NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita yang dipendam

Matahari mulai condong ke barat. Kesibukan warga di balai kampung perlahan berkurang. Beberapa bapak kembali memikul karung kopi menuju gudang, sementara ibu-ibu merapikan hasil jemuran. Arga masih memandangi jalan setapak yang dilalui Mang Jaya beberapa menit lalu.

Rasa penasarannya semakin besar.

"Pak..."

Pak Rahman yang sedang membantu mengangkat karung menoleh.

"Iya?"

"Rumah Mang Jaya jauh?"

"Tidak."

"Di ujung kebun kopi."

"Beliau tinggal sendiri?"

Pak Rahman mengangguk pelan.

"Sejak istrinya meninggal beberapa tahun lalu."

"Anak-anaknya sudah merantau."

Arga mengangguk. Ia semakin yakin ingin menemui lelaki tua itu.

Menjelang sore, Pak Rahman mengajak Arga membantu memetik kopi di kebun milik warga. Meski belum sepenuhnya pulih, Arga bersikeras ingin ikut.

"Pekerjaan ringan saja."

"Jangan banyak jalan." pesan Pak Rahman.

"Siap, Pak."

Arga duduk di antara pohon-pohon kopi yang berbuah merah ranum. Sesekali ia memasukkan buah kopi ke dalam keranjang bambu kecil.

Suasana kebun begitu damai.

Burung-burung kecil beterbangan dari satu ranting ke ranting lain. Angin berembus lembut membawa aroma tanah basah. Untuk beberapa saat, Arga hampir melupakan semua kejadian aneh yang dialaminya.

Namun ketenangan itu kembali terusik.

Angin tiba-tiba berubah arah.

Embusannya datang dari belakang kampung.

Dari arah rawa.

Arga baru menghirup satu napas ketika wajahnya langsung berubah pucat.

Tangannya berhenti memetik kopi.

"Huek..."

Ia buru-buru menutup mulut. Bukan muntah, hanya refleks mual nya yang berlebih.

Pak Rahman yang berada beberapa meter darinya langsung menoleh.

"Arga!"

Arga menggeleng, berusaha mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun rasa mual itu datang lebih cepat dan lebih kuat.

Dadanya terasa panas.

Perutnya bergejolak.

Ia segera berdiri dan berjalan menjauh ke arah bukit kecil.

Baru beberapa langkah...

"Uwek..."

Ia membungkuk. Yang keluar hanya cairan bening bercampur asam lambung.

Tubuhnya sampai gemetar.

Beberapa warga segera menghampiri.

"Astaghfirullah..."

"Kok bisa separah itu?"

"Kasihan anak ini."

Pak Rahman mengusap punggung Arga perlahan.

"Tarik napas."

"Pelan."

Setelah beberapa menit berada jauh dari arah angin rawa, rasa mual itu mulai mereda. Salah seorang bapak berbisik kepada Pak Rahman.

"Rahman..."

"Ini bukan sakit maag biasa."

Pak Rahman hanya mengangguk pelan.

"Saya juga mulai berpikir begitu."

Ucapan itu didengar Arga.

Ia menoleh.

"Maksud Bapak?"

Keduanya saling berpandangan. Namun tidak ada yang menjawab.

Menjelang Magrib, Arga akhirnya memberanikan diri menuju rumah Mang Jaya. Rumah panggung sederhana itu berdiri di tepi kebun kopi, dikelilingi pohon bambu dan beberapa batang pisang. Di berandanya, Mang Jaya sedang mengasah sebilah golok. Suara gesekan batu asah terdengar berirama.

"Sore, Mang."

Mang Jaya mendongak.

"Oh..."

"Kamu rupanya."

"Boleh saya duduk?"

Mang Jaya mengangguk.

"Duduklah."

Beberapa saat keduanya diam. Hanya suara angin yang berembus di sela dedaunan.

Arga akhirnya membuka percakapan.

"Mang..."

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tanya saja."

"Soal rawa."

Tangan Mang Jaya berhenti mengasah golok. Beliau memandang ke kejauhan. Sudah lama sekali sebelum akhirnya menjawab.

"Kamu benar-benar ingin tahu?"

Arga mengangguk mantap.

"Iya."

Mang Jaya menarik napas panjang.

"Dulu..."

"...aku bukan orang yang takut pada rawa."

"Hampir setiap minggu aku mencari ikan di sana."

