NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FOTO LAMA

Di sebuah daerah yang jarang penduduknya, jauh dari keramaian kota dan hiruk-pikuk kehidupan yang sibuk, berdiri sebuah bangunan rumah berlantai dua. Ukurannya tidak terlalu besar, tampak sederhana namun kokoh berdiri di atas tanah yang luas. Bagian depan rumah itu terbentang halaman yang lebar dan bersih, begitu pula halaman di belakangnya — keduanya kosong dan luas, seakan sengaja dibiarkan terbuka tanpa banyak tanaman agar pandangan ke sekeliling dapat terlihat dengan jelas. Seluruh rumah itu dikelilingi pagar yang tinggi dan tertutup rapat dari luar, seolah pemiliknya sengaja menyembunyikan segala sesuatu yang terjadi di balik temboknya agar tidak diketahui siapa pun yang lewat.

Sore itu, langit mulai berubah warna menjadi keemasan saat seorang pemuda tiba dengan mengendarai sepeda motor berwarna gelap yang melaju perlahan menuju gerbang besar. Begitu kendaraannya masuk ke dalam, ia segera turun dan menarik pagar itu hingga tertutup rapat, menguncinya dengan hati-hati seakan takut ada mata yang mengintip dari kejauhan. Setelah memarkirkan motornya dengan rapi di depan teras, ia melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi dan sepi. Langkahnya mantap dan tenang, namun wajahnya tampak berat dan penuh pemikiran — seakan memikul beban yang tidak terlihat namun sangat berat untuk dibawa setiap hari sendirian.

Ia langsung menuju ruang tamu yang sederhana namun tertata rapi. Di atas meja kayu yang lebar dan bersih, laptopnya masih tertutup rapi tepat di tempat ia tinggalkan. Ia duduk di kursi empuk di hadapan meja itu, membuka penutup laptopnya perlahan, lalu menekan tombol daya hingga layar menyala terang. Tanpa menunggu lama, ia segera membuka berkas-berkas foto yang tersimpan di dalamnya — foto-foto lama yang terlihat sudah agak pudar warnanya karena usia, namun gambar dan bayangan di dalamnya masih cukup jelas untuk dikenali dengan saksama. Ia menatap satu per satu dengan teliti, mengamati setiap sudut dan detail kecil, seakan berharap ada hal yang terlewat sebelumnya kini akan tampak jelas di matanya.

"Sebelum berpulang, Paman menyuruhku mencari orang yang ada di foto ini," gumamnya pelan, suaranya terdengar lelah dan bingung di tengah keheningan ruangan. "Tapi dari mana aku harus memulai? Tidak ada nama, tidak ada alamat, hanya gambar-gambar ini. Aku benar-benar tidak tahu harus melangkah ke arah mana."

Ia menyandarkan punggung dan kepalanya ke sandaran sofa yang empuk namun terasa dingin, lalu perlahan memejamkan matanya. Dalam keheningan yang panjang itu, bayangan masa lalu perlahan muncul kembali di benaknya — kenangan yang selalu ia simpan jauh di sudut hati yang paling dalam, namun tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

13 Tahun Lalu

Saat itu ia masih berusia lima tahun. Tubuhnya kecil dan kurus, berdiri di halaman yang luas hanya dengan satu kaki menopang seluruh berat badannya, sementara kaki yang lain terasa sakit dan lelah luar biasa. Matanya basah dan berair, hampir saja air mata itu jatuh membasahi pipinya, namun ia menahan tangis sekuat tenaga — menggigit bibir bawahnya dengan gigi kecilnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar oleh lelaki tua yang berdiri tegak di hadapannya. Udara sore yang mulai dingin menyentuh kulitnya yang tipis dan lembut, namun ia tidak berani mengeluh sedikit pun.

"Kau harus berdiri tegak dan kuat," ucap lelaki tua itu dengan nada tegas dan dingin, tanpa sedikit pun menyayangkan anak kecil yang berdiri gemetar di depannya. "Kelak kau akan menghadapi dunia yang keras sendirian. Jika sekarang kau belum mampu melewati hal sekecil ini, lebih baik aku hentikan semuanya dari sekarang. Kau harus bertahan berdiri di sini selama dua jam lagi baru boleh masuk dan makan malam. Jika tidak kuat menahan, kau harus tidur dengan perut kosong malam ini."

Anak kecil itu hanya diam dan menunduk perlahan. Ia seakan mengerti meski masih kecil — tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah lelaki tua itu. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata penghiburan yang lembut — hanya kewajiban untuk menjadi kuat dan bertahan sekuat tenaga.

Lelaki tua itu pun berbalik perlahan dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan anak kecil sendirian di halaman yang luas dan sepi tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, anak itu berjalan kaki sendirian menuju sekolah yang letaknya cukup jauh dari rumahnya. Di sepanjang jalan yang ia lalui, ia melihat banyak orang tua yang mengantar anak-anak mereka ke sekolah dengan senyum hangat dan perhatian yang penuh kasih sayang. Melihat pemandangan itu, hati kecilnya terasa perih dan sepi.

