elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Daftar Nama yang Beredar
“Kak, jangan tunjukkan reaksi dulu,” bisik Suster Ayu dua menit setelah Nan Shin memotret jadwal yang dikurangi.
Ayu berdiri di dekat lemari obat dan memiringkan layar ponselnya. Sebuah lembar berjudul Draf Penyesuaian Tenaga Kontrak difoto dari sudut miring. Sebagian tabel tertutup bayangan tangan, tetapi nama, unit, masa kerja, dan rekomendasi masih terbaca.
“Lihat baris tujuh.”
Baris ketujuh: Nan Shin Sim. IGD. Dua belas tahun. Evaluasi penghentian.
Di baris kesembilan ada nama Sri Wahyuni.
Nan Shin memperbesar gambar sampai hurufnya pecah menjadi kotak-kotak kecil. Ia mengecilkan lagi. Nama itu tetap sama.
Ayu menarik kembali ponselnya. Wajahnya pucat.
Jempolnya masih menutupi logo rumah sakit, seolah gerakan kecil itu bisa membuat dokumen tersebut kurang berbahaya.
Nan Shin menghampiri. “Dapat dari mana?”
“Teman administrasi kirim ke grup kecil. Dia langsung hapus, tapi sudah ada yang simpan.”
“Ini daftar final?”
“Katanya draf untuk rapat Senin.”
“Siapa lagi yang lihat?”
Ayu memandang sekeliling. “Hampir semua orang mungkin sudah punya.”
Jawaban itu terbukti sebelum satu jam berlalu.
Di ruang ganti, percakapan berhenti saat Nan Shin masuk. Dua perawat tetap buru-buru menyimpan ponsel. Salah satunya tersenyum dan bertanya apakah bed empat sudah pindah, seolah itu alasan mereka terdiam.
Di kantin, kursi di meja biasa masih kosong, tetapi Suster Dewi melambaikan tangan dari sudut lain dengan gerakan ragu. Kak Sri duduk sendirian sambil mengaduk teh yang tidak diminum.
Nan Shin membawa makanannya ke sana.
“Kak sudah lihat?”
Kak Sri mengangguk. “Suami saya baru kehilangan proyek bulan lalu. Anak kedua masih kuliah.”
“Itu baru draf.”
“Jadwal kita sudah dikurangi. Panggilan HRD juga sudah datang.” Kak Sri mengangkat wajah. “Kalau bukan final, paling tidak mereka sedang serius mempertimbangkannya.”
Nan Shin tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Janji kosong akan terdengar kejam.
“Simpan semua kontrak dan slip gaji,” katanya. “Minta salinan setiap pertemuan.”
“Untuk apa kalau mereka tetap menyuruh kita pergi?”
Nan Shin teringat buku biru di dalam laci. “Supaya kita tahu apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka tawarkan. Jangan hanya mengandalkan penjelasan lisan.”
Kak Sri menatapnya beberapa detik, lalu mengambil foto daftar itu dari ponsel.
“Dua belas tahun dan sebelas tahun,” katanya. “Kita paling lama di daftar.”
Di meja sebelah, seseorang tertawa terlalu keras. Nan Shin tahu semua telinga mendengar.
Saat kembali ke IGD, Putri sedang memeriksa troli emergensi. Ia mendekat setelah Nan Shin selesai mengecek obat.
“Kak, saya lihat fotonya.”
“Hapus kalau tidak perlu. Itu data internal.”
“Nama Kakak ada.”
“Saya tahu.”
Putri menunduk. “Jadwal saya ditambah dua shift.”
Udara di antara mereka mengeras.
“Kamu ikut jadwal yang diberikan,” ujar Nan Shin.
“Kalau saya menolak satu...”
“Jangan. Penolakanmu tidak otomatis mengembalikan shift saya. Bisa saja diberikan kepada orang lain.”
“Tapi ini rasanya salah.”
“Kalau mau membantu, kerja dengan aman. Jangan beri mereka alasan mengatakan tenaga lama gagal mengajari tenaga baru.”
“Kakak marah sama saya?”
Nan Shin menahan napas sebelum menjawab. “Saya marah pada keputusan yang membuat kita ditempatkan seperti lawan.”
“Saya tetap ingin belajar dari Kakak.”
“Kalau begitu catat semuanya dan bertanya sebelum bertindak. Itu bantuan yang bisa kamu berikan sekarang.”
Putri mengangguk, matanya memerah. Nan Shin berbalik sebelum rasa kasihan kepada orang lain membuatnya lupa bahwa namanya sendiri sedang terancam hilang.
Bu Ratna memanggil semua perawat setelah serah terima sore.
“Saya tahu foto daftar beredar,” katanya. “Itu dokumen yang belum disahkan. Tolong jangan sebarkan, jangan unggah, dan jangan bawa ke luar rumah sakit.”
Seorang perawat bertanya, “Apakah nama-namanya benar, Bu?”
“Saya tidak berwenang mengonfirmasi draf.”
“Tapi Ibu ikut rapat.”
“Saya menyampaikan kebutuhan unit dan penilaian kinerja. Keputusan ada pada tim manajemen.”
Kak Sri berdiri di belakang Nan Shin. “Apakah Ibu mengusulkan nama kami?”
Bu Ratna tampak seperti baru menerima pukulan.
