NovelToon NovelToon
Sekte Puncak Keabadian

Sekte Puncak Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Xuan, seorang pemuda modern penyuka novel web, tiba-tiba bertransmigrasi ke Benua Langit Surgawi. Sialnya, ia terbangun dalam tubuh Ketua Sekte termuda dari "Sekte Bintang Jatuh"—sebuah sekte yang dulunya merupakan penguasa benua, namun kini hanya menyisakan dirinya dan sebuah gunung usang karena diserang oleh aliansi musuh. Di saat musuh datang untuk mengambil alih tanah sektenya, Lin Xuan membangkitkan "Sistem Pembangunan Sekte Abadi".
​Mulai dari merekrut murid jenius yang dibuang klan, membangun paviliun ajaib, hingga memanggil naga penjaga, Lin Xuan memulai perjalanannya untuk mengubah sekte bobroknya menjadi kekuatan nomor satu di seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Hutan Terlarang

​Hutan Terlarang di utara Gunung Bintang Jatuh membentang layaknya lautan zamrud yang tak berujung. Pepohonannya menjulang ratusan meter ke langit, daun-daunnya memancarkan pendaran hijau pucat yang menyerap Hujan Roh Cair. Semakin dalam masuk ke hutan ini, sinar matahari semakin terhalang, menyisakan keremangan yang dipenuhi oleh auman binatang buas purba.

​Ye Chen dan Su Yue'er mendarat di pinggiran hutan, mendarat dengan ringan di atas karpet daun kering. Keduanya telah meninggalkan senjata pusaka mereka, Pedang Bintang Merah dan Artefak Es, di Paviliun Senjata Surgawi sesuai instruksi Penatua Li Canggong. Bahkan jubah pertahanan mereka pun ditanggalkan, diganti dengan pakaian kulit sederhana.

​"Kita mulai dari sini," ucap Ye Chen, menggosok kedua telapak tangannya hingga memercikkan sedikit bara api. Matanya menyapu kegelapan hutan di depan.

​Su Yue'er, meski mengenakan pakaian kulit yang kasar, tetap memancarkan keanggunan seorang permaisuri. Ia mengembuskan napas, menciptakan kabut beku tipis di udara. "Tanpa pusaka dan tanpa teknik tingkat tinggi. Orang tua pemabuk itu benar-benar ingin kita mati atau kembali sebagai monster."

​"Guru tidak akan membiarkan Penatua Li memberikan ujian yang mustahil," jawab Ye Chen dengan keyakinan penuh. "Mari kita berpencar. Siapa yang berhasil membawa kembali Inti Binatang Tingkat Emas (Golden Tier) paling banyak, dialah yang menang."

​Su Yue'er mendengus dingin. "Sebuah kompetisi anak-anak. Jangan menangis jika kau tersesat dan berakhir di perut ular berbisa."

​Tanpa aba-aba, Su Yue'er melesat ke arah barat laut, tubuhnya menghilang bagai hantu es di antara pepohonan raksasa. Ye Chen tersenyum tipis, lalu melesat ke arah timur laut, membiarkan insting apinya menuntun jalannya.

​Tiga hari pertama di Hutan Terlarang adalah neraka bagi Ye Chen.

​Terbiasa menyelesaikan pertarungan dalam hitungan detik menggunakan Seni Pedang Pelebur Bintang, kini ia harus berhadapan dengan sekawanan Serigala Bayangan bertanduk perak hanya dengan tinju kosong dan kendali elemen api murni.

​Brak!

​Ye Chen terlempar menabrak batang pohon raksasa, mengusap darah dari pelipisnya. Seekor Serigala Bayangan sebesar gajah menggeram, taringnya meneteskan bisa asam yang melelehkan batu di bawahnya.

​"Api tanpa kendali hanyalah pembakaran diri sendiri," kata-kata Penatua Li terngiang di benak Ye Chen.

​Setiap kali Ye Chen memompa Qi apinya untuk menyerang, serigala-serigala itu, yang memiliki insting bertahan hidup tingkat tinggi, selalu berhasil menghindar sebelum serangannya mendarat. Energi Ye Chen terkuras dengan cepat akibat serangan-serangan brutal yang meleset.

