**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**
Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.
Malam itu mengubah segalanya.
Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.
*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.
Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.
Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Ibu Tiri dan Adik Tiri
"Jadi ini dokter yang membuat Ko Adrian membuang kursi penerus?"
Alwin tidak mengulurkan tangan ketika diperkenalkan kepada Kayla.
Mereka berdiri di ruang makan privat sebuah restoran dekat Menara Argatama. Melinda mengundang pasangan itu dengan alasan ingin memperbaiki pertemuan keluarga, tetapi satu meja penuh anggota Gunawan sudah menunggu.
Herwan duduk di ujung meja dengan wajah masam. Tante Cindy berada di sebelahnya. Alicia, putri bungsu Melinda yang baru pulang dari Australia, menatap Kayla seperti sedang menilai barang di etalase.
Adrian menarik kursi untuk istrinya. "Kalau salam pembukamu sudah selesai, kita bisa makan."
Alwin tersenyum tipis. Ia lebih muda empat tahun dari Adrian, mengenakan setelan perusahaan lengkap meski hari itu tidak ada rapat resmi.
"Aku hanya ingin mengenal kakak ipar yang terkenal."
"Terkenal karena apa?" tanya Kayla.
"Membuat seorang kapten rela kehilangan miliaran."
"Kalau begitu yang terkenal seharusnya keputusan suami saya, bukan wajah saya."
Tante Cindy berdeham. Melinda cepat menuangkan teh.
"Alwin hanya bercanda. Dia baru pulang dari Surabaya setelah menyelesaikan urusan anak perusahaan."
"Dan Alicia baru menyelesaikan program bisnis," tambah Herwan. "Dua anak yang mengerti kewajiban keluarga."
Adrian membuka serbet makan. "Selamat."
Satu kata itu terdengar lebih tajam daripada pujian panjang.
Pelayan menyajikan makanan. Melinda bertanya tentang pekerjaan Kayla, lalu menyelipkan senyum penuh iba.
"Jaga malam pasti melelahkan. Kalau Adrian tidak lagi mendapat fasilitas keluarga, kamu mungkin harus bekerja lebih keras."
"Jadwal saya tidak berubah ketika menikah," jawab Kayla. "Jadi juga tidak berubah ketika suami saya menolak jabatan."
"Perempuan yang menikah ke keluarga besar biasanya tahu kapan harus mengurangi karier."
"Perempuan yang membangun karier sendiri biasanya tahu kapan nasihat tidak diminta."
Alicia menahan tawa, lalu segera mengubahnya menjadi batuk ketika ibunya melirik.
Alwin mengambil alih percakapan. "Aku dengar Ko Adrian masih memegang saham pribadi. Kalau benar ingin keluar, kenapa belum melepas semuanya?"
"Karena proses perusahaan tidak selesai dalam satu makan siang," jawab Adrian.
"Atau karena Ko hanya menggertak Engkong?"
"Kalau kamu ingin kursiku, ambil melalui RUPS dan tunjukkan kinerjamu. Jangan menunggu aku mengantarkannya bersama makanan penutup."
Alwin membuka tablet dan memutar layar. "Aku sudah menyiapkan proposal mengambil alih divisi logistik udara. Dewan membutuhkan orang yang hadir penuh waktu, bukan pilot yang terus pergi."
Adrian membaca halaman pertama tanpa menyentuh tablet. "Proyeksi pertumbuhan delapan belas persen dengan gudang yang baru beroperasi enam puluh persen?"
"Pasar akan naik."
"Pasar tidak tumbuh karena angka di slide dibuat hijau. Kontrak tiga pelanggan utama berakhir enam bulan lagi dan dua belum memperpanjang."
Alwin cepat menggulir halaman, seolah baru menyadari data itu tidak tercantum.
"Ko tidak punya akses ke rapat divisi."
"Pelanggan itu juga memakai layanan perusahaan logistik saya. Informasinya bukan rahasia."
Kayla melihat pertarungan tersebut dengan tenang. Adrian tidak meninggikan suara atau mengaku masih berkuasa. Ia hanya mengajukan fakta yang Alwin seharusnya sudah kuasai.
Itulah yang membuat wajah Alwin semakin gelap.
Wajah Alwin mengeras sesaat.
Herwan meletakkan sendok. "Adrian, jangan meremehkan adikmu. Alwin sudah memimpin proyek ekspansi timur."
"Proyek yang melewati anggaran dua puluh dua persen?"
Alwin menatapnya. "Itu akibat biaya bahan baku."
"Laporan audit menyebut tiga vendor tanpa pembanding."
"Ko sudah tidak bekerja di Argatama. Jangan bertindak seolah masih bisa memeriksa kami."
Adrian minum air. "Laporan itu dikirim kepada semua pemegang saham. Kamu seharusnya membacanya sebelum datang untuk mengambil posisi penerus."
Kayla melihat jemari Alwin mengepal di bawah meja.
