NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 - PERNIKAHAN TETAP BERLANGSUNG

Di bulan Januari tahun 2030, pagi itu langit Provinsi Seruni cerah tanpa awan, seolah-olah alam ikut merayakan hari besar dua keluarga bangsawan yang paling disegani di provinsi tersebut. Angin lembut mengusap puncak menara pusat yang menjulang, membawa wangi bunga serta harum suguhan yang sudah disiapkan sejak subuh. Di beberapa sudut jalan, anak-anak berlarian sambil memungut kembang gula yang dibagikan para pelayan keluarga Wijaya.

Keluarga Wijaya dan keluarga Prasaja sama-sama bangsawan terpandang dengan pengaruh yang berimbang di kalangan masyarakat. Hari ini, kedua keluarga itu tengah merayakan pernikahan putra dan putri mereka yang telah dipertunangkan sejak kecil, dan seluruh Provinsi Seruni seakan ikut berbahagia menyambutnya.

Di sepanjang jalan dan lorong, layar-layar raksasa milik kota memutar rekaman wajah kedua mempelai secara berulang-ulang, dari pagi hingga malam, tanpa henti. Senyum yang sama diputar berkali-kali sampai orang-orang yang lewat pun hafal di luar kepala.

Dalam rekaman itu, sang perempuan tampak lembut dan manis, sedangkan sang pria tampak gagah dan tampan. Siapa pun yang menyaksikannya akan mengakui bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi, seolah-olah memang ditakdirkan untuk bersama selamanya.

Upacara pernikahan digelar di balai jamuan di puncak menara pusat Provinsi Seruni, tepatnya di lantai kedelapan puluh delapan, tempat yang hanya diperbolehkan untuk perayaan paling istimewa sepanjang tahun. Balai itu mampu menampung ratusan tamu dalam satu waktu, dengan jendela kaca besar yang menghadap ke seluruh penjuru kota.

Lampu kristal mewah menggantung dari langit-langit dan berkilauan bagai bintang di malam hari, peralatan saji tersusun rapi di atas taplak putih, dan gelas-gelas yang saling bersulang silih berganti memenuhi ruangan dengan kemeriahan yang sulit dibendung.

Untuk pernikahan ini, bukan hanya bangsawan Provinsi Seruni yang berdatangan; kabarnya dua tokoh besar dari Provinsi Kedaton juga turut hadir, suatu kehormatan yang sangat jarang sekali terjadi bagi pernikahan di provinsi lain.

Dari situ tampak betapa besar perhatian yang diterima pernikahan kali ini. Nama kedua keluarga itu, Wijaya dan Prasaja, semakin terangkat di mata seluruh penjuru Cakrawala, dan hubungan mereka dianggap semakin kokoh oleh publik.

Akan tetapi, berbeda dengan riuhnya suasana balai jamuan, suasana di depan ruang pengantin justru sangat muram dan menyesakkan. Di dalam ruangan itu, waktu seakan berjalan lebih lambat daripada di luar.

---

"Rara, kabar Danendra belum ada juga?" tanya Ratih dengan cemas, menatap putrinya yang berdiri diam di depan cermin. "Jangan-jangan ia mendapat sesuatu. Bagaimana kalau Ibu pergi menemui keluarga Prasaja dan bertanya sekali lagi? Ibu tidak tahan melihatmu menunggu begini. Ibu yakin ia akan datang. Kalian sudah bersama sejak kecil, masa iya dia tega menelantarkanmu di hari penting seperti ini?"

Kirana yang mengenakan gaun pengantin putih itu menundukkan pandangan; matanya jatuh pada deretan permata yang menghiasi tepi gaunnya. Permata itu kecil, tetapi berkilau, dan untuk sesaat ia merasa sedikit pusing menatapnya.

Pada saat itu, Gelang Lentera di pergelangan tangannya tiba-tiba berbunyi. Kirana mengangkat tangan dan segera menyambung panggilan yang datang dari Danendra, tunangannya sendiri.

"Rara, maafkan aku. Kapal terbang Sekar mengalami kecelakaan di Provinsi Segara. Aku harus segera menyelamatkannya! Kau harus mengerti, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti itu!"

"Bukankah ada tim penyelamat yang bisa menanganinya?"

"Rara, apa maksudmu dengan perkataan seperti itu?! Mana mungkin aku berdiam diri ketika Sekar menimpa musibah seperti ini? Aku bukan orang yang tega melihatnya terluka sendirian!"

Kirana menjawab dengan tenang, tanpa sedikit pun nada terkejut di dalamnya, seolah ia sudah menduga jawaban seperti ini sejak awal. "Danendra, apa kau lupa bahwa beberapa jam lagi aku genap berusia dua puluh tahun? Jika kau tidak kembali untuk menikahiku, aku akan dijodohkan secara paksa oleh Arsip Agung. Kau mengerti maksudku, bukan?"

"Rara, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali. Tak seorang pun menginginkan kecelakaan seperti ini terjadi, kau harus percaya itu."

Berusaha sekuat tenaga? Artinya, ada kemungkinan ia tidak akan kembali sama sekali.

Kirana tidak menjawab.

Sebaliknya, Danendra justru tampak tidak senang. Ia menegur dengan nada kesal, "Rara, aku tahu kau kecewa, tetapi jangan egois! Sekar adalah adikmu sendiri! Luka-lukanya parah, aku tidak mungkin meninggalkannya begitu saja! Sudah, cukup. Aku akan berusaha kembali. Dan satu hal lagi, jangan sekali-kali kau menghubungi ayah ibuku untuk urusan ini!"

