Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
024
...oOo ...
Waktu bergulir bagaikan kilatan cahaya, membawa dinasti Valerio-Desmon melintasi rentang dua puluh dua tahun yang penuh kemegahan.
Pagi itu, sinar matahari musim panas menembus kaca-kaca tinggi ruang makan utama Mansion Valerio-Desmon.
Ruangan bernuansa marmer putih dan ukiran emas itu tampak begitu anggun. Di atas meja makan panjang berlapis kain linen impor, tersaji hidangan sarapan ala kontinental lengkap—mulai dari roti panggang hangat, buah-buahan segar, hingga kopi hitam pekat khas Braxley.
Braxley Valerio-Desmon duduk di kepala meja. Meski usianya kini telah memasuki kepala lima, pesona sang raja sama sekali tidak pudar. Tetap maskulin, tegas, dan berwibawa. Di sisi kanannya, Aurora tetap tampil memesona bagaikan ratu abadi. Paras cantiknya seolah tak tersentuh usia, memancarkan keanggunan yang matang dan ketenangan jiwa.
Di seberang mereka, duduk Celestia—putri kedua mereka yang kini berusia sembilan belas tahun. Celestia tumbuh menjadi gadis yang sangat jelita, lembut, dan patuh, mewarisi keanggunan ibunya. Sementara di samping Celestia, duduk sang pangeran utama dinasti Desmon: Draco Valerio-Desmon.
Di usianya yang ke-22 tahun, Draco telah bertransformasi menjadi pria muda yang luar biasa tampan. Struktur rahangnya yang tegas, hidung mancung, serta manik mata cokelat gelapnya adalah cetak biru murni dari Braxley. Namun, garis wajah itu kini dihiasi oleh raut wajah yang dingin, acuh tak acuh, dan sedikit lelah. Ia mengenakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya terbuka, duduk bersandar sembari mengaduk aduk cangkir espresso-nya tanpa selera.
"Celestia, mobilmu sudah siap di depan. Pak Supir akan mengantarmu langsung ke Fakultas," ujar Aurora lembut, memecah keheningan di meja makan.
Celestia menyapu bibirnya dengan serbet sutra, lalu berdiri anggun. "Baik, Mommy. Celestia berangkat dulu. Dad, Draco... sampai nanti."
Setelah langkah kaki Celestia menghilang di balik pintu ganda ruang makan, atmosfer di ruangan itu mendadak berubah menjadi tegang dan sarat akan konfrontasi halus.
Braxley meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil dengan denting porselen yang tajam. Manik matanya yang tajam menatap lurus ke arah putra pertamanya.
"Semalam pulang jam berapa, Draco?" tanya Braxley dingin.
Pertanyaan itu meluncur dengan nada kaku—sebuah pertanyaan yang sudah berkali-kali ditanyakan oleh Braxley maupun Aurora hampir setiap harinya. Putranya, Draco, tumbuh menjadi pemuda yang cukup sulit diatur.
Pria muda itu sangat gemar keluar malam, menghabiskan waktu di kelab-kelab eksklusif, dan seolah hanya hidup untuk bersenang-senang mengendarai mobil mewahnya.
Draco tidak langsung mendongak. Ia menyesap espresso-nya pelan, lalu menjawab dengan suara bass-nya yang datar dan tanpa beban.
"Jam 4 pagi, Dad."
Braxley menarik napas panjang, menghembuskannya berat sembari memijat pelipis kepalanya yang terasa pening. Memimpin konglomerasi bisnis bernilai miliaran dolar tidak membuat kepala Braxley sepusing berhadapan dengan tabiat liar putranya ini.
Aurora menghela napas halus. Setelah memastikan Celestia benar-benar telah pergi, Aurora memiringkan tubuhnya menatap Draco dengan binar mata seorang ibu yang dipenuhi kekhawatiran mendalam.
"Mommy mendapatkan laporan..." tutur Aurora pelan, jeda sejenak sembari menata kalimatnya. "...semalam kamu dan kekasihmu... Ah, Mommy hanya berpesan, jangan pernah bawa wanita manapun ke ranjangmu, Draco. Mommy masih memaklumi kau mabuk sepanjang malam dan tetap pergi ke kampus di pagi hari."
Braxley menimpali, menancapkan tatapan dominannya pada sang putra. "Daddy tidak ingin mendengar kau menjadi pengecut yang tidak bertanggung jawab atas benihmu! Mommy dan Daddy berharap yang terbaik untukmu."
Draco menghentikan gerakan tangannya. Pria muda itu mendongak, menatap kedua orang tuanya dengan senyuman tipis yang sulit diartikan—sebuah topeng ketenangan yang menutupi kedalaman pikirannya sendiri.
