Nandini adalah seorang gadis remaja yang cantik, berkulit putih, rambut lurus hitam pekat panjang, mata yang bulat indah.
Nandini yang baru putus dengan sang pacar yang bernama Tomy karena di selingkuhi pun harus menerima kalau dirinya akan di jodohkan dengan seseorang yang bahkan tidak di kenalnya sama sekali.
Kalau pun Nandini tau, Nandini pasti bakal menolaknya karena pria ini adalah dambaan setiap kaum hawa, yang dimana nantinya Nandini akan terus merasakan sakit hati karena popularitas pria yang di jodohkan nya bertolak belakang dengannya yang hanya mahasiswi biasa. Namun dugaan nya itu salah besar!
Akankah keduanya saling jatuh cinta? Atau malah akan sebaliknya?
Hem ... jangan lupa ikuti terus kisahnya deh, karna novel ini masih ongoing ya🤗
Bantu support karyaku ini♥️
Tinggalkan jejaknya dengan mengklik love, favorit, komen and dukungannya, ya🥰
Salam santuy dari author_lemot😍
RIMU06♥️💚🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina the dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nandini!
Nandini sangat menghawatirkan keadaan papanya itu.
"Nandini?" panggil Joan namun di abaikan Nandini karna masih sibuk dengan isi otak di kepalanya.
Joan pun berlari untuk menghampiri Nandini dan mensejajarkan langkahnya. "Nandini? Elo denger gue kan?" Joan pun menatap Nandini.
Nandini pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang sedang mengajaknya bicara. "Elo? Kenapa?" balasnya singkat dan masih melanjutkan jalannya.
"Elo kenapa? Ada masalah? Ceritain dong?" kata Joan.
"Enggak, gue lagi pengen sendiri, elo gak usah gangguin gue!" balasnya cuek.
Setelah itu Nandini pun pergi meninggalkan Joan.
"Kenapa dia, kayak ada masalah gitu, di tambah mukanya pucet banget." gumam Joan sambil melanjutkan langkahnya dan menemui kedua sahabatnya.
"Elo kenapa? Dateng-dateng muka lo kusut gitu, Jo?" tanya Kenzy yang sudah menatapnya sedari tadi.
"Gue cuman lagi ngerasa kasian sama cewek yang gue taksir, dia mukanya pucet banget, kayak banyak fikiran gitu, jadi gak tega gue liatnya." balas Joan.
"Cewek? Pacar lo, Jo?" tanya Kenzy dan Joan pun mengangguk. "Siapa pacar, lo?" sambung Kenzy.
"Nandini." jawaban itu membuat Kenzy tersedak minumannya sendiri.
Uhukk! Uhukk!
Setelah itu tatapan kedua temannya pun terfokus ke arah Kenzy yang sedang tersedak itu.
"Elo gapapa kan, Ken?" tanya Diki sambil memukul-mukul punggungnya Kenzy.
"Ekhemz ...!" Kenzy pun berdehem. "Udah gue gapapa kok, aman!" balas Kenzy dengan senyumannya yang khas.
"Syukurlah kalau lo gapapa, gue hawatir kalau lo tersedak karna gue sebut nama itu?" Joan pun duduk di kursinya.
Kenzy pun menepuk pelan pundaknya Joan.
"Emang gue sempat kaget, gue aja gak suka liat itu cewek, tapi elo malah suka sama dia." Joan pun tersenyum miring.
"Mungkin bagi lo dia bagaikan musuh, tapi bagi gue beda lagi, entah kenapa gue begitu tertarik sama kecantikannya dia."
"Terobsesi paling lu sama dia, bukannya cinta, b*ngk*!" cetus Diki dan Kenzy pun hanya menggeleng sambil tertawa kecil.
Setelah itu Joan pun mengabaikan ucapannya Diki dan memfokuskan pandangannya ke ponsel yang di pegangnya.
"Gue cabut dulu, ada urusan sebentar!" tanpa harus menunggu balasan, Kenzy pergi meninggalkan kedua temannya.
Kenzy mulai mencari keberadaan si gadis yang di ceritakan Joan - Nandini.
Matanya Kenzy menyapu setiap sudut di ruangan kelasnya Nandini, namun tak kunjung menemukannya.
Untung disana tidak ada orang yang akan mencurigainya, karna dia sedang izin tak masuk kampus dulu - Keyla.
Kenzy pun kembali mencari keberadaan si gadis di sekitaran kampus, namun tetap saja tak ada, mau tidak mau Kenzy pun harus bertanya ke seorang.
"Maaf, gue cuman mau tanya, elo ada liat, Nandini?" kata Kenzy menatap serius.
