Aku hanya ingin memiliki keluarga. Namun, takdir justru menyeretku ke dalam cinta yang mustahil. Terjebak di antara pria yang kucintai dan kakak angkat yang diam-diam menginginkanku, aku dipaksa menghadapi rahasia kelam yang selama bertahun-tahun disembunyikan. Saat kebenaran terungkap, bukan hanya hatiku yang hancur, tetapi seluruh hidupku ikut berubah. Akankah cinta menjadi penyelamat... atau justru awal dari kehancuranku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andinirhein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah Takdir.
Cahaya pagi menyinari wajahku dari balik jendela. Di tengah rasa kantuk yang masih tersisa, sebuah suara lembut terdengar di telingaku.
"Selamat pagi, Tuan Putri Seolhwa."
Aku membuka mata perlahan dan mendapati sepasang mata yang sudah menatapku lebih dulu.
E-Eun Dam? gumamku dalam hati.
"Bangun, ya. Mandi, sarapan, setelah itu aku ingin mengajakmu memetik stroberi di perkebunanku," ujarnya sambil mengusap lembut puncak kepalaku sebelum pergi meninggalkan kamar.
Dua puluh menit kemudian, setelah mandi dan merapikan diri, aku keluar dari kamar.
Aku langsung disambut hangat oleh kedua orang tua Eun Dam yang sudah berada di meja makan.
Eun Dam pun menghampiriku dan mempersilahkanku duduk untuk sarapan bersama.
Setelah selesai makan, aku dan Eun Dam pergi menuju perkebunan stroberi milik keluarganya yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Hamparan tanah seluas sekitar setengah hektare terbentang di hadapanku. Deretan tanaman stroberi memenuhi lahan itu dengan buah-buah merah segar yang tampak menggoda.
Ya, semua ini adalah hasil kerja keras Eun Dam selama menjadi atlet. Ia selalu menyisihkan penghasilannya untuk orang tuanya. Dengan bijak, kedua orang tuanya membeli tanah dan perlahan membangun usaha perkebunan yang kini memasok hasil panennya ke berbagai supermarket.
"Kamu suka stroberi, kan?" tanyanya.
Ia memetik satu buah stroberi yang matang sempurna, membersihkannya, lalu menyodorkannya kepadaku.
"Kamu harus mencicipi yang ini. Aku jamin rasanya sangat manis."
Aku pun mencobanya.
"Wah... enak sekali. Manis dan segar."
Senyum puas langsung muncul di wajah Eun Dam.
"Ayo ambil yang banyak. Untukmu dan untuk Hwi Sol Hyung."
Aku menggeleng cepat.
"Tidak boleh. Ini usaha keluargamu. Aku bayar saja, ya?"
Eun Dam langsung menatapku serius dengan sorot matanya yang tajam.
"Bagaimana mungkin aku menyuruh calon istriku membayar?"
Ia meraih kedua pipiku dengan lembut.
"Seolhwa, kamu ini calon istriku. Aku ingin memberikan apa pun yang bisa kuberikan untukmu. Kamu lupa? Bahkan nyawaku pernah siap kuberikan untukmu."
Aku hanya bisa terdiam dan akhirnya menuruti keinginannya.
Kami pun memetik stroberi satu per satu sambil bercanda dan mengobrol ringan.
Di tengah kegiatan itu, aku tiba-tiba menghentikan langkahku dan mengambil ponsel dari saku.
Aku ingin merekam momen ini.
Kamera ponselku menyorot sosok Eun Dam yang sedang memetik stroberi dengan serius. Tubuhnya yang tinggi dan tegap terlihat begitu mencolok di antara hamparan tanaman hijau.
Dia benar-benar tampan. Beruntung sekali aku, batinku.
Menyadari dirinya sedang direkam, Eun Dam melambaikan tangan ke arah kamera sambil memperlihatkan senyum indahnya.
Aku pun tidak bisa menahan senyumku.
Sekitar dua puluh menit berlalu.
Sebelum kembali ke rumah, kami duduk sejenak menikmati udara pagi yang sejuk.
Angin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutku.
Melihat itu, Eun Dam segera membantu merapikannya dengan hati-hati.
Setelahnya, ia menatapku lekat.
Tatapan yang begitu dalam hingga membuatku salah tingkah.
"Kamu tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini?" tanyanya.
"Apa?" balasku penasaran.
Eun Dam tersenyum tipis.
"Saat ini aku ingin sekali mengecup bibirmu."
Aku sedikit terkejut mendengar pengakuannya yang tiba-tiba.
"Tapi aku tidak akan melakukannya sembarangan," lanjutnya. "Aku sudah berjanji akan menjagamu, bukan?"
Ia tersenyum lembut.
"Aku ingin melakukan segala sesuatu dengan cara yang benar, Seolhwa."
Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat hatiku terasa hangat.
"Ayo kita kembali ke rumah," ajak Eun Dam sambil mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.
Aku menerima uluran tangannya dan tersenyum kecil.
"Kami pulang!" seru Eun Dam saat kami tiba di rumah.
Dari ruang tengah, aku bisa melihat Eomoni sedang sibuk memasak di dapur.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menghampirinya.
"Eomoni, biar aku bantu."
Eomoni tersenyum hangat dan mengangguk.
Aku pun mulai membantu mengaduk sup yang sedang dimasaknya.
Namun, saat sedang mengaduk panci, tiba-tiba Eomoni meraih tangan kananku.
