NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Gosip di Arisan

“Enam ratus juta.”

Fransisca mengucapkan angka itu di ruang tamu sebuah rumah besar di Menteng, lalu menyesap teh seolah baru membagikan fakta.

Para perempuan dalam pertemuan arisan langsung mendekat.

“Enam ratus juta apa, Ci?”

“Uang yang dulu dipakai Rena untuk masuk ke keluarga Halim. Katanya bantuan pernikahan, tapi siapa tahu?” Fransisca merendahkan suara. “Keluarganya bangkrut. Orang dalam membantu dia mendekati Papa, lalu dia mendapat rumah dan status.”

Yovita yang duduk di seberang meja mengangkat alis. “Kamu punya bukti?”

“Cheryl tahu cerita lama mereka.”

“Cheryl juga mengaku melukis karya Rena.”

Beberapa perempuan menahan senyum. Wajah Fransisca mengeras.

“Itu salah paham. Lagi pula, Cheryl bilang Rena selalu pintar mengambil milik orang lain. Bahkan jatah obat impor untuk keluarganya juga pernah dia rebut.”

Ucapan tersebut berpindah dari meja arisan ke grup WhatsApp sebelum pertemuan selesai. Sore harinya, sebuah akun gosip kecil mengunggah judul tentang pramugari bangkrut yang membeli jalan ke keluarga Halim dengan enam ratus juta rupiah.

Di kolom komentar, cerita itu tumbuh semakin liar. Ada yang menyebut Renata sengaja mendekati Opa William di rumah sakit. Ada yang mengarang bahwa Vila Kenari merupakan hadiah pertunangan. Seorang pengguna bahkan mengunggah foto lama Yolanda dari luar tempat perawatan dan bertanya apakah biaya rawatnya dibayar keluarga Halim.

Yovita membaca unggahan tersebut dalam perjalanan pulang. Ia mengirim satu peringatan ke grup arisan.

Tante Vita: Jangan bawa pasien yang tidak terlibat ke internet. Foto ini harus dihapus.

Fransisca tidak menanggapi. Sebaliknya, dua akun lain mengunggah ulang foto yang sama dengan wajah Yolanda tidak ditutup.

Di situlah gosip berubah dari ejekan menjadi ancaman nyata.

Tania menelepon Renata sambil memaki.

“Aku datang ke rumah Tante Sisca sekarang. Biar aku tanya enam ratus juta itu jatuh dari langit mana.”

Renata duduk di ruang kerja Puri Teratai, masih mengenakan headset proyek Purnama.

“Jangan ribut. Aku urus sendiri.”

“Mereka bilang kamu mencuri obat Mama sendiri, Rena!”

Jemari Renata berhenti di atas papan ketik.

Di samping laptop terdapat tagihan terbaru tempat perawatan Yolanda. Biaya obat bulan ini naik lagi. Angka-angka itu mengingatkannya pada minggu ketika jatah obat ibunya benar-benar dipindahkan kepada Yulia dan hampir membuat kondisi Yolanda memburuk.

“Justru karena menyangkut Mama, aku nggak mau asal marah,” katanya.

Renata membuka arsip audit resmi dari penyedia obat. Dokumen tersebut mencatat bahwa slot impor Yolanda dipindahkan atas permintaan berkas yang berkaitan dengan Yulia, lalu dikembalikan setelah ditemukan pelanggaran prosedur.

Ia tidak perlu menyentuh akun pribadi siapa pun.

Tania memantau unggahan publik dan menemukan delapan akun kecil memakai susunan kalimat yang sama. Salah satu akun mencantumkan kontak tarif promosi. Melalui jalur bisnis resmi, Tania meminta invoice untuk kampanye serupa.

Nomor rekening penerima cocok dengan bukti pembayaran yang dikirim sukarela oleh seorang anggota arisan kepada Yovita. Perempuan itu mulai takut namanya ikut terseret dan meneruskan voice note Fransisca sebagai bukti bahwa dirinya hanya menerima cerita.

Di rekaman tersebut, suara Fransisca terdengar jelas.

Cheryl bilang sebar saja bagian enam ratus juta. Kalau orang mulai kasihan lagi sama Rena, angkat urusan obat. Nanti akun-akun itu bantu dorong.

Pesan berikutnya berasal dari Cheryl.

Tante nggak perlu sebut namaku. Biar mereka pikir cerita ini muncul alami.

