Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Udara malam yang dingin menyelimuti lorong-lorong mansion mewah keluarga Andreas. Dengan langkah tanpa suara, Kyra menyusuri lantai marmer yang mengkilap dan memanfaatkan bayangan pilar-pilar besar sebagai tempat berlindung.
Tujuan utamanya adalah ruang kerja Papa Freddy di lantai satu, tempat di mana pria itu menyimpan seluruh dokumen rahasia perusahaan dan catatan-catatan penting yang bisa menjadi senjata awal untuk menjatuhkan keluarga tersebut.
Setelah melewati beberapa sudut lorong yang remang-remang, Kyra akhirnya tiba di depan pintu kayu jati yang menjadi akses masuk ke ruang kerja Papa Freddy. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, bukan karena takut, melainkan karena dorongan adrenalin yang kian memuncak.
Kyra mengangkat tangannya yang kurus, lalu mencobanya dengan memutar gagang pintu perlahan. Namun, usahanya sia-sia karena pintu itu terkunci rapat dari dalam.
Cklek... cklek...
Kyra mengernyitkan dahi, ia tidak menyangka ruang kerja penting seperti ini dikunci di tengah malam, ia memutar otak dan mencari cara untuk membukanya tanpa alat bantu. Di tengah kebingungannya, sebuah suara langkah kaki yang menyeret tongkat di atas lantai marmer terdengar dari arah ujung lorong.
Tok... tok... tok...
Suara tongkat Nenek Fia menggema tajam di tengah kesunyian malam. Panik melanda benak Kyra, jika wanita tua yang sangat membencinya itu memergokinya berkeliaran di area terlarang pada jam dua pagi, habislah sudah penyamarannya, alibi sebagai anak tertindas yang tidak tahu apa-apa bisa hancur seketika.
Tanpa membuang waktu, Kyra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tempat persembunyian. Tepat di sebelah kanan ruang kerja Papa Freddy, terdapat sebuah ruangan kecil dengan pintu yang tidak terkunci rapat. Tanpa pikir panjang, Kyra langsung menyelinap masuk ke dalam ruangan tersebut dan menutup pintunya perlahan-lahan, menyisakan celah kecil untuk mengintip.
Srekk...
Kyra menahan napasnya rapat-rapat, membiarkan punggungnya bersandar di balik daun pintu yang dingin.
Beberapa detik kemudian, siluet tubuh Nenek Fia yang membungkuk dengan tongkatnya melintas tepat di depan ruang kerja Papa Freddy. Wanita tua itu berhenti sejenak, menoleh ke arah pintu ruang kerja anaknya dengan tatapan curiga, seolah merasakan ada hawa kehadiran orang lain.
Namun, karena tidak melihat apa pun, Nenek Fia kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat dan bergumam pelan mengutuk nasib sial keluarganya.
Setelah memastikan bahwa situasi di luar sudah benar-benar aman dan suara ketukan tongkat Nenek Fia telah sepenuhnya lenyap di ujung lorong. Kyra mengembuskan napas panjang dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat ia bersembunyi untuk sesaat.
Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar memperlihatkan isi ruangan tersebut dengan cukup jelas. Ternyata, ruangan itu adalah kamar tamu utama, sebuah kamar mewah berukuran luas dengan tempat tidur berukuran king size berbalut seprai sutra putih bersih, lemari pakaian berukir klasik, serta lampu tidur bercahaya temaram di sudut ruangan. Aroma wewangian lavender yang lembut langsung menyapa indra penciumannya, sangat kontras dengan bau lembap dan apek di gudang tempat tinggalnya selama ini.
Kyra melangkah mendekati meja rias yang dilengkapi cermin besar berbingkai emas. Untuk sepersekian detik, ia menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin tersebut. Wajahnya masih terlihat pucat dengan sisa-sisa lebam dan luka, namun di balik mata itu tersimpan ketajaman yang kian mematikan.
"Belum saatnya," gumam Kyra lirih pada bayangannya sendiri, menyadari bahwa malam ini ia tidak boleh gegabah.
Tujuan Kyra masuk ke rumah utama bukanlah untuk merusak kamar tamu atau meninggalkan jejak yang bisa memancing kecurigaan keluarga Andreas, langkah awalnya harus tetap berjalan mulus di atas topeng kepolosan dan penderitaan yang ia kenakan.
