Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20: Ketika Hasrat Menguasai Logika
Suasana rapat internal siang itu dipenuhi suara presentasi, lembaran catatan yang dibolak-balik serta percakapan serius antar pegawai. Di antara mereka, Azka duduk di kursi dengan ekspresi tampak hadir, namun pikirannya mengembara jauh dari ruangan.
Ia menatap layar proyektor, tapi tak benar-benar melihat. Suara Noval yang menjelaskan data dan angka terdengar seperti gema dari kejauhan, sulit tertangkap secara utuh. Fokusnya kabur, pikiran kembali lagi pada satu hal atau lebih tepatnya, satu orang.
Masalah yang selama ini membebani hati masih terus menghantui, seperti bayangan tak pernah lelah mengikuti. Tapi hari ini sedikit berbeda, keraguan perlahan berubah menjadi sebuah bisikan gila.
Bagaimana jika ia benar-benar membuka diri pada Sesilia. Mengikuti perasaan yang sekian lama berusaha ia anggap tidak ada. Ia mengingat kalimat Sesilia saat di ruangannya, meskipun masih ambigu, tapi cukup membuat yakin terasa seperti memberi isyarat.
Namun ketika pikiran tengah melayang jauh, suara tegas membuyarkan lamunan. “Pak? Bisa kita lanjutkan rapatnya? Atau ditunda saja?” sindir Noval.
“Lho, kenapa?” kata Azka tidak mengerti.
Noval kemudian menjelaskan bahwa selama rapat dimulai, Azka sama sekali tidak memperhatikan. Ia khawatir kalau pemaparan laporan tak disimak dengan baik, Azka bisa mengambil keputusan yang salah.
“Tidak perlu, lanjutkan saja. Saya dari tadi menyimak, hasilnya sudah baik, makanya saya enggan berkomentar,” dalih Azka.
Rapat pun akhirnya dilanjutkan hingga selesai.
Azka kembali ke ruangan. Bukan memikirkan tentang hasil pemaparan laporan rapat barusan, tapi justru membayangkan apa saja yang bisa dilakukannya bersama Sesilia setelah ini.
Ketika sedang asik berkhayal, lagi-lagi menjadi buyar tapi kali ini karena suara ketukan pintu.
“Masuk,” sahut Azka.
Noval datang dengan wajah serius. Sedangkan Azka terlihat kecewa karena ia mengharapkan kedatangan sosok yang lain.
“Ada apa, Val?”
Setelah duduk di kursi, Noval mulai mempertanyakan tentang apa yang sedang terjadi padanya.
“Sekarang kamu kenapa lagi?” ucap Noval tanpa basa-basi.
“Kenapa apanya?” Azka balik bertanya.
Gemas dengan Azka yang bertele-tele, Noval minta agar ia berterus terang. “Saya tadi pagi melihat Sesilia membawakanmu kopi lagi. Saya sengaja tidak mengganggu kalian, karena saya pikir kamu ingin bicara personal sama dia tentang rencanamu untuk menghindarinya,” jelas Noval.
“Tapi saya tunggu cukup lama, Sesilia justru keluar sambil tersenyum. Saya boleh tahu? Kalian bicarakan apa? Atau lebih tepatnya, apa yang kamu bilang ke dia?”
Baru saja Azka ingin menjawab, Noval kembali berucap, “Ini kalau boleh ya, Pak, misalnya tidak boleh, bukan urusan saya juga.”
“Sekarang, saya sudah bisa jawab?” respons Azka yang kelihatan kesal karena Noval tidak memberikan kesempatan bicara.
Azka membenarkan posisi duduknya, ia kemudian mengatakan, “Mulai sekarang, saya minta kamu tidak perlu mencampuri persoalan saya dengan Sesilia. Biarkan itu menjadi urusan saya.”
Tak menduga Azka akan berbicara seperti itu, Noval berusaha untuk meyakinkan. “Tapi Pak, saya melakukan ini semua untuk kebaikanmu juga.”
“Hentikan. Jika kamu tidak ada urusan pekerjaan, silakan keluar dari ruangan saya,” tegas Azka.
Masih tak percaya Azka mengusirnya, Noval tersinggung, lalu keluar dari ruangan dengan perasaan kesal.
“Baik Pak, maaf, saya telah mengganggu waktu bapak,” ujar Noval menyudahi pertemuan.
Begitu Noval keluar, Azka kembali membayangkan rencana apa saja yang akan dilakukan untuk Sesilia. Ia kini benar-benar terselimuti oleh hasrat setelah merasa mendapatkan kode dari Sesilia tadi pagi.
