"Saya tidak melihat."
"Ya liat yang bener dong!"
"Kamu terlalu kecil."
"Hah?!"
"Jadi kamu minta saya untuk tanggung jawab?"
"Iya."
"Baik. Buka baju kamu."
"Hah! Jangan ngomong sembarang ya!"
Gara-gara terciprat air lumpur, Azel nekat menghadang mobil seorang pria asing.
Siapa sangka pria itu adalah dosen yang paling ditakuti di kampusnya. Belum selesai rasa kesalnya, ternyata dosen kaku itu adalah ayah dari Arjun, anak kecil yang begitu dekat dengannya.
Di balik sikap dosennya, Ibrahim Rabbani Mahendra, ia menyimpan luka di masa lalu.
Pertemuan demi pertemuan membuat hidup mereka perlahan berubah. Saat seorang anak kecil menjadi penghubung, takdir membawa Azel pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Mampukah Azel menerima takdirnya?
Sementara Ibra mulai menyadari bahwa gadis bernama Arzelia Nayesha Mahina Ghazi bukanlah orang asing dalam hidupnya. Sebuah nama keluarga membawa kembali kenangan masa kecil yang telah lama ia tinggali.
Spin Off novel 'Dari Ribut Jadi Jodoh'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Suasana Sekretariat BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis sore itu cukup ramai. Hampir seluruh pengurus telah berkumpul. Di atas meja terhampar proposal kegiatan, laptop, dan beberapa gelas minuman.
Fariz yang duduk di kursi paling depan mengetuk meja pelan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Baik teman-teman, kita mulai rapat hari ini. Agenda kita membahas program kerja terbesar semester ini, yaitu Bakti Desa. Minggu depan proposal sudah harus diserahkan ke dosen pembina untuk mendapatkan persetujuan."
Semua mengangguk.
Fariz membuka proposal di hadapannya. "Konsep besarnya sudah ada. Kita akan melaksanakan pengabdian masyarakat selama tiga hari dua malam di Desa Cibunar."
Ia memandang seluruh peserta rapat.
"Sekarang saya ingin mendengar konsep dari masing-masing divisi."
Beberapa divisi mulai menyampaikan usulannya.
Divisi Acara lebih dulu berbicara. "Kita rencanakan ada kegiatan mengajar anak-anak SD, lomba edukasi, senam bersama warga, dan malam keakraban."
Fariz mencatat. "Bagus. Berikutnya."
Divisi Perlengkapan menyampaikan kebutuhan tenda, alat kebersihan, pengeras suara, hingga perlengkapan permainan anak.
Fariz kembali mengangguk. "Oke."
Kini pandangannya beralih kepada Azel. "Humas."
Azel yang sejak tadi mencatat langsung menegakkan duduknya. "Iya, Kak."
"Menurut Humas bagaimana?"
Azel membuka map yang dibawanya. "Kalau dari Humas, menurutku sebelum menentukan semua program, kita harus komunikasi dulu sama kepala desa."
Fariz mengangguk. "Kenapa?"
"Karena kita belum tau kebutuhan utama warga di sana."
Semua mulai memperhatikan.
"Jangan sampai kita datang dengan banyak program yang menurut kita bagus, tapi ternyata bukan itu yang mereka butuhkan."
Beberapa pengurus langsung mengangguk setuju.
Azel melanjutkan. "Misalnya kita mau mengadakan penyuluhan kesehatan. Belum tentu warga sedang membutuhkan itu. Kalau ternyata masalah terbesar mereka adalah pengelolaan sampah atau akses air bersih, berarti program kita harus disesuaikan."
Fariz tersenyum tipis. "Setuju."
Azel kembali melihat catatannya. "Menurutku Humas harus survei lebih dulu. Kita wawancara kepala desa, perangkat desa, karang taruna, bahkan beberapa warga. Biar program kita benar-benar bermanfaat."
"Bagus."
Fariz memberi tanda centang pada proposal. "Terus?"
"Kalau hasil surveinya sudah keluar, baru kita tentukan kegiatannya."
"Contohnya?"
Azel berpikir sejenak. "Kalau memang diperlukan, kita bisa mengadakan penyuluhan hidup bersih dan sehat. Pelatihan pengolahan sampah. Edukasi penggunaan media sosial yang aman untuk remaja. Belajar bersama anak-anak. Gotong royong membersihkan lingkungan. Pelatihan dasar penggunaan komputer. Atau membantu UMKM desa mempromosikan produknya."