Panggilan terputus.

Di cermin, sudut bibir sang pengantin perempuan terangkat membentuk senyuman yang dingin dan tidak ramah sama sekali.

Oh, adiknya?

Huh, justru dia yang egois?

---

Ketika Kirana berusia tiga belas tahun, kapal terbang yang ditumpanginya diserang oleh bajak langit di tengah perjalanan antarprovinsi. Beruntung, Bala Penjaga Cakrawala tiba tepat waktu dan berhasil menyelamatkan semua penumpang, termasuk ia yang saat itu sudah tak sadarkan diri. Serangan itu terjadi begitu cepat, sebelum siapa pun sempat bereaksi, dan hampir menewaskan semua orang di dalam kapal.

Namun luka-lukanya terlalu parah. Ia terbaring dalam Peti Kaca Rembulan dan membeku selama lima tahun lamanya, menunggu tubuhnya pulih sedikit demi sedikit di dalam cairan penahan waktu itu.

Tak seorang pun tahu bahwa selama lima tahun tertidur itu, jiwa Kirana sebenarnya berkelana ke Alam Kuna, negeri yang telah lenyap lebih dari seribu tahun silam. Di sana ia belajar banyak hal yang tidak pernah diajarkan siapa pun di zamannya sekarang, beberapa di antaranya bahkan telah hilang ditelan zaman dan tidak lagi dikenal oleh generasi saat ini.

Ketika ia terbangun, ada seorang gadis yang usianya enam bulan lebih muda di dalam keluarganya. Gadis itu diadopsi dari Provinsi Segara, konon anak dari sahabat karib ayahnya yang sudah tiada, dan diberi nama Sekar.

Sekar sangat cerdik dan pandai mengambil hati siapa pun. Bukan hanya ayahnya, Bawono, yang memperlakukannya seperti anak kandung, kedua kakak Kirana pun menjaganya seperti adik sendiri yang harus dilindungi. Ia hafal cara membuat setiap orang di rumah merasa nyaman, seolah tidak ada satu pun yang bisa menolaknya.

Kini bahkan Danendra, yang sejak kecil telah dipertunangkan dengan Kirana, kabur dari pernikahan hanya demi gadis itu, seolah-olah semua janji masa kecil tidak pernah ada artinya.

Mana mungkin ia mendapat kecelakaan tepat di momen yang paling krusial seperti ini. Semuanya terasa terlalu kebetulan untuk bisa dipercaya begitu saja.

---

"Rara..." Ratih tampak sangat khawatir. Ia menatap putrinya dengan cemas, tetapi untuk sesaat ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk menghibur.

Kirana justru menenangkan ibunya. "Bu, tidak apa-apa. Pernikahan ini tetap akan dilangsungkan seperti biasa, kok."

"Seperti biasa?"

"Iya. Ibu bantu aku menemani para tamu di balai jamuan sebentar. Aku akan keluar untuk suatu keperluan."

Ratih mengejarnya beberapa langkah. "Rara, kau mau ke mana? Masih ada waktu untuk menunggu, jangan bertindak gegabah!"

Begitu pintu tertutup, sebait kalimat melayang masuk ke dalam ruangan.

"Pengantin prianya tidak Ada. Aku akan mencari pengantin pria yang baru."

Ratih: ...

1
falea sezi
ini kisah kayak saranjana kuno modern jd satu bner gak🤭
Kartika Candrabuwana: novel saya yang berjudul putri malam untuk panglima senja juga cukup menghibur
total 2 replies
Indriyati
novel sungguh bagus untuk pembaca wanita. penuh drama dan seru. semangat thor. kutunggu bab bab berikutnya
Kartika Candrabuwana: terima kasih atas votenya. supportnya sangat berarti bagi penulis
total 1 replies
falea sezi
lanjut
Kartika Candrabuwana: makasih. sudah siap 3 bab per hari terjadwal. supportnya sungguh berarti🙏
total 1 replies
falea sezi
rangga ini aneh g bertanggung jawab bingung aq novel gendre apaan inj😒
Kartika Candrabuwana: agar ada permainan emosi disini. makasih banyak komennya😍
total 1 replies
falea sezi
q bingung ini kisah apa di bilang dr jaman masa depan tp kayak kuno bgt baju dan dll tp ada dokter ada hape ada pesawat atau di sebut kapal terbang 🤣🤣 ini jaman apa thor jelasin klo. kerajaan mahh meski jaman dlu aja rakyat bebas makan buah sayur kali ahh🤣
Kartika Candrabuwana: iya untuk zaman saya buat unik agar bawa nuansa baru. makasih banyak komennya👍
total 1 replies
falea sezi
ini cerita fantasi kahh🤣 kok aneh bgt ada dokter tp kisahnya kayak kuno
Kartika Candrabuwana: ini cerita fantasi, sengaja biar unik. makasih komennya.
total 1 replies
falea sezi
baru nemu
Kartika Candrabuwana: semoga bisa menghibur
total 1 replies
prameswari azka salsabil
sekali membaca novel ini, saya langsung penasaran untuk membaca terus sampai akhir. luar biasa novel ini
Kartika Candrabuwana: terima kasih banyak atas votenya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!