Selama sepuluh tahun, Bumi diinvasi oleh monster dari "Gerbang Dimensi" (Gates). Han Do-Yoon adalah seorang Hunter Peringkat-F yang bertahan hidup sebagai kuli panggul di dalam Dungeon. Pada Hari Kiamat, saat "Dewa Luar" (Outer Gods) menghancurkan pertahanan terakhir umat manusia, Do-Yoon mengorbankan dirinya untuk melindungi artefak kuno.
Alih-alih mati, ia terbangun sepuluh tahun di masa lalu—tepat di hari di mana sistem kebangkitan pertama kali turun ke Bumi. Namun kali ini, ia tidak membangkitkan kelas biasa. Ia mendapatkan kelas tersembunyi berperingkat Myth: Pewaris Ketiadaan. Dengan pengetahuan masa depan dan sistem absolut di tangannya, Do-Yoon bersumpah untuk mengubah nasib dunia dan membantai para Dewa yang mempermainkan umat manusia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Tunduknya Para Pendosa dan Tameng Absolut
Angin berhembus menyapu lapangan aspal yang retak, membawa bau darah dan debu. Di balik garis lurus yang diukir oleh pedang Yoo Ji-Ah, ratusan tahanan berseragam oranye dan biru kusam berdiri mematung. Senjata-senjata tajam darurat yang mereka buat dari besi ranjang dan pecahan kaca kini terasa sangat berat di genggaman mereka.
Han Do-Yoon berdiri tegak, memancarkan aura dominasi yang absolut. Di bawah ujung sepatunya, Hwang Jang-Ho—pria yang sepuluh menit lalu mendeklarasikan dirinya sebagai raja—merintih bagaikan anjing yang sekarat.
"Dengar baik-baik, kalian semua," suara Do-Yoon menggema, tenang namun menembus hingga ke sumsum tulang setiap manusia di sana. "Mulai detik ini, rumah tahanan ini adalah wilayah kekuasaanku. Hukum kalian yang lama telah mati. Hukum rimba yang baru saja kalian banggakan, juga telah kuinjakkan di bawah kakiku."
Do-Yoon mengangkat wajahnya, menatap lurus ke lautan penjahat tersebut.
"Aku hanya akan memberikan satu pilihan. Letakkan senjata kalian, berlutut, dan bersumpah setia pada Serikat Ketiadaan... atau tetap berdiri dan mati bersama kesombongan kalian hari ini."
Keheningan yang mencekam menyusul ultimatum tersebut. Para tahanan saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Ketakutan yang ditanamkan Do-Yoon terlalu besar. Mereka adalah penjahat, manusia-manusia yang terbiasa menindas yang lemah. Namun di hadapan predator sejati, naluri bertahan hidup mereka mengambil alih.
Klantang!
Sebuah pipa besi jatuh ke atas aspal. Diikuti oleh sebilah pisau dapur berkarat. Lalu tongkat kayu.
Suara senjata yang dijatuhkan terdengar bersahutan layaknya rintik hujan. Satu per satu, para tahanan itu menjatuhkan diri, berlutut di atas aspal dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Tidak ada satu pun yang berani menatap mata Do-Yoon. Mereka telah sepenuhnya patah.
Melihat pemandangan itu, Hwang Jang-Ho yang masih terinjak di tanah menggertakkan giginya. Mulutnya yang penuh darah menyemburkan tawa parau yang putus asa.
"K-kau... kau pikir bisa mengendalikan sampah-sampah itu?" rintih Hwang Jang-Ho, menatap Do-Yoon dengan sisa-sisa kebenciannya. "Suatu saat... mereka akan menusukmu dari belakang... sama seperti... mereka mengkhianati para sipir itu..."
"Mungkin," jawab Do-Yoon datar, tidak sedikit pun terpengaruh oleh kutukan sang mantan algojo. "Tapi perbedaannya adalah, aku tidak pernah memunggungi musuhku. Dan bagiku, kalian semua tidak lebih dari sekadar budak pekerja untuk membangun tembok pertahananku."
Do-Yoon merentangkan tangan kanannya. Energi bayangan meletup dan memadat menjadi Bilah Penebas Malam. Kilau perak di ujung pedang bayangan itu memantulkan sinar matahari pagi, menyilaukan mata Hwang Jang-Ho untuk terakhir kalinya.
"Waktumu sudah habis, Pemimpin Pemberontak."
SYUUT! CRAT!
Dalam satu gerakan mulus tanpa ampun, pedang bayangan itu menebas leher Hwang Jang-Ho. Kepala plontos yang dipenuhi luka itu menggelinding menjauh, meninggalkan genangan darah yang perlahan meresap ke dalam retakan aspal.
[Anda telah membunuh Pembangkit (Tingkat 12).]
