NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Undangan Pertama untuk Menonton Aku Menari

Sebastian datang ke ruang latihan pukul delapan tiga puluh tujuh.

Vivi tahu waktu tepatnya karena sejak pukul delapan ia sudah melihat jam tujuh kali.

Pintu akhirnya terbuka ketika ia sedang mengulang putaran. Sebastian berdiri di sana tanpa piring buah, masih memakai jas kerja, dengan satu map tipis di tangan kiri. Perban pada tangan kanannya sudah dilepas, menyisakan garis luka merah di tiga buku jari.

Vivi berhenti terlalu mendadak dan hampir kehilangan keseimbangan.

“Kamu terlambat,” katanya.

Sebastian mengangkat alis. “Kamu menungguku?”

“Tidak.”

“Aku tidak bilang akan datang pagi ini.”

“Aku menunggu buah.”

“Buahnya bersamaku?”

Vivi mengambil handuk agar punya alasan membelakangi pria itu. “Kenapa kamu datang kalau tidak membawa apa-apa?”

“Aku membawa sesuatu.”

Sebastian membuka map, memeriksa satu lembar dokumen, lalu mengulurkan tangan. “Ikut denganku.”

“Ke mana?”

“Lantai tiga.”

Vivi memandang pakaian latihannya yang basah oleh keringat. “Aku harus ganti.”

“Pakai jubah.”

Rasa ingin tahu menang. Ia mengenakan jubah katun, menyambar botol air, lalu mengikuti Sebastian keluar. Pengawal perempuan berjalan beberapa langkah di belakang mereka sampai tangga lantai tiga, kemudian berhenti atas isyarat Sebastian.

Bagian rumah itu jarang digunakan. Di ujung koridor terdapat ruang pamer dengan pintu kaca buram. Sebastian memindai sidik jari, lalu menunggu Vivi masuk lebih dulu.

Cahaya lembut menyala otomatis.

Di tengah ruangan berdiri sebuah manekin dalam kotak kaca. Gaun balet putih membungkusnya seperti lapisan cahaya. Bagian atasnya dihiasi kristal sangat kecil yang tidak berlebihan, sementara tulle bertumpuk pada rok membentuk garis tipis menyerupai bulu angsa. Setiap jahitan mengikuti satu arah, seolah kain itu dapat bergerak meski tidak ada angin.

Vivi mendekat tanpa sadar.

“Ini...”

“Karya Lucien,” kata Sebastian. “Dibuat langsung oleh atelierenya.”

Nama itu membuat Vivi menoleh. Lucien hanya menerima beberapa pesanan panggung dalam setahun. Penari utama perusahaan internasional pun harus menunggu berbulan-bulan.

“Untuk siapa?”

Tatapan Sebastian turun dari wajahnya ke manekin. “Untukmu.”

Vivi tertawa kecil karena mengira ia bercanda. Sebastian tidak ikut tertawa.

Ia membuka sisi kotak dengan kartu akses, lalu menyerahkan sepasang sarung tangan katun kepada Vivi. “Kamu boleh memeriksa jahitannya.”

“Berapa harga benda ini?”

“Tidak penting.”

“Kalau kamu menjawab begitu, berarti sangat penting.”

Sebastian tidak menyangkal. Vivi mengenakan sarung tangan dan menyentuh ujung tulle. Kainnya hampir tidak memiliki berat. Pada bagian dalam korset, nama `Vivian Winata` disulam dengan benang putih yang hanya terlihat saat terkena cahaya dari samping.

“Bagaimana kamu tahu ukuranku?”

“Data penjahit yang membuat gaun pernikahanmu. Aku meminta izin penggunaan melalui kontrak rumah mode, lalu Lucien mengirimkan pola uji kepada penjahit perempuan di Jakarta. Tidak ada foto tubuhmu yang dikirim.”

Penjelasan itu sangat spesifik, mungkin karena Sebastian sudah menduga bagian mana yang akan membuatnya tidak nyaman.

Di sudut kotak terdapat pengukur kelembapan dan dua segel bernomor. Sebuah koper keras putih diletakkan di bawahnya, juga memiliki nomor seri.

“Kalau dibawa keluar, siapa yang membukanya?” tanya Vivi.

“Kamu. Pengawal perempuan memegang kunci kedua hanya untuk keadaan darurat.”

Vivi mengangkat mata. “Bukan kamu?”

“Bukan.”

Jawaban itu terasa seperti perpanjangan kecil dari Pulau Zamrud: sesuatu yang ia berikan tanpa menyimpan kunci utama untuk dirinya sendiri.

“Sebas, ukurannya belum tentu...”

“Sesuai ukuranmu.”

“Kapan kamu memesannya?”

“Setelah kita menikah.”

Jawaban itu membuat ruangan terasa lebih sunyi.