​"Tenang... Jangan ledakkan apinya," gumam Ye Chen pada dirinya sendiri, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

​Alih-alih membiarkan apinya meledak keluar seperti gunung berapi, Ye Chen mulai menarik energi panas itu ke dalam tubuhnya, memadatkan suhu tinggi di bawah kulitnya. Pembuluh darahnya bersinar keemasan, otot-ototnya menegang layaknya pegas baja yang dipanaskan.

​Saat sang Serigala Bayangan Alfa melompat menerkam, Ye Chen tidak menghindar. Ia memusatkan seluruh panas di telapak tangan kanannya dan meninju lurus ke arah rahang monster itu.

​BAM!

​Bukan sebuah ledakan api raksasa, melainkan sebuah hantaman kinetik bertenaga sangat tinggi yang difokuskan pada satu titik. Rahang serigala raksasa itu hancur berkeping-keping akibat gelombang kejut termal yang meledak tepat saat tinju Ye Chen menyentuhnya. Binatang buas itu tewas seketika, matanya melebar tak percaya sebelum menabrak tanah.

​Serigala lainnya, melihat pemimpin mereka mati dalam satu serangan tanpa sihir yang terlihat, melolong ketakutan dan lari terpencar ke dalam kegelapan.

​Ye Chen terengah-engah, menatap tinjunya yang memerah akibat suhu ekstrem yang ia tahan sendiri. "Pemadatan elemen... Memfokuskan kekuatan, bukan sekadar meledakkannya." Ia tersenyum puas. Pelajaran pertama telah ia kuasai.

​Di sisi lain hutan, Su Yue'er menghadapi tantangan yang berbeda.

​Ia berhadapan dengan seekor Laba-laba Batu Bara, binatang buas raksasa yang tubuhnya dilapisi mineral obsidian yang tahan terhadap suhu beku. Setiap paku es yang dilemparkan Su Yue'er hanya pecah berantakan saat menyentuh cangkang laba-laba tersebut.

​Laba-laba itu menyemburkan jaring sutra yang bercampur racun api, memaksa Su Yue'er melompat mundur berkali-kali.

​"Es yang sejati bisa berubah bentuk, bisa lembut, dan bisa menyelinap seperti air," nasihat Li Canggong bergema.

​Su Yue'er menggigit bibirnya dengan frustrasi. Sebagai reinkarnasi Permaisuri Es, ia terbiasa membekukan segalanya dalam sekejap mata. Kelembutan bukanlah sifatnya.

​Namun, mengamati jaring api yang mengejarnya, Su Yue'er memaksa dirinya mengubah taktik. Ia tidak lagi membekukan udara untuk membuat dinding pertahanan es. Sebaliknya, ia mencairkan embun beku di udara sekitarnya, mengubah hawa dingin yang absolut menjadi kabut air yang sangat padat.

​Saat laba-laba raksasa itu menerjang maju melalui kabut, ia kehilangan jarak pandangnya. Dan di situlah jebakan Su Yue'er berada.

​Ia tidak menyerang cangkang batu bara itu. Ia menunggu hingga laba-laba itu membuka mulutnya untuk menyemburkan racun lagi, dan pada detik itulah, Su Yue'er memadatkan kabut air yang ada di dalam paru-paru dan mulut laba-laba itu menjadi paku-paku es mematikan!

​CRAT!

​Paku-paku es tumbuh dari dalam tubuh Laba-laba Batu Bara, menusuk organ dalamnya, dan mencuat keluar dari sela-sela cangkangnya. Monster raksasa itu bergetar hebat sebelum akhirnya mati membeku dari dalam ke luar.

​Su Yue'er mendarat dengan anggun di atas dahan pohon. Wajahnya pucat karena kelelahan, tetapi matanya memancarkan pencerahan baru.

​"Air... bisa menyusup ke mana saja, dan saat ia membeku dari dalam, tidak ada cangkang sekuat apa pun yang bisa menahannya," gumam gadis kecil itu, mengukir senyum bangga.

​Tujuh Hari Kemudian, Pelataran Aula Bintang Jatuh.

​Dua siluet compang-camping keluar dari tepi Hutan Terlarang. Rambut Ye Chen berantakan, dan pakaian Su Yue'er sobek di beberapa tempat. Namun, aura yang mereka pancarkan benar-benar berbeda.

​Tekanan Inti Emas mereka tidak lagi meledak-ledak dan pamer, melainkan tersimpan rapat seperti gunung berapi yang tertidur. Intimidasi yang tenang namun mematikan.

