NovelToon NovelToon
Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Malam Itu, Aku Tidur dengan Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Dosen / CEO
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".

Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.

Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.

*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*

Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 45: Kuliah Umum

Aula utama UN penuh satu jam sebelum kuliah umum dimulai.

Kabar dari jamuan dosen sudah bocor. Mahasiswa datang bukan hanya untuk mendengar pembahasan Arya tentang masa depan ekonomi digital, tetapi untuk memastikan apakah dosen pengganti mereka benar-benar pemimpin Danuwangsa Group.

Kirana duduk di baris ketiga bersama Winda. Kamera ponsel mengarah ke panggung dari segala sisi. Di layar besar tertulis nama pembicara tanpa jabatan perusahaan: Prof. Arya Danuwangsa.

“Masih bisa mundur,” bisik Winda.

“Kalau mundur sekarang, aku akan terus lari.”

Di belakang panggung, Rian mengecek siaran langsung, jalur keluar, dan dokumen yang akan ditampilkan. Prof Hartono memeriksa materi akademik terakhir kali.

“Kamu yakin menggabungkan dua pengumuman?” tanyanya kepada Arya.

“Kirana setuju. Perlindungan nilainya sudah aktif.”

“Kalau begitu jangan jadikan dia aksesori kejutan.”

“Tidak akan.”

Rektor Sudibyo membuka acara dan menjelaskan bahwa pemeriksaan Darmawan sedang berjalan. Ia meminta mahasiswa tidak menyebarkan informasi pribadi pelapor. Setelah itu, Arya naik ke panggung di tengah tepuk tangan yang lebih riuh daripada biasanya.

Selama satu jam, ia tetap menjadi dosen. Ia membahas akses modal, ketimpangan informasi, dan tanggung jawab perusahaan besar terhadap ekosistem pendidikan. Tidak ada satu kalimat tentang dirinya.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa menanyakan apakah donasi perusahaan dapat benar-benar bebas kepentingan. Arya tidak memberi jawaban diplomatis.

“Tidak sepenuhnya,” katanya. “Karena itu kampus perlu batas, laporan publik, dan keberanian menolak donor. Dana yang tidak bisa diaudit adalah pintu ketergantungan.”

Mahasiswa lain bertanya kenapa perusahaan besar mendanai universitas negeri. Arya menjelaskan bahwa riset independen menghasilkan kritik yang juga dibutuhkan industri, bukan tenaga kerja patuh. Prof Hartono tersenyum ketika mantan muridnya menolak menjadikan pendidikan sebagai pabrik pekerja.

Pertanyaan terakhir datang dari balkon. “Prof akan tetap mengajar semester depan?”

Arya melihat ke arah Prof Hartono. “Tidak. Tugas saya selesai ketika beliau kembali. Saya akan pulang ke pekerjaan utama.”

Ada suara kecewa dari mahasiswa. Kirana juga merasakan kehilangan kecil. Hubungan mereka akan lebih mudah tanpa status dosen, tetapi kelas Arya telah menjadi tempat benturan pertama yang mengubah hidupnya.

Kirana melihat sebagian penonton gelisah menunggu gosip, tetapi perlahan mereka terserap materi. Arya menjawab pertanyaan tanpa catatan, menantang asumsi, dan menolak jawaban mudah. Ia ingin kuliah terakhir dinilai karena isinya sebelum nama perusahaan mengambil alih.

Pada bagian penutup, layar menampilkan rangkuman mekanisme konflik kepentingan. Arya menjelaskan bahwa seluruh nilai Kirana telah dialihkan kepada dua penilai independen sejak hubungan pribadi mereka resmi. Rekaman rubrik dan keputusan tersedia untuk audit internal.

Bisik-bisik segera memenuhi aula.

“Saya menyampaikan ini karena transparansi harus dimulai dari orang yang memiliki kuasa,” katanya. “Sekarang ada dua fakta yang perlu saya sampaikan sendiri.”

Layar berganti. Logo Danuwangsa Group muncul.

“Tugas utama saya bukan mengajar di UN. Saya adalah Direktur Utama Danuwangsa Group, dan DG merupakan donatur institusional terbesar universitas ini.”

Suara ledakan keterkejutan terdengar. Ponsel terangkat lebih tinggi. Seseorang di balkon berteriak bahwa rumor itu benar.

