Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Reka benar-benar bingung harus berbuat apa setelah Georgina tahu bahwa dirinya memiliki seorang putra. Wanita itu ingin meminta tolong pada Georgina untuk merahasiakan tentang keberadaan putranya dari siapapun, namun Reka juga khawatir hal itu justru membuat Georgina bertanya-tanya dan juga bingung nantinya.
"Ya Tuhan....Apa yang harus aku lakukan sekarang?." Sungguh, Reka tidak ingin sampai Leon mengetahui kebenaran bahwa ia memiliki seorang putra. Leonardo Fernandez bukan orang sembarangan, pastinya pria itu bisa melakukan apa saja yang diinginkannya, termasuk merebut Richard darinya.
"Apa sebaiknya aku berhenti saja bekerja di perusahaan LF Group?." Lagi, batin Reka. wanita itu benar-benar bingung. Namun begitu, ditengah kebingungan hatinya, Reka tetap harus kembali bekerja dan terpaksa meminta bantuan dari salah seorang pengasuh di yayasan penitipan anak untuk menjaga putranya yang kini tengah dirawat di rumah sakit hingga ia kembali dari bekerja nanti.
"Kita sudah sampai, mbak." Seruan dari bapak pengendara ojek online sekaligus menyadarkan Reka dari lamunannya.
"Iy-iya... terima kasih, pak." Reka turun dari ojek online tersebut dan tak lupa membayar ongkosnya. "Kembaliannya buat bapak saja!."
"Terima kasih banyak mbak... semoga rezeki mbaknya selalu lancar bagai mata air yang terus mengalir."
"Aamiin...." Siapapun yang mendoakan kebaikan untuknya, pastinya akan diaminkan oleh Reka.
Reka mengayunkan langkah menuju pintu utama gedung perusahan LF Group, berharap hari ini ia tak perlu lembur hingga bisa secepatnya kembali untuk menemani putranya di rumah sakit.
Baru saja tiba di ruangannya, Reka langsung dihampiri oleh salah seorang rekan kerjanya guna menyampaikan pesan dari atasan mereka.
"Kamu di minta menghadap atasan, Reka!."
"Baiklah." Reka sudah bisa menebak, jika alasan sampai ia diminta menghadap atasan karena meninggalkan perusahaan tanpa izin kemarin. Reka mempersiapkan diri sebelum beranjak menuju ruangan atasannya.
"Tok....tok...tok...."
"Masuk...!."
Reka memutar handle pintu ruang kerja atasannya. Perlahan, kembali mengayunkan langkah hingga berhenti tepat di depan meja kerja atasannya.
"Saya rasa anda sudah tahu alasan mengapa saya sampai memanggil anda ke sini, Nona Rekaila." Tutur pria paruh baya dihadapan Reka sambil memperbaiki posisi kacamata yang bertengger pada hidung mancungnya.
"Saya mohon maaf atas kelancangan saya kemarin, telah meninggalkan perusahaan sebelum jam kerja berakhir, pak." Reka memilih meminta maaf dan berharap atasannya tidak sampai memberikan surat peringatan untuknya.
"Apapun alasan Anda, seharusnya anda tidak melakukan tindakan seperti kemarin. Jika memang ada urusan mendadak, mestinya anda meminta izin terlebih dahulu sehingga saya pun punya jawaban saat pimpinan menanyakan keberadaan anda, Nona Rekaila. Anda sendiri kan tahu, bagaimana ketegasan pimpinan pada semua pegawai beliau. Beliau paling tidak suka dengan pegawai yang tidak disiplin dengan waktu, nona Reka." Ya, kemarin secara mendadak Leon mencari keberadaan Reka untuk menanyakan tentang beberapa point penting hasil dari kunjungan mereka pagi kemarin dan hal itu menyebabkan atasannya harus menerima teguran dari Leon selaku pimpinan. Pria itu dianggap tidak tegas karena membiarkan bawahannya pergi begitu saja meninggalkan perusahaan di saat jam kerja masih berlangsung.
"Saya benar-benar mohon maaf pak, dan saya berjanji tidak akan mengulanginya kembali." Reka sampai membungkukkan badan dihadapan atasannya.
"Untuk kali ini saya akan memakluminya, tapi saya sangat berharap hal serupa tidak akan pernah terulang kembali!." Sebagai seorang ayah yang juga memiliki anak perempuan nyaris sebaya dengan Reka membuat pria paruh baya tersebut merasa iba pada Reka dan akhirnya memberikan kesempatan tanpa memberikan surat peringatan.