***
Jam pulang kantor akhirnya tiba. Lantai demi lantai mulai sepi, suara sepatu tergesa menuruni anak tangga terdengar bersahutan.
Azka sudah berdiri di lobi gedung kantor. Kemejanya masih rapi, meski lengan sudah digulung ke siku. Di tangan kanannya, handphone digenggam tanpa benar-benar ia perhatikan. Pandangannya sesekali melirik ke arah lift, lalu kembali menatap pintu kaca otomatis yang terbuka dan menutup oleh lalu lalang karyawan.
Ia berdiri di sana bukan karena kebetulan, bukan pula karena urusan pekerjaan. Ada yang ia tunggu, Sesilia, berharap ada momen kecil bisa ia manfaatkan.
Beberapa menit berlalu, wanita yang dinantikan tak kunjung lewat. Justru Noval terlihat baru keluar dari lift, Azka segera menyembunyikan tubuh di pojok sudut gedung.
Ia tidak ingin Noval melihatnya.
Noval pun pergi menuju parkiran. Azka kembali melanjutkan penantian.
Tapi waktu terus berjalan hingga tiga puluh menit telah lewat. Sesilia tak kunjung kelihatan. Azka sempat berpikir apakah ia sudah pulang duluan tanpa sepengetahuannya.
Ia sebenarnya bisa saja menghubungi Sesilia via telepon, tapi ia merasa tidak percaya diri untuk melakukannya.
Suasana kantor mulai sepi membuat Azka memutuskan untuk kembali naik ke lantai atas. Ia ingin memeriksa apakah Sesilia sudah pulang atau masih berada di kantor.
Di dalam lift, Azka masih mempertimbangkan untuk menghubungi Sesilia lewat telepon. Namun siapa sangka kalau begitu pintu lift terbuka di lantai delapan, Sesilia sedang berdiri tepat di hadapannya.
“Pak Azka?” tanya Sesilia.
Azka hanya mengangguk.
“Lembur juga pak?”
Sesilia menekan tombol pintu agar tetap terbuka. “Bapak tidak keluar?” ujar Sesilia agak heran karena melihat Azka hanya diam.
“Oh, tidak. Saya tidak mau keluar,” jawab Azka, suasana menjadi kikuk.
Heran dengan jawaban Azka, wanita yang hobi mengenakan bando itu pun bertanya lagi. “Lalu, pak Azka ngapain ke atas?”
Pintu lift mulai menutup.
Tanpa jaim lagi, Azka mengutarakan niatnya.
“Saya nunggu kamu dari tadi, tapi kamu tidak muncul-muncul. Jadi saya cari kamu di kantor. Eh, kebetulan ketemu di sini,” jawab Azka.
“Oh gitu, memangnya ada apa Pak? Tumben,” Sesilia penasaran.
Azka terbata, tapi berusaha tetap tenang, “Saya ingin mengajak kamu minum kopi di kafe biasa. Sekaligus membahas materi rapat minggu depan,” ajaknya berdalih urusan pekerjaan.
“Wah, asik nih! Tapi pak Azka traktir, kan? Maklum Pak, anak rantau, tanggal tua lagi,” ujarnya manja.
“Iya. Kan saya yang ajak kamu,” jawab Azka.
Seketika saja Sesilia refleks memegang lengan tangan Azka dengan gembira, “Ayo! Makasih ya, Pak.”
Jantung Azka langsung berdetak sangat kencang. Ini merupakan posisi terdekatnya bersama Sesilia. Setelah keluar lift, mereka berjalan menuju parkiran. Azka membukakan pintu mobil untuk Sesilia.
“Wah, Pak Azka, romantis sekali. Pasti istri Bapak bahagia sekali punya suami seperti Pak Azka,” puji Sesilia.
Usai menutup pintu mobil, Azka kemudian lari berputar di depan mobil, bergerak ke pintu pengemudi.
“Sudah? Tidak ada yang ketinggalan?” tanya Azka.
“Yah, iya lagi, ada yang ketinggalan Pak.”
Azka bertanya apa yang tertinggal, namun ia kemudian menjawab, “Kenanganku bersamanya,” canda Sesilia sambil berpura-pura menangis tersedu.
Menanggapi gurauan itu, telapak tangan kiri Azka bergerak menuju kepala Sesilia, lalu menggerakannya beberapa kali untuk menghamburkan rambut Sesilia.
“Ampun Pak, ampun,” pinta Sesilia terkekeh.