Ruangan menjadi lebih hidup.
"Nah..." ujar Fariz. "Itu yang saya maksud."
Ia kemudian menoleh kepada seluruh peserta rapat. "Teman-teman, jangan cuma menulis di proposal 'mengadakan kegiatan sosial'. Kalau nanti dosen pembina bertanya, kalian harus bisa menjelaskan. Programnya apa. Sasarannya siapa. Masalah yang ingin diselesaikan apa. Target akhirnya apa. Bukan sekadar datang, foto-foto, lalu pulang."
Semua langsung sibuk mencatat.
Fariz kemudian menoleh ke arah Bela dan Sarah.
"Konsumsi."
Bela membuka buku catatannya. "Kalau konsumsi, kami sudah menghitung kebutuhan panitia dan peserta."
Sarah melanjutkan. "Rencananya makanan utama akan bekerja sama dengan ibu-ibu PKK desa."
Bela mengangguk. "Selain lebih hemat, kita juga bisa membantu perekonomian warga."
Fariz tersenyum puas. "Itu ide bagus."
Sarah kembali menambahkan. "Kami juga menyiapkan konsumsi untuk anak-anak kalau nanti ada lomba atau kegiatan belajar. Minimal snack dan susu."
"Baik." Fariz kembali mencatat. "Lalu bagaimana kalau ada peserta yang punya alergi makanan?"
Bela langsung menjawab. "Nanti saat pendaftaran panitia dan relawan, kami sertakan formulir riwayat alergi makanan. Jadi konsumsi bisa disesuaikan."
"Bagus."
Fariz menutup proposalnya. "Saya senang hari ini semua mulai berpikir lebih detail."
Ia memandang seluruh pengurus.
"Ingat. Tujuan Bakti Desa bukan hanya menjalankan program kerja BEM. Tetapi memastikan keberadaan kita benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat."
Suasana rapat mendadak hening. Semua menyadari bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas. Melainkan bentuk nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.
Begitu rapat selesai, satu per satu pengurus BEM mulai merapikan berkas dan meninggalkan sekretariat.
Azel memasukkan buku catatannya ke dalam tas.
"Yuk, pulang," ajaknya.
Sekar dan Bela mengangguk. "Iya."
Ketiganya pun berjalan bersama menuju area parkiran kampus.
Di tengah perjalanan, Fariz mempercepat langkah hingga berhasil menyusul mereka.
"Zel."
Azel yang baru saja keluar dari gedung fakultas menoleh. "Iya, Kak?"
Fariz menghampirinya sambil mengusap tengkuk, terlihat sedikit gugup. "Udah mau pulang?"
"Iya, Kak."
Fariz menarik napas pelan sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya. "Mau aku antar?"
Azel tersenyum sopan sambil menggeleng. "Eh... nggak usah, Kak. Aku bawa motor, kok."
Fariz masih belum menyerah. "Kalau gitu kita pulangnya bareng aja..Kan searah, kita iringan jalannya."
Azel tersenyum tipis. "Maaf ya, Kak. Aku mau nganter Sekar dulu..Dia nebeng sama aku."
"Oh..." Fariz mengangguk pelan. Meski sedikit kecewa, ia berusaha tetap tersenyum.
"Lain kali malau kamu nggak bawa motor, boleh aku anter?"
Azel terdiam sejenak. Kemudian ia menjawab dengan nada lembut agar tidak menyinggung perasaan Fariz.
"Hem... Nggak usah ya, Kak. Nggak enak kalau dilihat orang..Takut jadi bahan omongan."
Fariz langsung memahami maksud ucapan itu. Sebagai seorang Ning yang tumbuh di lingkungan pesantren, Azel memang sangat menjaga adab dan batasan dengan laki-laki yang bukan mahram. Ia tidak ingin menimbulkan fitnah ataupun kesalahpahaman.
Fariz pun mengangguk sambil tersenyum tipis. "Iya..Aku paham. Makasih udah jujur."
Azel membalas senyum itu. "Permisi ya, Kak. Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Fariz hanya memperhatikan Azel yang berjalan menjauh. Tak lama kemudian, Azel bergabung dengan Sekar dan Bela.
"Yuk..Kita pulang."
"Siap, Bu Ning," goda Sekar.
Azel langsung mencubit pelan lengan sahabatnya itu. "Ih, apaan sih."
Bela terkekeh melihat tingkah keduanya.