"Baik, Mom. Aku akan selalu ingat semuanya..." ucap Draco, menirukan poin-poin aturan keluarga dengan nada santai namun tegas. "Tidak boleh bawa wanita ke keranjangku, tidak boleh sentuh barang haram, tidak boleh sakiti hati wanita. Right? Aku akan ke kampus sekarang."
Tanpa menunggu balasan dari orang tuanya, Draco meraih kunci mobil sport di atas meja, berdiri tegap, dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan. Tak lama kemudian, derum mesin supercar berkapasitas mesin raksasa meraung keras di halaman depan mansion sebelum meluncur kencang membelah jalanan.
Di ruang makan, keheningan melingkupi tempat itu. Aurora menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan Draco dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dia makin sulit disentuh, Axley..." bisik Aurora parau. "Aku takut dia tersesat dalam kebebasannya."
Braxley berdiri dari kursinya, melangkah mendekati Aurora dan merengkuh bahu istrinya dari belakang dengan kehangatan yang protektif.
Hati pria tegap itu sebenarnya dipenuhi rasa bersalah yang besar. Putra yang seharusnya menjadi panutan dan teladan bagi adiknya, justru memberikan contoh yang buruk dengan gaya hidup liarnya.
Braxley mengecup pucuk kepala Aurora, mencoba menenangkan wanita yang paling dicintainya itu.
"Aku yakin dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri, Sayang..." bisik Braxley lembut, mengusap bahu Aurora. "Kumohon percaya pada anak kita."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, derum mesin supercar milik Draco memasuki area parkir khusus mahasiswa di kampus swasta paling elit di Los Angeles. Bodi mobil yang mengkilap itu menarik perhatian ratusan pasang mata, namun Draco melangkah keluar seolah tidak peduli pada sekitar.
Baru saja ia berjalan beberapa langkah melewati koridor utama gedung fakultas bisnis, tiga orang kawan dekatnya langsung menghadang langkahnya.
Paduan kelompok eksklusif kampus: Caleb, pria humoris yang selalu tahu kabar pesta terbaru; Diego, putra taipan media yang santai; dan Bianca, gadis jelita berambut pirang dari keluarga terpandang yang telah menjadi kekasih Draco selama enam bulan terakhir.
"Weh! Pangeran kita sudah tiba!" seru Caleb heboh sembari menepuk bahu tegap Draco. "Kau tahu? Kami semalam mengkhawatirkan dirimu, Draco! Kau pulang lebih cepat dari biasanya. Bayangkan, jam 10 malam kau sudah menghilang dari pesta!"
Bianca melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di lengan tegap Draco sembari memanyunkan bibirnya dengan raut manis yang dibuat-buat.
"Dia mengeluh sakit kepala karena banyak minum," potong Bianca dengan nada mengeluh pada Caleb dan Diego. "Dia mengantarku pulang dan langsung pergi begitu saja. Benar-benar membosankan!"
Diego tertawa lepas sembari menggelengkan kepalanya. "Whooaah! Kami pikir kalian akan menghabiskan malam bersama di penthouse!"
Mendengar godaan Diego, Bianca menyunggingkan senyuman malu-malu, mengibaskan rambutnya sembari menatap mata cokelat gelap Draco yang tampak acuh dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Namun, senyuman malu-malu Bianca hanyalah sebuah topeng untuk menutupi rasa malu yang menggerogoti harga dirinya di dalam hati.
Kenyataannya, selama enam bulan berpacaran dengan pangeran dinasti Desmon ini, Bianca hanya pernah dicium di depan teman-temannya saat pesta untuk pameran status semata.
Sisanya? Tidak ada. Mereka bahkan tidak pernah melakukan adegan intim seperti yang selalu dibayangkan dan digosipkan oleh teman-teman mereka!
Draco tidak pernah menyentuhnya lebih dari sekadar genggaman tangan atau ciuman singkat di pipi dan bibir saat di depan publik. Draco memasang tembok tebal yang tak terintip, menjaga jarak fisik yang luar biasa dingin dari wanita mana pun—termasuk kekasihnya sendiri.
Nasihat Aurora tentang 'jangan pernah membawa wanita ke ranjangmu' sebenarnya telah dipatuhi oleh Draco hingga ke tingkat yang mutlak.
Draco melepaskan pegangan tangan Bianca di lengannya secara halus namun tak terbantahkan. Manik matanya yang tajam dan dingin menatap ketiga kawannya secara bergantian.
"Aku akan ke perpustakaan," ucap Draco lirih, suaranya yang datar memotong segala obrolan konyol mereka. "Sampai jumpa."
Tanpa menunggu respons dari Bianca yang terpaku atau godaan lanjutan dari Caleb dan Diego, Draco memutar tubuhnya dan melangkah tenang menjauhi kerumunan koridor, membiarkan bayangan keangkuhan dan misteri dirinya menyelimuti langkah sang pangeran Desmon.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