"Kenapa aku tidak seperti mereka?" gumamnya pelan dalam hati sambil terus melangkah dengan langkah kecilnya. "Di mana sebenarnya Ayah dan Ibuku? Mengapa aku tidak pernah bersama mereka?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya sepanjang hari hingga pelajaran selesai. Ia berjanji dalam hatinya — begitu pulang ke rumah, ia akan bertanya langsung kepada lelaki tua yang tinggal bersamanya.

Sesampainya di rumah, ia tidak bermain seperti anak-anak lain. Ia langsung berlari menuju halaman belakang yang luas. Di sana, lelaki tua itu sedang duduk diam di bawah payung besar untuk melindungi dirinya dari panas matahari yang sangat terik siang itu. Wajahnya tenang namun serius seperti biasa, seakan tidak pernah ada hal yang bisa membuatnya tersenyum lebar.

"Paman, aku ingin bertanya sesuatu," ucap anak itu dengan sopan saat berdiri tepat di hadapan lelaki tua itu.

"Tanyakanlah," jawabnya singkat tanpa mengalihkan pandangan.

"Kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah terlihat? Apa mereka tidak pernah merindukanku? Apakah aku berbeda dari anak-anak lain yang kulihat setiap hari?" tanyanya dengan wajah polos namun matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam dan kebingungan yang lama tersimpan.

Lelaki tua itu terdiam cukup lama, seakan berpikir bagaimana harus menjawab pertanyaan yang begitu berat bagi anak seusianya. Lalu ia menjawab dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya. "Lebih baik kau ganti pakaian dulu, makan siang dengan tenang, lalu kembali ke sini untuk latihan seperti biasa. Pertanyaan itu akan kujawab nanti saat waktunya sudah tiba."

"Janji ya, Paman? Kalau begitu aku makan dulu. Paman sudah makan? Mari kita makan bersama," ajak anak itu dengan senyum kecil yang tulus dan polos, seketika melupakan rasa sedihnya karena percaya pada janji itu.

"Paman sudah makan. Cepatlah berkemas, sebelum aku menghukummu karena terlambat," ucap lelaki tua itu, kembali menyembunyikan perasaannya di balik nada tegas yang biasa ia gunakan.

Anak itu pun berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria, percaya sepenuhnya pada kata-kata lelaki tua itu.

Saat anak itu sudah hilang di balik pintu kayu rumah, lelaki tua itu perlahan menundukkan kepalanya dan matanya yang keriput tiba-tiba berkaca-kaca. Ia berbisik pelan pada dirinya sendiri, penuh haru dan kesedihan yang tertahan sejak lama.

"Maafkan aku, Tuan Muda. Akan tiba waktunya kau mengetahui seluruh kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah dan Ibumu yang tercinta. Untuk sekarang, kau harus belajar kuat melewati hari-hari yang sulit ini. Aku yakin suatu hari nanti, kau akan tumbuh menjadi pemuda yang mampu membela nama baik keluargamu dan membalaskan ketidakadilan yang menimpa Tuan Besar dan Nyonya."

Kembali ke Masa Kini

Pemuda itu perlahan membuka matanya yang terpejam, lalu kembali menatap layar laptopnya dengan tekad yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Ia kembali meneliti satu per satu foto yang ada di depannya dengan lebih teliti, berusaha menemukan petunjuk yang mungkin selama ini terlewatkan oleh matanya. Tiba-tiba tangannya berhenti bergerak saat melihat dua foto yang berbeda waktu pengambilannya — salah satu diambil saat siang cerah, yang lain saat sore mendung — namun keduanya berlatar belakang tempat yang sama persis.

Di kedua foto itu terlihat jelas sebuah rumah berwarna biru yang sederhana namun rapi, dengan tiang lampu jalan yang berdiri tegak di samping gerbang, serta kotak pos tua berwarna merah yang terpasang kokoh di depan pagar rumah tersebut. Meski waktu dan cuaca saat pengambilan foto berbeda, bentuk rumah, posisi tiang lampu, dan letak kotak pos itu sama persis tanpa perbedaan sedikit pun.

Pemuda itu menatap kedua foto itu bergantian berulang kali, lalu perlahan senyum tipis namun penuh harapan mulai terukir di wajahnya yang semula tampak muram dan bingung. Cahaya yang selama ini hilang kini kembali bersinar di matanya.

"Tidak mungkin kebetulan semacam ini terjadi dua kali di tempat yang berbeda," ucapnya pelan namun penuh keyakinan yang mantap. "Ini pasti rumah yang harus aku datangi. Inilah petunjuk pertamaku yang dicari Paman. Akhirnya... perjalanan panjang ini baru saja dimulai."

Ia menutup laptopnya dengan lembut, berdiri tegak dengan bahu yang terasa lebih ringan karena akhirnya memiliki arah tujuan, lalu menatap ke arah jendela yang menghadap ke halaman luas di depan rumahnya. Di luar sana, jauh di ujung perjalanan yang belum diketahui, jawaban yang ia cari selama bertahun-tahun akhirnya mulai menunjukkan jalan kepadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!