Melinda menyela dengan cepat. "Kita datang untuk berdamai. Tidak perlu membicarakan perusahaan."
"Mama yang memilih restoran di samping kantor," kata Alicia ringan. "Sulit berpura-pura ini makan keluarga."
"Alicia."
Gadis itu mengangkat bahu dan kembali melihat ponselnya. Ia tampak bosan sampai pintu ruang privat terbuka dan Reyner lewat di koridor bersama seorang pengacara.
Alicia langsung duduk tegak.
"Siapa itu?"
Tante Cindy melirik. "Kapten Reyner Wijaya. Putra keluarga Wijaya."
Alicia mengikuti Reyner dengan mata sampai sosoknya hilang di ujung koridor. "Dia pilot juga?"
"Kapten senior Angkasa Timur," jawab Herwan. "Keluarganya jauh lebih tahu tata krama daripada beberapa orang."
"Dia sudah menikah?" tanya Alicia.
Melinda tersenyum untuk pertama kalinya dengan tulus. "Belum."
Alicia segera mencari nama Reyner di media sosial. Foto-foto yang muncul sebagian besar berkaitan dengan penerbangan dan acara amal, bukan pesta malam.
"Dia berbeda," gumamnya.
"Kamu baru melihatnya berjalan lima detik," kata Kayla.
"Lima detik cukup untuk tahu seseorang menarik."
"Tidak cukup untuk tahu dia akan tertarik balik."
Alicia menatap Kayla, tidak suka diingatkan. "Aku biasanya mendapatkan apa yang kuinginkan."
"Manusia bukan barang yang bisa didapat karena kamu menginginkannya."
Melinda menyentuh tangan putrinya sebelum balasan tajam keluar. "Kita bisa meminta keluarga Wijaya datang makan malam lain kali."
Adrian meletakkan gelas. "Jangan memakai nama saya untuk mengundang Reyner."
Alicia memutar mata, tetapi menyimpan akun Reyner di ponselnya.
Adrian menatap adik tirinya. "Jangan mengganggu orang yang sedang bekerja."
"Aku hanya bertanya."
Di koridor, Reyner tidak menyadari tatapan itu. Ia menyerahkan amplop kepada pengacara yang membantu memverifikasi dokumen rumah sakit lama, lalu pergi menuju lift.
Makan siang berakhir tanpa perdamaian.
Saat Kayla berdiri, Melinda menahan lengannya. "Jangan salah paham. Saya hanya ingin kamu mengerti bahwa hidup bersama Adrian akan sulit kalau dia terus melawan keluarga."
Kayla melepaskan sentuhannya dengan halus. "Hidup saya sudah sulit jauh sebelum bertemu Adrian. Bedanya, sekarang ada orang yang tidak meminta saya membayar kesalahan keluarganya."
Senyum Melinda menipis.
"Kamu mungkin merasa menang hari ini. Tapi keluarga besar tidak berjalan dengan perasaan."
"Benar. Karena itu sebaiknya Tante berhenti memakai perasaan khawatir sebagai alasan untuk mendorong Alwin ke kursi yang belum kosong secara hukum."
Adrian datang membawa tas Kayla. "Kita pergi."
Herwan memanggilnya. "Kalau kamu masih menganggapku Papa, dukung Alwin di rapat pemegang saham berikutnya."
Adrian berhenti di pintu.
"Kalau Alwin pantas, dia tidak membutuhkan dukungan saya. Kalau tidak pantas, dukungan saya tidak akan menyelamatkannya."
Ia membawa Kayla keluar.
Di lift, Kayla menatapnya. "Kamu sengaja membawa laporan audit?"
"Tidak. Aku mengingat angkanya."
"Mengerikan."
"Kamu menikahiku setelah membaca perjanjian setebal buku farmakologi. Sudah terlambat takut."
"Alwin benar-benar bisa mengambil posisimu?"
"Dia bisa dipilih kalau pemegang saham percaya."
"Dan kamu akan membiarkannya?"
Adrian menekan tombol lobi. "Aku akan membiarkan proses menunjukkan siapa dia. Tapi kalau proyeknya membahayakan karyawan atau perusahaan, aku tetap bicara sebagai pemegang saham. Mundur bukan berarti menutup mata."
Kayla mengangguk. Adrian tidak sedang mempertahankan gengsi. Ia mempertahankan batas antara melepaskan kendali keluarga dan membiarkan orang yang salah merusak banyak hidup.
Kayla tertawa pelan.
Di ruang privat, tawa itu samar-samar masih terdengar ketika pintu tertutup.
Alwin memegang tangkai gelas terlalu kuat. Kaca tipis itu patah di antara jarinya. Setetes darah muncul di telapak tangannya.
Melinda segera menarik serbet. "Alwin!"
Ia tidak memedulikan luka kecil itu.
"Ko Adrian sendiri yang meninggalkan kursinya," katanya lirih. "Kalau begitu jangan salahkan aku ketika aku memastikan dia tidak bisa mengambilnya kembali."