NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Gempa di Benua Tengah

Hancurnya Altar Inti Klan Badai Angin memicu kepanikan massal yang belum pernah terjadi dalam sejarah Benua Tengah. Tanpa Kristal Badai Purba, tembok angin rahasia yang selama ribuan tahun melindungi Kota Angin Hijau lenyap seperti kabut ditiup fajar. Ribuan murid klan berlarian tanpa arah di bawah langit malam yang mendadak sunyi. Berita tentang kematian Empat Tetua Agung dan Zian Rui dalam waktu "satu detik" menyebar laksana wabah, meruntuhkan moral seluruh klan dalam hitungan jam.

Mengikuti perintah Kala, Zian bergerak cepat. Menggunakan basis kultivasi barunya di Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Menengah dan sisa pengaruh namanya, dia mengumpulkan para murid garis keturunan bawah dan budak yang selama ini ditindas oleh faksi saudara tirinya. Hanya dalam satu malam, Zian berhasil mengambil alih kendali kota yang telah kehilangan pemimpinnya tersebut.

Di puncak menara tertinggi paviliun klan, Kala berdiri menatap hamparan benua yang luas di bawahnya.

Jubah hitamnya yang baru berkibar pelan. Setelah menyerap seluruh esensi dari Kristal Badai Purba, basis kultivasi Kala kini telah mantap di Ranah Raja Bumi Tingkat Awal. Pembuluh darahnya tidak lagi memancarkan energi perak naga yang liar; energinya kini mengalir tenang bagai arus sungai bawah tanah yang dalam dan mematikan.

"Senior," Zian melangkah masuk ke dalam menara dengan sikap membungkuk penuh hormat. "Seluruh Kota Angin Hijau telah diamankan. Namun... jaringan intelijen kami baru saja menerima kabar buruk. Utusan Agung Zhuo Yan dari Klan Api Berkobar tidak kembali ke klannya setelah melarikan diri dari Dataran Utara."

Kala tidak menoleh, netra Black Hole-nya tetap menatap cakrawala. "Ke mana dia pergi?"

"Dia pergi langsung ke Istana Suci Klan Cahaya Abadi," jawab Zian, suaranya dipenuhi ketegangan. "Zhuo Yan meminta suaka dan melaporkan keberadaan Senior kepada Aliansi Tinggi 4 Klan. Saat ini, Klan Api Berkobar, Klan Samudra Biru, dan Klan Cahaya Abadi sedang mengumpulkan jutaan pasukan di perbatasan Benua Tengah untuk mengepung kita. Mereka... mereka dipimpin langsung oleh tiga Master di Ranah Penguasa Langit (Sky Sovereign) Tingkat Puncak!"

“Kala, rantai emas para dewa mulai menyempit,” suara wanita yang misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil bergaung dengan nada serius di dalam kepalanya. “Aliansi klan suci ini tidak lagi menganggapmu sebagai anomali biasa. Mereka tahu kau membawa kekuatan pembeku waktu. Jika tiga Penguasa Langit Puncak itu menggabungkan Domain Elemen mereka, Hukum Sepuluh Senti milikmu akan menghadapi tekanan balik yang bisa menghancurkan jiwamu.”

Kala menyentuh gagang pedang Jian hitamnya yang setipis kertas. Konstelasi bintang di matanya berputar lambat. "Biarkan mereka berkumpul. Itu menghemat waktuku untuk memburu mereka satu per satu."

Tiba-tiba, fluktuasi energi suci yang hangat merayap masuk ke dalam ruang menara. Hawa dingin malam digantikan oleh pancaran cahaya emas redup yang lembut laksana sinar fajar.

Kala mengernyit. Pupil matanya langsung mengunci ke arah sudut teras menara yang gelap.

Dari balik bayangan pilar batu, melangkah keluar sesosok gadis remaja berjubah sutra putih suci. Rambut emasnya berkilau lembut di bawah sinar rembulan, dan mata biru jernihnya menatap Kala dengan tatapan yang dipenuhi oleh keheningan yang kompleks.

Putri Liana.

Dia datang sendiri tanpa belasan pengawal zirah peraknya. Fluktuasi spasial di sekitar tubuhnya menandakan dia baru saja menggunakan jimat teleportasi rahasia tingkat tinggi untuk menyelinap ke markas musuh.

Zian seketika waspada, kuas tembaga kunonya langsung diacungkan ke udara, namun Kala mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Zian mundur. "Tinggalkan kami, Zian."

"Tapi, Senior—" Zian ragu sejenak, namun melihat ketegasan di mata Kala, dia akhirnya membungkuk dan melangkah keluar dari menara, menutup pintu kayu di belakangnya.

