keluarga ini, aku sudah banyak berkorban. Masa mudaku, kebebasanku, mimpiku, semuanya habis untuk memenuhi standar konyol mereka. Sekarang, aku sudah tidak lagi menggunakan nama keluarga itu. Aku bebas. Dan sudah waktunya bagiku untuk menjadi egois."
"Egois? Kamu menyebut itu egois? Itu namanya pengecut!" seru Jeslyn, sisi bar-bar-nya mulai mendominasi.
"Kamu lari dari tanggung jawabmu sebagai ibu, membiarkan anakmu tumbuh tanpa kasih sayang, dan sekarang kamu pergi begitu saja karena ingin mengejar mimpi? Kamu benar-benar tidak punya hati!"
Vivian menatap Jeslyn dengan tatapan tajam, namun kali ini ada sedikit sorot kelelahan di sana.
"Tanggung jawab? Kamu pikir kasih sayang bisa dipaksakan? Aku tidak pernah mencintai Keith begitu juga dengan Keith, dan aku tidak pernah memiliki naluri keibuan untuk anak yang bahkan tidak kuinginkan. Menjaganya tetap di sisiku hanya akan membuatnya lebih menderita karena melihat ibunya yang selalu menatapnya dengan rasa benci."
"Setidaknya, kalau kamu pergi, beri dia alasan yang benar! Jangan buat dia merasa dibuang lagi!" desak Jeslyn dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
"Dia itu manusia, Vivian! Dia bukan pion catur yang bisa kamu pindahkan ke sudut ruangan lalu kamu lupakan!"
Vivian tertawa pelan, sebuah tawa yang terdengar kosong. "Kamu terlalu emosional, Jeslyn. Kamu pikir dengan menangis, duniamu akan berubah jadi lebih baik? Lucian akan baik-baik saja. Dia jauh lebih kuat daripada yang kamu kira. Dia sudah terbiasa dengan pengabaian, jadi kepergianku ini tidak akan memberikan dampak yang berarti baginya."
Vivian meraih pegangan kopernya kembali. "Sudah cukup bicaranya. Jangan mencoba mencariku atau mengaitkan namaku dengan keluarga ini lagi. Aku sudah bukan bagian dari mereka."
"Vivian!" Jeslyn mencoba menahan lengan wanita itu lagi, namun Vivian menepisnya dengan tatapan yang sangat dingin.
"Jaga saja anak itu, Jeslyn. Jika kamu memang merasa begitu peduli, jadilah ibunya yang baru. Itu justru akan lebih baik untuk kita semua."
Setelah mengatakan itu, Vivian melenggang pergi keluar dari pintu utama mansion. Langkahnya mantap, tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, meninggalkan Jeslyn yang berdiri mematung di tengah aula yang mendadak terasa begitu sunyi dan kosong.
Jeslyn terisak pelan, tangannya menutup mulutnya sendiri agar suara tangisannya tidak pecah. Ia merasa bingung pada dirinya sendiri. Mengapa dia pergi? Apakah ini berarti takdir Lucian akan menjadi lebih buruk atau justru lebih baik?.
Pikiran Jeslyn kacau. Kepergian Vivian yang mendadak ini adalah anomali terbesar dalam hidupnya di dunia ini. Ia merasa telah gagal menahan wanita itu untuk sekadar berpamitan dengan Lucian. Ia membayangkan bagaimana reaksi Lucian nanti saat tahu ibu kandungnya benar-benar telah pergi dan menghapus jejaknya dari kehidupan mereka selamanya.
"Apa yang harus aku katakan padanya?" bisik Jeslyn pada udara kosong.
Jeslyn tahu, mulai hari ini, perannya bukan lagi sekadar pelindung atau ibu tiri yang cerewet. Ia kini menjadi satu-satunya sosok yang tersisa bagi Lucian. Kepergian Vivian mungkin adalah sebuah kebebasan bagi wanita itu, namun bagi Lucian, itu bisa menjadi sebuah jurang yang sangat dalam. Jeslyn mengusap air matanya dengan kasar, menarik napas dalam-dalam, dan menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Ia tidak akan membiarkan Lucian hancur. Jika Vivian memilih untuk mengejar mimpinya, maka Jeslyn akan memilih untuk tetap di sini, menjadi tempat Lucian untuk pulang, bagaimanapun caranya.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.