Tania bersiul dari sambungan video. “Niat sekali. Kita lempar semua ke publik?”

“Tidak.”

Renata menyusun satu paket ringkas: rekaman lengkap tanpa potongan menyesatkan, invoice kampanye, perbandingan delapan unggahan, serta halaman audit obat yang sudah menutup data kesehatan Yolanda.

“Kirim anonim ke tiga orang di grup arisan yang tadi ikut meneruskan gosip,” katanya. “Jangan unggah alamat, rekening lengkap, atau berkas medis.”

Sebelum dikirim, Renata membuat sidik digital untuk setiap berkas dan menyimpan versi asli bersama Gerald. Jika Fransisca menuduh rekaman dipotong atau dipalsukan, sumber lengkap dapat diperiksa melalui jalur hukum.

Ia juga mengirim permintaan penghapusan foto Yolanda kepada platform dan akun pengunggah. Foto pertama turun dalam beberapa menit karena menyangkut pasien rentan. Dua akun yang mengulangnya mendapat pembatasan.

“Aku ingin membekukan semua akun mereka,” kata Tania.

“Kita hanya laporkan pelanggaran yang benar-benar ada.”

“Mereka nggak pernah memberi kita batas.”

“Itu alasan kita harus punya batas.”

“Kenapa cuma ke mereka?”

“Karena orang yang suka bergosip juga paling cepat membetulkan cerita kalau merasa dibohongi.”

Paket pertama dikirim pukul sembilan malam.

Tiga menit kemudian, salah satu perempuan menghapus pesan tentang enam ratus juta. Yang lain bertanya di grup apakah Fransisca dibayar untuk menyebarkan fitnah. Tangkapan layar invoice muncul, disusul voice note.

Fransisca: Siapa yang menyebarkan percakapan pribadi?

Yovita: Yang lebih penting, kenapa kamu membawa nama Papa untuk kampanye bayaran?

Anggota arisan lain: Dan audit obat menunjukkan jatah ibunya Rena yang dipindahkan. Bukan sebaliknya.

Percakapan berbalik begitu cepat.

Keesokan siang, kursi di sebelah Fransisca kosong ketika beberapa anggota arisan bertemu untuk makan siang. Undangan pada acara amal berikutnya juga tidak lagi menyertakan namanya sebagai pengurus. Tak ada pengumuman resmi bahwa ia dijauhi. Dalam lingkaran seperti itu, pengucilan selalu dilakukan melalui pintu yang tidak dibukakan dan pesan yang tidak dibalas.

Cheryl mencoba menelepon dua perempuan yang biasa membelanya. Satu menolak panggilan. Yang lain menjawab singkat bahwa ia tidak ingin terlibat kampanye bayaran.

Aliansi yang mereka kira kuat mulai retak hanya karena masing-masing takut menjadi orang berikutnya yang terbukti berbohong.

Perempuan yang siang tadi menyebut Renata pemburu harta kini menulis bahwa ia selalu meragukan cerita Cheryl. Akun gosip kecil menghapus unggahan setelah menerima permintaan koreksi beserta ancaman laporan pencemaran nama baik dari Gerald.

Renata tidak meminta permintaan maaf publik. Ia hanya memastikan salinan koreksi berada di tempat yang sama dengan kebohongan awal.

Tania menyandarkan wajah ke tangannya di layar. “Kurang puas. Harusnya kita bikin Tante Sisca minta maaf sambil live.”

“Kalau dipaksa, dia akan bilang dirinya korban.”

“Kamu ini terlalu tenang.”

Renata menatap tagihan perawatan Yolanda. “Aku marah. Makanya aku nggak boleh ceroboh.”

Ia membayar cicilan bulan itu, menyimpan bukti transfer, lalu mengarsipkan seluruh kampanye fitnah ke folder bukti.

Ponselnya berbunyi dari nomor yang tidak dikenal.

Sebuah voice note berdurasi enam detik masuk.

Kamu pikir sudah menang? Nathan tetap milikku.

Suara Cheryl tidak mungkin keliru.

Renata menyimpan berkas asli beserta waktu penerimaan, lalu memasukkan nomor tersebut ke daftar pengawasan bukti.

Ia tidak membalas.

Di layar lain, arisan yang semula menghakiminya kini sibuk membahas siapa yang sebenarnya berbohong.

Renata menutup laptop.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!