"Terima kasih banyak, pak." Saking leganya, Reka sampai meraih tangan atasannya dan menyalaminya, hingga pria itu tertegun dibuatnya.
Setelahnya, Reka pun pamit untuk kembali ke ruangannya guna memulai pekerjaannya.
Di ruangan pimpinan.
Leon meraih ponselnya dari atas meja kerjanya lalu melakukan panggilan telepon pada calon istrinya, Georgina.
"Aku akan menjemputmu, kita akan makan siang bersama." Begitu panggilan tersambung, Leon langsung mengutarakan niatnya untuk mengajak Georgina makan siang bersama. Semua itu tentunya saran dari mommy, bukan murni dari inisiatif Leon sendiri.
"Baiklah, aku akan menunggumu." Balas Georgina dari seberang telepon. Setelah itu, Leon pamit untuk menyudahi panggilannya.
Saat waktu makan siang tiba, Leon beranjak dari kursi kebesarannya, menyambar kunci mobilnya dan berlalu meninggalkan ruangannya. Pria itu hendak menuju rumah sakit untuk menjemput Georgina.
*
"Dokter Georgina ada di dalam. Silahkan masuk, tuan."
Setibanya di depan ruang praktek Georgina secara tidak sengaja Leon berpapasan dengan perawat yang bertugas di poli anak bersama dengan Georgina. Mengenal sosok Leon sebagai calon suami Georgina, perawat tersebut lantas mempersilahkan Leon untuk langsung masuk saja.
"Terima kasih."
"Ceklek." Pintu dibuka dari arah luar dan Georgina sontak mengalihkan pandangan ke sumber suara.
"Kamu sudah datang rupanya, padahal aku masih harus memeriksa satu pasien opname lagi, Leon." Georgina jadi merasa bersalah karena harus membuat calon suaminya itu menunggu.
"Tidak masalah, aku akan menunggumu." Leon mendudukkan tubuhnya di sofa.
Tak ingin Leon menunggu terlalu lama, Georgina lantas berpamitan untuk segera menuju kamar perawatan untuk memeriksa pasien yang dimaksud olehnya.
"Halo anak ganteng...." Georgina menyapa bayi mungil yang kini sedang berbaring anteng di bednya. "Aunty periksa dulu ya...." Georgina mengarahkan stetoskop yang menggantung pada lehernya ke beberapa bagian tubuh Richard. Terlalu asyik meladeni celotehan bayi itu, Georgina hampir saja melupakan keberadaan Leon yang kini tengah menunggunya.
"Aunty tinggal dulu ya sayang...."Sebelum berlalu, Georgina mengambil gambar Richard dengan tujuan hendak dikirimkan pada Reka untuk memastikan putra tampannya itu baik-baik saja sehingga Reka tak perlu terlalu cemas saat bekerja.
Dengan langkah sedikit tergesa, Georgina kembali ke ruang prakteknya untuk menemui Loen.
"Maaf membuatmu menunggu lama."
"It's ok." Balas Leon kemudian bangkit dari duduknya. Kini keduanya berlalu, hendak menuju mobil Leon berada.
"Kamu mau makan siang di mana?." Tanya Leon setelah berada di mobil.
"Apa saja." Jawab Georgina tanpa memandang lawan bicaranya. Wanita itu justru sibuk menatap layar ponselnya sambil tersenyum senang dan hal itu berhasil memancing rasa penasaran Leon.
"Memangnya kamu lagi lihat apa, sampai segitunya?." Di tanya demikian oleh Leon sontak membuat Georgina menunjukkan foto bayi laki-laki tampan yang tertera di layar ponselnya.
"Anak siapa itu?." Tanya Leon setelah melirik sekilas pada foto yang tertera di layar ponsel Georgina.
"Kamu masih ingat nggak, bayi laki-laki yang pernah aku ceritakan waktu itu?." Sebelum Leon sempat menjawab, dengan wajah berbinar Georgina kembali berkata. "Ini dia foto bayi laki-laki tampan itu. Bayi laki-laki yang aku bilang mirip dengan wajah kamu."
Deg.
Kalimat Georgina berhasil memancing pandangan Leon kembali pada foto bayi laki-laki tersebut. Leon tak dapat menepis, karena apa yang dikatakan oleh Georgina benar adanya, bahkan foto bayi laki-laki itu begitu mirip dengan fotonya sewaktu masih bayi. Leon sampai terheran-heran, mengapa sampai bisa begitu.
Jangan lupa dukungannya sayang-sayangku....like, komen, and vote....⭐⭐⭐⭐⭐ nya juga jangan lupa ya.....