“Tidak,” jawabnya tegas. “Saya mengusulkan IGD mempertahankan tenaga berpengalaman. Saya juga menyampaikan dampak kalau terlalu banyak kontrak dihentikan.”
“Lalu kenapa kami ada di daftar?”
“Karena usulan saya bukan satu-satunya dasar keputusan.”
Kak Sri menahan map di dadanya. “Apakah masa kerja kami masuk dalam pembahasan?”
“Masuk.”
“Lalu kenapa dua orang paling lama justru ada di sana?”
Bu Ratna mengatupkan rahang. “Saya tidak menerima rincian bobot penilaian.”
Seorang perawat lain bertanya, “Kalau drafnya salah, Ibu bisa meminta nama kami dicoret?”
“Saya bisa mengirim data dan keberatan. Saya tidak punya kewenangan mencoret keputusan tim.”
“Jadi kami hanya menunggu?”
“Tidak. Siapkan kontrak, penilaian tahunan, dan bukti pelatihan. Jangan menandatangani dokumen yang belum dibaca.”
Nan Shin menatapnya. “Apakah Ibu akan memberi salinan rekomendasi unit?”
“Kalau aturan mengizinkan, saya berikan bagian yang berkaitan dengan masing-masing pegawai.”
Tidak ada yang bertanya lagi.
Setelah pertemuan, rekan-rekan mulai menjaga jarak dengan cara yang hampir sopan. Mereka tidak menghindari Nan Shin sepenuhnya. Mereka masih meminta bantuannya ketika pasien sulit dipasang infus atau keluarga menolak prosedur. Namun percakapan pribadi berhenti. Tidak ada lagi yang mengeluh soal jadwal di dekatnya. Tidak ada yang bertanya apa rencananya.
Seolah nasib buruk bisa menular lewat meja yang sama.
Sore itu seorang keluarga pasien menolak pemindahan ke ruang rawat karena takut biaya BPJS tidak ditanggung. Perawat tetap yang bertugas sudah menjelaskan dua kali, tetapi suara anak pasien semakin tinggi.
“Kami nggak mau tanda tangan sebelum jelas. Kalau nanti disuruh bayar bagaimana?”
Perawat itu akhirnya memanggil Nan Shin. “Nan, kamu bisa bantu jelaskan?”
Nan Shin membaca berkas, mengecek status rujukan, lalu menelepon bagian admisi untuk memastikan kelas perawatan yang tersedia. Ia tidak memberi janji di luar kewenangannya.
“Status BPJS Bapak aktif dan indikasi rawat sudah dicatat dokter,” jelasnya. “Untuk ketersediaan kamar, bagian admisi sedang memastikan. Ini nama petugas yang bisa keluarga hubungi kalau ada perubahan biaya. Jangan menandatangani formulir yang belum dipahami.”
Putra pasien mengangkat lembar itu. “Bagian ini tentang naik kelas kamar?”
“Iya. Jangan centang kalau keluarga tidak meminta perubahan kelas.”
“Kalau kamar sesuai hak belum tersedia?”
“Tanyakan pilihan sementara dan konsekuensi biayanya kepada petugas admisi. Minta dijelaskan tertulis.”
“Berarti kami tidak perlu bayar dulu sekarang?”
“Ikuti penjelasan resmi setelah status dan kamar dipastikan. Jangan mengambil keputusan hanya karena panik.”
Nada anak pasien perlahan turun. Setelah admisi mengonfirmasi kamar, keluarga menyetujui pemindahan.
Perawat tetap tadi mengembuskan napas lega. “Terima kasih. Kalau kamu nggak ada, aku bisa satu jam debat.”
“Lain kali cek status rujukan dulu. Keluarga takut karena informasinya belum lengkap.”
“Iya.”
Ia menepuk lengan Nan Shin, lalu pergi bergabung dengan kelompoknya sendiri di meja ujung. Terima kasih itu hangat hanya beberapa detik. Setelah masalah selesai, jarak kembali terbentuk.
Nan Shin menjalani shift berikutnya dengan tubuh ringan dan kepala kosong. Ia tidak lagi merasa perlu berlari lebih cepat. Semua pekerjaannya tetap selesai, tetapi harapan bahwa satu tindakan tambahan akan menyelamatkan posisinya mulai runtuh.
Pada akhir shift, Bu Ratna menahannya.
“Nan.”
“Iya, Bu?”
“Saya belum menerima keputusan final.”
“Tapi daftar itu sesuai dengan jadwal yang dipotong.”
Bu Ratna tidak bisa menyangkal. “Siapkan dirimu. Bukan berarti menyerah. Siapkan dokumen dan pikirkan orang yang perlu kamu beri tahu.”
Nan Shin memandang lorong IGD. Selama dua belas tahun, ia selalu pulang membawa sisa pekerjaan rumah di kepala. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia membawa kemungkinan bahwa pekerjaan itu tidak akan ada lagi.
Di parkiran, ia membuka percakapan WhatsApp dengan Cheng An.
Jarinya sempat mengetik: Namaku masuk daftar.
Lalu ia menghapusnya. Hal seperti ini tidak seharusnya dibalas di sela operasi atau rapat promosi.
Ia memasukkan ponsel ke tas, lalu berjalan menuju titik penjemputan ojek online.
Sepanjang perjalanan pulang, map kontrak di dalam tas menekan sisi tubuhnya setiap kali kendaraan melewati jalan yang tidak rata.
Malam ini ia harus bicara dengan Cheng An.