[Pencapaian: Menundukkan Penguasa Wilayah Sementara.]
[Anda mendapatkan 1.200 Koin Emas.]
[Rasi Bintang 'Dewa Perang Tanpa Nama' mengangguk puas. Penguasa sejati tidak boleh menunjukkan keraguan saat memenggal musuh!]
[Rasi Bintang 'Penimbang Keadilan Bersayap' memberikan sedikit berkahnya kepada Anda karena telah menghukum pendosa berat.]
Do-Yoon mengibaskan pedangnya hingga pudar. Ia sama sekali tidak peduli dengan pesan para Rasi Bintang. Ia memutar tubuhnya dan melangkah menghampiri Kang Tae-Ho yang masih berlutut di dekat barisan para sipir penjara yang gemetar ketakutan.
Pria raksasa bernomor dada 707 itu mendongak. Meski wajahnya dipenuhi luka memar dan dadanya terus mengalirkan darah dari tebasan kapak, matanya tetap memancarkan kewaspadaan yang tajam. Ia tidak menundukkan kepalanya seperti para tahanan lain.
"Apakah giliranku sekarang?" tanya Tae-Ho dengan suara serak, bersiap menerima nasibnya.
Do-Yoon berhenti tepat di depannya. Ia menatap pria itu selama beberapa detik, lalu mengulurkan tangannya yang bersih dari noda darah.
"Aku tidak repot-repot turun dari langit hanya untuk membunuh tameng terbaik yang dimiliki negeri ini," ucap Do-Yoon tenang.
Tae-Ho mengernyitkan dahi. Ia menatap tangan yang terulur itu dengan curiga. "Kenapa kau menyelamatkanku? Dan para sipir ini? Aku melihat caramu membunuh. Kau bukanlah orang yang digerakkan oleh kebaikan hati."
"Kau memiliki mata yang bagus, Kang Tae-Ho," Do-Yoon menarik kembali tangannya, lalu menyilangkan lengan di depan dada. "Aku memang tidak peduli pada nyawa para penjaga penjara ini. Aku menghentikan kapak itu karena aku tidak ingin kau mati konyol demi melindungi mereka."
"Aku memiliki prinsipku sendiri," geram Tae-Ho, harga dirinya sedikit tersinggung. "Di kehidupan lama, aku dipenjara karena membela keluargaku dari lintah darat. Aku membunuhnya. Aku adalah pendosa. Tapi aku bersumpah tidak akan pernah membiarkan yang kuat menindas yang lemah di depan mataku lagi. Bahkan jika Sistem ini telah merusak segalanya."
Mendengar sumpah itu, Jendela Sistem kembali berkedip.
[Rasi Bintang 'Perawan Pedang Suci' meneteskan air mata suci mendengar sumpah ksatria tersebut!]
Do-Yoon menghela napas tipis. Ketulusan pria raksasa ini adalah alasan mengapa di masa depan, Kang Tae-Ho dikhianati oleh Serikat raksasa yang memanfaatkannya sebagai perisai daging hingga tewas di dalam Labirin Tingkat S. Ia terlalu naif.
"Prinsip yang indah," balas Do-Yoon dingin. "Tapi prinsip itu nyaris membuat kepalamu terpisah dari badanmu sepuluh menit yang lalu. Keadilan tanpa kekuatan absolut hanyalah dongeng pengantar tidur, Tae-Ho."
Tae-Ho terdiam. Rahangnya mengeras, tidak mampu membantah kenyataan pahit tersebut.
"Kelasmu saat ini adalah 'Pembela Baja', bukan?" tanya Do-Yoon.
Mata Tae-Ho melebar karena terkejut. "B-bagaimana kau bisa tahu? Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun nama kelasku selain pada diriku sendiri!"
"Aku tahu lebih banyak hal daripada yang bisa kau bayangkan," Do-Yoon mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kelasmu memiliki potensi untuk berevolusi menjadi 'Garda Perunggu Absolut'. Sebuah kelas yang mampu menahan napas naga api dan tidak hancur oleh hantaman iblis tingkat tinggi. Tapi kau tidak akan pernah mencapai tahap itu jika kau mati konyol melindungi orang-orang lemah tanpa perhitungan."
Do-Yoon kembali mengulurkan tangannya. Kali ini, auranya memancarkan wibawa seorang kaisar yang merekrut jenderal perangnya.
"Dunia yang baru ini membutuhkan tameng. Tetapi tameng yang berdiri sendirian di tengah medan perang hanya akan berujung hancur menjadi rongsokan," ucap Do-Yoon mutlak. "Bergabunglah dengan Serikatku. Jadilah tameng di bawah panjiku. Jika kau melindungiku dan orang-orangku, aku bersumpah akan menjadi pedang yang menebas apa pun yang mengancam nyawamu dan keadilan yang kau yakini."
