NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Malam Pertama Setelah Badai

Pesawat jatuh beberapa meter sebelum kembali terangkat.

Jeritan pecah di seluruh kabin. Kayla menahan tubuhnya pada sabuk pengaman, sementara kotak obat di galley menghantam pintu lemari.

Suara Monica terdengar tegas dari kursi awak kabin.

"Tetap duduk! Jangan lepaskan sabuk pengaman!"

Di kokpit, lampu cuaca memenuhi layar dengan warna merah dan ungu.

"Sel radar di depan membesar," kata Sean.

Adrian memegang kendali, mematikan autopilot, lalu menurunkan kecepatan ke batas penetrasi turbulensi. Tangannya mantap, meski otot rahangnya mengeras.

"Minta deviasi dua puluh derajat ke kanan. Beri tahu ATC kita tidak akan meneruskan jalur ini."

Sean menghubungi pengatur lalu lintas udara. Pesawat kembali dihantam arus naik. Hidungnya terangkat, lalu turun tajam.

Adrian tidak melawan setiap gerakan secara kasar. Ia menjaga sayap tetap rata dan membiarkan pesawat melewati aliran udara tanpa beban berlebihan.

Satu bayangan muncul di kepalanya.

Kayla duduk di kursi 4A.

Istrinya ada di belakang dinding kokpit, dan untuk pertama kalinya Adrian membenci kenyataan bahwa ia tidak bisa menoleh untuk memastikan perempuan itu baik-baik saja.

Namun di belakang Kayla ada lebih dari seratus penumpang lain.

Ia harus membawa mereka semua kembali ke tanah.

"Jalur kanan lebih bersih," lapor Sean.

"Kita ambil."

Adrian memiringkan pesawat perlahan. Getaran keras masih mengguncang badan pesawat, tetapi gumpalan merah pada radar mulai bergeser dari jalur mereka.

Di kabin, Kayla mendengar seseorang menangis dan orang lain berdoa. Ia sendiri ingin memejamkan mata, tetapi pasien diabetes di baris belakang terus muncul di pikirannya.

"Bu," katanya kepada istri pasien yang duduk di seberang lorong. "Suami Ibu masih sadar?"

Perempuan itu memeriksa, lalu mengangguk dengan wajah pucat.

"Masih, Dok."

"Bagus. Tetap pasang sabuk dan jangan berdiri."

Pesawat berguncang lagi. Kayla menekan telapak tangannya pada sandaran.

"Adrian," bisiknya. "Bawa kami turun."

Seolah menjawab, suara Adrian muncul dari pengeras kabin beberapa menit kemudian.

"Para penumpang, kita sudah melewati bagian terburuk. Cuaca di jalur pendekatan masih berubah cepat, jadi mohon tetap duduk dengan sabuk terpasang."

Tidak ada janji kosong dalam suaranya. Hanya informasi, perintah, dan ketenangan yang bisa dipegang.

Saat pesawat mendekati landasan, peringatan angin geser berbunyi di kokpit.

"Windshear."

"Go around."

Adrian menambah tenaga. Pesawat yang hampir menyentuh landasan kembali menanjak. Beberapa penumpang menjerit lagi, tetapi kali ini Kayla tidak ikut panik.

Ia mengenali keputusan yang benar ketika mendengarnya.

Lebih baik mengulang pendekatan daripada memaksa mendarat.

Dua belas menit kemudian, mereka mencoba lagi dari arah yang lebih aman. Ban utama akhirnya menyentuh landasan dengan hentakan keras. Mesin meraung saat pesawat melambat.

Lalu keheningan aneh memenuhi kabin.

Seorang penumpang bertepuk tangan. Yang lain menyusul sampai suara tepuk tangan memenuhi pesawat.

Kayla baru sadar bahwa kedua tangannya gemetar.

Begitu pesawat berhenti di apron, tim medis naik untuk memeriksa pasien diabetes. Kayla menyerahkan catatan singkat mengenai gejala, kadar gula, dan pertolongan yang telah diberikan.

Dokter bandara membaca catatan itu, lalu menatap Kayla. "Dokter juga?"

"IGD RS Sentosa."

"Penanganannya tepat. Kami lanjutkan observasi dan pemeriksaan gula darah."

Istri pasien memeluk Kayla sebentar sebelum mengikuti tandu suaminya. "Kalau Dokter tidak ada di pesawat tadi, saya tidak tahu harus bagaimana."

