Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chipset Peretas Ingatan dan Teknologi
Suara gemuruh hebat menggetarkan seluruh fondasi lembah berbatu Sektor Terlarang. Inti Karbon-X yang membara tidak lagi sekadar bertahan. Entitas parasit mekanis itu merekah lebar, memperlihatkan bentuk sejati yang sangat mengerikan: sebuah struktur raksasa berwujud krisis baja organik dengan puluhan mata sensor merah liar yang memancarkan energi Dark Mecha berintensitas tinggi.
"Peringatan! Kapasitas energi target melipat ganda dalam hitungan detik!" seru Rian melalui jaringan intercom, jarinya menari cepat di atas panel Neo-Tracker. "Ini di luar seluruh kalkulasi AI Kota Neo!"
Sebelum kalimat Rian selesai, Karbon-X melepaskan gelombang kejutan brutal secara menyapu!
BOOOOOOMMMMMMM!
Hempasan radiasi dan tentakel baja hitam raksasa menghantam barisan terdepan dengan daya hancur yang tak terayangkan. Perisai pembias milik Drone Seri-N hancur berkeping-keping dalam sekejap. Maul yang memasang perisai Mode Badak paling depan terhempas hebat, zirah tebalnya retak parah hingga terlepas secara otomatis.
"AGHHH!" jerit Maul saat tubuhnya menghantam dinding cadas dengan telak.
Tak berhenti di situ, Karbon-X bergerak sangat brutal. Serangan tentakel berduri menghantam Alifian dari udara, menumbangkan zirah Mode Elang-nya hingga memercikkan arus pendek fatal. Sahla, Bang Pasya, Kelay, Teh Caca, hingga tim khusus Neo-Tracker yang mengawal pimpinan kota diserang secara bertubi-tubi tanpa ampun. Dentuman demi dentuman bereksplosii di sepanjang lembah, meremukkan zirah tempur dan melumpuhkan pasukan gabungan tiga kota hingga mereka terkulai tak berdaya di atas tanah yang membara.
"Semuanya!" jerit Yasing panik, napasnya terengah-engah di samping Rian yang baru saja berguling mengindari runtuhan batu.
Namun, kejutan paling mengerikan baru saja dimulai.
Dari tubuh raksasa Karbon-X, terdengar bunyi dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Bagian atas entitas itu mendadak meledak, menembakkan ribuan Chipset Karbon-X—serpihan parasit mikro berwarna hitam-merah yang meluncur bagaikan hujan meteor mini ke seluruh penjuru medan pertempuran!
"Awas! Hindari objek mikro itu!" teriak Rian reflek sambil melempar bom asap stealth dan menarik baju Yasing ke balik reruntuhan batu besar.
SHIIIING! SHIIIING! SHIIIING!
Hujan chipset itu mendarat tepat pada sasaran. Serpihan parasit mikro itu menempel kuat pada sirkuit Mecha Watch milik Maul, Alifian, Sahla, Pasya, Kelay, Teh Caca, hingga Opik. Chipset tersebut juga menginfeksi gelang Neo-Tracker milik pasukan khusus serta menyebar langsung ke dalam inti prosesor puluhan Drone Seri-N di udara!
BZZZZZZZZZT!
Pendar cahaya merah kegelapan menjalar dari chipset, menjalar masuk ke dalam sirkuit dan mengambil alih seluruh sistem teknologi mereka secara paksa!
"Ugh... g-gak bisa... dikontrol..." gumam Maul lirih. Matanya yang biasa teduh mendadak dipenuhi pendar merah kaku.
"Sistem... terinfeksi..." bisik Alifian yang bangkit secara kaku bagaikan boneka mesin.
Satu per satu, kawan-kawan Mechabest dan pasukan Neo-Tracker yang telah terinfeksi bangkit berdiri. Zirah mereka terdistorsi oleh warna hitam-merah Karbon-X. Drone Seri-N di udara memutar mata sensor mereka, mengunci dua target yang tersisa: Yasing dan Rian.
"K-kalian... kenapa?" bisik Yasing gemetaran saat melihat Sahla dan Bang Pasya melangkah mendekatinya dengan cakar dan senjata yang terisi daya penuh.
"Sialan!" Rian mengumpat, matanya membelalak menatap panel kendalinya yang terkunci total. "Chipset itu berfungsi sebagai parasit pengambil alih saraf dan teknologi! Mereka berada di bawah kendali penuh Karbon-X!"
"Target teridentifikasi: Yasing dan Rian. Musnahkan," ucap Teh Caca dengan suara kaku tanpa emosi manusia.
SWOOSH!
Sahla melesat dengan kecepatan Mode Cheetah yang terinfeksi Karbon-X, melayangkan tebasan tajam langsung ke arah leher Yasing!
BRANNGGG!
Rian menangkis serangan Sahla menggunakan pisau energi portabelnya, namun benturan itu melempar Rian dan Yasing terpental beberapa meter ke belakang. Belum sempat mereka berdiri, Alifian menembakkan gelombang sonar bertekanan tinggi dari udara, sementara Maul menerjang maju dengan dorongan Mode Badak yang dilapisi aura kegelapan!
"Maul! Ini gua, Yasing!" teriak Yasing sambil melompat mundur secara dramatis, menghindari pakan tanduk Maul yang meremukkan batu tempatnya berdiri tadi.
Maul tidak menjawab. Wajah datarnya kini tampak dingin dan mengerikan, matanya memancarkan pendar merah Karbon-X yang kaku.
"Gak ada gunanya bicara sama mereka sekarang, Yasing!" seru Rian sambil menembakkan suar pelumpuh ke udara untuk membiaskan sensor Drone Seri-N yang mulai mengepung mereka. "Teknologi mereka sudah diretas total! Kalau kita gak bertahan, kita bakal dibunuh oleh teman-teman kita sendiri!"
Yasing menatap sekelilingnya dengan dada yang bergemuruh hebat. Di hadapan mereka, Karbon-X berdiri megah di tengah lembah, sementara puluhan kawan perjuangan mereka—para Mechabest, tim Neo-Tracker, hingga drone-drone tempur—kini berbaris rapat melangkah maju untuk memburu mereka berdua.
"Gua gak bakal melukai teman-teman gua..." tegak Yasing, jemarinya memegang erat Mecha Watch di tangannya yang memercikkan sisa-sisa daya Mode Singa.
Rian berdiri di samping Yasing, membetulkan letak jaketnya yang koyak, lalu mengukir senyum miring di tengah situasi paling terdesak dalam hidup mereka. "Kalau begitu, cuma ada satu cara: kita tahan serangan mereka, lalu kita tembus langsung ke Karbon-X buat mencabut sinyal kendalinya!"
Dua pahlawan yang tersisa kini berdiri berdampingan, membelakangi dinding cadas, siap menghadapi gempuran dari kawan-kawan mereka sendiri demi menyelamatkan masa depan tiga kota!