"Tadi sih berpapasan di toilet, coba cari disana aja?" balas mahasiswi itu - Indah.
Tanpa membalas, Kenzy pun langsung berlari kecil menuju ke toilet wanita.
Entah apa yang ada di fikirannya, tiba-tiba saja Kenzy ingin menemui gadisnya. Haa___ gadisnya? Bahkan sampai sekarang pun Kenzy masih menjalin hubungan dengan Keyla dan Nandini sangatlah tidak pantas untuk kata gadisnya itu.
Sesampainya di toilet wanita, Kenzy sudah cukup lama menunggu Nandini di luar toilet, namun gadis itu tidak kunjung keluar juga.
Kenzy pun harus kembali bertanya kepada mahasiswi yang baru keluar dari toilet itu.
"Ehh tunggu? Gue mau tanya, apa di dalam ada Nandini?" tanyanya ragu, namun terlanjur menyebutkan namanya.
"Di dalem udah kosong dan gue gak liat cewek yang lo maksud?" balasnya - Vanya.
"Oh ... makasi, ya." keta Kenzy sambil tersenyum dan Vanya pun mengangguk setelah itu pergi meninggalkan Kenzy.
Kenzy pun memegang keningnya, pusing. "Kok mendadak jadi susah, ya, buat nemuin itu cewek, biasanya juga gampang." gumam Kenzy sambil kembali berjalan dan melewati koridor-koridor kampus.
Matanya terus saja menyapu halaman yang di lewatinya dan berharap menemukan gadis yang di carinya.
Benar saja, Kenzy berhasil menemukan gadisnya yang tengah asik membaca buku di taman kampus.
Kenzy pun langsung berinisiatif untuk menghampiri dan duduk di sampingnya yang kosong.
"Semalam lo kemana? Gak pulang ke rumah kenapa?" tanya Kenzy sambil menatap wajah cantik yang terpampang jelas di depan matanya.
"Bukan urusan lo, lagian lo ngapain nyamperin gue di tempat umum kayak gini, kalau Keyla liat, dia bisa salah paham kan sama gue?" Nandini pun memutar bola matanya malas dan hendak pergi dari taman itu, namun Kenzy berhasil menahannya sehingga Nandini tidak bisa pergi meninggalkannya.
"Apa lagi sih, elo belum puas selalu bikin hidup gue kena tampar terus? Dasar gak punya hati!" Nandini pun memalingkan wajahnya enggan menatap wajahnya Kenzy.
"Gak akan, Keyla lagi gak masuk kampus, tinggal jawab aja, elo kemana semalam?" sorot matanya Kenzy seakan menusuk jauh kesana dan Nandini pun mencoba menghela nafasnya.
"Gue tidur di hotel, lagian itu gak penting buat lo, udah ya. Gue mau pergi!" Nandini pun melepaskan genggaman tangannya Kenzy yang berhasil menahannya barusan.
Saat mendengar kata hotel, tiba-tiba saja fikirannya Kenzy berputar dan menerka-nerka kalau Nandini tidur di temani pria hidung belang, makanya Nandini sampai lemas dan wajahnya memang pucat.
Kenzy pun tersenyum remeh menatap wajahnya Nandini. "Elo emang cocok di hotel, ya udah good luck! Gue cabut duluan!" tak ada ekspresi yang menarik dalam mimik wajahnya Kenzy barusan.
Nandini pun mencoba menghilangkan kembali kecemasan soal Hernandang dengan membaca novel dan yang lainnya.
Setelah menemui Nandini, Kenzy pun langsung menenangkan otaknya yang pusing itu di rooftof kampus.
"Otak gue sungguh berdosa, kenapa gue bisa menyangka kalau Nandini tidur di hotel di temani pria bejat, sih. Ayo Kenzy berfikir jernih dong. Aarrgghh ...!" Kenzy berteriak sekencang mungkin di atas rooftof itu.
"Lagian gue kenapa sih, mau dia bagaimana pun itu bukan urusan gue, lagian gue juga punya cewek lain, adik sepupunya sendiri malahan!" sambung Kenzy di tengah kekesalannya itu.
★★★
Saat jam pulang tiba, semua mahasiswa dan mahasiswi akhir pun mulai mendapat pengumuman untuk membuat tugas akhir yaitu menyusun skripsi dengan sebaik mungkin dan bersungguh-sungguh! Fighting for all!!!
Sebelum keluar dari parkiran kampus, Joan sengaja menunggu Nandini disana.
"Hai cantik? Mau pulang, ya?" tanya Joan yang tengah bersantai di depan mobilnya Nandini.
