~~
Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.
Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 MIMPI BURUK
Malam Hari – Kamar Tidur Utama Kastil Ravengard
Angin musim semi mengusap lembut tirai tipis bergelantung di jendela tinggi benteng. Di dalam kamar, suasana hangat menyelimuti. Iris terlelap dalam pelukan Darian, tubuhnya tertutupi selimut wol tipis dan napasnya tenang.
Namun di balik kedamaian luar... badai sedang menggulung dalam tidurnya.
Dalam Mimpi
Suara jeritan. Api. Asap. Langit berwarna merah darah.
Iris berdiri di atas tebing batu, gaunnya compang-camping, rambutnya berantakan, dan tanah di bawah kakinya basah oleh hujan dan darah.
Di kejauhan, istana Valeria terbakar. Pilar-pilar emas runtuh satu per satu. Sihir berwarna ungu dan hitam saling bertabrakan di udara.
Lalu ia melihatnya.
Seorang anak laki-laki berdiri di tengah reruntuhan, tubuhnya memancarkan cahaya perak yang menyilaukan. Usianya mungkin sepuluh atau dua belas tahun. Wajahnya... campuran antara dirinya dan Darian. Tapi matanya—mata itu kosong. Dingin. Seperti tak mengenal cinta.
“Apa... yang terjadi padamu?” Iris berusaha mendekat, tapi tubuhnya terasa berat, seperti diseret oleh gravitasi sihir.
Anak itu mengangkat tangan, dan dari telapak tangannya muncul pusaran energi. Ia berbisik, tapi suaranya menggema hingga menembus jiwa.
“Cinta adalah kelemahan. Aku belajar itu... saat semua yang kucintai... lenyap.”
Iris menjerit. “Tidak! Tidak! Kau tidak sendirian! Aku... aku ibumu!”
Tapi anak itu hanya menatapnya kosong, lalu berbalik, membiarkan sihirnya menghancurkan apa pun di hadapannya. Di langit, bayangan hitam raksasa seperti sosok iblis bersayap melayang, menyebarkan kegelapan.
Di dunia nyata.
Tubuh Iris mulai gelisah. Kakinya bergerak. Napasnya menjadi cepat. Dahi dan lehernya dibanjiri peluh dingin. Tangannya mencengkeram seprai, dan bibirnya bergerak seolah ingin menjerit.
Darian, yang tidur di sisinya, langsung terbangun.
Matanya langsung menatap Iris, yang kini mulai gemetar hebat.
“Iris?” suaranya rendah, cemas.
Tubuh istrinya menggeliat, matanya masih terpejam. Suara kecil terdengar dari bibirnya.
“Tidak... jangan... anakku... jangan pergi...”
Darian langsung mendekapnya perlahan. “Iris... bangun. Ini aku.”
Tapi tubuh Iris semakin gemetar. Darian menyentuh pipinya yang basah keringat, mencoba membangunkannya lebih keras.
“Sayang... bangunlah. Ini hanya mimpi.”
Beberapa detik kemudian, Iris membuka matanya lebar-lebar. Pandangannya kacau. Napasnya memburu. Dan saat matanya menangkap wajah Darian, ia langsung bangkit dan memeluk suaminya erat-erat.
“Darian...” suaranya parau dan gemetar, “Darian... jangan pergi... jangan tinggalkan aku...”
Darian langsung memeluknya erat, membiarkan tubuh istrinya bersandar penuh padanya. Tangannya mengusap rambut Iris perlahan.
“Aku di sini. Aku tidak ke mana-mana. Kau aman, Iris.”
Tubuh Iris bergetar dalam pelukannya, lalu isak tangis pun pecah.
Ia menangis bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena ketakutan yang mengguncang jiwanya. Tangannya mencengkeram pakaian Darian seperti anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya pelindungnya.
“Aku... aku melihatnya, Darian... anak kita... sendirian... dan kuat... terlalu kuat... tapi juga... kesepian... dia menghancurkan segalanya... dan aku tidak bisa menghentikannya... aku tak bisa menjangkaunya...” Iris tersengal, suaranya patah-patah. “Aku takut... kalau aku... tak bisa menjadi ibu yang dia butuhkan...”
Darian tidak menjawab. Ia hanya memeluk lebih erat, mencium puncak kepala Iris, membiarkan air matanya membasahi bahunya. Ia tetap diam, karena kadang pelukan lebih menyembuhkan dari kata-kata.
“Aku tak ingin kehilangannya... aku tak ingin kehilanganmu...”
“Aku tak akan membiarkan itu terjadi,” gumam Darian, suaranya tenang tapi penuh tekad. “Apa pun yang kau lihat... masa depan tidak tertulis. Aku akan melindungi kalian. Kau. Dan dia.”
Iris akhirnya mulai tenang. Isaknya pelan-pelan mereda. Napasnya melambat. Tubuhnya mengendur dalam pelukannya. Sampai akhirnya, lelah dan habis oleh emosi, ia pun tertidur kembali di dada Darian dengan dengkuran halus dan wajah yang masih lembap oleh air mata.
Darian tetap terjaga.
Ia menatap wajah istrinya dalam diam.
Penuh kelembutan. Penuh luka. Tapi juga... penuh cahaya.