Mereka bertiga pun berjalan menuju area parkir sambil terus mengobrol dan sesekali tertawa, meninggalkan Fariz yang masih berdiri di tempat dengan senyum tipis di wajahnya.
Fariz hanya bisa memandangi punggung Azel yang semakin menjauh. Ia mengembuskan napas panjang. "Susah juga deketin kamu, Zel."
"Tapi nggak nyerah, kan?"
Fariz menoleh. Ternyata Ihsan sudah berdiri di sampingnya sambil menyelipkan kedua tangan ke saku celana.
"Eh, dari mana aja, San?"
"Baru keluar sekretariat."
Ihsan menyenggol bahu Fariz pelan. "Lo juga aneh."
"Kenapa?"
"Baru juga deketin cewek, udah ngajak berduaan."
"Lah, gue cuma nawarin nganter."
"Sama aja." Ihsan terkekeh. "Lo tau sendiri kan dia itu Ning."
Fariz mengangguk pelan. "Ya tau."
"Mana mungkin dia mau dibonceng cowok yang bukan mahram."
Fariz mengusap wajahnya. "Ya gue kan nggak ngajak pacaran."
Ihsan langsung tertawa. "Ya sama aja, Bambang."
"Terus harus gimana?"
"Ya kalau serius..." Ihsan mengangkat kedua bahunya. "...langsung datang ke rumahnya. Kenalan sama keluarganya."
Fariz melongo. "Buset."
"Ya nikahin sekalian."
"Ck." Fariz menggeleng sambil tertawa kecil. "Masih lama lah."
"Kenapa?"
"Gue aja masih setahun lagi baru skripsi."
"Lah terus?"
"Mau gue kasih makan apa anak orang?"
Ihsan mendecak. "Ck... merendah buat meroket."
Fariz mengernyit. "Apaan?"
"Lo ngomong kayak orang susah. Padahal bokap lo pengusaha."
Fariz menggeleng. "Yang kaya itu bokap gue. Bukan gue. Gue maunya bisa berdiri di kaki sendiri dulu sebelum berani datang ke rumah orang."
Ihsan tersenyum tipis. "Nah... itu baru laki-laki."
Fariz mengembuskan napas. "Udahlah. Yuk pulang."
Sementara itu... Di area parkiran, Bela lebih dulu menghampiri motornya.
Bela melambaikan tangan sebelum akhirnya berjalan menuju motornya sendiri.
"Duluan ya!"
"Hati-hati!"
"Iya, lo juga!" sahut Azel dan Sekar bersamaan.
Tak lama, Bela pun meninggalkan area parkiran. Kini hanya tinggal Azel dan Sekar.
Sekar menghampiri motor milik Azel. Azel membuka jok motor, mengambil helm cadangan, lalu menyerahkannya kepada sahabatnya.
"Nih."
"Makasih." Sekar segera mengenakan helm. Namun sebelum naik ke motor, ia menepuk pelan bahu Azel.
"Zel."
"Hm?"
Sekar menyeringai jahil. "Kayaknya Kak Fariz suka sama lo, deh."
Azel spontan mencubit pelan lengan Sekar. "Ck. Apaan sih. Ngawur aja."
Sekar meringis sambil mengusap lengannya. "Sakit, tau! Tapi serius. Kelihatan banget."
Azel memasang wajah bingung. "Dari mana kelihatannya?"
Sekar mulai menghitung dengan jarinya. "Pertama, baru selesai rapat, yang dicari siapa? Itu lo. Kedua, tadi nawarin nganterin. Ketiga, kalau suatu hari lo nggak bawa motor, dia juga langsung nawarin buat nganter. Menurut lo itu biasa?"
Azel menggeleng cepat. "Itu mah karena dia Ketua BEM. Peduli sama anggotanya."
Sekar menaikkan sebelah alis. "Yakin?"
"Iya."
"Gue sih nggak yakin."
Azel mendecak pelan. "Udah ah, jangan ngarang."
Ia langsung menyalakan mesin motornya. Suara motor pun mulai terdengar.
Namun Sekar masih belum berhenti menggoda. "Eh, tapi gue mau doain lo dulu."
Azel menoleh curiga. "Doa apaan lagi?"
Sekar tersenyum lebar. "Semoga nanti kalau nikah..."
"SEKAR!"
Belum sempat Sekar menyelesaikan kalimatnya, Azel sudah memotong sambil melotot. Sekar langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Belum selesai ngomong juga!"