Ia belum pernah menari di hadapan Sebastian sejak menjadi istrinya. Selama hampir setahun, ia bahkan tidak menyentuh sepatu balet. Namun pria itu telah memesan pakaian panggung sebelum mengetahui bahwa Vivi akan kembali.

“Kenapa baru tiba sekarang?”

“Selama kamu berhenti menari, aku meminta mereka menyimpannya. Pekan lalu aku mengambilnya kembali dan melakukan penyesuaian akhir.”

Vivi memandangi kristal di bagian dada. Benda-benda itu dijahit dengan benang terpisah agar satu kerusakan tidak membuat seluruh pola lepas. Roknya cukup ringan untuk putaran, tetapi memiliki volume yang akan menangkap cahaya panggung.

Ini bukan hadiah yang dibeli sembarangan karena mahal. Seseorang telah memikirkan bagaimana ia bergerak saat mengenakannya.

“Cobalah,” kata Sebastian.

Jari Vivi yang hampir menyentuh kotak kaca berhenti.

Ingatan tentang kulit merah dan rasa gatal muncul. Setiap kali mengenakan kostum pertunjukan baru, tubuhnya pernah bereaksi. Dokter menyebutnya alergi kain atau bahan finishing. Ia belum tahu pemicu pastinya.

“Aku akan memakainya pada hari festival.”

“Kenapa tidak sekarang?”

“Kalau aku mengalami ruam lagi, aku butuh waktu untuk pulih. Lebih baik simpan sampai hari itu.”

Ada perubahan kecil di mata Sebastian. Harapan yang tadi terlihat di sana menghilang terlalu cepat.

“Baik,” katanya.

“Kamu kecewa?”

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Vivi berjalan mengitari kotak kaca. Pada alasnya terdapat kartu perawatan kain, sertifikat autentik, dan hasil pemeriksaan bahan dari laboratorium tekstil. Semua komponen yang bersentuhan langsung dengan kulit tercatat hipoalergenik.

Sebastian bahkan telah memikirkan ketakutannya terhadap ruam.

“Aku tetap akan memakainya,” kata Vivi. “Hanya pada hari pertunjukan.”

“Aku sudah dengar.”

“Dan...”

Ia berhenti. Undangan sederhana tiba-tiba terasa lebih sulit daripada berdiri di depan ratusan orang. Dalam kehidupan pertama, ia selalu berusaha menjaga jarak. Ia tidak pernah meminta Sebastian duduk di antara orang yang penting baginya. Tidak pernah membiarkan pria itu melihat bagian hidup yang paling ia cintai.

Jika ia ingin masa depan berbeda, ia tidak bisa hanya menunggu Sebastian berubah.

“Festivalnya mulai pukul tujuh malam,” katanya. “Aku akan naik panggung pada bagian terakhir.”

“Aku tahu jadwalnya.”

Tentu saja ia tahu.

Vivi menarik napas. “Aku ingin kamu datang.”

Sebastian tidak bereaksi selama beberapa detik.

“Sebagai pengamanan?” tanyanya.

“Sebagai suamiku.”

Kata-kata itu membuat tenggorokan Vivi hangat. Ia memaksa diri melanjutkan sebelum keberaniannya hilang.

“Aku akan meminta kursi paling depan. Jadi kamu harus melihat dengan benar. Jangan rapat, jangan pergi di tengah pertunjukan, dan jangan hanya menatap ponsel.”

“Aku akan datang.”

“Janji?”

“Aku akan berada di sana sebelum kamu naik panggung.”

Vivi mengangguk, lalu berbalik menuju pintu agar Sebastian tidak melihat senyumnya terlalu jelas.

***

Pintu ruang pamer tertutup.

Sebastian tetap berdiri di depan kotak kaca.

Ia pernah menunggu gaun itu selesai ketika Vivi bahkan tidak mau menatapnya saat sarapan. Ia menyimpan ukuran, pilihan tulle, bentuk garis leher, dan warna kristal dalam berkas yang tidak dapat dibuka siapa pun. Ketika Vivi berhenti menari, ia tidak membatalkan pesanan. Ia hanya menyembunyikannya lebih jauh.

Ada alasan yang bermula jauh sebelum pernikahan, tetapi alasan itu belum sanggup ia ucapkan.

Vivi juga keliru tentang ruamnya.

Sebastian menurunkan tatapan pada bekas luka di tangannya. Rahasia itu tetap terkunci, setidaknya sampai ia menemukan cara mengatakannya tanpa membuat Vivi menjauh.

Namun beberapa saat lalu, perempuan itu mengundangnya datang sebagai suami.

Sebastian menekan telapak tangan ke dada. Detak di bawahnya begitu keras sampai terasa menyakitkan.

Untuk pertama kalinya, ia memiliki tempat yang diberikan Vivi kepadanya tanpa harus ia rebut.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!