"Kadang memasang bubu."

"Kadang mencari belut."

"Lalu suatu hari..."

Beliau terdiam. Tatapannya kosong.

"Waktu itu usiaku sekitar tiga puluh tahun."

"Musim kemarau."

"Air rawa sedang surut."

"Aku melihat sesuatu yang mengapung di tengah."

Arga menahan napas.

"Apa itu, Mang?"

Mang Jaya menatap Arga dalam-dalam.

"Ransel."

"Ransel pendaki."

Jantung Arga berdetak lebih cepat.

"Isinya?"

"Aku tidak pernah membukanya."

"Kenapa?"

"Karena saat aku hendak mengambilnya..."

"...bau menyengat itu muncul untuk pertama kalinya."

Arga mengernyit.

"Jadi sebelum itu tidak pernah ada bau?"

Mang Jaya menggeleng.

"Tidak pernah."

"Rawa itu sama seperti rawa lain."

"Banyak ikan."

"Banyak burung."

"Banyak katak."

"Setelah hari itu..."

"...semuanya berubah."

Beliau menatap ke arah hutan di belakang kampung.

"Burung menghilang."

"Ikan semakin sedikit."

"Hewan-hewan tidak lagi mendekat."

"Warga pun mulai menjauh."

Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Ranselnya sekarang di mana?"

Mang Jaya tersenyum hambar.

"Hilang."

"Hilang?"

"Iya."

"Besok paginya saat aku kembali bersama beberapa warga..."

"...ransel itu sudah tidak ada."

Arga terdiam.

"Tidak hanyut?"

Mang Jaya menggeleng.

"Air rawa sedang surut."

"Tidak mungkin hanyut."

Beliau menatap Arga sekali lagi.

"Lalu sejak beberapa tahun terakhir..."

"...tidak pernah ada orang luar yang tersesat di hutan..."

"...kamu yang pertama tersesat sampai sini setelah hampir tiga puluh tahun."

Arga hendak bertanya lagi.

"Sebelum itu pernah ada yang tersesat sampai sini?"

"Sering. Hampir setiap musim pendakian ada saja yang nyasar kesini. Tapi semenjak bau itu muncul tidak pernah ada lagi. Kamu yang pertama."

Arga hendak bertanya lagi.

Namun tiba-tiba angin sore bertiup dari arah belakang kampung.

Aroma rawa kembali datang.

Meski sangat tipis.

Tubuh Arga langsung bereaksi.

Ia memegang ulu hatinya.

Wajahnya memucat.

"Huek..."

Mang Jaya segera berdiri.

"Cepat."

"Masuk ke sisi depan rumah."

Arga mengikuti arah yang ditunjukkan.

Begitu menjauh dari embusan angin, rasa mual itu perlahan mereda. Mang Jaya memperhatikan Arga dengan wajah semakin serius.

"Lima belas tahun..." gumamnya pelan.

"Baru kali ini aku melihat seseorang yang tubuhnya bereaksi secepat ini. Sebelumnya adik pak Rahman dan juga iparnya juga seperti kamu. Lulus kuliah ingin membangun kampung tapi tidak kuat dengan bau rawa itu. Karena tidak sanggup, mereka memutuskan kembali ke kota."

Beliau lalu menatap ke arah rawa yang tertutup pepohonan.

Tatapannya tajam.

Seolah sedang menyusun kepingan-kepingan kenangan yang selama ini berusaha dilupakannya.

Dalam hati, Mang Jaya mulai yakin.

Kedatangan Arga ke Kampung Ciburial bukan sekadar kebetulan.

Dan mungkin... rahasia rawa di belakang rumah itu akhirnya mulai memilih orang yang tepat untuk mengungkapnya.

Angin sore berembus pelan di beranda rumah Mang Jaya. Cahaya matahari mulai menguning, menyelinap di sela-sela pohon kopi yang mengelilingi rumah panggung tua itu. Setelah rasa mual Arga mereda, keduanya kembali duduk. Mang Jaya tidak lagi mengasah goloknya. Tatapannya kosong mengarah ke kejauhan.

Beberapa saat hanya terdengar suara dedaunan bergesekan.

"Mang..." Arga membuka suara dengan hati-hati.

"Tadi Mang bilang pernah menemukan ransel."

Mang Jaya mengangguk pelan.

"Iya."