Azel pura-pura memutar gas. "Yaudah, gue tinggal, ya."
"Eh, jangan!"
Sekar buru-buru naik ke boncengan. "Iya, iya gue diem."
Azel menggeleng geli melihat tingkah sahabatnya. "Nah gitu. Pegangan yang bener."
"Siap, Bos!"
Motor pun melaju keluar dari area parkiran kampus, diiringi tawa Sekar yang masih sesekali terdengar karena berhasil menggoda Azel.
Tak lama kemudian, motor Azel memasuki gang tempat tinggal Sekar. Beberapa menit setelahnya, mereka berhenti di depan mulut gang menuju rumah Sekar.
Azel melepas helmnya. "Lo yakin nggak mau gue anter sampai depan rumah, Sek?"
Sekar menggeleng. "Nggak usah, sampai sini aja."
Ia kemudian menatap Azel penasaran. "Lo habis ini beneran mau ke daycare Uma lo?"
Azel mengangguk. "Iya."
"Emang Uma lo minta jemput?" tanya Sekar lagi.
"Enggak. Kayaknya Uma lagi di rumah Opa. Gue cuma pengen main aja sama anak-anak."
"Oh..." Sekar mengangguk paham.
"Oke deh. Gue juga mau bantu Mama bikin pesenan kue."
Azel menyeringai. "Widih... Rajin banget bantuin Mama."
Sekar langsung menganggukkan kepala dengan bangga. "Rajin, dong. Rajin bantuin ngabisin kuenya."
Azel langsung tertawa. "Hahaha... dasar."
Sekar ikut terkekeh.
Azel kembali mengenakan helmnya. "Yaudah. Gue pamit ya, Sek."
Sekar langsung memasang wajah sebal. "Sek, Sek, Sek mulu."
Azel terkekeh. "Ya emang nama lo Sekar."
"Iya, tapi kata 'Sek' tuh kedengerannya kayak 'pesek'."
Azel mengangguk santai. "Ya kan emang lo pesek."
"Ck!" Sekar mendecak kesal. "Iya nih. Harusnya gue nurun hidung Bapak. Eh, malah nurun hidung Mama."
Azel tertawa sambil menepuk pelan bahu sahabatnya. "Ya disyukurin. Pesek juga tetap cantik, kali."
Senyum Sekar langsung mengembang. "Nah... Gitu dong. Berarti gue cantik?"
"Iya."
"Tapi..."
Sekar menyipitkan mata. "Apa lagi?"
Azel menyeringai jahil. "Masih cantikan gue."
"Heh!"
Sekar langsung mengangkat helm yang ia pinjam tadi, pura-pura hendak memukul Azel.
Azel buru-buru mundur sambil tertawa. "Eh, eh... bercanda!"
"Sana pergi. Nih helmnya." Sekar memberikan helm Azel.
"Hahaha ngambek."
Candaan seperti itu sudah menjadi makanan sehari-hari bagi mereka berdua. Azel dan Sekar memang telah berteman sejak kecil.
Mereka tumbuh di lingkungan yang sama, bersekolah bersama sejak SMA, hingga akhirnya diterima di universitas yang sama.
Persahabatan mereka begitu erat hingga tak jarang orang mengira keduanya adalah saudara kandung.
Bukan hanya Azel dan Sekar yang akrab. Kedua keluarga mereka pun memiliki hubungan yang sangat dekat.
Kayla, ibu Sekar, adalah sahabat dekat Uma Azzura sejak masih duduk di bangku kuliah.
Sementara Evan, ayah Sekar, bersahabat baik dengan Abi Abidzar sejak masa kuliah.
Tak heran jika Azel dan Sekar tumbuh bersama, saling mengenal kebiasaan masing-masing, dan sudah menganggap satu sama lain sebagai keluarga sendiri.
Setelah kembali berpamitan dengan Sekar, Azel mengenakan helmnya lalu menyalakan mesin motor.
"Assalamu'alaikum, Sek."
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan!"
Azel mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian membunyikan klakson motornya sekali.
"Tin!"
Sekar melambaikan tangan. "Hati-hati, Zel!"
Azel membalas lambaian itu sebelum memutar gas dan meninggalkan gang rumah sahabatnya.
Perjalanan menuju daycare berlangsung sekitar dua puluh menit.
Begitu sampai, ia memarkirkan motornya di halaman daycare.