"Awak kabin juga bergerak cepat," jawab Kayla. "Yang penting Bapak sudah sadar."

Di depan pintu kokpit, Sean menyerahkan laporan gangguan cuaca kepada petugas operasi. Adrian memeriksa setiap halaman sebelum menandatangani. Tidak ada sorak kemenangan di wajahnya. Ia masih memastikan semua orang, dari penumpang sakit sampai awak kabin, benar-benar turun dengan selamat.

Setelah pasien dibawa turun, Kayla menunggu di dekat pintu depan.

Adrian keluar dari kokpit paling akhir. Seragamnya tetap rapi, tetapi ada garis lelah di antara alisnya.

Tatapannya langsung menemukan Kayla.

Ia berjalan mendekat tanpa memedulikan awak darat yang berlalu-lalang.

"Kamu terluka?"

"Tidak."

"Pusing? Mual?"

"Tidak."

Adrian masih memeriksa wajah dan tangannya.

Kayla meraih pergelangan tangannya. "Kapten, aku baik-baik saja."

Baru saat itu bahu Adrian turun sedikit.

"Bagus."

Monica berdiri beberapa langkah dari mereka. Ia melihat cara Adrian menahan tangan Kayla satu detik lebih lama daripada yang diperlukan.

"Kapten," panggilnya. "Boleh bicara sebentar?"

Kayla hendak menjauh, tetapi Adrian tidak melepaskan tangannya.

"Bicara saja."

Wajah Monica menegang. "Empat mata."

"Kalau soal penerbangan, Sean harus ikut. Kalau soal pribadi, istriku boleh mendengar."

Jawaban itu terlalu jelas untuk disalahartikan.

Monica menarik napas. "Sebelum kamu menikah, aku kira masih ada kesempatan. Aku hanya ingin tahu, pernikahan ini benar-benar pilihanmu atau bukan."

Kayla diam. Untuk sesaat, suara troli bagasi dan mesin kendaraan apron terasa menjauh.

Adrian menjawab tanpa ragu.

"Aku memilih menikah dengan orang yang kusukai."

Jari Kayla mengencang pada pergelangan tangannya.

Monica memaksakan senyum. "Aku mengerti. Maaf sudah bertanya."

Ia pamit kepada keduanya, lalu pergi bersama awak kabin yang lain. Tidak ada adegan panjang, tidak ada janji menunggu. Adrian telah menutup pintu itu di depan Kayla.

Dalam perjalanan menuju hotel, Kayla duduk terlalu tegak di kursinya.

Adrian meliriknya. "Lehermu sakit?"

"Tidak."

"Masih takut?"

"Tidak."

"Kamu marah?"

Kayla menoleh. "Kenapa aku harus marah?"

"Karena ada perempuan yang menyatakan perasaan kepada suamimu lima menit setelah pesawat mendarat."

"Aku justru sedang memikirkan jawaban suamiku."

Adrian terdiam.

Kayla menatap jalan basah di luar jendela. "Orang yang kamu sukai itu siapa?"

"Dokter yang tadi memeriksa pasien saat semua orang diminta duduk."

"Jawaban yang sangat aman."

"Aku baru saja mendaratkan pesawat. Aku sedang menyukai pilihan yang aman."

Kayla menahan senyum, tetapi gagal.

Hujan kembali turun ketika mereka tiba di hotel tepi pantai. Karena jadwal kru berubah setelah gangguan cuaca, Adrian mendapat waktu istirahat lebih panjang. Kamar untuk Kayla telah dipesan sebagai suite dengan dua ruang, tetapi pintu penghubung di antara keduanya terasa seperti lelucon.

Mereka makan malam di ruang tamu karena hujan menutup restoran luar. Adrian hampir tidak menyentuh nasi di piringnya.

Kayla mendorong mangkuk sup ke arahnya. "Tanganmu tidak gemetar saat memegang kendali. Sekarang malah tidak bisa memegang sendok?"

Adrian melihat jemarinya sendiri. Getaran kecil baru tampak setelah semua bahaya selesai.

Kayla duduk di sampingnya dan mengambil sendok itu. "Makan. Itu perintah dokter."

"Dokter yang tadi mengabaikan perintah duduk?"

"Aku tetap memakai sabuk saat turbulensi. Jangan memfitnah tenaga medis."

