Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Baru Gavin Wijaya
"Ta-daaa! Lihatlah mahakarya terindah dari seorang Kevin!"
Seruan heboh Kevin memecah keheningan penthouse. Pria penata rias itu menjentikkan jarinya ke udara dengan gaya dramatis, lalu memberi isyarat kepada para asistennya untuk membuka tirai kain yang menutupi cermin besar di tengah ruangan.
Dalam hitungan detik, kain itu tersibak ke samping.
Tiffany, yang sejak tadi fokus membaca laporan keuangan di ponselnya, perlahan mendongakkan kepala. Jemarinya yang lincah mengetuk layar mendadak berhenti.
Tatapannya langsung tertuju pada sosok pria yang berdiri tegak di depan cermin.
Untuk beberapa saat, Tiffany benar-benar terdiam. Pandangannya menyapu Gavin dari ujung rambut hingga ujung sepatu, menilai setiap detail dengan saksama. Ada sedikit rasa tidak percaya yang melintas di benaknya.
Ternyata... dengan sentuhan yang benar, orang ini bisa terlihat cukup meyakinkan, batinnya, diam-diam mengakui hasil kerja tim Kevin.
Pemuda kusam dengan kantung mata panda yang kemarin masih menjadi salah satu pekerja pabriknya kini telah lenyap sepenuhnya.
Di hadapannya berdiri seorang pria berpenampilan elegan dengan setelan jas custom-made berpotongan slim fit berwarna hitam pekat yang membungkus tubuh tegapnya dengan sempurna. Kemeja putih bersih yang dikenakannya berpadu serasi dengan dasi hitam sederhana, menciptakan kesan mewah tanpa terlihat berlebihan.
Rambut Gavin yang semula acak-acakan kini dipotong dengan gaya undercut modern yang rapi. Garis rahangnya terlihat semakin tegas, sementara kulit wajahnya yang sebelumnya kusam akibat debu pabrik kini tampak bersih dan segar setelah mendapat perawatan profesional.
Sepasang sepatu kulit hitam mengilap melengkapi penampilannya. Bahkan jam tangan sederhana yang dikenakannya terlihat jauh lebih berkelas setelah dipadukan dengan keseluruhan busana.
penampilan Gavin benar-benar menipu.
Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, wajahnya justru tampak beberapa tahun lebih muda. Parasnya memancarkan kesan pria mapan yang terbiasa hidup di lingkungan kelas atas. Sulit dipercaya bahwa pria yang sama beberapa jam lalu masih mengenakan seragam pabrik dengan wajah penuh kelelahan.
Bahkan para asisten Kevin saling bertukar pandang sambil tersenyum puas melihat hasil transformasi itu.
Kevin sendiri menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan ekspresi bangga.
"Kalau begini, siapa juga yang percaya dia mantan buruh pabrik?" gumamnya puas.
Gavin yang melihat perubahan ekspresi Tiffany langsung menyadarinya. Bola mata wanita dingin itu sempat membesar dan menatapnya tanpa berkedip selama beberapa detik.
Otak narsis Gavin pun mulai bekerja.
Ia memiringkan kepalanya sedikit, lalu melangkah mendekati Tiffany dengan langkah sengaja dibuat anggun layaknya model di atas panggung.
Setelah jarak mereka tinggal beberapa puluh sentimeter, Gavin membungkukkan badan sedikit hingga wajahnya sejajar dengan wajah Tiffany. Aroma parfum maskulin yang baru saja disemprotkan Kevin perlahan memenuhi udara di antara mereka.
"Bagaimana, Tante?" bisik Gavin dengan senyum lebar yang sengaja dibuat penuh percaya diri. "Terpesona, ya? Tenang saja. Tante tidak perlu menahan diri kalau mau mengagumi ketampanan suamimu ini. Gratis kok... khusus untuk pemilik kartu kredit hitam. Hehehe."
Jarak mereka yang terlalu dekat mendadak membuat suasana menjadi canggung.
Tiffany, yang sama sekali tidak terbiasa dengan kedekatan fisik seperti itu, refleks melangkah mundur satu langkah.
Alisnya langsung berkerut.
"Jangan konyol dan mundurlah sedikit," perintahnya tegas sambil menatap Gavin tajam, berusaha menyembunyikan rasa kikuk yang sempat muncul. "Aku hanya sedang menilai apakah investasiku membuahkan hasil atau tidak."
Tatapan Tiffany kembali mengamati Gavin beberapa saat sebelum melanjutkan ucapannya.
"Dan untungnya, tim Kevin berhasil menyulapmu dari buruh pabrik menjadi manusia yang layak dipandang. Jadi jangan tinggi hati."
Gavin hanya terkekeh geli.
Baginya, fakta bahwa Tiffany sempat terpana selama beberapa detik sudah cukup menjadi kemenangan kecil.