Tatapannya tertuju pada sebuah tanda lahir yang berada tepat di atas sikuku.
"Apa ini tanda lahirmu sejak kecil?" tanyanya dengan nada yang terdengar lebih serius dari biasanya.
"Iya, Eomoni. Ada apa?" tanyaku heran.
Eomoni masih menatap tanda lahir itu selama beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
"T-tidak. Tidak apa-apa."
Namun wajahnya terlihat bingung.
Sangat bingung.
"Mustahil..." gumamnya lirih.
Aku tidak sempat bertanya lebih jauh karena Eomoni tiba-tiba pergi meninggalkanku.
Wanita paruh baya itu berjalan cepat menuju kamarnya.
Tangannya gemetar saat membuka sebuah lemari tua yang berada di sudut ruangan.
Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah album foto yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Album yang bahkan tidak pernah diketahui keberadaannya oleh Eun Dam.
Lembar demi lembar foto bayi dibukanya dengan tangan yang bergetar.
Hingga akhirnya ia menemukan foto yang selama ini tersimpan dalam kenangannya.
"Ya Tuhan..." gumamnya pelan.
Tubuhnya terasa lemas.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.
Wanita yang sering disapa Nyonya Kim itu memegangi dadanya yang terasa sesak.
Sakit.
Terlalu sakit.
Karena tanda lahir yang berada di tangan kanan Seolhwa sangat mirip dengan tanda lahir milik bayi perempuan yang dulu terpaksa mereka titipkan ke panti asuhan.
Bayi yang selama bertahun-tahun mereka cari.
Bayi yang tidak pernah berhasil mereka temukan.
Nyonya Kim menutup mulutnya untuk menahan isak tangis.
Sebuah kenyataan yang selama ini tersembunyi perlahan muncul ke permukaan.
Eun Dam bukanlah anak tunggal.
Ia memiliki seorang saudara kembar.
Seorang adik perempuan yang terpisah darinya sejak bayi.
Dan kini...
Mungkinkah gadis itu adalah Seolhwa?
Nyonya Kim memejamkan mata kuat-kuat.
Tidak.
Ia belum bisa menyimpulkan apa pun hanya dari sebuah tanda lahir.
Ia harus mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.
Dengan susah payah, ia menenangkan dirinya.
Ia memutuskan untuk membicarakan semuanya dengan suaminya yang saat ini masih berada di luar rumah.
"Aku harus mencari tahu semuanya," gumamnya pelan.
Namun sesaat kemudian, ketakutan lain mulai menghantuinya.
Bagaimana jika Seolhwa benar-benar putriku?
Bagaimana jika anak yang selama ini kami cari ternyata adalah Seolhwa?
Lalu...
Bagaimana dengan hubungan Seolhwa dan Eun Dam?
Pertanyaan itu membuat tubuh Nyonya Kim kembali gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, ia berharap firasatnya kali ini salah.
Ia mencoba menghapus air matanya lalu menyimpan album foto itu kembali.
Tak lama setelah itu, terdengar suara ketukan di pintu, diikuti panggilan lembut dari Eun Dam yang berada di luar kamar.
"Eomma... makanannya sudah siap. Ayo kita makan. Seolhwa juga sudah menunggu," ujarnya.
"Iya. Eomma akan menyusul, Sayang."
Setelah mendengar langkah kaki Eun Dam menjauh, Nyonya Kim menarik napas panjang.
Aku tidak boleh terlihat sedih di depan mereka. Aku harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Lagi pula, semua ini belum tentu benar, gumamnya dalam hati.
Dengan susah payah, ia menenangkan dirinya sebelum akhirnya berjalan menuju ruang makan.
"Maafkan Eomoni, Seolhwa. Tadi Eomoni meninggalkanmu begitu saja. Ada sesuatu yang harus Eomoni urus di kamar," ucap Nyonya Kim sambil mengusap lembut pundakku.
"Tidak apa-apa, Eomoni," balasku sambil tersenyum lembut.
Kami pun menikmati makan siang bersama.
Suasana hangat kembali memenuhi meja makan.
"Oh ya," ujar Eun Dam tiba-tiba dengan wajah bersemangat. "Nanti malam aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Aku yakin kamu akan menyukainya."
"Benarkah?" tanyaku antusias.
Eun Dam mengangguk mantap.
"Tentu."
"Kalau begitu, aku jadi tidak sabar menunggunya."
Melihat senyum yang mengembang di wajahku, Eun Dam ikut tersenyum puas.
Namun berbeda dengan kami berdua, Nyonya Kim hanya bisa memandangi putranya dan Seolhwa dalam diam.
Tatapannya menyimpan begitu banyak kegelisahan yang tidak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Jika semua itu benar... apa yang akan terjadi, Tuhan?
Dadanya kembali terasa sesak.
Bagaimana mungkin seorang kakak bisa menikahi saudari kembarnya sendiri?
Air matanya hampir jatuh ketika pikiran itu kembali menghantam benaknya.
Ini semua salahku...
Salahku yang tidak mampu menjaga putriku saat itu.
Salahku yang membuat mereka tumbuh tanpa mengetahui kebenaran.
Nyonya Kim menundukkan pandangannya, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang perlahan menggerogoti hatinya.
Sementara itu, Seolhwa dan Eun Dam masih tersenyum satu sama lain, sama sekali tidak menyadari badai besar yang mungkin sedang menunggu mereka di depan.