Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Saat pintu utama mansion yang megah itu terbuka, Arumi langsung disambut oleh senyuman hangat dari seorang wanita paruh baya berusia sekitar 45 tahun. Wanita itu adalah Bi Sumi, kepala ART di kediaman Tanuwijaya yang terkenal ramah dan cekatan.
"Mari silakan masuk, Bu Guru Arumi. Den Azzam dan Non Azzura sudah menunggu di dalam. Silakan duduk dulu di sini, ya," ujar Bi Sumi dengan sopan, mempersilakan Arumi duduk di sofa ruang tamu yang luar biasa mewah dan empuk.
Setelah Bi Sumi permisi ke belakang untuk memanggil anak-anak, Arumi mengedarkan pandangannya. Ia sempat menatap takjub arsitektur interior rumah tersebut yang begitu elegan dengan pilar-pilar tinggi dan lampu kristal yang menggantung indah. Sekelebat pikiran liar mendadak melintas di benaknya.
'Andai saja dua belas tahun lalu pernikahan itu terjadi... andai saja Zaky tidak pergi... mungkin saat ini akulah yang menjadi nyonya rumah di mansion semegah ini.'
Arumi menggelengkan kepalanya kuat-kuat, merutuki lamunannya sendiri.
'Aish... apa yang ada di dalam pikiranmu, Arumi? Sadarlah, kau itu memang tidak sederajat dengan Zaky. Mungkin itu sebabnya kau dan dia tidak berjodoh dari dulu. Sekarang fokus mu adalah membimbing Azzam dan Azzura. Buang semua masa lalu mu jauh-jauh!' batinnya menyemangati diri sendiri.
Mendengar kabar bahwa Bu Arumi sudah tiba, Azzam dan Azzura bergegas turun dari lantai dua. mereka pun diikuti oleh Nyonya Maya, sang nenek. Nyonya Maya sebenarnya sangat penasaran dengan sosok guru baru ini. Berdasarkan cerita cucu-cucunya, guru wanita ini awalnya sangat mereka benci, namun entah mengapa kini justru begitu mereka idam-idamkan untuk mengajar di rumah.
Saat langkah kaki mereka mendekat, Arumi beranjak berdiri dari sofanya. Tatapan mata Nyonya Maya seketika terkunci pada wajah Arumi. Ada getaran aneh di dada sang wanita tua, ia merasa wajah Arumi tampak tidak asing, seperti pernah ia lihat entah di mana. Namun, Nyonya Maya buru-buru menepis pikiran itu. Ia membatin bahwa di dunia ini, wajar saja jika manusia memiliki wajah yang mirip.
"Nah, Nenek, perkenalkan ini namanya Bu Arumi! Gimana, cantik banget kan guru kami?" ucap Azzura dengan nada antusias, memecah keheningan sembari memamerkan gurunya kepada sang nenek.
"Dan Bu Arumi, perkenalkan... ini adalah Nenek kesayangan kami!" timpal Azzam tak kalah bangga.
Nyonya Maya tersenyum hangat lalu mengulurkan tangannya. "Saya Maya, neneknya anak-anak. Terima kasih ya, Bu Arumi, sudah mau menyempatkan waktu di hari libur seperti ini."
Arumi menyambut uluran tangan itu dengan takzim, membungkukkan sedikit badannya dengan sangat sopan. "Sama-sama, Nyonya Maya. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai wali kelas mereka."
Sikap lembut dan tata krama Arumi yang begitu santun seketika membuat Nyonya Maya sangat terkesan. "Ya sudah, kalau begitu saya tinggal dulu, ya. Nanti Bu Arumi dan anak-anak akan belajar di paviliun belakang saja. Kebetulan di sana tempatnya sangat nyaman dan asri, jadi anak-anak bisa lebih konsentrasi dan tidak cepat bosan," ujar Nyonya Maya ramah.
Arumi mengangguk setuju. "Baik, Nyonya. Terima kasih banyak."
Langkah kaki Arumi kini dibimbing oleh si kembar menuju ke area paviliun belakang. Begitu keluar dari pintu pembatas, mata Arumi dimanjakan oleh pemandangan taman bunga yang ditata sangat indah, lengkap dengan gemercik suara air mancur dan kolam besar yang dipenuhi ikan koi yang berenang lincah. Suasananya begitu sejuk dan menenangkan. Arumi tersenyum tipis, merasa bahwa tempat ini memang sangat ideal untuk belajar.