Setelah memastikan tidak ada barang atau situasi yang mencurigakan di dalam kamar tamu tersebut. Kyra perlahan membuka pintu dan mengintip ke arah lorong, suasana di luar sudah kembali sunyi senyap.
Dengan langkah ringan tanpa suara yang sudah ia kuasai sejak kecil, Kyra berjalan mundur menyusuri kembali lorong marmer yang dingin dan melewati ruang kerja Papa Freddy yang masih terkunci rapat, hingga akhirnya ia berhasil tiba kembali di area belakang mansion.
Kyra membuka pintu gudang sempitnya dan menyelinap masuk ke dalam ruangan yang pengap itu, lalu menutupnya rapat-rapat tanpa menimbulkan suara berderit yang mencolok. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk yang tipis dan keras, memejamkan mata dan membiarkan lelah fisik mengambil alih, sementara pikirannya terus merajut strategi untuk hari-hari berikutnya di sarang musuh.
Sinar matahari pagi yang menembus celah ventilasi gudang menyinari wajah Kyra yang tampak tenang, namun tatapan matanya menyiratkan kewaspadaan tingkat tinggi.
Hari-hari di rumah keluarga Andreas menuntutnya untuk bergerak seperti bayangan, tidak terlihat, tidak bersuara, tetapi selalu mengamati setiap gerak-gerik para penghuni rumah.
Pagi ini, setelah menyelesaikan seluruh tugas kasar seperti menyapu halaman dan membersihkan debu di teras samping, Kyra berdiri di dekat sudut ruang keluarga dengan membawa seember air pel dan kain lap. Dari posisinya, ia memiliki sudut pandang yang sangat strategis ke arah ruang keluarga utama tempat Papa Freddy dan beberapa anggota keluarga lainnya sering berkumpul.
Di sofa beludru berwarna abu-abu gelap, Papa Freddy tampak sedang duduk santai sambil menonton siaran berita bisnis pagi di televisi layar datar berukuran besar. Di samping meja televisi terdapat sebuah kabinet kayu rendah berkunci ganda yang menjadi tempat penyimpanan berbagai barang pribadi, mulai dari berkas-berkas penting hingga kunci cadangan ruangan di rumah tersebut.
Kyra pura-pura sibuk mengepel lantai marmer di dekat sofa, sesekali melirik dengan ekor matanya ke arah Papa Freddy. Pria paruh baya itu tampak kelelahan, beberapa kali ia memijat pangkal hidungnya sebelum akhirnya beranjak dari sofa dan berjalan menuju meja dapur untuk mengambil secangkir kopi hangat yang baru disiapkan oleh Bi Inah.
Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Kyra. Dengan gerakan sangat cepat dan nyaris tanpa suara, Kyra merendahkan tubuhnya dan melangkah mendekati kabinet di bawah televisi.
Saat Papa Freddy membelakangi ruangan untuk menuangkan air panas, Kyra dengan cekatan membuka laci kecil yang berada tepat di bawah televisi. Di dalam laci tersebut, di atas tumpukan amplop kosong dan buku catatan kecil, tergeletak sebuah kunci berlapis kuningan tua.
Jemari Kyra yang kurus terulur dan menyentuh permukaan kunci dingin itu, jantungnya berdegup kencang, namun tangannya sama sekali tidak bergetar. Ia mengangkat kunci tersebut dan mengamatinya selama beberapa detik, memastikan bahwa itu adalah benda yang selama ini dicarinya.
"Sedang apa kamu di situ!"
Suara bentakan tajam dari Bi Inah yang tiba-tiba muncul dari arah dapur membuat Kyra hampir saja menjatuhkan kunci di tangannya. Dengan refleks yang sangat cepat, Kyra memasukkan kembali kunci itu ke dalam laci dan menutupnya rapat-rapat, lalu segera mengambil kain pel dan berpura-pura membersihkan lantai di sekitar kabinet.
Papa Freddy menoleh ke belakang dengan alis bertaut tajam, menatap Kyra dengan pandangan curiga. "Ada apa?" tanyanya dengan nada dingin.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