​Di depan mereka, Penatua Li Canggong berdiri bersama Lin Xuan yang sedang menimbang-nimbang sebuah bola kristal bercahaya di tangannya.

​"Guru! Penatua Li!" Ye Chen dan Su Yue'er memberi hormat.

​Ye Chen melempar sebuah karung kulit berisi puluhan inti binatang (beast core) bercahaya keemasan ke tanah. Su Yue'er, tak mau kalah, mengeluarkan tumpukan inti binatang buas tingkat elit dari ruang penyimpanannya.

​Li Canggong tertawa keras. "Bagus, bagus! Kalian berdua bertahan hidup lebih lama dari yang kukira. Dan kulihat kalian tidak lagi bertarung seperti babi hutan yang mengamuk."

​Lin Xuan mengangguk pelan, kepuasannya tak tertutupi. "Penatua Li benar. Kalian telah belajar mengendalikan kekuatan, bukan dikendalikan olehnya. Sekarang, karena fondasi kalian sudah cukup keras..."

​Lin Xuan mengarahkan tangannya ke bola kristal yang baru saja ia beli dari Sistem menggunakan sisa Poin Sekte-nya. Bola kristal itu melesat ke udara, memancarkan cahaya pelangi yang sangat terang.

​[Membangun Paviliun Pencerahan Dao...]

​Di sayap barat pelataran, tanah terbelah, dan sebuah bangunan berbentuk kubah kristal yang dikelilingi oleh parit air terjun terbang (air yang mengalir ke atas melawan gravitasi) muncul dari ketiadaan.

​Kubah itu tidak memancarkan energi spiritual, melainkan memancarkan riak-riak Hukum Alam yang murni.

​"Masuklah ke dalam Paviliun Pencerahan Dao," perintah Lin Xuan. "Di dalam sana, waktu seolah berhenti, dan rahasia alam semesta akan terbentang di depan mata kalian. Gabungkan pengalaman bertarung kalian selama tujuh hari ini dengan pencerahan di dalam paviliun. Aku ingin kalian menembus kemacetan kultivasi kalian selanjutnya."

​Mata Ye Chen dan Su Yue'er berbinar. Fasilitas baru lagi! Sekte ini tampaknya memiliki persediaan keajaiban yang tak ada habisnya.

​"Terima kasih atas anugerah Guru!" ucap keduanya serempak sebelum melesat masuk ke dalam kubah kristal tersebut.

​Lin Xuan melihat mereka masuk, lalu menoleh pada Li Canggong. Wajah sang Penatua tiba-tiba berubah serius, sifat mabuknya lenyap.

​"Ketua," Li Canggong menatap ke arah selatan, ke luar batas wilayah mutlak gunung mereka. "Selama sepekan ini, indera spiritualku menangkap fluktuasi aneh dari arah Kota Angin Hitam. Ada energi iblis... sangat halus, hampir tak terdeteksi jika bukan karena Vena Spiritual kita yang sensitif."

​Lin Xuan menyipitkan matanya. Kota Angin Hitam adalah wilayah fana yang terhubung dengan mereka sejak Ye Chen menghancurkan Keluarga Ye.

​"Energi iblis?" Lin Xuan bergumam. Di benua fana ini, ras iblis sudah punah ribuan tahun lalu, dibasmi oleh kekuatan-kekuatan ortodoks. Jika ada iblis yang muncul...

​"Sistem, pindai wilayah sekitar Kota Angin Hitam."

​[Menganalisis...]

[Peringatan: Terdapat distorsi ruang tersembunyi di bawah Kota Angin Hitam. Fluktuasi energi mengindikasikan adanya segel purba yang mulai retak. Energi yang bocor sangat mirip dengan... ras Iblis Darah dari Alam Bawah.]

​Mata Lin Xuan berkilat mematikan. "Sepertinya Hutan Terlarang tidak cukup bagi murid-muridku. Ketika mereka keluar dari Paviliun Pencerahan nanti... saatnya mereka menghadapi musuh yang sebenarnya."

1
Hadi Hadi
up up🤭
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
sikat💪💪
Hadi Hadi
bantai💪
Romansah Langgu
Novel yang mantap
Hadi Hadi
is good😄😄💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
Hadi Hadi
is good😍😍😍
Hadi Hadi
up up😍💪
Hadi Hadi
sikat😍😍💪
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
up up💪
Hadi Hadi
semangat😍💪💪
Hadi Hadi
is top
Hadi Hadi
is y😍😍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!