Fix. Tante Es ini tadi benar-benar terpana sama ketampananku, pikirnya penuh percaya diri.
"Oo la la... lihatlah pasangan pengantin baru kita yang menggemaskan ini!" seru Kevin sambil bertepuk tangan kecil dan mengedipkan mata genit. "Sudah, jangan pacaran di sini. Waktu kalian tidak banyak. Tuan Besar Chen pasti sudah menunggu."
Ucapan Kevin membuat wajah Tiffany semakin kaku.
Ia buru-buru merapikan ujung blazernya, mengembalikan sikap profesional yang sempat goyah.
"Ayo berangkat, Gavin," ucapnya singkat. "Pakai sepatumu."
Gavin menurut sambil mengambil napas panjang.
Sebelum keluar, Tiffany berhenti sejenak di depan pintu.
Ia menoleh ke arah Gavin dengan tatapan serius yang jauh berbeda dari beberapa menit sebelumnya.
"Ingat," katanya pelan namun penuh tekanan. "Begitu kita keluar dari pintu ini, kamu adalah Gavin Wijaya, seorang pengusaha sukses asal Jakarta."
Tiffany mempertegas setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Kalau sampai kamu mengacaukannya, buku utangmu akan langsung membengkak dua kali lipat."
Senyum Gavin seketika membeku.
"Ih... pelit amat, Tante."
"Bukan pelit. Itu hukuman."
"Baiklah, Bos Besar."
Satu jam kemudian...
Sedan mewah milik Chen Corp melaju mulus menembus jalanan malam Taipei sebelum akhirnya perlahan mengurangi kecepatan.
Di balik kaca mobil antipeluru, Tiffany duduk diam sambil menatap lurus ke depan.
Lampu-lampu kota perlahan berganti dengan kawasan perbukitan yang jauh lebih tenang.
Tak lama kemudian, mobil memasuki sebuah gerbang besi raksasa bercat hitam dengan ukiran naga emas yang tampak megah. Dua orang petugas keamanan berbadan tegap berdiri berjaga di kedua sisi gerbang sambil memberikan hormat ketika mobil mereka melintas.
Di balik gerbang itu terbentang jalan setapak berbatu yang diapit pepohonan pinus dan taman yang tertata sangat rapi. Lampu-lampu taman berwarna kekuningan memantulkan cahaya hangat ke hamparan rumput yang dipangkas sempurna.
Di ujung jalan, rumah utama keluarga Chen berdiri dengan anggun di bawah kaki Gunung Yangmingshan.
Bangunan bergaya perpaduan klasik Timur dan modern itu tampak begitu megah. Pilar-pilar batu menjulang tinggi menopang teras depan, sementara jendela-jendela besar memancarkan cahaya hangat dari dalam rumah.
Namun, bagi Tiffany...
Keindahan itu sama sekali tidak memberikan rasa nyaman.
Sebaliknya, seluruh kemegahan rumah itu terasa seperti panggung eksekusi yang siap mengadili dirinya malam ini.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan pintu utama.
Sopir turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang dengan hormat.
Hembusan angin malam yang dingin langsung menyambut mereka.
Tiffany keluar lebih dulu. Wajahnya tetap datar, dingin, dan penuh wibawa seperti biasanya.
Namun di balik ketenangan itu, jemarinya yang tersembunyi di dalam saku blazer saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ia sedang gugup.
Sangat gugup.
Meski selama ini dikenal sebagai CEO muda yang mampu menghadapi rapat miliaran dolar tanpa berkedip, menghadapi ayahnya sendiri ternyata jauh lebih menegangkan daripada bernegosiasi dengan investor mana pun.
Tiffany melirik ke samping.
Gavin berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan penampilan yang nyaris sempurna. Jas mahal itu benar-benar berhasil mengubah citranya.
Sayangnya...
Tiffany tahu persis seperti apa isi kepala pria itu.
Di balik wajah tampan dan penampilan elegan tersebut, Gavin tetaplah pria usil yang gemar bercanda di saat-saat yang tidak tepat.
Dan justru itulah yang paling membuatnya khawatir.
Malam ini adalah pertaruhan terbesar dalam hidupnya.
Jika Gavin salah bicara...
Jika ia secara tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang aneh...
Atau jika kebiasaannya bercanda muncul di depan Ayah...
Maka seluruh sandiwara pernikahan kontrak yang telah disusun dengan susah payah bisa runtuh dalam sekejap.
Tiffany menarik napas panjang.
Tatapannya tertuju pada pintu jati raksasa yang masih tertutup rapat di hadapan mereka.
Di balik pintu itulah jamuan makan malam yang menentukan nasib mereka telah menunggu.
Ia hanya bisa berharap satu hal.
Semoga malam ini suami kontraknya itu mampu memainkan perannya dengan sempurna... dan, untuk sekali saja, tidak melakukan suatu kebodohan.