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"

Pria tua itu menarik napas panjang.

"Lima hari kemudian..."

"...aku kembali ke rawa."

"Sendirian."

"Kenapa sendirian?"

"Karena aku masih penasaran." Mang Jaya menundukkan kepala.

"Entah kenapa..."

"...aku merasa ada sesuatu yang belum selesai di sana."

Arga menyimak tanpa memotong.

"Waktu itu kabut masih tebal meskipun matahari sudah tinggi."

"Aku menyusuri tepian rawa."

"Mencari kalau-kalau ransel itu muncul lagi."

Beliau berhenti sejenak.

"Tapi yang kulihat..."

"...bukan ransel."

Arga menelan ludah.

"Apa, Mang?"

Mang Jaya memejamkan mata beberapa detik, seolah kenangan itu masih sulit diucapkan.

"Sesosok tubuh."

Tubuh Arga menegang.

"Mengapung."

"Pelan..."

"...terbawa air yang nyaris tidak bergerak."

Suasana mendadak terasa sunyi.

"Aku mendekat."

"Awalnya kukira hanya batang kayu."

"Ternyata..."

"...mayat."

Arga spontan menundukkan kepala. Mang Jaya melanjutkan dengan suara pelan.

"Pakaiannya sudah robek di beberapa bagian."

"Seperti sudah lama berada di air."

"Lalu wajahnya..."

Beliau kembali terdiam.

"Wajahnya rusak."

"Bukan karena luka baru."

"Tapi sudah tidak bisa dikenali lagi."

"Aku tidak tahu siapa orang itu."

"Tidak tahu dari mana asalnya."

"Dan tidak ada satu pun tanda yang bisa menunjukkan identitasnya."

Arga merasakan tengkuknya merinding.

"Mang melapor ke warga?"

Mang Jaya mengangguk.

"Aku langsung berlari ke kampung."

"Warga datang bersama kepala desa."

"Mereka membawa bambu dan tali."

"Ketika kami kembali..."

"...mayat itu sudah tidak ada."

Arga mengangkat kepala.

"Hilang?"

"Iya."

"Kami mencari sampai sore."

"Menyusuri seluruh tepian rawa."

"Tidak ditemukan apa pun."

"Bahkan bekas hanyutnya pun tidak ada."

"Itu sebabnya..."

"...sebagian orang menganggap aku salah lihat."

"Lalu Mang?"

Mang Jaya menggeleng mantap.

"Aku tahu apa yang kulihat."

"Itu mayat manusia."

"Bukan batang kayu."

"Bukan bangkai hewan."

Arga terdiam lama. Di luar rumah, angin kembali berembus pelan. Untung kali ini tidak berasal dari arah rawa.

"Mang..."

"Apakah setelah itu masih ada orang yang hilang?"

Mang Jaya menggeleng perlahan.

"Kami disini jauh dari informasi di luar sana. Jadi tidak tahu ada info hilang atau tidak. Tapi warga sini tidak pernah ada yang hilang.

Arga menggenggam kedua lututnya. Entah mengapa, kisah itu membuat ingatannya kembali pada hari ketika ia tersesat. Ia masih mengingat jelas bagaimana kabut tiba-tiba turun. Bagaimana kompasnya berputar tidak menentu. Dan bagaimana jalur yang dikenalnya berubah menjadi hutan asing.

"Mang..."

"Menurut Mang..."

"...apakah saya sampai tersesat kesini karena ada hubungan nya dengan rawa?"

Mang Jaya menatap Arga cukup lama. Sorot matanya tidak lagi sekadar penasaran. Melainkan penuh kekhawatiran.

"Aku tidak tahu."

"Tapi satu hal yang aku yakini..."

Beliau menunjuk perlahan ke arah belakang rumah.

"Rawa itu menyimpan sesuatu yang belum pernah berhasil dipahami siapa pun."

"Tidak semua orang yang mendekatinya mengalami hal yang sama."

"Tapi tubuhmu..."

"...bereaksi sejak pertama kali menghirup aromanya."

Beliau berhenti sejenak.

"Itulah yang membuatku takut."

Arga terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Kampung Ciburial, ia tidak hanya penasaran pada misteri rawa itu.

Ia mulai bertanya-tanya...

Mengapa justru dirinya yang seolah dikenali oleh tempat itu dan seolah dipanggil untuk mengungkpa misterinya.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!