NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 014: Daging Cincang di TPA

Adira menurunkan HT dari mulutnya.

"Inafis, percepat foto awal. Setelah itu kita buka kantong pertama di bawah dokumentasi."

"Siap, Bu."

Lampu senter bergerak di atas aspal basah.

Petugas Inafis memotret dari empat sudut. Nomor bukti kecil diletakkan di dekat kantong hitam. Tidak ada yang menyentuh sebelum kamera selesai bekerja.

Arka berdiri di luar garis, masker menutup wajahnya, sarung tangan sudah terpasang.

Bambang di sampingnya tidak bercanda lagi.

"Masih satu kantong?" tanya Bambang pada anggota lapangan.

"Yang terlihat satu, Pak. Tapi bau dari belakang kontainer juga ada. Tim sedang cek."

Adira menoleh ke Arka. "Begitu boleh masuk, kamu lihat. Tapi jangan potong apa pun di sini. Cukup identifikasi awal."

"Siap. Semua pemeriksaan lanjutan di IKF."

"Bagus."

Satu kata itu pendek, tetapi cukup jelas.

Adira tidak memanggilnya untuk pamer kemampuan.

Ia memanggilnya untuk menjaga agar keputusan pertama tidak salah.

"Foto selesai," kata petugas Inafis.

Adira mengangkat tangan. "Dok, masuk. Bambang, catat ucapan awalnya."

Arka melewati garis polisi.

Langkahnya pelan, mengikuti jalur yang sudah ditandai. Ia berjongkok di dekat kantong, menyalakan senter kecil, lalu membuka lipatan plastik dengan pinset.

Bau busuk dingin naik lebih kuat.

Petugas kebersihan di belakang langsung menutup mulut.

Arka tidak mundur.

Di dalam kantong ada tiga potongan jaringan.

Satu sebesar telapak tangan.

Dua lebih kecil, bentuknya tidak teratur. Permukaannya pucat kemerahan. Di beberapa titik ada lapisan putih kekuningan yang jelas bukan lemak sapi di pasar.

Saat pandangannya terkunci, panel merah muncul.

[Pemotongan Mekanis]

[Pembunuhan]

Di bawahnya, tiga baris kuning menyala lebih lambat.

[Dibekukan Pasca-Kematian]

[Lalu Dicairkan]

[Durasi Pembekuan: >\= 72 Jam]

Arka menahan otot wajahnya.

Tidak boleh bereaksi terlalu cepat.

Ia menggeser senter ke tepi potongan pertama.

Garisnya rata, tetapi tidak bersih sempurna. Ada bekas gerigi halus pada struktur yang lebih keras. Serat jaringan di sekitar tepi tidak menunjukkan perdarahan aktif besar.

Pascakematian.

Dipisahkan setelah korban mati.

"Dok?" Adira bertanya.

Arka berbicara tanpa mengangkat kepala. "Kemungkinan besar jaringan manusia. Potongan pertama ada lapisan subkutan. Tepi potong menunjukkan alat mekanis. Pisau dapur biasa tidak meninggalkan pola seperti ini."

Bambang mencatat cepat.

"Mekanis maksudnya?" tanya Adira.

"Gergaji atau alat potong bergerigi bertenaga. Belum bisa pastikan jenis sebelum dibawa ke IKF."

"Pembunuhan?"

Arka diam setengah detik.

Sistem sudah memberi kata itu.

Tetapi kata itu tidak boleh keluar tanpa dasar.

"Untuk sekarang saya tulis: dugaan kuat mutilasi pascakematian. Karena jaringannya tidak utuh, konteks pembuangan tersembunyi, dan potongan bukan limbah medis atau daging hewan biasa. Status pembunuhan harus menunggu identifikasi korban dan pemeriksaan lengkap."

Adira mengangguk.

Itu jawaban yang bisa masuk laporan.

Jawaban itu harus bisa diuji.

Arka mendekatkan senter pada permukaan jaringan. Ada bagian yang tampak kering di luar, tetapi basah di tengah.

"Ada riwayat pembekuan," katanya.

Bambang mengangkat kepala. "Dari mana?"