Kata-kata itu menghantam relung hati Tae-Ho layaknya palu godam. Pria muda di depannya ini memiliki kekuatan yang mengerikan, kekejaman seorang tiran, namun anehnya, ada kepastian mutlak dalam setiap ucapannya.
Tae-Ho menatap tangan yang terulur itu, lalu menatap para tahanan yang kini berlutut patuh di kejauhan. Ia menghela napas panjang, merendahkan kepalanya yang keras kepala, lalu menjabat tangan Do-Yoon dengan cengkeramannya yang besar.
"Namaku Kang Tae-Ho," ucap pria raksasa itu mantap. "Jika pedangmu tidak pernah mengarah pada orang yang tidak bersalah, maka nyawaku dan perisaiku adalah milikmu, Ketua."
Do-Yoon tersenyum tipis. Target kedua dari daftar nama masa depannya berhasil diamankan.
"Ji-Ah," panggil Do-Yoon.
Gadis berambut sebahu itu segera menghampiri, membiarkan garis pembatas aspalnya memudar. "Ya, Ketua?"
"Buka ranselmu. Berikan tiga botol Ramuan Penyembuh Luka Tingkat Rendah kepada Tae-Ho," perintah Do-Yoon. Ia lalu menunjuk ke arah barisan sipir dan tahanan. "Tae-Ho, setelah lukamu sembuh, ambil alih kendali tempat ini. Pisahkan tahanan yang memiliki Pembangkitan Kelas tempur dan mereka yang hanya memiliki kelas pekerja biasa. Siapa pun yang berani memberontak, patahkan kedua kaki mereka."
"Baik, Ketua!" jawab Tae-Ho dan Ji-Ah serempak.
Do-Yoon berbalik menatap bangunan utama penjara yang menjulang kokoh di tengah kompleks. Itu adalah gedung administrasi dan kantor kepala sipir. Di sanalah letak jantung dari Zona Strategis ini.
"Di mana kau akan pergi?" tanya Tae-Ho sambil menenggak ramuan penyembuh berwarna merah dari Ji-Ah. Luka sayatan di dadanya seketika mendesis dan mulai menutup dengan kecepatan yang tidak wajar, membuat raksasa itu terbelalak takjub.
"Aku akan mengurus birokrasi Sistem," jawab Do-Yoon santai. "Kita harus secara resmi mengklaim tempat ini agar Atribut kita tidak dipotong."
Do-Yoon berjalan sendirian memasuki gedung utama. Berkat pembantaian Hwang Jang-Ho di awal, tidak ada satu pun monster yang tersisa di dalam kompleks penjara. Penaklukan zona ini berjalan jauh lebih mudah dari yang diperkirakan Do-Yoon, terutama karena perebutan kekuasaan antar manusia yang merusak segalanya.
Ia menaiki tangga menuju lantai tiga, melangkah di atas genangan darah kering dan pecahan kaca.
Begitu ia mendorong pintu kayu ganda bertuliskan Ruang Kepala Sipir, udara di dalam ruangan terasa berbeda. Sebuah kristal seukuran kepala manusia, memancarkan cahaya biru keperakan, melayang dengan tenang di atas meja kerja kayu oak yang hancur.
Itu adalah Inti Wilayah.
[Anda telah menemukan Inti Wilayah: Zona Strategis D-34 (Rumah Tahanan Seoul).]
[Peringatan! Menyentuh Inti Wilayah akan memulai proses Klaim Kepemilikan. Anda harus berada dalam radius satu kilometer dari inti selama 6 jam tanpa terbunuh.]
[Apakah Anda ingin memulai proses Klaim?]
Do-Yoon melangkah maju tanpa ragu dan meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kristal yang dingin tersebut.
"Mulai," perintah Do-Yoon.
Cahaya biru dari kristal itu meledak terang, menembus atap gedung dan menembakkan pilar cahaya ke langit, yang bisa dilihat oleh seluruh penyintas di distrik tersebut.
[Proses Klaim Kepemilikan dimulai!]
[Waktu tersisa: 05:59:59]
[Peringatan Mutlak! Cahaya dari Inti Wilayah akan menarik perhatian makhluk buas dan penyintas lain dalam radius sepuluh kilometer!]
Do-Yoon menarik tangannya kembali. Ia berjalan menuju jendela ruangan yang kacanya sudah pecah, menatap lurus ke arah cakrawala kota Seoul. Benar saja, jauh di sana, terdengar lolongan panjang makhluk buas yang merespons cahaya pilar biru tersebut.
Namun, senyum sang predator justru mengembang di bibirnya.
"Bagus," bisiknya pada angin pagi. "Datanglah. Aku butuh banyak Koin Emas dan Poin Pengalaman untuk mempersiapkan evolusi tahap keduaku."
jangan lupa hadir juga 😉