Valentina Mahendra Arini terbiasa mengendalikan segalanya. Di menara kendali, suaranya menentukan hidup ratusan penumpang. Di luar sana, hidupnya justru nyaris runtuh: mantan kekasih yang merendahkannya, saudari tiri yang memanipulasi, dan ayah yang memakai ibunya yang koma serta neneknya sebagai alat ancaman.
Malam ketika ia ingin melupakan semuanya, Val bertemu kembali dengan Sebastian Bara, rival masa SMA yang dulu paling ia benci. Satu malam yang seharusnya menjadi kesalahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit ketika Val mengetahui Sebastian adalah kapten di maskapai yang setiap hari ia pandu dari menara.
Sebastian tidak menawarkan janji manis. Ia hanya muncul, diam-diam menjaga, dan menolak membiarkan Val mengubah luka-lukanya menjadi hal yang bisa dibeli atau disangkal. Di antara frekuensi radio, jadwal penerbangan, rahasia keluarga, dan bahaya yang makin dekat, Val harus memutuskan apakah kendali berarti bertahan sendirian, atau berani membiarkan seseorang berdiri di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VivianMansano, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Tidak Lagi Sendiri
...Val....
Aku melihatnya sebelum dia melihatku.
Dia berdiri di koridor sayap administrasi Klinik Santa Lucia, di samping seorang pria tua berjas gelap dan membawa tas dokumen. Mereka berbicara pelan di depan pintu tertutup bertuliskan "Direksi".
Lukian Reyhan. Di klinik ibuku.
Aku berhenti mendadak. Mundur tiga langkah dan menempel ke dinding. Jantungku berdetak begitu keras sampai aku yakin suaranya bisa terdengar sampai ujung lorong.
Untuk apa Lukian ada di sini?
Pria berjas itu membuka tasnya dan menunjukkan sebuah dokumen. Kulihat Lukian membacanya, mengangguk, mengeluarkan pena, lalu menandatangani bagian bawah. Pria itu menjabat tangannya, kemudian mereka berjalan pergi ke arah yang berlawanan denganku.
Mereka tidak melihatku.
Aku tetap di sana, punggung menempel ke dinding, rasa takut meninggalkan rasa logam di lidahku. Lukian menandatangani dokumen di Klinik Santa Lucia. Lukian, yang selama tiga tahun tidak pernah menginjakkan kaki di klinik ini. Lukian, yang tidak punya alasan apa pun untuk berada di sini kecuali...
Tidak. Tidak mungkin.
Aku mengeluarkan ponsel dan mencari nama pria berjas itu. Aku pernah melihatnya di berita keuangan yang ditonton ayahku saat makan malam keluarga. Ramiro Kencana. Pengacara korporat. Spesialis akuisisi dan merger.
Akuisisi.
Kakiku gemetar.
Aku mencari di Google: "Klinik Santa Lucia + pemegang saham". Hasilnya menghantamku seperti seember air es. Klinik itu dimiliki oleh sekelompok investor swasta. Salah satu dari mereka, yang terbesar dengan 35% saham, sedang dalam proses menjual kepemilikannya.
Kalau Lukian membeli saham itu, dia akan punya pengaruh atas manajemen, kontrak, dan alokasi sumber daya klinik. Dia tidak bisa memerintahkan tindakan medis, tetapi dia bisa mempersulit akses, pemindahan, dan keberadaan ibuku di sana.
Atasku.
"Mahendra."
Suara Sebastian membuatku tersentak. Dia berdiri di ujung koridor, membawa bunga untuk ibunya, mata tertuju ke wajahku.
"Apa yang terjadi?" Dia mendekat cepat. "Wajahmu pucat."
"Lukian. Dia tadi di sini. Di klinik."
"Mantanmu? Di sini? Untuk apa?"
"Aku rasa... aku rasa dia sedang membeli saham klinik."
Sebastian diam tiga detik. Lalu ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Sesuatu yang keras. Sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
"Jelaskan."
Aku menceritakan semuanya. Pria dengan tas dokumen, tanda tangan itu, Ramiro Kencana, hasil pencarian Google. Semakin aku bicara, rahang Sebastian semakin mengeras.
"Ibumu ada di sini?" tanyanya.
"Ya."
"Dan dia tahu?"
"Ya. Dia selalu tahu."
"Bajingan."
Itu pertama kalinya aku mendengarnya memaki dengan amarah sebesar itu. Bukan umpatan kosong. Itu pernyataan. Vonis.