Tangannya menyentuh pipi Iris sekali lagi. “Kau sudah cukup menderita,” bisiknya. “Aku tidak tahu siapa kau sebenarnya... tapi kau adalah istriku. Dan aku akan menjaga kalian. Apa pun harganya.”
Ia berbaring perlahan, memeluk Iris dalam lengannya. Di luar, angin malam membawa suara bisikan dari pegunungan Valeria. Tapi di dalam kamar, hanya ada keheningan... dan cinta yang bersumpah melawan takdir.
***
Langit Valeria pagi itu mendung pekat. Sebuah pertanda yang mungkin hanya dianggap kebetulan oleh rakyat biasa, tapi di dalam Balairung Kekaisaran, di mana para bangsawan dan panglima berkumpul, awan itu terasa seperti cerminan hati mereka—berat, tegang, dan berbahaya.
Di tengah ruangan berbentuk oval yang dikelilingi tiang batu berlapis emas dan karpet merah tua, para penasihat utama berkumpul di sekitar meja batu besar berbentuk tapal kuda. Di ujungnya duduk Kaisar Agung Valeria, Severan Altharion Valeria, dengan jubah putih perak dan mahkota logam ringan di pelipisnya.
“Kerajaan Sable merebut pos dagang di perbatasan utara tanpa deklarasi,” ujar salah satu penasihat, suaranya tajam. “Itu adalah pelanggaran langsung terhadap Traktat Tiga Lautan!”
“Tidak ada laporan resmi dari mereka. Hanya surat penuh dalih,” tambah Lord Ferenthal, seorang bangsawan tua dari wilayah timur.
“Karena itulah kita harus memukul balik!” suara Jenderal Rhogar membahana. “Tidak hanya mempertahankan pos itu—kita rebut benteng utama mereka dan beri pelajaran pada semua yang meremehkan Valeria!”
Suasana ruangan memanas. Suara-suara pro dan kontra saling tumpang tindih.
Darian duduk dengan tubuh tegak, tangan bersilang di depan dada. Jubah resminya berwarna hitam arang dengan hiasan bahu perak, dan di pinggangnya tergantung pedang berukir lambang gagak Ravengard. Sorot matanya dingin menatap ke peta besar yang terbentang di tengah meja.
Ia belum berkata sepatah kata pun sejak rapat dimulai.
Kaisar menoleh ke arahnya. “Grand Duke Darian, apa pendapatmu tentang tindakan balasan ini?”
Semua kepala menoleh ke arah Darian.
Ia masih diam.
Sorot matanya tajam, namun... kosong. Pikirannya terasa jauh dari dinding-dinding batu tebal ruangan itu.
“Darian,” ulang Kaisar, sedikit lebih tegas. “Kau adalah panglima tertinggi. Pendapatmu—”
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Seorang penjaga berlari masuk, napasnya tersengal, lalu berlutut di dekat pintu. Semua mata langsung menoleh.
“Maafkan ketidaksopanan ini, Yang Mulia... Ada pesan mendesak dari Kastil Ravengard. Disampaikan langsung oleh Kapten Arven.”
Langkah kaki tergesa menggema saat Arven muncul dari balik pintu, jubahnya setengah basah oleh embun pagi. Ia tidak sempat menyeka keringat di pelipisnya saat menghampiri Darian.
“Yang Mulia... Ini darurat.”
Darian berdiri. “Bicara.”
Arven menunduk. “Grand Duchess... Dia terjatuh. Saat berjalan menuju balkon taman tadi. Saat ditemukan, dia tidak sadarkan diri. Tabib Eldric sudah dipanggil, tapi—”
Darian langsung melangkah dari kursinya tanpa berkata sepatah kata pun.
“Grand Duke!” panggil salah satu penasihat. “Rapat ini belum selesai!”
Darian bahkan tidak menoleh. Langkahnya cepat, bahunya tegang, dan sorot matanya berubah menjadi bara.
“Darian!” kali ini suara Kaisar sendiri. “Kau akan meninggalkan rapat negara karena—”
Darian akhirnya berhenti sejenak di ambang pintu. Ia menoleh pelan, wajahnya setegas baja.
“Aku bisa memimpin ribuan pasukan. Menaklukkan benteng musuh. Tapi tidak satu pun dari itu yang lebih penting daripada nyawa istriku dan anakku.”
“Biarkan mereka menunggu. Negara bisa berdiri tanpa aku satu hari. Tapi Iris tidak.”
Dan tanpa menunggu izin atau pamit, Grand Duke Darian meninggalkan ruang rapat—meninggalkan keheningan mengejutkan di belakangnya.
Arven segera menyusul, membuka jalan bagi tuannya.
Kaisar hanya menatap kepergian adiknya itu dengan sorot mata rumit. Di satu sisi, ia melihat ketidakteraturan protokoler. Tapi di sisi lain... ia melihat seorang pria yang memilih cinta di atas kekuasaan.
Di Gerbang Kastil Ravengard – Beberapa Waktu Kemudian
Kuda hitam Darian berlari secepat badai. Debu dan lumpur menempel di jubah dan sepatu botnya, tapi ia tak peduli. Hanya satu hal yang ada di benaknya sekarang—Iris.
Darian menatap menara Ravengard yang makin mendekat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari kudanya. Lalu ia menggeram dalam hati.
“Tunggu aku, Iris... Bertahanlah...”