NovelToon NovelToon
Belle Dan Cinta Pertamanya

Belle Dan Cinta Pertamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wisye Titiheru

Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Sudah enam bulan tim medis nusantara melakukan tugasnya di kota mulia. Dan saat ini Hugo sementara ada kegiatan di Jayapura, rapat di Pangdam tujuh belas cendrawasih. Dan Tim medis masih terus melaksanakan program kerja mereka. Belle bersama teman - teman medis baru tiba di markas setelah melakukan pelayanan meds di sebuat distrik yang lumayan jauh dari kota Mulia.

Pagi - pagi sekali mereka sudah berangkat karena perjalanan yang jauh enam jam perjalanan pulang pergi dan medan juga berbahaya dan rawan di hadang oleh organisasi yang tidak pro negara. Makanya mereka keluar dengan baju lengkap anti peluru dan juga di kawal oleh tentara. Seharian di kampung itu. Belle sudah merasa tidak enak badan. Dia sempat muntah - muntah. Beni yang merupakan ajudan Hugo di minta mengawal Belle sempat melihat, namun waktu mau di tolong, Belle mengatakan dia baik - baik saja.

Jam enam sore, saat matahari terbenam, mereka tiba di markas. Belle langsung menyiapkan air panas untuk dia mandi. Dia tidak tahu bahwa Hugo sudah balik dari Jayapura. Setelah air panas, dia menyiram di ember dan di bawa ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Sebelumnya dia sudah memberi minyak kayu putih.

Hugo yang baru dari kantor, mencium bau minyak kayu putih yang semerbak. Tidak seperti biasanya. Dia mengetuk pintu kamar Belle. Namun tidak ada respon. Hugo yang kuatir langsung mendobrak pintu kamar itu. Aksi Hugo ini didengar oleh dokter Julius dan Joe di kamar sebelah.

"Ada apa komandan."

Pintu terbuka, Belle sementara mengigil di kamarnya. Hugo langsung memeluknya dan mengendongnya di bawa ke klinik disana doker Julius dan Joe sudah menunggu. Jefry yang sif malam juga sudah menyiapkan perlengkapan medis. Mereka langsung memberi tindakan kepada Belle. Setelah di cek, ternyata malaria tropika plus tiga. Cairan infus di pasang dan obat diberikan lewat infus.

"Seperti kelelahan berapa hari ini kita ke distrik yang jauh - jauh."

Belle masih lemas. Hugo sudah memerintahkan Beni untuk memperbaiki pintu kamarnya Belle. Karena tadi dirusaki olehnya. Dan kembali membawa bubur yang dia masak buat Belle. Bersama telur dan ayam goreng yang di suir. Tadi dia ke dapur minta di buatkan buat dokter Belle.

"Ngak mau makan."

"Makan ya. Ngak ada manja - manja ini bukan di rumah. Buka mulutnya." Belle hanya bisa menangis. Hugo tetap pada pendiriannya dia tetap menyuap Belle walaupun dia menangis. Sebenarnya dia ngak tegaan, melihat Belle menangis. Semua yang di situ hanya bisa menyaksikan. Selesai makan dokter Julius menyuntikan obat buat Belle lewat infusnya.

Jam sepuluh malam panas Belle sudah mulai reda. Bajunya keringat sekali. Karena hanya dia sendiri perempuan, Hugo yang tidak mau badan perempuan yang dia cintai, walaupun sudah menjadi mantan pacar di lihat oleh orang lain. Maka dia yang kenganti baju Belle.

"Kak, aku bisa sendiri."

"Belle kamu itu lagi sakit."

"Aku ngak mau badanku dilihat oleh orang lain."

"Kalau kamu bisa, ayo lakukan aku janji tidak lihat."

"Kamu itu ngak takut istri kamu marah??" Betul pemikiran Hugo, Belle tahu bahwa dia sudah menikah.

"Istri yang mana??"

"Stop berbohong ya. Kamu putus dengan saya karena mau menikah kan. Karena saya anak kecilkan."

"Belle kamu salah sangka."

Semua orang yang ada di klinik akhirnya tahu bahwa Dokter Belle dan Komandan Hugo perna pacaran. Pantasan komandan sangat protektif sama Dokter Belle serta perhatian sekali. Bahkan satu kopor yang dia bawa dari Jayapura semua itu makanan dan jajan buat Dokter Belle Ursula Allo.

"Emang komandan sudah menikah."

"Belum. Komandan masih bujang."

"Barusan dokter Belle bilang??"

Sementara itu Hugo dan Belle sedang berdebat masalah mau menganti bajunya Belle yang basah karena keringat.

"Natalia meninggal sehari sebelum kita menikah. Kalau kamu ngak percaya, coba di googling."

Belle langsung mencari beritanya. Dan ternyata betul. Berita kematian sertu Natalia Wowor almarhumah sampai upacara penghormatan terakhir Hugo yang menjadi komandan upacara.