"Kalau dia mendapatkan saham itu," kataku, dan suaraku terdengar lebih rapuh daripada yang kuinginkan, "dia bisa menentukan apa yang terjadi pada ibuku. Perawatannya. Semuanya."
"Dia tidak akan mendapatkannya."
"Seb, kamu tidak bisa mencegah..."
"Dia tidak akan mendapatkannya," ulangnya, dengan nada yang tidak memberi ruang bantahan.
Aku tidak bertanya bagaimana. Tidak bertanya apa yang akan dia lakukan. Karena saat itu, di koridor yang berbau disinfektan dan mawar layu, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah percaya bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang berdiri di sisiku.
Kami berjalan bersama ke pintu keluar. Di pintu utama, sinar matahari menghantam wajahku dan aku berkedip.
Di sanalah Lukian.
Bersandar pada mobilnya di parkiran, lengan terlipat, menungguku. Seolah dia tahu aku ada di sana. Seolah dia tahu aku melihatnya.
"Boneka," katanya sambil tersenyum. "Kebetulan sekali bertemu kamu di sini."
"Ini bukan kebetulan dan kamu tahu itu."
"Siapa bilang bukan? Aku datang untuk meninjau investasi." Dia melirik ke belakangku, lalu senyumnya melebar ketika melihat Sebastian. "Ah. Si pilot."
Sebastian tidak mengatakan apa-apa. Dia berdiri di sampingku, tangan di saku, dengan ketenangan yang sudah kupahami jauh lebih berbahaya daripada teriakan apa pun.
"Lukian Reyhan," kata Lukian sambil mengulurkan tangan. "Pacar Valentina."
"Mantan," koreksiku.
"Mantan," ulang Lukian, tangannya tetap terulur. "Untuk sementara."
Sebastian menatap tangan itu. Dia tidak menyambutnya.
"Sebastian Bara," katanya. "Dan aku bukan tipe orang yang menjabat tangan orang asing."
Lukian menurunkan tangannya. Senyumnya menegang.
"Bara. Nama keluarga yang menarik. Kamu bukan dari keluarga Bara yang... yah, kamu tahu?"
Sebastian tidak menjawab.
"Karena kalau benar," lanjut Lukian, menurunkan suara, "kamu harus tahu Valentina itu... rumit. Dia punya masalah. Banyak masalah. Dan kurasa seorang pilot, setampan apa pun, tidak akan sanggup menanganinya."
"Aku tidak menangani manusia," kata Sebastian. "Itu kebiasaanmu."
Senyum Lukian hilang. Dia menatapku, lalu menatap klinik di belakang kami. Kalimat berikutnya dia ucapkan pelan, seperti mengunyah setiap kata.
"Ibumu berada di tangan yang baik, Val." Dia mengenakan kacamata hitamnya. "Lebih tepatnya, sebentar lagi dia akan berada di tanganku. Dan kalau itu terjadi, kamu dan aku akan bicara. Dengan tenang. Seperti orang dewasa. Mengerti?"
Aku tidak menjawab.
Dia masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Meninggalkan kami berdiri di parkiran, bersama bau bensin dan ancaman yang menggantung di udara seperti asap.
"Val," kata Sebastian, suaranya tenang tetapi ada sesuatu yang bergetar di bawahnya. "Aku perlu kamu menceritakan semuanya. Semuanya. Dari awal. Ayahmu, Lukian, klinik, foto-foto yang tadi kamu sebut. Semuanya."
"Aku tidak bisa."
"Kamu bisa. Dan kamu harus. Karena orang itu tidak akan berhenti, dan kamu tidak akan bisa menahannya sendirian."
"Aku selalu sendirian."
"Tidak lagi."
Aku menatapnya. Di parkiran klinik tempat ibuku tertidur selama sepuluh tahun, aku menatap Sebastian Bara dan ingin mempercayainya. Dengan seluruh tubuhku, dengan setiap selku, aku ingin percaya bahwa "tidak lagi" itu benar.
Tapi orang terakhir yang berkata "kamu tidak sendirian" padaku adalah Lukian. Dan aku sudah tahu bagaimana akhirnya.
"Antar aku pulang," kataku. "Tolong."
Dia mengantarku. Tidak bicara sepanjang jalan. Tidak bertanya apa pun lagi.
Namun saat aku turun di depan gedung apartemenku, dia menggenggam tanganku sebelum aku menutup pintu.
"Sembilan," katanya.
Aku menatapnya.
"Sembilan?"
"Sembilan kali kamu mengizinkanku ada di sana untukmu." Jeda. "Kurang satu."
Aku menutup pintu. Naik ke apartemen.
Kurang satu.