Arya menunggu sampai ruangan tenang.

“Saya mengajar satu semester atas permintaan mentor saya, Prof Hartono, dan persetujuan Rektor. Donasi DG tidak memberi saya hak mengubah nilai, menekan kebijakan, atau kebal dari aturan. Karena itu, semua mekanisme yang tadi saya jelaskan tetap berlaku.”

Prof Hartono berdiri dari kursinya. Tepuk tangan dimulai, lalu menyebar ke seluruh aula.

Kirana merasa lega, tetapi jantungnya belum berhenti berlari. Fakta kedua belum disebut.

Arya meletakkan remote presentasi. Tatapannya langsung menemukan Kirana di antara ratusan wajah.

“Fakta kedua bersifat pribadi, tetapi dampaknya sudah menjadi pembicaraan publik. Saya tidak ingin perempuan yang saya cintai terus menanggung gosip karena saya memilih diam.”

Winda meremas tangan Kirana.

“Kirana Saraswati adalah pacar saya. Dia bukan penerima nilai khusus, bukan alat promosi, dan bukan aksesori bagi jabatan saya. Dia adalah orang yang saya pilih.”

Aula meledak lebih keras daripada saat identitas DG diumumkan.

Kirana membeku di kursi. Ia sudah menyetujui kata-katanya, tetapi mendengar namanya memenuhi aula tetap membuat kaki lemas.

Arya mengulurkan tangan dari panggung. Ia tidak memerintahkan, hanya menunggu.

Winda berbisik, “Pergi.”

Kirana berdiri. Lorong menuju panggung terasa sangat panjang. Kamera mengikuti setiap langkah. Ia hampir berhenti ketika melihat komentar siaran langsung bergerak di layar monitor samping.

Lalu Arya berkata tanpa mikrofon, “Lihat saya.”

Seperti malam pertunjukan, dua kata itu mengembalikan napasnya.

Kirana menaiki tangga dan menyambut tangan Arya. Ia berdiri di samping pria itu, bukan di belakang. Tepuk tangan, sorakan, dan teriakan tagar memenuhi ruangan.

Moderator memberi waktu bagi tiga pertanyaan agar pengumuman tidak berubah menjadi konferensi gosip. Satu mahasiswa bertanya kapan hubungan dimulai. Arya menjawab setelah mekanisme konflik kepentingan disiapkan, tanpa membuka Singapura.

Mahasiswi lain bertanya apakah Kirana memperoleh peran utama karena hubungan mereka.

Bima, yang mengikuti siaran melalui panggilan, telah mengirim rekaman audisi. Layar menampilkan waktu penilaian dan nama panel. Arya tidak berada dalam keputusan awal.

“Saya mendapat peran melalui audisi,” jawab Kirana. “Kalau ingin menilai kemampuan saya, rekaman dan pertunjukan tersedia. Jangan menilai dari siapa yang menggenggam tangan saya.”

Pertanyaan ketiga lebih ringan. “Siapa yang menyatakan cinta dulu?”

Aula tertawa. Kirana memandang Arya.

“Dia,” katanya.

Arya mengangkat mikrofon. “Tapi dia yang meminta jawaban saat mabuk.”

Wajah Kirana terbakar. Winda berteriak protes dari bawah, sedangkan seluruh aula bersorak. Arya segera menambahkan bahwa tidak ada keputusan hubungan dibuat sampai Kirana sadar, sebuah detail yang mengubah lelucon menjadi penegasan batas.

“Apakah Saudari Kirana ingin mengatakan sesuatu?” tanya moderator.

Kirana menerima mikrofon. “Saya hanya ingin menegaskan bahwa pekerjaan dan nilai saya dapat diperiksa. Hubungan kami adalah pilihan pribadi dua orang dewasa. Kritik terhadap konflik kepentingan boleh diajukan lewat jalur akademik. Penghinaan terhadap tubuh atau martabat siapa pun tidak.”

Suara dukungan terdengar dari organisasi mahasiswa perempuan. Winda berdiri paling depan sambil bertepuk tangan.

Arya menggenggam tangan Kirana di depan seluruh kampus.

Setelah acara, petugas keamanan membuka jalur samping. Mahasiswa mengejar untuk meminta foto dan pertanyaan. Rian membawa mereka melewati ruang belakang menuju mobil.

