Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.
Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar Merah di Bawah Panggung
“Ada siapa di sana?”
Suaraku menggema di ruangan yang gelap.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban.
Aku menelan ludah dan meraba-raba jalan menuju pintu. Jemariku akhirnya menemukan gagangnya. Dengan hati-hati, aku memutarnya dan mendorong pintu.
Kriiieet...
Suara engsel tua itu terdengar jauh lebih keras dalam kesunyian.
Angin malam segera menyentuh wajahku.
Aku bergidik. Di kejauhan terdengar suara langkah kaki.
Satu.
Dua.
Kemudian berhenti.
Cahaya lampu yang redup menerangi sebagian lorong, menciptakan bayangan panjang di lantai.
“Siapa di sana?”
Aku berusaha membuat suaraku terdengar tenang.
Seseorang akhirnya muncul dari balik bayangan.
“Christine? Itu kau?”
Aku mengenali suara tersebut. Seorang pekerja gedung opera. Aku mengembuskan napas lega.
“Ya.”
Aku baru menyadari bahwa telapak tanganku telah dipenuhi keringat dingin.
“Ini sudah larut malam. Mengapa kau masih di sini?”
“Aku sedang berlatih beberapa lagu di ruang ganti.”
Aku menoleh ke belakang.
“Entah bagaimana, waktu berlalu begitu cepat.”
Aku kemudian teringat suara teriakan yang kudengar.
“Tapi... aku mendengar seseorang berteriak. Apa yang terjadi?”
Pria itu terdiam sejenak.
Kemudian ia berkata, “Tunggu di sini.”
Ia menunjuk ke arah lorong. “Jangan bergerak. Aku akan memeriksa papan sirkuit.”
“Papan sirkuit?”
Namun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, ia sudah berbalik.
Langkah kakinya perlahan menjauh.
Aku kembali sendirian.
Dalam kegelapan.
Aku berdiri diam sambil memeluk kedua lenganku sendiri.
Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki itu kembali terdengar.
“Baiklah, Christine.”
Pria itu muncul kembali.
“Cepat pulang.”
Nada suaranya terdengar berbeda. Lebih tegang.
“Tempat ini tidak aman.”
Aku mengerutkan kening. “Kau membuatku khawatir.”
Aku mendekatinya. “Apa sebenarnya yang terjadi?”
“Jangan tanyakan sekarang.” Ia menghindari tatapanku.
“Biarkan aku mengantarmu sampai pintu masuk. Besok kau akan tahu semuanya.”
“Tapi—”
“Ayo.”
Aku tahu tidak ada gunanya memaksanya bicara.
Dengan berat hati, aku mengikutinya.
Malam itu aku meninggalkan gedung opera tanpa mengetahui bahwa di balik pintu-pintu megahnya, sesuatu yang mengerikan baru saja terjadi.
...----------------...
Keesokan harinya, aku tiba di gedung opera dengan perasaan tidak enak.
Namun begitu sampai di depan bangunan, langkahku terhenti.
Polisi.
Beberapa orang berseragam berdiri di sekitar pintu masuk.
Orang-orang berkumpul di trotoar, berbisik-bisik dengan wajah tegang.
Tidak seorang pun diperbolehkan masuk.
“Apa yang terjadi?”
Aku mendekati salah seorang pekerja.
Ia hanya menggeleng.
“Katanya seseorang ditemukan tewas.”
“Tewas?”
“Di dalam gedung.”
Aku merasakan tenggorokanku tercekat.
Kemudian aku mendengar bisikan seseorang di belakangku.
“Dia gantung diri.”
Aku membeku.
Dentuman yang kudengar tadi malam...
Teriakan yang membelah kesunyian...
Jangan-jangan...
Aku tidak sanggup menyelesaikan pikiranku sendiri.
Hari itu aku kembali ke kamarku. Aku tidak mampu melakukan apa pun. Aku hanya duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi jendela. Ada perasaan buruk yang terus menekan dadaku. Malam sebelumnya berulang kali muncul dalam pikiranku.
Suara teriakan.
Kegelapan.
Suara langkah kaki.
Dan kata-kata pekerja itu. Tempat ini tidak aman.
Malam itu aku bermimpi.
Dalam mimpi, aku mendengar seseorang berteriak. Aku berlari menyusuri lorong panjang.
Namun setiap kali aku merasa telah menemukan sumber suara itu, lorong tersebut justru menjadi semakin panjang.
Dan di ujungnya...
selalu ada sekuntum mawar merah.
Aku terbangun dengan napas tersengal.
Mimpi itu terus menghantuiku selama beberapa hari.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, gedung opera kembali dibuka.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Orang-orang kembali bekerja.