Namun, di balik kenyamanan itu, Arumi tidak menyadari bahwa sepasang mata tajam sedang mengawasinya dari lantai atas.
Dari balik jendela kamarnya, Zaky berdiri mengintip di sela gorden yang tersingkap sedikit. Siang itu, Zaky tampil kasual namun tetap memikat dengan kaos polo putih dan celana bahan santai. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman bahagia yang amat tulus saat melihat Arumi berjalan di taman bawah. Arumi hanya mengenakan baju rumahan yang sederhana dan hijab instan yang kasual, namun di mata Zaky, aura kecantikan alami wanita itu justru terpancar jauh lebih bersinar.
Perlahan, Zaky berjalan mundur menuju meja kerjanya. Ia membuka laci rahasia dan mengambil sebuah foto tua yang sudah agak usang namun dirawat dengan sangat baik.
Foto itu diambil lebih dari dua belas tahun yang lalu, saat usia mereka masih sangat muda. Di dalam foto, tampak sosok Arumi yang masih polos mengenakan seragam SMU, dengan rambut panjang yang dikepang dua. Di sampingnya, Zaky muda berdiri dengan senyum angkuh namun bahagia, merangkul erat bahu gadis itu. Di latar belakang mereka, terhampar pemandangan kebun teh yang hijau, asri, dan berkabut.
Zaky mengusap lembut bagian foto yang menampilkan wajah Arumi dengan ibu jarinya. Matanya menatap penuh kerinduan.
"Arumi... akhirnya kita dipertemukan kembali di rumah ini. Dan aku yakin, Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untukku untuk memperbaiki semua kehancuran dan kesalahpahaman di masa lalu," ucap Zaky dalam hati dengan tekad yang membaja. "Tunggulah sampai waktunya tiba, Rum. Aku akan memastikan kau tahu semua kebenaran yang sesungguhnya tentang malam terkutuk itu."
*
*
Di dalam paviliun yang sejuk dan dikelilingi taman yang asri, Arumi duduk mendampingi si kembar. Ia dengan sabar menuntun jari-jari Azzam dan Azzura untuk membedah barisan angka di buku latihan mereka. Kali ini, Arumi sengaja memberikan beberapa soal latihan yang paling mudah terlebih dahulu untuk membangun rasa percaya diri mereka.
"Jadi anak-anak, kalau kalian ingin bisa mengerjakan soal Matematika dengan mudah, kalian harus usahakan hafal dengan rumus-rumus dasarnya," jelas Arumi dengan suara lembut namun terstruktur. "Apalagi, kalian juga wajib hafal perkalian minimal sampai perkalian sepuluh. Itu kunci utama untuk memudahkan kalian memecahkan soal-soal seperti ini ke depannya."
Mendengar penjelasan yang runtut dan tidak menggurui itu, si kembar mulai bisa sedikit memahami materi. Mereka yang biasanya langsung pusing melihat angka, kini tidak begitu kesulitan lagi mengerjakan soal-soal Matematika yang selama ini mereka anggap sebagai momok menakutkan.
"Wah! Ternyata kalau tahu rumusnya, mengerjakan soal sesusah ini jadi terasa gampang ya, Bu? Terima kasih banyak, Bu Arumi!" seru Azzura spontan.
Karena terlampau senang, remaja perempuan itu tiba-tiba berhambur dan memeluk tubuh Arumi dengan erat. Dipeluk seperti itu, Arumi sempat tertegun namun sedetik kemudian membalas pelukan itu dengan hangat. Di dalam dekapan sang guru, Azzura mendadak merasakan desiran aneh, sebuah kehangatan dan rasa nyaman layaknya seorang ibu yang tidak pernah ia dapatkan dan rasakan sejak dirinya lahir ke dunia ini.
Azzam yang duduk di sebelah adiknya pun diam-diam mulai merasakan hal yang sama. Gurunya kali ini memiliki aura yang benar-benar berbeda. Ketulusan dan kebaikan hatinya terpancar jelas, meski di sekolah Arumi terkenal sangat tegas dan cerewet. Lambat laun, pertahanan ego Azzam runtuh, ia merasa sangat nyaman dengan guru barunya tersebut. Arumi memang sengaja menempatkan diri seperti seorang teman agar murid-muridnya tidak merasa canggung dan bisa lebih terbuka padanya.