"Tekstur permukaan tidak segar. Ada cairan lepas setelah mencair. Bagian tepi seperti mengalami kerusakan kristal es. Bau juga berbeda. Kalau jaringan segar dibiarkan di tempat sampah Surabaya, pembusukannya lebih panas, lebih tajam. Ini busuk, tapi ada jejak dingin."

Bambang menatap kantong itu, lalu menatap gudang di sekitar mereka.

"Gudang makanan beku," gumamnya.

Adira langsung menangkap. "Kita punya berapa gudang pendingin di kawasan ini?"

Seorang anggota menjawab, "Banyak, Bu. Minimal belasan. Gudang ikan, daging, logistik beku."

"Catat semua. Tapi jangan loncat. Kita selesaikan lokasi dulu."

Arka menutup kembali lipatan plastik. "Kantong ini harus diangkat utuh. Jangan pisahkan isinya di lapangan. Bungkus luar juga barang bukti. Bisa ada sidik jari, serat, cairan, atau residu tempat penyimpanan."

"Sudah dengar," kata Adira ke anggota. "Kantong bukti besar. Label lokasi, jam, penemu, dan petugas pengambil."

"Siap."

Dari arah belakang kontainer, seorang polisi berlari mendekat.

"Bu! Ada kantong lain. Di belakang bak sampah biru. Baunya sama."

Adira tidak bergerak sesaat.

Lalu matanya menajam. "Nomor dua. Jangan buka sebelum difoto."

"Siap, Bu."

Bambang menghela napas kasar. "Dok, firasatmu tadi benar."

"Bukan firasat, Pak. Arah baunya berbeda."

"Bau saja bisa punya arah?"

"Kalau sumbernya lebih dari satu, iya."

Bambang menatapnya. "Saya kadang lupa kamu masih manusia biasa."

"Gaji saya masih manusia biasa, Pak."

Bambang nyaris tertawa, tetapi laporan berikutnya memotong.

"Bu! Di dekat pagar belakang ada satu lagi!"

Adira mengangkat HT. "Semua unit, pencarian sistematis. Jangan jalan sembarang. Buat grid dari titik awal. Kontainer, saluran air, belakang pagar, bawah palet. Setiap temuan diberi nomor. Tidak ada yang buka tanpa Inafis."

Suara radio menjawab tumpang tindih.

Arka berdiri dan mundur dari kantong pertama. Ia melihat peta kasar kawasan di tablet anggota. Gudang logistik berada di tengah, tempat sampah di sisi belakang, saluran air kecil di utara, pagar kawat di selatan.

Jika pelaku membuang tergesa-gesa, kantong akan terkumpul di satu titik.

Jika pelaku menyebar dengan sengaja, jaraknya akan punya pola.

"Bu Iptu," kata Arka.

Adira mendekat. "Apa?"

"Minta tim catat jarak tiap kantong dari titik gudang dan arah akses kendaraan. Jangan hanya kumpulkan. Pola sebar bisa menunjukkan apakah pelaku berjalan kaki atau memakai kendaraan kecil."

Adira menunjuk seorang anggota. "Dengar? Buat sketsa. Ukur jarak. Foto jalur."

"Siap."

Dimas akhirnya tiba dengan helm masih di tangan.

Begitu mencium bau, wajahnya berubah.

"Ya Allah," gumamnya. "Bau ini berasal dari jaringan membusuk."

Bambang menepuk bahunya. "Selamat datang. Jangan muntah di barang bukti."

"Pak Bambang sendiri sudah aman?"

"Saya senior. Senior muntah terakhir."

Arka tidak ikut tersenyum lama.

Dimas punya label kuning kecil di sekitar wajahnya.

[Mual ringan]

[Pening karena bau]

Normal.

Bahkan terlalu normal untuk malam seperti ini.

Kevin Tanuwijaya datang sepuluh menit kemudian dengan tas laptop. Tubuhnya kurus, kacamatanya turun sedikit di hidung.

"Bu Adira, saya sudah minta akses CCTV gudang. Ada tiga kamera belakang, satu mati sejak dua minggu lalu."

"Kenapa mati?"

"Alasan admin: kabel digigit tikus."

Bambang mendengus. "Tikus sekarang pintar memilih kamera belakang."