Di dalam ruangan menara yang sunyi, Sang Dewa Waktu dan Putri Suci kembali berdiri berhadapan. Jimat suci matahari di leher Liana mulai memancarkan panas samar, mendeteksi daya tarik gravitasi dari Netra Kosmos Black Hole Kala yang berada di Ranah Raja Bumi.

"Kau benar-benar menghancurkan Klan Badai Angin dalam semalam," Liana memecah keheningan, suaranya terdengar selembut dentingan harpa, namun membawa kesedihan yang mendalam. "Ramalan langit tidak pernah meleset. Kau adalah bilah hampa udara yang akan memotong garis takdir semesta ini."

Kala melangkah dua tindak mendekati Liana. Kain kasa hitamnya telah dilepas, memperlihatkan pusaran galaksi kosmis di kedua matanya secara penuh. "Kau datang ke sini sendirian, Putri Liana. Apakah kau datang sebagai utusan Klan Cahaya untuk menegosiasikan kematianmu, atau datang sebagai boneka dewa yang ingin menguji pedangku?"

Liana menatap netra Black Hole Kala tanpa rasa takut sedikit pun. Setitik air mata jernih perlahan mengalir di pipi mulusnya, berkilau di bawah cahaya bulan.

"Aku datang... karena aku tidak punya waktu lagi, Kala," bisik Liana, suaranya bergetar menahan kepedihan batin yang selama belasan tahun dia sembunyikan dari dunia. "Tiga hari lagi, saat gerhana matahari kosmis tiba, para Tetua Agung Klan Cahaya dan Klan Api akan membawaku ke Altar Olympus di langit tinggi. Mereka... mereka akan mengorbankan jiwa dan garis darah suciku kepada Dewa Cahaya dan Dewa Api demi memperbarui segel keabadian takhta mereka."

Liana melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga Kala bisa menghirup aroma wangi bunga teratai salju dari tubuhnya. "Seluruh hidupku adalah kebohongan yang dirancang oleh langit. Aku dididik sebagai putri suci, namun akhir hidupku hanyalah seonggok tumbal energi. Aku menolak menjadi boneka mereka, Kala! Aku ingin memilih kematianku sendiri, atau... aku ingin melihat langit yang korup itu runtuh bersama dengan takdirku!"

Mendengar pengakuan yang penuh dengan keputusasaan dan tekad yang sama dengan jiwanya, jantung naga di dada Kala berdegup dengan ketukan yang sangat keras. Pola hubungan di antara mereka kini menjadi logis dan masuk akal di benak Kala. Liana bukan musuh. Dia adalah korban tertinggi dari skenario megah para Dewa Atas yang telah menghancurkan masa kecil Kala. Kebencian mereka berdua bermuara pada musuh yang sama: tirani penguasa langit.

“Kala, garis darah suci gadis ini membawa esensi orisinal dari Cahaya Kosmis,” suara Pohon Akalbuana kembali bergaung di kepalanya dengan nada emosional. “Jika kau menikahinya secara spiritual dan memadukan jiwanya dengan bilah pedang hitammu, pedang tulang naga milikmu akan berevolusi ke tahap kesempurnaan mutlak, mampu membelah ruang dimensi tanpa batasan ranah fana! Namun... harga yang harus dibayar adalah pengorbanan fisiknya di dunia nyata.”

Kala menatap mata biru Liana yang kini mencerminkan rasi bintang di dalam matanya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah kematian Maryam dan Ayla, kekosongan sedingin es di hati Kala terusik oleh kehangatan yang murni.

"Aku tidak akan membiarkan mereka mengambil jiwamu untuk keabadian mereka, Liana," ucap Kala, suaranya parau namun mengandung sumpah yang sangat berat. "Jika langit ingin menjadikanmu tumbal, maka aku yang akan menjadikannya alasan untuk membantai seluruh dewa di atas sana. Tiga hari lagi... aku akan datang ke Altar Olympus. Dan seluruh aliansi jutaan pasukan klan suci yang menghadangku... akan menjadi saksi dari tarikan pedangku yang akan membelah dunia mereka."

Liana tersenyum tipis di tengah air matanya, sebuah senyuman yang sangat indah yang menandakan ikatan jiwa mereka telah terkunci secara absolut melampaui ruang dan waktu. Rantai konspirasi 4 Klan Suci kini telah retak dari dalam, menanti badai perang Multi-Dewa yang siap meledak tiga hari lagi di bawah gerhana matahari kosmis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!