Di tengah suasana hangat itu, langkah kaki terdengar mendekat. Zaky muncul dari arah koridor rumah utama, ditemani oleh dua orang ART yang membawa nampan besar berisi berbagai macam camilan kue dan juga minuman segar.
"Wihhh, Papah! Aku pikir Papah masih sibuk dengan tumpukan pekerjaan di ruang kerja?" tanya Azzura girang, langsung beranjak mendekati ayahnya.
Zaky tersenyum, mengusap pelan rambut putrinya. "Pekerjaan Papah sudah selesai, Sayang. Kebetulan Papah juga ingin ngemil bareng kalian... dan juga bersama Bu Arumi," ujar Zaky, sengaja menurunkan intonasi suaranya di akhir kalimat sambil melirik ke arah Arumi.
Mendengar lirikan verbal itu, Arumi sontak terkejut. Ia buru-buru membuang muka ke arah kolam koi, sama sekali tidak berani menatap bola matanya Zaky yang seolah menguncinya.
Mendengar sang ayah ingin bergabung, baik Azzam maupun Azzura terlihat sangat bahagia. Kehadiran Zaky di waktu santai seperti ini adalah hal langka yang sangat mereka hargai.
"Ayo, Bu, kita ngemil bareng dulu! Kita istirahat sejenak biar otaknya enggak tegang," ajak Azzam bersemangat.
Arumi akhirnya mengangguk setuju. Ia duduk kembali dan mulai menikmati segelas orange juice yang segar untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Sementara itu, Zaky meraih gelasnya yang berisi ice cappuccino.
Melihat minuman di tangan pria itu, ingatan Arumi mendadak terlempar jauh ke masa lalu. Ia teringat momen kencan pertama mereka di kampung dulu. Saat itu hujan turun sangat deras, memaksa mereka meneduh di sebuah warung kayu pinggir jalan. Di tengah cuaca sore yang dingin menggigit dan kabut tebal yang turun dari gunung, bisa-bisanya Zaky memesan segelas ice cappuccino. Saat Arumi memprotesnya dulu, pria itu hanya tertawa dan bilang bahwa dia tidak akan merasa kedinginan selama ada Arumi di dekatnya.
Arumi tersenyum pahit dalam hati, cepat-cepat membuyarkan lamunan itu sebelum matanya berkaca-kaca.
"Eh, Kak, ayo kita ambil barang yang di kamar tadi! Kita kan mau kasih tunjuk ke Bu Arumi," bisik Azzura tiba-tiba pada kembarannya.
"Oh iya, hampir lupa! Bu, kami permisi sebentar ke kamar ya, ada yang mau kami ambil," pamit Azzam. Rupanya, kedua remaja itu sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil sebagai bentuk terima kasih mereka untuk Arumi.
Setelah langkah kaki si kembar menghilang di koridor rumah, suasana di paviliun belakang mendadak berubah total. Kehangatan yang tadi tercipta lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam dan rasa canggung yang luar biasa berat. Hanya terdengar suara gemercik air mancur kolam koi.
Arumi meremas jemarinya di atas pangkuannya, terus menatap lurus ke depan, enggan menoleh sedikit pun ke arah pria yang duduk di sebelahnya.
Merasa memiliki kesempatan langka, Zaky memperbaiki posisi duduknya. Ia memajukan tubuhnya, menatap pemandangan samping wajah Arumi dengan tatapan mata yang dalam dan penuh kerinduan. Pria itu akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, langsung menjurus ke hal yang sangat pribadi dan sensitif.
"Rum... selama dua belas tahun ini, apakah kau sudah pernah bersama pria lain?" tanya Zaky, suaranya terdengar serak dan berat. Ia jeda sejenak sebelum menyambung, "Apakah kau... sudah benar-benar bisa melupakan aku?"
Deg!
Jantung Arumi laksana dihantam gada besar. Dadanya bergemuruh hebat, sesak seketika menyerang napasnya.
'Pertanyaan macam apa ini?! Zaky, jangan bertanya hal konyol dan tidak tahu malu seperti itu setelah apa yang kau lakukan!' jerit batin Arumi penuh rasa tidak suka dan amarah yang mulai tersulut di balik wajah diamnya.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