Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Terowongan itu berakhir di sebuah lubang sempit di lereng bukit yang tertutup semak belukar. Saat mereka merangkak keluar, matahari sudah mulai condong ke barat, menyisakan cahaya keemasan yang menyinari hamparan sawah di bawah bukit. Udara segar pegunungan langsung menyapa paru-paru mereka, terasa seperti anugerah setelah terperangkap lama di ruang bawah tanah yang lembap dan menyesakkan.
Dika sudah menunggu di sana dengan wajah cemas yang perlahan berubah lega saat melihat mereka muncul satu per satu. “Saya kira kalian tidak akan sempat keluar,” katanya sambil membantu menarik tas berat berisi berkas fisik. “Saya melihat gelombang air besar menyembur dari mulut gua tadi—seolah danau itu sendiri menelan markas mereka utuh.”
Mereka berjalan perlahan menuju gubuk tua milik kerabat jauh Pak Haris, yang terletak di dataran tinggi jauh dari jangkauan jalan raya utama. Di sana, mereka bisa beristirahat dan memeriksa apa yang berhasil diselamatkan tanpa takut terpantau kamera atau sensor apa pun.
Sore itu, mereka duduk melingkar di lantai kayu gubuk, menyebarkan berkas-berkas yang masih agak lembap di atas kain bersih. Rendra menghubungkan perangkat datanya ke laptop Dika, sementara Pak Haris memeriksa lembaran demi lembaran dokumen kertas yang berhasil diselamatkan.
“Banyak berkas yang rusak terciprat air,” kata Pak Haris sambil mengelap ujung kertas yang mulai luntur tinta. “Tapi ada bagian yang sengaja dilapisi bahan anti air—mungkin bahkan orang dalam pun tidak tahu isi sebenarnya.”
Ia mengangkat satu map berwarna hitam pekat yang tidak basah sedikit pun. Di sampulnya hanya ada satu simbol sederhana: lingkaran dengan tiga garis di dalamnya.
“Simbol ini pernah saya lihat sekali saat masih baru masuk dinas,” ujar Pak Haris pelan. “Ada di laporan rahasia yang hanya boleh dibaca oleh pejabat tingkat tertinggi. Dulu saya kira itu lambang proyek pembangunan negara, tapi ternyata itu lambang kelompok yang menyebut diri mereka ‘Penjaga Keseimbangan’.”
“Keseimbangan apa?” tanya Surya heran. “Keseimbangan keuntungan sendiri?”
Rendra yang sedang membaca data di layar laptop mengangguk berat. “Tidak sesederhana itu. Menurut catatan ini, mereka menganggap diri mereka pengatur segalanya—mengatur siapa yang kaya, siapa yang miskin, siapa yang berkuasa, bahkan siapa yang boleh hidup dan mati. Mereka melihat negara dan hukum hanya sebagai alat yang bisa diputar sesuai keinginan.”
Layar laptop menampilkan daftar nama yang sangat mengejutkan. Ada nama pejabat lama yang masih dihormati publik, pemilik perusahaan besar yang sering muncul di berita baik, hingga tokoh masyarakat yang dikenal dermawan. Nama Inspektur Bagas ada di urutan paling bawah, sementara nama Jenderal Ardi ada di baris kedua dari atas.
“Artinya ada satu orang lagi di atas Ardi,” kata Rendra pelan. “Pemimpin tertinggi yang namanya tidak tercantum di sini, hanya disebut sebagai ‘Bayangan Utama’.”
Bapak Harun yang sejak tadi diam menatap jendela yang menghadap lembah, tiba-tiba berbicara: “Dulu di desa kami ada pepatah: pohon yang paling rimbun sering kali menyembunyikan akar yang paling dalam dan paling gelap. Semakin banyak kita temukan nama, semakin saya yakin kita belum menyentuh intinya.”
Malam turun, membawa kabut dingin yang menyelimuti gubuk. Mereka membagi tugas jaga seperti biasa, tapi kali ini ada perbedaan suasana. Tidak ada lagi rasa ragu di antara mereka—setiap orang tahu bahaya yang dihadapi, dan setiap orang siap berdiri di sisi yang sama.
Saat giliran Rendra berjaga di ambang pintu, Pak Haris duduk di sebelahnya. “Kau tahu Rendra, dulu saya berhenti bukan karena takut mati,” katanya pelan. “Saya berhenti karena saya pikir tidak ada gunanya melawan hal yang sudah mendarah daging. Tapi melihat kau hari ini, saya sadar satu hal: kejahatan bisa bertahan puluhan tahun karena orang-orang baik memilih diam. Dan kebenaran bisa menang bahkan dalam waktu sesingkat langkah yang kita ambil sekarang.”
Rendra menatap bintang yang mulai terlihat di langit bersih bukit. “Saya tidak mencari kemenangan cepat, Pak. Saya hanya ingin memastikan adikku, dan semua korban lain, tidak dikubur bersama kebohongan.”
Di kejauhan, di markas sementara kelompok itu, Jenderal Ardi menatap layar yang menampilkan gambar gubuk tua di dataran tinggi. Wajahnya tidak lagi dingin dan tenang seperti sebelumnya—ada bayang kekhawatiran di matanya.
“Mereka selamat,” katanya pelan pada orang di sebelahnya. “Dan mereka sudah tahu tentang nama-nama besar. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti Bagas. Jangan kejar mereka secara terang-terangan. Kita biarkan mereka bergerak dulu… sampai mereka membawa kita langsung ke tempat yang kita cari.”
Perang belum berubah menjadi benturan senjata, tapi kini berubah menjadi permainan jejak dan kepercayaan. Di mana satu pihak berusaha mengungkap semua rahasia, pihak lain berusaha mengarahkan mereka ke dalam jebakan yang lebih dalam. Dan Rendra serta kawan-kawannya belum menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil kini sedang diawasi dengan sangat teliti.