NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Sejak malam pertemuan itu, Vio diam-diam berusaha mencari berbagai cara untuk membatalkan pernikahan. Vio beberapa kali kembali membujuk Armand agar membatalkan keputusan tersebut. Ia bahkan dengan jujur mengaku telah memiliki wanita yang dicintainya.

"Papa, aku tidak mencintai Alena. Jangan paksa aku menikah."

Namun, Armand tetap bergeming.

"Perasaan bisa tumbuh setelah menikah. Tapi kesempatan menyelamatkan perusahaan tidak datang dua kali."

Hari demi hari berlalu.

Berbagai alasan Vio sampaikan. Mulai dari meminta waktu, menunda tanggal pernikahan, hingga terang-terangan menyatakan penolakan.

Namun, semua usaha itu selalu berakhir sia-sia.

Kedua keluarga telah menandatangani berbagai kesepakatan bisnis. Bahkan tanggal, gedung, tamu undangan, hingga kerja sama perusahaan sudah diumumkan kepada para relasi.

Membatalkan pernikahan di saat seperti itu sama saja dengan menghancurkan nama baik dua keluarga besar.

Pada akhirnya, Vio hanya bisa pasrah.

"Aku minta maaf," ucap Vio lirih suatu hari.

 

Sebuah ballroom hotel berbintang lima telah disulap menjadi tempat pernikahan yang begitu megah. Ribuan bunga putih menghiasi setiap sudut ruangan. Para tamu undangan yang berasal dari kalangan pengusaha, pejabat, hingga tokoh penting mulai berdatangan.

Di ruang rias, Alena duduk memandangi dirinya di depan cermin.

Gaun pengantin putih yang begitu indah, wajahnya pun berseri-seri.

Seorang penata rias tersenyum.

"Nona cantik sekali hari ini."

Alena hanya membalas dengan senyum merekah.

Sementara itu, di ruang persiapan pria, Vio berdiri di depan cermin dengan setelan jas hitam yang membuatnya terlihat begitu gagah.

Namun, sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

Pikirannya justru melayang kepada seorang gadis yang berada ratusan kilometer darinya.

Zilia.

"Maafkan aku..."

Hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan dalam hati.

Musik pernikahan mulai mengalun.

Seluruh tamu berdiri ketika Vio berjalan menuju altar.

Tak lama kemudian, Alena menyusul dengan gaun pengantinnya.

Tatapan mereka bertemu.

Tak ada senyum bahagia dari Vio.

Tak ada sorot mata penuh cinta.

Yang ada hanyalah dipaksa berjalan menuju ikatan suci demi kepentingan keluarga.

Prosesi nikah pun dimulai.

Acara pun mulai, membacakan nasihat pernikahan sebelum akhirnya mempersilakan Vio mengucapkan ijab kabul.

Seluruh ruangan mendadak sunyi.

Semua mata tertuju kepada pewaris Mahendra Group itu.

Vio menundukkan kepala sejenak.

Di dalam benaknya, wajah Zilia kembali terbayang.

Janji yang pernah ia ucapkan di tepi danau.

"Aku akan kembali. Aku akan menjemputmu, melamarmu, lalu menikahimu."

Janji itu kini hancur di depan matanya sendiri.

Armand menatap putranya dengan tajam. Sebuah tatapan yang seolah berkata, jangan membuat masalah. Vio mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Beberapa detik kemudian, ia mengangkat kepalanya. Akhirnya mereka berdua pun telah sah menjadi suami istri.

Tepuk tangan memenuhi ballroom.

Armand dan Pak Wijaya saling berjabat tangan dengan wajah puas.

Bagi mereka, hari itu bukan hanya hari pernikahan dua anak, melainkan hari lahirnya kerja sama besar yang akan memperkuat kedua perusahaan.

Di balik kemeriahan itu, Vio dan Alena hanya saling menatap sesaat. Tak ada pelukan hangat.

Tak ada senyum penuh cinta. Mereka sadar, mulai hari itu status mereka memang telah berubah menjadi suami istri.

Namun, hati Vio masih dimiliki oleh orang lain.

Dan tanpa mereka sadari, di tempat yang jauh, seorang gadis bernama Zilia masih menunggu kepulangan lelaki yang pernah berjanji akan datang untuk melamarnya.

Ia belum tahu bahwa pada hari itu, lelaki yang dicintainya telah resmi menjadi suami perempuan lain.

Di tempat lain...

Pagi itu, wajah Zilia tampak berseri-seri. Selembar surat penerimaan kerja masih ia genggam erat sejak keluar dari perusahaan yang baru saja menerimanya sebagai karyawan.