Adrian akhirnya makan. Mereka menghabiskan sup dalam diam yang tidak canggung. Setelah itu Kayla membawa kedua piring ke meja, sementara Adrian menerima pesan bahwa pesawat harus menjalani inspeksi sebelum terbang kembali.

"Besok kamu masih bertugas?" tanya Kayla.

"Tidak sebelum pesawat dan kru dinyatakan aman. Malam ini aku hanya perlu istirahat."

Kayla mengangguk, tetapi jantungnya mulai berdebar karena satu pertanyaan sederhana.

Beristirahat di kamar yang mana?

Kayla selesai mandi lebih dulu. Ketika keluar, Adrian berdiri di dekat jendela dengan kemeja gelap dan rambut masih basah.

Di balik kaca, kilat membelah langit Bali.

"Tadi di pesawat," kata Kayla, "apa kamu takut?"

"Ya."

Jawaban itu membuatnya berhenti.

"Karena cuacanya?"

Adrian menatapnya. "Karena istriku ada di belakang, dan aku tidak bisa memastikan dia baik-baik saja."

"Tapi kamu tetap memikirkan semua penumpang."

"Itu tugasku."

"Dan aku?"

Adrian berjalan mendekat. "Kamu alasan aku tidak boleh membuat satu kesalahan pun."

Jantung Kayla memukul keras. Ia teringat suara Adrian di pengeras kabin, tangannya yang tidak gemetar ketika seluruh pesawat berguncang, lalu wajah lelah yang langsung mencarinya setelah pintu kokpit terbuka.

Ia mengangkat tangan dan menyentuh pipi Adrian.

Laki-laki itu tidak bergerak lebih dekat.

"Kayla," katanya pelan. "Kalau aku menciummu sekarang, apakah kamu akan menyesal besok?"

Pertanyaan itu membuat tenggorokannya panas.

Malam pertama mereka tidak pernah memberi kesempatan untuk memilih. Obat, kamar yang salah, dan ingatan yang putus-putus telah merampasnya.

Malam ini Adrian menunggu.

Kayla maju dan mencium bibirnya lebih dulu.

Adrian masih menahan diri sampai Kayla mencengkeram kerah kemejanya. Baru kemudian lengannya melingkari pinggang Kayla dan menariknya mendekat.

Ciumannya hangat, dalam, tetapi tidak tergesa. Setiap kali napas Kayla berubah, pelukannya mengendur, memberi ruang untuk mundur.

Kayla tidak mundur.

"Katakan kalau kamu ingin aku berhenti," bisik Adrian.

"Aku tidak ingin kamu berhenti."

"Yakin?"

Kayla menatap matanya. "Aku sadar. Aku tahu siapa kamu. Dan aku memilih ini."

Sesuatu yang selama ini terkunci di wajah Adrian akhirnya runtuh.

Ia mencium Kayla lagi. Kali ini Kayla merasakan sisa ketakutan, lega, dan keinginan yang sejak pagi mereka sembunyikan di balik gurauan.

Adrian mengangkatnya perlahan. Kayla melingkarkan tangan ke lehernya, tidak karena kehilangan keseimbangan, tetapi karena ingin lebih dekat.

Di luar, hujan menelan suara laut. Di dalam kamar, tidak ada keluarga, perjanjian, atau kesalahan nomor kamar.

Hanya dua orang yang sama-sama berkata ya.

Malam bergerak tanpa terburu-buru. Adrian berhenti setiap kali Kayla memintanya menunggu, dan Kayla sendiri yang menariknya kembali. Ketika lampu kamar akhirnya dipadamkan, tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka.

Jauh setelah hujan mereda, Kayla berbaring dengan kepala di dada Adrian. Jemari laki-laki itu menyusuri rambutnya perlahan.

"Jadi," kata Kayla, "ini masih pernikahan kontrak?"

"Kontraknya tidak melarang aku menyukai istriku."

"Tapi kontraknya menyebut kamar terpisah."

"Aku siap membayar denda."

Kayla tertawa pelan. Adrian menunduk dan mencium keningnya.

Telepon di meja bergetar.

Sekali. Dua kali. Lalu terus-menerus.

Nama Martin muncul di layar, disusul pesan resmi dari rumah lama Gunawan.

Engkong Herman dan Ema Lanny memerintahkan Adrian membawa istrinya datang besok sore.

Di bawahnya ada satu kalimat tambahan.

Jika pernikahan itu tidak dibatalkan, keluarga Gunawan akan mengambil tindakan sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!