"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Delapan orang duduk mengelilingi meja rapat yang biasanya dipakai menghitung kasur.
Malam itu, di atas meja tidak ada invoice, tidak ada sampel busa, tidak ada daftar lembur. Yang ada hanya kartu-kartu bergambar tangan: kapal kecil, pasar terapung, badai, gudang rempah, perajin, pelaut, dan beberapa tokoh dengan nama yang belum final.
Reza berdiri di ujung meja seperti orang yang yakin semua orang terlambat memahami pikirannya.
"Dunia permainannya berbasis kepulauan fantasi," katanya. "Ada jalur dagang, pelabuhan, faksi, dan krisis cuaca. Pemain membangun jaringan, bukan cuma saling pukul."
Naya mengambil satu kartu. Gambarnya menunjukkan seorang pemuka berjubah dengan simbol yang terlalu mirip ornamen rumah ibadah.
"Ini keluar."
Reza mengerut. "Itu tokoh penasehat."
"Keluar," ulang Naya. "Kita tidak menjual simbol agama sebagai efek kartu. Ini juga." Ia mengambil kartu lain, bergambar suku pedalaman dengan tulisan yang membuat wajahnya mengeras. "Jangan ubah kelompok nyata jadi stereotip lucu."
Dimas mengangkat tangan. "Kalau semua dibuang, fantasinya jadi kosong."
"Tidak," kata Naya. "Kita buat faksi fiktif. Serikat Pelabuhan, Rumah Angin, Penjaga Rimba, Perajin Ombak. Terinspirasi wilayah, tapi bukan menempel nama orang nyata lalu menjualnya."
Raka melihat Reza. Untuk sesaat ia mengira Reza akan melawan. Namun pria itu justru mencoret tiga kartu.
"Baik. Dunia fiktif. Konflik ekonomi, bukan karikatur budaya."
"Tuliskan di panduan," kata Naya. "Biar nanti tidak berubah saat desain makin cantik."
Yusuf masuk setelah itu membawa satu halaman yang membuat Dimas langsung mengeluh. "Kenapa permainan kartu harus punya model bisnis dulu?"
"Karena begitu ada kartu langka, ada anak-anak, uang, dan orang tua yang marah," jawab Yusuf. "Setiap kartu harus tahu cara didapat, biaya cetak, batas umur, dan apakah kita menjual paket acak atau set tetap."
Reza menunjuk kotak prototipe. "Ini masih uji."
"Justru sebelum kalian jatuh cinta terlalu dalam."
Raka menyetujui. "Tidak ada monetisasi sebelum aturan umur, harga, dan distribusi jelas."
Uji pertama dimulai pukul delapan malam.
Tiga puluh menit kemudian, semua orang kelelahan.
Aturannya terlalu banyak. Ada jalur angin, reputasi pelabuhan, moral awak kapal, pajak pasar, badai musiman, dan kartu rahasia yang hanya bisa dijelaskan Reza dengan kalimat panjang. Pada menit keempat puluh, salah satu pekerja dari bagian gudang menguap terang-terangan.
Dimas menutup wajah dengan kedua tangan. "Ini bukan game. Ini rapat komite memakai gambar kapal."
Reza tersinggung. "Mekanismenya saling terkait."
"Terlalu terkait sampai pemain terikat di kursi," kata Naya.
Raka mengambil kartu badai musiman. "Buang tiga sistem. Mana yang paling tidak dibutuhkan untuk membuat orang ingin main lagi?"
Reza tampak seperti diminta menjual bagian tubuhnya. Namun target tiga puluh hari sudah tertulis. Produk uji harus bisa dimainkan, bukan dikagumi pembuatnya.
Akhirnya tiga mekanik dipotong: moral awak, pajak pasar, dan kartu rahasia. Jalur angin disederhanakan menjadi bonus gerak. Reputasi pelabuhan berubah menjadi poin kemenangan biasa. Badai hanya muncul sebagai risiko terbuka.
Setiap pemotongan terasa menyakitkan untuk Reza. Ia sempat menunjuk catatan moral awak dan berkata sistem itu membuat dunia terasa hidup. Naya menjawab bahwa dunia yang hidup tidak berguna jika pemain mati bosan sebelum ronde kedua. Dimas mendukung dengan data kasar: empat pemain bertanya ulang aturan moral dalam lima belas menit pertama.