Para pemain kembali berlatih.
Musik kembali memenuhi panggung.
Namun bagiku, tempat ini telah berubah.
Aku tidak lagi melihat gedung opera hanya sebagai tempat untuk mengejar impianku.
Ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya.
Sesuatu yang belum kupahami.
“Christine.”
Aku menoleh. Meg berdiri di belakangku.
Ia mengamati wajahku dengan cemas. “Kau tidak terlihat baik.”
Aku tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja.”
“Aku mendengar kau berada di gedung opera malam itu.”
Aku terdiam. “Ya.”
Aku menghela napas. “Itu cukup mengejutkan.”
Aku menatapnya. “Awalnya aku mengira polisi akan datang ke kamarku untuk menanyai aku. Tetapi tidak ada seorang pun yang datang.”
Meg menghela napas pelan.
“Mungkin mereka ingin menutup masalah itu secepat mungkin.”
“Menutupnya?”
Aku mengerutkan kening.
“Bukankah seseorang meninggal?”
Meg menatap sekeliling sebelum menjawab.
“Tidak ada yang pernah benar-benar menyelesaikan apa pun di tempat ini.”
Aku merasa semakin penasaran.
“Siapa yang kau maksud dengan 'mereka', Meg?”
Aku mendekatinya.
“Tolong katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?”
Meg terdiam.
Tatapannya menunjukkan keraguan.
Mungkin wajahku memang terlihat lebih rapuh daripada biasanya, karena akhirnya ia meletakkan tangannya di pundakku.
“Christine...”
Suaranya pelan.
“Orang yang meninggal malam itu adalah Joseph Buquet.”
Aku terdiam.
“Joseph Buquet?”
“Dia adalah salah seorang mekanik gedung opera.”
Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
“Petugas kebersihan menemukannya di bagian bawah panggung.”
“Di bawah panggung?”
Meg mengangguk.
Aku pernah melihat area tersebut. Bagian yang tidak pernah dilihat penonton.
Di bawah panggung terdapat ruang luas tempat berbagai mekanisme panggung bekerja. Peralatan, properti, tali, roda, dan berbagai perangkat pertunjukan disimpan di sana.
Orang-orang menyebutnya understage.
Di situlah bagian tersembunyi dari keindahan panggung berada.
Jika di atas panggung penonton melihat keajaiban, maka di bawahnya...
adalah tempat keajaiban itu diciptakan.
Dan ternyata...
tempat itu juga menyimpan kematian.
“Jadi petugas kebersihan itulah yang kudengar berteriak malam itu?”
Meg mengangguk.
Ia tampak semakin pucat ketika melanjutkan ceritanya.
“Katanya ia sedang menyelesaikan pekerjaannya ketika listrik tiba-tiba padam.”
Aku mendengarkan tanpa berkedip.
“Dalam keadaan gelap, ia melihat sesuatu di hadapannya.”
“Apa?”
Meg menarik napas.
“Sepasang kaki.”
Aku menutup mulut.
“Ya Tuhan...”
“Petugas itu langsung berteriak. Penjaga kemudian datang menghampirinya.”
Meg menurunkan suaranya.
“Mereka menemukan Joseph tergantung di sana.”
Aku merasakan hawa dingin menjalar di punggungku.
Namun ada satu bagian dari ceritanya yang membuatku semakin bingung.
“Mengapa pekerja itu terlihat begitu ketakutan ketika melihatku malam itu?”
Meg menatapku.
“Karena mereka menemukan sesuatu di bawah kaki Joseph.”
“Apa?”
“Sekuntum mawar merah.”
Aku mengerutkan kening.
“Mawar?”
Meg mengangguk. “Mawar merah.”
Aku terdiam.
Entah mengapa, kata itu membuat pikiranku kembali pada mimpi buruk yang ku alami beberapa malam terakhir.
Lorong panjang.
Kegelapan.
Dan mawar merah.
Aku berusaha menyingkirkan pikiran itu.
“Lalu apa hubungannya dengan kematian Joseph?”
Meg menatapku lekat-lekat.
“Itu karena mawar itu.”
“Apa maksudmu?”
Meg mendekat.
“Ketika mereka melihat mawar merah tersebut, mereka tahu bahwa itu pasti ulah Phantom.”
Aku terdiam.
“Phantom?”
Meg mengangguk perlahan.
“Kau masih baru di sini. Mungkin kau belum pernah mendengarnya.”
Ia menatap ke arah lorong yang kosong.
“Gedung opera ini punya hantu.”
Aku hampir tertawa karena tidak percaya.
“Hantu?”
“Bukan hantu biasa.”
Nada suara Meg membuat senyumku menghilang.