"Kami tidak berjodoh."

"Tetapi waktu itu kamu mencampakan aku karena dia."

"Belle... Please.... Tidak semudah itu kesimpulannya."

"Terus alasannya apa??"

"Kamu ingat, yang memutuskan hubungan kita itu kamu."

"Waktu saya di Jogja, kamu di jayapura sudah berdua dengannyakan ."

"Belle.... Nanti aku jelaskan. Sekarang kita fokus pada kesehatan kamu... Please."

Akhirnya Hugo yang menganti bajunya. Setelah Belle menutup organ - organ intimnya dengan kain. Yang jelas masih disensor. Setelah itu Hugo merapikan rambutnya Belle.

"Saya bisa sendiri disini sekarang, nantikan ada yang sif, mereka bisa menjaga saya."

"Jangan suka mengatur. Kamu itu pasien bukan dokter."

Pagi - pagi sekali Hugo sudah bangun, semalam dia tidur temani Belle yang masih sakit. Hari ini ada pengobatan di klinik nusantara. Akhirnya Belle di pindahkan ke kamarnya. Hugo sudah memerintahkan Beni menemaninya untuk membersihkan kamarnya Belle. Setelah itu dia mengendong Belle pindah. Karena jam delapan sudah banyak orang yang akan datang berobat.

Hugo berjanji dia yang akan menjaga Belle jika ada apa - apa dia akan infokan. Akhirnya Hugo memilih bekerja di rumah dinasnya sambil menjaga Belle. Terdengar Belle sedang menghubungi mamanya menanyakan perihal pernikahan Hugo dan kematian Natalia. Hugo hanya tersenyum dan lanjut bekerja.

Siang hari Beni datang membawa buah apel yang dia potong - potong dan buah jeruk.

"Ben, emang komandan kamu belum menikah."

"Belum dokter, masih bujang."

"Jangan berbohong ya."

"Kenapa sih masih ngak percaya. Beni keluar tutup pintu rumah."

"Siap komandan."

"Ee... Kamu mau apakan saya."

"Mau buat kamu jatuh cinta lagi padaku."

"Stop bermimpi."

"Iya saya tidak lagi tidur. Dan ini akan jadi kenyataan."

"Saya sudah punya pacar di Jogja."

"Satu lagi di puncak jaya. Biar kita bersaing."

"Jangan terlalu percaya diri." Tiba - tiba Belle memegang kepalanya.

"Belle sakit ya. Stop ya ngak usah berdebat."

"Kalau ngak karena tugas ini. Sebenarnya aku malas melihat kamu."

"Maafkan saya."

"Saya mau tidur."

Hugo membiarkan Belle tidur siang. Satu jam kemudian, dia melihat Belle sudah tertidur nyenyak. Karena Jefry baru saja memberikan obat setelah Belle makan tadi.

"Komandan semangat ya. Saya suka komandan dengan dokter Belle, kalian mukanya berjodoh."

"Terima kasih ya Jef. Bantu doa ya."

"Sama - sama komandan."

Belle adalah cewek yang keras, dia tidak manja namun terbiasa semua sendiri membuat dia tidak merasa membutuhkan orang lain disampingnya. Apalagi Hugo perna membuat dia kecewe dan sakit hati.

Sudah tiga hari Belle di rawat. Dan Hugo selalu memperhatikannya. Hati ini hasil tes darah pagi sudah keluar dan sudah tidak ada malaria lagi. Dokter Julius sudah datang melepas infus di tangan Belle. Sempat Hugo mendengar Belle menanyakan tukang urut, maka dia meminta Beni menjemput Ima tukang urut yang biasa di pakai om - om tentara.

"Sudah lama urut mba."

"Sudah empat satu tahun lebih. Biasa om - om tentara ini yang minta di urut. Biasanya minta yang lebih. Mba dokter tahu kan maksudku."

"Pakai pengaman jangan lupa."

"Iya. Selalu saya siapkan."

"Kalau komandan sering juga di urut."

"Komandan Hugo, ngak perna mba."

"Masa??"

Mba Ima si tukang urut ples ples ini sampai bersumpah kalau dia tidak perna menservis komandan. Belle tersenyum.

Selesai di urut. Belle makan malam di temani oleh Hugo. Sebenarnya Hugo sedikit mengelitik hatinya mendengar pembicaraan Belle dengan mba Ima langganan om - om tentara.

"Sudah puas cari tahu prilaku ku di mba Ima."

"Bilang aja, kakak sudah ancam atau bayar mba Ima."

"Iya aku bayar dia buat urut kamu. Begini aku ini masih perjaka. Juniorku tidak akan sembarang masuk di gua perempuan. Juniorku hanya mau membobol gua wanita yang akan menjadi istriku."

"Bagus itu. Setidaknya tidak membawa penyakit buat istrinya nanti."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!