Raka tidak memilih berdasarkan siapa yang paling pintar bicara. Ia meminta Dimas menandai bagian ketika pemain berhenti melihat kartu dan mulai melihat jam. Tiga tanda muncul tepat di mekanik yang akhirnya dibuang.
"Kalau fitur membuat pemain keluar dari permainan, fitur itu bukan kedalaman," kata Raka. "Itu lubang."
Reza mencoret dengan rahang kaku, tetapi ia mencoret.
Versi baru ditulis di papan.
Saga Nusantara v0.1.
Dimas mengucapkan nama itu pelan. "Lumayan."
"Lumayan?" Reza menatapnya.
"Nama bagus tidak menyelamatkan aturan jelek. Tapi sekarang aturannya mulai punya napas."
Putaran kedua dimulai dengan pemain baru. Dimas mengundang beberapa orang yang biasa membantu gudang dan satu pemuda SMK yang pernah ia kenal saat mencari sukarelawan konten. Namanya Farhan Akbar. Ia duduk di kursi paling ujung, tidak banyak bicara, hanya membaca teks kartu lebih lama daripada yang lain.
Reza membagi beberapa paket uji. Satu paket berisi kapal cepat dan pelabuhan besar, jelas dibuat sebagai deck unggulan. Paket lain penuh kartu murah: gudang kecil, perahu lambat, buruh pelabuhan, dan sumber daya yang tampak tidak menarik.
Farhan mendapat paket murah itu.
"Kau bisa tukar kalau mau," kata Dimas, kasihan.
Farhan menggeleng. "Tidak. Saya coba yang ini."
Reza tidak menyembunyikan penilaiannya. "Itu deck pendamping. Fungsinya melihat apakah pemain lemah tetap bisa bergerak."
Farhan mengangguk, seolah tidak tersinggung. "Berarti tugasnya bertahan hidup."
Raka meminta semua kartu dibuka sebelum mulai. "Tidak ada penjelasan tambahan setelah ronde berjalan. Efek kartu mengikuti tulisan di kartu."
Reza menyipit. "Kalau ada teks yang belum sempurna?"
"Berarti kita belajar dari teks yang belum sempurna."
Aturan dikunci. Anggaran uji kecil disetujui: biaya cetak prototipe rapi, konsumsi penguji, dan pencatatan video internal. Tidak ada pre-order, tidak ada poster publik, tidak ada janji tanggal jual.
Yusuf membaca anggaran dari ruang sebelah dan tidak ikut duduk bermain. Ia menambahkan batas usia uji dan catatan bahwa hadiah penguji hanya konsumsi dan voucher kecil, bukan uang tunai. Ia tidak ingin permainan kartu pertama mereka berubah menjadi pintu perjudian berkedok kompetisi.
Reza memutar mata, tetapi tidak melawan. "Baik. Game ini membuat orang berpikir, bukan bertaruh."
"Tulis," kata Naya.
Maka di bagian atas aturan v0.1, selain nama Saga Nusantara, ada kalimat kecil: dunia fiktif, bukan materi pendidikan sejarah; uji tertutup, bukan produk jual.
Putaran kedua mulai.
Anehnya, tidak ada yang ingin pulang. Bahkan pekerja yang tadi menguap kini mencondongkan badan saat kartu pertama dibuka. Dimas mencatat reaksi. Naya memotret papan, bukan wajah pemain. Reza berdiri dengan tangan terlipat, yakin deck unggulan akan mendominasi.
Farhan membuka kartu pertamanya.
Gudang Sementara.
Kartu itu memberi satu sumber daya kecil jika pemain tidak menyerang pada giliran pertama.
"Tidak menyerang?" tanya Dimas.
Farhan menyusun kartu murahnya perlahan. "Kalau perahunya kecil, jangan berangkat saat badai."
Reza menatap meja.
Farhan jelas tidak mengikuti jalur rekomendasi.
Raka melihat penguji lain berhenti bercanda. Mereka semua menunggu apakah anak pendiam dengan deck murah itu akan hancur cepat atau menemukan sesuatu yang luput dari mata Reza.
Di ujung meja, Reza mulai mencondongkan badan.
Salah satu penguji yang tadi menguap mengetuk meja. "Lanjut. Jangan jelaskan dulu. Saya mau lihat apakah deck kecil itu bisa hidup."
Untuk pertama kalinya malam itu, pemain meminta ronde berjalan, bukan meminta aturan diulang.