Sesampainya di rumah, ia langsung mencari Ibu Retno yang sedang menyiram tanaman di halaman.

"Bu...!" panggil Zilia penuh semangat.

Ibu Retno menoleh.

"Kenapa? Senang sekali kelihatannya."

Zilia mengangkat surat di tangannya.

"Bu, Zilia diterima kerja! Zilia diterima di perusahaan besar di kota!"

Wajah Zilia begitu berbinar. Ia berharap wanita yang selama ini membesarkannya ikut merasakan kebahagiaan yang sama.

Namun, Ibu Retno hanya mengangguk pelan.

"Hm..."

Zilia langsung mengerucutkan bibir.

"Kok cuma 'hm', sih, Bu? Nggak ngucapin selamat atau gimana?"

Alih-alih menjawab, Ibu Retno masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah amplop berwarna cokelat.

"Nah, sekarang baca ini."

Zilia menerima amplop itu dengan wajah bingung.

"Apa ini, Bu?"

"Baca saja. Setelah itu, keputusan ada di tanganmu."

Zilia membuka amplop tersebut. Semakin lama membaca isinya, raut wajahnya berubah.

Senyumnya perlahan menghilang, berganti kekesalan.

"Apa-apaan ini?"

Tangannya mengepal.

"Papa memintaku pulang ke rumah utama? Bahkan... beliau sudah mengurus semua dokumen keberangkatanku ke luar negeri?"

Ibu Retno mengangguk pelan.

"Papa kandungmu ingin kamu melanjutkan kuliah di luar negeri."

"Aku nggak mau!"

Suara Zilia meninggi.

"Percuma aku susah-susah melamar kerja kalau akhirnya harus pergi. Aku ingin tetap di sini. Aku ingin kerja, menghasilkan uang, dan membahagiakan Ibu."

Ibu Retno menatap gadis itu dengan lembut.

"Zilia..."

"Aku juga nggak mau kembali ke rumah itu."

"Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kandungmu."

"Tapi selama ini siapa yang membesarkanku? Siapa yang selalu ada saat aku sakit? Siapa yang menemaniku sampai sekarang?" tanya Zilia dengan mata mulai berkaca-kaca.

"Ibu. Lalu kenapa sekarang beliau tiba-tiba ingin mengatur hidupku?"

Ibu Retno menarik napas panjang.

"Mungkin karena beliau baru sadar telah kehilangan banyak waktu bersamamu."

Zilia menggeleng kuat.

"Aku tetap nggak mau."

Suasana menjadi hening.

Beberapa saat kemudian, Ibu Retno kembali berbicara.

"Kalau alasanmu bertahan di sini karena pekerjaan, kesempatan itu bisa datang lagi."

"Bukan cuma itu, Bu."

"Lalu karena apa?"

Zilia menundukkan kepalanya.

"Ada Vio."

Ibu Retno memandangnya lekat.

"Kamu yakin dengan Vio?"

Zilia mengangguk tanpa ragu.

"Dia sudah berjanji akan kembali. Dia akan melamarku setelah semua urusannya selesai."

Mendengar itu, Ibu Retno tersenyum tipis, tetapi tatapannya menyimpan kekhawatiran.

"Janji memang indah didengar, Nak. Tapi hidup sering kali berjalan di luar rencana."

Zilia menggenggam kedua tangannya.

"Aku percaya sama Vio."

Ibu Retno mengusap lembut bahu gadis itu.

"Ibu tidak melarangmu percaya. Tapi sebelum kamu mengambil keputusan, pulanglah dulu menemui ayahmu."

"Buat apa?"

"Dengarkan sendiri apa yang ingin beliau sampaikan. Setelah itu, ambillah keputusan yang benar-benar kamu yakini."

Zilia masih terdiam.

"Ingat, Nak," lanjut Ibu Retno dengan suara tenang, "jangan mengambil keputusan hanya karena perasaan sesaat. Pilihlah jalan yang kelak tidak akan kamu sesali."

Zilia memandangi surat di tangannya. Di satu sisi ada pekerjaan impiannya dan janji Vio yang masih ia pegang erat. Di sisi lain, ada kesempatan melanjutkan pendidikan ke luar negeri yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup.

Tanpa disadarinya, sebuah pilihan besar telah menunggu di depan. Dan keputusan yang akan ia ambil nanti, perlahan akan membawanya semakin jauh dari lelaki yang hingga saat ini masih ia nantikan.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!