"Iya lah pulang, kenapa? Lo mau nginep disini?" balas Nandini sambil membuka kunci pintu mobilnya.
"Tunggu dulu dong, gue udah dari tadi lho nungguin lo disini? Gue kepanasan nih, masa lo gak kasian sama gue?" kata Joan sambil menampilkan mimik wajah sedihnya.
"Terus gue harus gimana? Gue mau buru-buru pulang nih?" balas Nandini malas.
"Ya udah gue ikut nemenin lo pulang ke rumah, ya? Gue cuman pengen mastiin elo gak kenapa-napa?" Joan pun menatap wajahnya Nandini dan berharap Nandini mengiyakannya.
"Boleh aja, ya udah lo tinggal ikutin gue aja, elo bawa mobil kan?" kata Nandini dan Joan pun mengangguk.
"Ya udah lo jalan duluan, gue ngikutin lo dari belakang?" Nandini pun mengangguk setuju.
Setelah itu Nandini pun mulai menginjak pedal gas mobilnya dan mulai berangkat ke rumahnya di ikuti Joan.
"Si Joan ngapain ngikutin si Nandini?tanya Kenzy sambil melirik ke arah Diki yang ada di sampingnya.
"Mungkin dia mau nganterin si Nandini pulang, hawatir kali kalau terjadi apa-apa sama pujaannya, emang lo gak liat kalau wajahnya si Nandini masih pucat kayak gitu?" balas Diki kalem.
"Lebay banget, cuman pucet gitu doang, kalau sampe pingsan baru tuh. Ini kan dia masih bisa nyetir mobil." kata Kenzy yang diam-diam cemburu.
"Urusan dia lah ngab, namanya juga sedang kasmaran, mau gimana pun, ya, pepet aja. Selama ada peluang!" balas Diki yang mulai memainkan ponselnya untuk main game.
"Ogeb dasar ... kalau si Joan bisa gitu sama cewek terus elo kenapa enggak?" tanya Kenzy sambil menancap pedal gas mobilnya keluar dari gerbang kampus.
"Itu urusan gampang, kalau si Nandini gak tertarik sama si Jo, nanti gue ambil alih aja!" balas Diki.
"Punya sobi pada s**** semua dah, bingung!" Diki pun hanya berdecak kesal pada handphonenya karna kalah dari permainan sehingga mengabaikan omongannya Kenzy barusan.
"Kalau sampai si Nandini juga tertarik sama si Jo, gimana? Joan kan sobi gue, gak mungkin dong gue ngebiarin sobi gue terperangkap cinta yang gak semestinya, karna mau gimana pun Nandini kan istri gue dan gak mungkin kalau gue cerain dia!" batin Kenzy sambil menggaruk tengkuknya pelan dan tetap fokus menyetir.
Nandini dan Joan POV
Sesampainya di depan rumah Nandini, Nandini pun langsung mengajak Joan untuk masuk ke dalam rumahnya.
Joan pun keluar dari dalam mobilnya. "Ini rumah lo? Gede juga!" kata Joan.
"Bukan, ini rumah bokap gue, kenapa?" balas Nandini.
"Gapapa sih, elo kenapa? Kayaknya elo keliatan banyak masalah?" Joan pun menatap wajah cantiknya Nandini.
"Gapapa. Ayo masuk?" ajaknya sambil melangkahkan kaki dan Joan pun mengikuti. "Elo duduk aja dulu, gue mau ke kamar dulu, ganti baju?" sambungnya dan Joan pun mengangguk.
Setelah itu Nandini pun pergi dan menyuruh pembantunya untuk menyiapkan minuman dan makanan untuk Joan.
★★★
Setelah mengganti pakaiannya, Nandini pun langsung menemui papanya di kamar yang masih terbaring lemas dengan infusan yang masih menempel di tangannya.
Nandini pun kembali meneteskan air matanya sambil memegang tangan papanya. "Pah, cepet sembuh dong, Nandini gak mau liat papa terus terbaring disini, kalau tau papa bakalan kayak gini, Nandini lebih baik gak nikah aja, pah?" gumamnya dan tak lama dari itu Hernandang pun bangun dari tidurnya dan langsung mengusap lembut pucuk kepalanya Nandini.
"Sayang, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, papa gapapa kok, palingan besok juga sudah normal kembali?" balas Hernandang.
"Tapi Nandini begitu cemas pah, pokoknya Nandini gak akan pulang ke rumahnya Kenzy kalau keadaan papa belom stabil juga." ancamnya dan gak mau tau.