Di lorong belakang, Pak Yudi menyalami Arya. “Saya kira Anda cuma dosen yang terlalu serius.”

“Saya tetap terlalu serius.”

“Dan pacaran dengan mahasiswa paling keras kepala di kelas.”

Kirana menyahut, “Saya masih di sini, Pak.”

Pak Yudi tertawa dan memastikan nilai akhir Kirana sudah dikunci sebelum pengumuman. Ia memperlihatkan sistem yang tidak lagi memberi akses edit kepada Arya. Kirana memotret layar untuk arsip pribadi.

Prof Hartono datang terakhir. Ia memeluk Arya singkat, lalu berkata kepada Kirana, “Sekarang kalau dia membuatmu kesal, jangan lapor ke saya. Saya sudah mengembalikan dia ke perusahaan.”

“Saya tetap akan lapor,” jawab Kirana.

Untuk sesaat, mereka hanyalah keluarga kecil yang terbentuk dari ruang kelas, bukan nama-nama yang sedang dibicarakan seluruh kampus.

“Pak, video sudah masuk tiga akun berita lokal,” lapornya.

“Pantau doxxing, bukan kritik.”

“Siap.”

Kirana masih gemetar ketika pintu mobil tertutup. Arya menangkup tangannya.

“Menyesal?”

“Tanya setelah jantungku normal.”

“Saya bisa membawa kamu pulang.”

“Aku lapar.”

Mereka pergi ke restoran di pusat perbelanjaan yang memiliki ruang privat. Untuk pertama kalinya, Arya tidak perlu masuk lewat pintu belakang karena takut terlihat bersama Kirana. Meski beberapa pengunjung mengenali, mereka hanya meminta foto dengan sopan.

Kirana mengunggah satu foto tangan mereka yang bertaut di meja.

Tidak misterius lagi, tulisnya.

Dalam lima menit, jumlah komentar melampaui ribuan.

Mama Ratih memberi tanda suka. Papa Gunawan tidak memberi reaksi, tetapi lima menit kemudian mengirim pesan pribadi: Jangan pulang terlalu malam. Feby mengunggah ulang dengan keterangan akhirnya, sedangkan Winda menulis bahwa ia berhak mendapat kompensasi karena menjaga rahasia.

Fajar mengirim satu kalimat: Selamat. Saya sudah menduga.

Kirana membalas terima kasih. Tidak ada luka baru, hanya pintu lama yang ditutup dengan baik.

“Mas puas?” tanyanya.

“Belum.”

“Apa lagi?”

Arya mencondongkan tubuh. “Seharian saya ingin mencium kamu.”

“Tadi satu kampus lihat.”

“Mereka melihat tangan.”

Di parkir basement, keinginan itu tidak lagi ditahan. Arya menarik Kirana ke sisi mobil yang terlindung, meminta izin dengan tatapan, lalu menciumnya. Seluruh tekanan aula berubah menjadi panas yang membuat Kirana mencengkeram kerahnya.

Rian menunggu jauh di depan dan pura-pura memeriksa ponsel.

“Kita pulang,” bisik Arya ketika ciuman terputus.

“Ke 803?”

“805.”

Kirana tahu apa yang belum selesai sejak malam orang tuanya datang. Kini tidak ada kelas, rahasia, atau keraguan identitas di antara mereka. Tubuhnya menegang oleh antisipasi, bukan takut.

Di apartemen, mereka memasuki lift privat. Ponsel Kirana terus bergetar dengan pesan, tetapi Arya mengambilnya dan mengaktifkan mode senyap setelah mendapat anggukan.

“Besok seluruh kampus tetap ada,” katanya. “Malam ini, hanya kita.”

Pintu lift tertutup. Arya menahan Kirana di antara lengannya tanpa menyentuh sampai ia mengangguk lagi. Begitu izin diberikan, ciuman mereka kembali menyala, lebih dalam dan tidak lagi dibatasi bayangan siapa pun.

Angka lantai bergerak naik. Setiap bunyi lembut membawa mereka semakin dekat ke pintu 805 dan percakapan tubuh yang pernah tertunda. Kali ini Kirana tidak berniat mencari alasan lagi untuk menyeberang kembali ke apartemen sebelah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!