“Orang-orang di sini menyebutnya Phantom.”
Aku tidak menjawab.
“Dia datang dan pergi tanpa seorang pun mengetahui bagaimana caranya. Tidak ada yang pernah melihat wajahnya dengan jelas.”
Meg berhenti sejenak.
“Dan selama bertahun-tahun, banyak kejadian aneh terjadi di gedung opera ini.”
Aku memandangnya.
“Seperti apa?”
“Orang-orang menghilang.”
Suara Meg semakin pelan.
“Ada kecelakaan yang tidak masuk akal. Ada suara-suara misterius di malam hari. Ada orang-orang yang mengaku melihat sosok berpakaian hitam berjalan di lorong-lorong yang seharusnya kosong.”
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
“Dan setiap kali sesuatu terjadi...”
Meg menatap mataku.
“Selalu ada mawar merah.”
Aku terdiam.
Aku ingin mengatakan bahwa semua itu hanyalah takhayul.
Namun kata-kata tersebut terasa sulit keluar dari mulutku.
Pikiran itu membuat dadaku sesak.
“Aku belum pernah mendengar tentang hantu yang menghantui gedung opera Paris.”
Meg tersenyum getir.
“Itulah sebabnya orang-orang di sini merahasiakannya.”
Ia menurunkan suaranya.
“Banyak hal mengerikan telah terjadi di gedung ini. Polisi tidak pernah berhasil memecahkan satu pun di antaranya.”
“Bahkan polisi?”
“Bahkan polisi.”
Meg mengangguk.
“Beberapa orang bahkan pernah memanggil cenayang.”
Aku mengerutkan kening.
“Dan?”
“Tidak ada hasilnya.”
Meg menghela napas.
“Jika kabar tentang Phantom sampai tersebar ke publik, aku takut gedung opera ini akan kehilangan segalanya.”
Aku memandang bangunan megah di sekelilingku.
Aku datang ke tempat ini dengan membawa harapan.
Dengan impian menjadi seorang penyanyi.
Aku membayangkan panggung yang gemerlap, tepuk tangan penonton, dan musik yang memenuhi seluruh aula.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa di balik kemegahan itu tersimpan begitu banyak rahasia.
Dan mungkin...
ada sesuatu yang hidup di antara bayang-bayangnya.
“Christine.”
Suara Meg membuatku kembali sadar.
“Kau tidak percaya padaku?”
Aku menatapnya.
“Meg, aku tidak mengatakan bahwa aku tidak mempercayaimu.”
Aku menarik napas.
“Tapi aku tidak bisa begitu saja menganggap seseorang dibunuh oleh hantu hanya karena ada sekuntum mawar merah.”
Meg terdiam.
“Mungkin orang-orang hanya menyalahkan Phantom atas hal-hal yang tidak mampu mereka jelaskan.”
Ia menatapku cukup lama.
“Aku dulu juga berpikir begitu.”
“Lalu?”
“Aku berubah pikiran.”
Meg tersenyum samar.
“Kau akan mengerti nanti.”
Aku tidak tahu mengapa kalimat itu justru membuatku semakin tidak nyaman.
“Jadi polisi tidak akan melakukan apa pun?”
Meg menggeleng.
“Kalau melihat bagaimana kejadian-kejadian sebelumnya ditangani, kemungkinan besar mereka akan menganggapnya sebagai kecelakaan.”
“Atau bunuh diri.”
Aku menghela napas.
“Begitu saja?”
“Begitu saja.”
Meg memandang sekeliling.
“Manajemen baru akan segera mengambil alih. Manajemen lama hanya ingin memastikan semuanya selesai tanpa masalah sebelum mereka pergi.”
Aku mengepalkan tangan.
Aku tidak menyukai cara mereka menangani kematian seseorang.
Namun aku juga tahu bahwa aku tidak memiliki kekuatan untuk mengubah keputusan mereka.
Aku hanyalah penyanyi baru.
Tidak ada yang akan mendengarkanku.
“Christine.”
Meg tiba-tiba menarik lenganku.
“Aku tahu kau pasti bersembunyi di suatu tempat dan berlatih sendirian lagi.”
Aku tersentak.
“Perjamuan akan segera dimulai.”
Ia menunjuk pakaianku.
“Kau bahkan belum berganti pakaian.”
Aku melihat ke bawah.
Benar.
Aku benar-benar lupa waktu.
“Manajemen baru akan mengambil alih malam ini. Akan terlihat buruk jika kau terlambat.”
Aku tersenyum malu.
“Ah... aku benar-benar lupa waktu.”
Meg menggeleng sambil tertawa kecil.
“Ayo.”
Aku mengambil napas.
“Terima kasih, Meg.”