NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Wajah Baru

Kamis sore, kos kedatangan penghuni baru. Doni lagi duduk di teras, ngetik laporan mitigasi risiko koperasi yang dia janjiin ke Pak Hardianto, waktu sebuah motor bebek tua berhenti di depan gerbang, bawa dua orang dan tumpukan barang yang diiket asal-asalan di boncengan.

"Woy, permisi! Ini kos Bu Warti kan?" teriak salah satu dari mereka, badan tinggi kurus, rambut disisir klimis meski keringetan, turun dari motor sambil ngangkat tas ransel gede yang keliatan berat.

"Iya, bener. Ibu kos lagi ke pasar," jawab Doni, berdiri dari kursi teras.

"Wah, kebetulan. Gue Casanova, ini temen gue, Mamat. Kita mahasiswa pindahan dari kampus luar kota, katanya ada kamar kosong di sini."

Doni menahan senyum denger nama itu. "Casanova? Nama asli?"

"Nama panggilan, Bro. Nama asli gue kepanjangan, orang susah inget. Panggil aja Casanova, biar gampang." Dia nyengir lebar, pede banget, padahal penampilannya biasa aja, jauh dari kesan playboy yang namanya bawa-bawa.

Yang satu lagi, Mamat, badannya gempal, wajahnya bulat ramah, langsung nyodorin tangan buat salaman. "Mamat, Bro. Salam kenal. Maaf ya kalau ntar berisik, si Casanova ini kalau udah cerita suka lupa waktu."

"Doni. Salam kenal juga." Doni jabat tangan mereka berdua, ngerasa ada aura yang beda dari dua orang ini rame, ceplas-ceplos, tapi keliatan gampang akrab.

Herman keluar dari kamar, denger keributan di depan, langsung ikut nimbrung. "Woy, ada anak baru? Gue Herman, kamar sebelah Doni."

"Casanova," kata Casanova, lagi-lagi dengan nada bangga yang bikin Herman ketawa geli.

"Nama lo beneran Casanova? Anjir, PD amat," Herman nggak bisa nahan ketawa.

"Nama panggilan doang, Bro. Tapi soal gebetan, gue emang jago," Casanova nyengir lagi, sambil ngangkat alis genit ke arah nggak jelas.

Mamat cuma geleng-geleng kepala, kayaknya udah biasa denger gaya bicara temennya itu. "Jangan percaya obrolannya, Bro. Dia tuh yang paling sering ditolak cewek di angkatan kita."

"WOY, MAMAT!" Casanova protes, sementara Herman sama Doni ketawa bareng, suasana kos sore itu langsung jadi lebih hidup dari biasanya.

Beberapa hari berikutnya, Mamat dan Casanova mulai nyatu sama ritme kos. Mamat, ternyata, anak Ekonomi juga, satu jurusan sama Doni dan Sinta, cuma beda kelas. Sementara Casanova ambil jurusan Komunikasi, katanya "biar gampang PDKT ke banyak orang," meski kenyataannya dia lebih sering jadi bahan ledekan daripada berhasil PDKT beneran.

Suatu malam, waktu Doni lagi ngerjain laporan koperasi di ruang tengah kos, Mamat nyamperin, penasaran liat map warna-warni yang berserakan di meja.

"Lo ngurus apaan sih, Don? Herman cerita lo punya koperasi di kampung, keren juga buat mahasiswa."

"Iya, Mat. Koperasi gula aren sama beberapa komoditas lain. Lumayan ribet, tapi seru."

"Butuh bantuan admin nggak? Gue lumayan jago itung-itungan Excel, dulu sempat magang di kantor pajak kecil-kecilan."

Doni ngelirik Mamat, mikir sebentar. Selama ini dia ngerjain semua pencatatan sendirian, kadang keteteran di tengah kesibukan kuliah dan urusan lain. "Serius nih, Mat? Kalau lo niat, boleh banget bantu. Tapi nggak dibayar gede ya, kondisinya masih koperasi kecil."

"Nggak masalah, Don. Gue butuh pengalaman lebih dari duit sekarang-sekarang ini." Mamat tersenyum lebar, keliatan tulus.

Dari situ, Mamat mulai ikut bantu Doni ngerapiin laporan keuangan koperasi, kerjanya rapi dan teliti, jauh beda sama gambaran awal Doni yang ngira dia cuma anak kos usil biasa.

Casanova, di sisi lain, punya kelebihan yang beda kenalannya luas banget, hampir semua orang di kampus dia kenal, entah dari organisasi, UKM, sampai anak-anak fakultas lain yang jarang Doni temuin.

"Lo tau nggak, Don, gue kenal banyak banget orang di sini. Modal utama gue emang networking, bukan akademik," kata Casanova suatu sore, waktu mereka nongkrong bareng di teras kos.

"Networking buat apaan, Bro? PDKT doang?" ledek Herman.

"Bukan cuma itu, Man. Kadang berguna juga buat hal-hal lain. Contohnya nih, si Doni lagi nyari info soal keluarga pengusaha kebun kan, si Wijaya itu?"

Doni langsung kaget denger itu. "Lah, lo tau dari mana, Bro?"

"Sinta cerita ke temen sekelasnya, terus nyambung ke gue lewat grup angkatan. Namanya juga anak Komunikasi, informasi kemana-mana gampang nyampe ke gue," Casanova nyengir bangga.

Doni sedikit was-was, nggak nyangka ceritanya udah nyebar sejauh itu, meski Sinta pasti nggak certain detail soal sistemnya, cuma soal pencarian keluarga aja.

"Lo tau sesuatu soal keluarga itu, Bro?" tanya Doni, mencoba nggak kelihatan terlalu antusias.

Casanova mikir sebentar, wajahnya berubah sedikit serius, beda dari gaya bercandanya biasa. "Kebetulan, sepupu gue kerja di salah satu perkebunan sekitar kabupaten. Kalau lo mau, gue bisa coba tanya-tanya, siapa tau ada info soal keluarga Wijaya itu."

Doni menatap Casanova, ngerasa ini kesempatan yang nggak boleh dilewatin, meski tetap harus hati-hati. "Boleh banget, Bro. Tapi jangan bilang macem-macem dulu ke orang lain ya, ini agak sensitif buat keluarga gue."

"Tenang, Bro, gue tau kapan harus jaga mulut," Casanova mengangguk serius, kontras banget sama gaya konyolnya barusan.

Malam itu, Doni duduk di kamar, mikirin gimana dunia kadang kasih bantuan dari arah yang nggak disangka-sangka. Beberapa bulan lalu, dia cuma punya Herman sama Sinta buat diandalkan.

Sekarang, dua orang baru yang awalnya keliatan cuma bahan ketawaan kos, ternyata punya kelebihan masing-masing yang bisa beneran ngebantu perjalanan panjangnya baik ngurusin koperasi, maupun nyari tau soal keluarga yang selama ini jadi misteri.

"Rejeki emang nggak ketebak dari mana datengnya," gumamnya sendirian, sambil nyusun ulang map koperasi yang sekarang bakal lebih rapi berkat bantuan Mamat.

Dari balik kelopak mata yang mulai berat, dia sempat mikir, mungkin ini juga bagian dari hidupnya yang berubah bukan cuma dari notifikasi sistem tiap minggu, tapi dari orang-orang baru yang perlahan masuk dan ngambil peran, tanpa dia pernah minta atau rencanain sebelumnya.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!