Dari luar, terdengar riuh tawa anak-anak yang sedang bermain. Senyum tipis terukir di wajah Azel. Suasana itu selalu berhasil membuat hatinya terasa lebih tenang.
Ia melepas helm, merapikan kerudungnya, lalu melangkah masuk ke dalam daycare.
Azel melangkah masuk ke dalam daycare sambil mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam, Ning," sapa beberapa pengasuh dengan senyum ramah.
Azel membalas senyum mereka. "Anak-anak lagi tidur ya, Mbak?"
"Iya, Ning. Baru sekitar lima belas menit yang lalu."
Azel mengangguk pelan. Tak heran suasana daycare siang itu jauh lebih tenang dari biasanya. Hanya terdengar samar suara pendingin ruangan dan napas teratur anak-anak yang sedang beristirahat.
Ia berjalan perlahan menyusuri lorong agar tidak membangunkan mereka. Pandangannya berhenti pada salah satu kasur kecil di sudut ruangan.
Arjun. Bocah berusia lima tahun itu tidur sambil memeluk boneka dinosaurus kesayangannya. Wajah polosnya terlihat begitu damai. Tanpa sadar, sudut bibir Azel terangkat membentuk senyum tipis.
Baru dua bulan Arjun dititipkan di daycare itu. Namun hari pertama datang, bocah itu sama sekali tidak mau ditinggal ayahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bahkan sempat tantrum hingga membuat seluruh pengasuh kewalahan.
Segala cara sudah dicoba. Dibujuk. Diajak bermain. Diberi mainan baru.
Tetap saja Arjun terus menangis sambil memanggil ayahnya. Salah seorang pengasuh bahkan sudah hendak menghubungi ayah Arjun agar kembali menjemput putranya.
Kebetulan saat itu Azel baru selesai membantu di daycare. Melihat Arjun yang menangis tanpa henti, ia spontan menghampiri.
"Halo..."
Tidak ada jawaban. Arjun justru semakin menangis.
Azel tidak memaksanya berhenti. Ia hanya duduk di lantai beberapa langkah dari Arjun sambil memainkan sebuah mobil-mobilan.
"Nih mobilnya jalan sendiri."
Brum...
Brum...
Sesekali Azel pura-pura membuat suara mesin mobil hingga berhasil menarik perhatian Arjun. Tangis bocah itu perlahan mereda.
Beberapa menit kemudian... Arjun justru menghampiri Azel dan duduk di sampingnya.
Sejak hari itulah semuanya berubah. Arjun mulai mau bermain. Mau makan. Mau tidur siang.
Asalkan... Ada Kak Azel.
Bahkan para pengasuh sering kali kesulitan membujuk Arjun jika Azel sedang tidak datang ke daycare.
Azel sendiri tidak pernah banyak bertanya mengenai kehidupan pribadi Arjun.
Ia hanya berpikir, mungkin anak itu memang sedang kesepian. Namun setelah kejadian kemarin. Setelah mengetahui siapa ayah Arjun, Azel mulai memiliki dugaan sendiri. Ia masih mengingat wajah Ibra yang nyaris tanpa ekspresi.
Cara bicaranya yang datar. Sikapnya yang begitu kaku.
"Pantas aja Arjun kelihatan sering kesepian," batin Azel. "Punya ayah yang dingin, kaku, sama galaknya minta ampun begitu."
Ia menghela napas pelan. "Kasihan juga..."
Meski begitu, Azel segera menggelengkan kepalanya sendiri.
"Eh, jangan suuzan dulu. Belum tentu kehidupan mereka di rumah memang seperti yang aku bayangkan."
Ia kembali menatap Arjun yang masih terlelap. Pelan-pelan Azel membenarkan selimut yang sedikit melorot dari tubuh bocah itu, lalu mengusap lembut rambutnya.
"Selamat tidur, Arjun," bisiknya pelan agar tidak membangunkan anak-anak yang lain.
Azel kemudian beranjak menuju ruang bermain, berniat membantu para pengasuh menyiapkan camilan untuk anak-anak sebelum mereka bangun dari tidur siang.
biarkan apa yg oma arsyila ucapkan mnjadi kenyataan amiin
jjr slalu ada /Sob/kadang luka yg berujung trauma blm tentu bisa stiap org hadapi apalagi smpai berujung ke hal yg merugikan dan negatif
amiiiin
bnyak hikmah dlm stiap critamu
sejak kemunculan arjun bawaan stiap bc pasti sedih,menangis
ya allah