Kevin membuka laptop di kap mobil patroli. "Saya cek rekaman dua kamera lain dulu. Tapi sudutnya jelek. Kalau pelaku tahu blind spot, dia bisa masuk dari sisi saluran."

Arka menatap area saluran air.

Bau dari sana lebih tipis, tetapi ada.

"Tim utara sudah cek saluran?" tanya Arka.

Adira mengangkat HT. "Unit utara, status saluran air?"

Jawaban masuk dengan napas terengah.

"Bu, ditemukan kantong keempat. Tersangkut besi penutup saluran. Masih tertutup."

Adira menatap Arka.

Arka menatap kantong pertama yang sudah mulai dimasukkan ke wadah bukti.

Empat kantong dalam beberapa menit.

Pola sebarannya terlalu rapi untuk pembuangan panik.

Ini distribusi.

"Pelaku punya waktu," kata Arka.

"Jelaskan."

"Kantong tidak ditumpuk. Disentuh beberapa titik. Ada yang di belakang kontainer, dekat pagar, saluran air. Kalau satu orang membawa banyak kantong sekaligus, dia butuh rute. Kalau rutenya rapi, dia kenal tempat ini."

Adira langsung berkata, "Pekerja gudang, sopir logistik, petugas kebersihan, satpam, atau orang yang pernah kerja di sini."

"Dan punya akses ke pendingin."

Kevin mengangkat kepala dari laptop. "Gudang beku di blok ini ada lima. Dalam radius lima ratus meter ada sebelas."

Bambang mengusap wajah. "Malam kita panjang."

"Malam korban lebih panjang," kata Adira dingin.

Tidak ada yang membalas.

Pencarian berlangsung lebih dari satu jam.

Setiap beberapa menit, radio mengeluarkan angka baru.

Kantong lima di bawah palet.

Kantong enam di balik kontainer kosong.

Kantong tujuh dekat pagar kawat.

Kantong delapan di selokan dangkal.

Arka tidak membuka semuanya di lapangan. Ia hanya memastikan posisi, bau, bentuk luar, dan cairan yang merembes. Semua dicatat. Semua difoto. Semua diberi nomor.

Pada kantong kesembilan, seorang anggota muda terlalu cepat menarik plastik.

"Berhenti," kata Arka.

Suaranya tidak keras, tetapi tajam.

Anggota itu membeku.

Arka menunjuk simpul plastik. "Foto simpulnya dulu. Arah ikatan bisa menunjukkan tangan dominan atau kebiasaan pelaku. Kalau dibuka sembarang, informasi hilang."

Adira menoleh ke anggota itu. "Dengar Dokter Arka. Ulang dari awal."

"Siap, Bu. Maaf, Dok."

Arka mengangguk singkat.

Di kasus Sari, ia membuka pintu besi tanpa izin.

Malam ini ia menjaga orang lain agar tidak merusak pintu bukti.

Itu bedanya jalur resmi.

Pukul dua lewat empat puluh, semua tim berkumpul di dekat kap mobil patroli.

Adira memegang daftar temuan.

Wajahnya keras.

"Laporan akhir sementara," katanya. "Berapa?"

Anggota Inafis menjawab pelan, seolah angka itu berat di lidah.

"Empat belas kantong, Bu. Semua hitam. Semua dalam radius lima ratus meter. Beberapa mengeluarkan cairan dan bau serupa."

Dimas menelan ludah.

Bambang tidak bicara.

Kevin berhenti mengetik.

Arka menatap deretan nomor bukti di peta kasar.

Empat belas titik.

Pelaku sedang menghapus identitas.

Ini cara seseorang memecah manusia menjadi masalah logistik.

Adira melipat daftar itu.

"Kirim semua ke IKF. Pengawalan penuh. Mulai sekarang ini perkara mutilasi."

Panel merah di depan mata Arka menyala sekali lagi, lebih tajam dari sebelumnya.

[Pemotongan Mekanis]

[Pembunuhan]

[Misi diperbarui: susun ulang identitas korban]

Arka memasukkan pinset ke tas.

Di depannya, empat belas kantong hitam diangkat satu per satu ke kendaraan barang bukti.

Malam Rungkut tidak lagi biasa.

Ia baru saja membuka tubuh sebuah rahasia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!