"Iya sayang iya ... papa bakal usahain untuk segera sembuh, kamu jangan kelamaan ninggalin suami kamu, gak baik lho." Nandini pun hanya menunjukkan sikap memelasnya.
"Ya udah papa cepet sembuh aja, Nandini mau keluar dulu. Oh iya, dokter Rahman mau jam berapa kesininya?" tanya Nandini.
"Sebentar lagi, mungkin hari ini semua infusan akan di lepas, papa juga udah ngerasa baik-baik aja kok."
Nandini pun menghembuskan nafasnya pelan dan mengangguk. "Ya udah Nandini keluar dulu, papa istirahat lagi aja." Hernandang pun mengangguk dan Nandini pun keluar dari kamar papanya dan langsung menemui Joan.
"Sorry lama. Gue ada urusan dulu, elo gak marah kan sama gue?" tanya Nandini sambil duduk di kursi sebelahnya Joan.
"Gapapa kok santai aja, keluarga lo pada kemana? Kok gue cuman liat pembantu lo doang," balas Joan.
"Ada. Bokap gue lagi di kamar, gue cuman anak semata wayang. Jadi gue gak punya kakak apalagi adik!" kata Nandini dan Joan pun tersenyum kecil.
Tak lama dari itu, dokter Rahman alias om Rahman pun datang untuk memeriksa keadaan papanya Nandini.
"Nandini, tumben kamu ada di rumah?" kata om Rahman.
"Iya om, Nandini lagi pengen nemenin papa dulu, sebaiknya om langsung periksa papa aja deh, soalnya papa udah menunggu dari tadi?" balas Nandini mengalihkan pembicaraan, agar omnya gak menyebutkan soal suaminya - Kenzy.
"Ya udah om masuk dulu, ya?" pamitnya dan Nandini pun mengangguk.
"Bokap lo sakit, terus kenapa lo gak bilang sama gue?" kata Joan menatap wajahnya Nandini.
"Udah gapapa kok, bokap gue cuman sakit ringan, elo gak usah hawatir!" Nandini pun mencoba tersenyum seakan dirinya baik-baik saja.
"Gue hawatir sama lo? Gue liat muka lo begitu pucet, gue takut elo kenapa-napa?"
"Udah lo gak usah hawatir, mungkin gue kecapekan doang, gue gak bisa tenang kalau liat bokap gue sakit?"
"Hemm ... ya udah deh, elo gak usah banyak fikiran, gue ikutan cemas juga dengan keadaan lo, tapi gue juga gak bisa ngelakuin apa-apa sih, gue mau sekalian pamit pulang deh."
"Oh elo mau pulang? Ya udah gue anterin lo nyampe depan, ya?" Joan pun mengangguk, setelah itu mengantarkan Joan sampai depan gerbang rumahnya.
Setelah itu Joan pun pulang dengan mobil yang di bawanya.
★★★
"Gimana keadaannya papa, om?" tanya Nandini tepat di depan omnya - Rahman.
"Alhamdulillah ... papa kamu mulai membaik keadaannya, dan om juga sudah melepas semua alat yang menempel di tangan papa kamu, tinggal istirahtnya aja yang lebih penting...!"
Nandini pun tersenyum senang. "Alhamdulillah ... makasih ya om, karna om udah merawat papa?"
Om Rahman pun menepuk bahunya nandini pelan. "Udah kewajiban om, ya udah kalau gitu om pulang dulu, ya? Tolong di jaga pola makannya papa kamu?"
Nandini pun mengangguk. "Iya om, om hati-hati ya di jalannya?"
Om Rahman pun mengangguk dan langsung pulang dari kediamannya Nandini.
Kenzy POV
Monna - mamanya Kenzy pun menghampiri. "Ken? Apa kamu sudah mencari tau keberadaannya Nandini?" tanyanya dengan lembut.
Kenzy pun menggeleng pelan. "Aku gak tau, tapi aku liat di kampus sepertinya dia pulang ke rumah papanya?" balas Kenzy.
"Oh gitu, Ken? Sebaiknya kamu temani Nandini disana? Mama dengar, papa mertua kamu sakit? Makanya Nandini kesana?" kata Monna - mamanya Kenzy menyarankan.
"Iya sebentar lagi aku kesana, ya udah aku masuk kamar dulu?" Monna - mamanya Kenzy pun mengangguk.
Setelah itu Kenzy pun masuk ke dalam kamarnya.
setelah sekian lama aku kirain udah aja cerita nya....
lanjut... ...
udah mulai ada konflik ya.....💪💪💪💪💪🥰🥰
lanjutnya jangan lama" bikin kangen..