Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KITA HARUS TAHU BATAS
Pesawat mendarat pukul 22.15.
Alya masih mengingat kalimat Raka sebelum mereka tiba.
“Saya tidak ingin kamu menjaga jarak.”
Kalimat itu tidak pernah benar-benar diucapkan.
Setidaknya tidak secara langsung.
Namun cara Raka memandangnya membuat Alya merasa seolah-olah pria itu sedang mengatakan hal yang sama.
Dan itu membuat Alya takut.
Bukan takut kepada Raka.
Tetapi takut kepada dirinya sendiri.
Karena semakin Raka mendekat, semakin sulit baginya untuk mengingat bahwa pria itu adalah atasannya.
Begitu mereka keluar dari bandara, mobil perusahaan sudah menunggu.
Sopir membukakan pintu.
Raka masuk lebih dulu.
Alya berdiri di samping pintu.
“Pak, saya bisa pulang sendiri.”
Raka menatapnya.
“Sudah malam.”
“Saya bisa pesan kendaraan.”
“Saya antar.”
“Tidak perlu.”
Raka menghela napas.
“Alya.”
Nada suaranya membuat Alya berhenti membantah.
“Baik.”
Dia masuk.
Mereka duduk berdampingan.
Sepanjang perjalanan, keduanya diam.
Berbeda dengan perjalanan berangkat tadi pagi.
Tidak ada candaan.
Tidak ada perdebatan.
Tidak ada pembicaraan kecil.
Hanya suara mesin mobil dan jalanan malam.
Alya akhirnya membuka suara.
“Pak.”
“Ya?”
“Besok Bapak ada meeting pagi?”
“Tidak.”
“Berarti saya datang seperti biasa?”
“Ya.”
Alya mengangguk.
Kemudian kembali diam.
Raka meliriknya.
“Kamu masih memikirkan tadi?”
Alya menoleh.
“Tadi apa?”
“Di pesawat.”
Alya tersenyum tipis.
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak mengatakan sesuatu yang membingungkan.”
Raka terdiam.
“Apa?”
Alya menatap tangannya sendiri.
“Bapak bilang tidak ingin saya menjaga jarak.”
Raka tidak menjawab.
Alya melanjutkan,
“Tapi kita memang harus menjaga jarak, kan?”
Raka menatap jalan.
“Secara profesional, iya.”
“Nah.”
Alya menghela napas.
“Makanya saya bingung.”
Raka akhirnya menoleh.
“Kalau saya minta kamu tetap dekat?”
Alya terdiam.
“Bapak tidak boleh meminta itu.”
“Kenapa?”
“Karena Bapak atasan saya.”
Raka tidak membantah.
Alya menatap keluar jendela.
“Kalau kita sama-sama salah memahami keadaan, yang paling mungkin terluka nanti saya.”
Raka mengerutkan kening.
“Kenapa kamu?”
“Karena posisi kita tidak sama.”
Kalimat itu membuat Raka diam cukup lama.
Alya benar.
Dia punya jabatan.
Kekuasaan.
Nama besar.
Sedangkan Alya hanya seorang karyawan yang sedang membangun karier.
Jika hubungan mereka menjadi masalah, dampaknya tidak akan sama bagi keduanya.
Raka menarik napas.
“Kamu benar.”
Alya menoleh.
“Bapak tidak marah?”
“Tidak.”
“Tumben.”
Raka tersenyum kecil.
“Saya bisa menerima kalau kamu benar.”
Alya ikut tersenyum.
“Bagus.”
Mobil terus berjalan.
Namun setelah percakapan itu, sesuatu terasa lebih jelas.
Mereka sama-sama tahu ada sesuatu.
Mereka hanya belum berani menyebut namanya.
DI DEPAN RUMAH ALYA
Mobil berhenti.
Alya membuka pintu.
“Terima kasih, Pak.”
Raka mengangguk.
“Besok jangan terlalu pagi.”
Alya tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kamu baru pulang.”
“Bapak juga.”
“Saya terbiasa.”
Alya menatapnya.
“Jangan terlalu memaksakan diri.”
Raka mengangkat alis.
“Sekarang kamu yang mengatur saya?”
“Iya.”
Raka tersenyum.
“Baik.”
Alya turun.
Sebelum menutup pintu, dia berkata,
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Pintu tertutup.
Raka melihat Alya berjalan menuju rumah.
Dia menunggu sampai Alya membuka pintu dan masuk.
Baru kemudian mobil bergerak.
Sopir diam.
Namun setelah beberapa menit, dia bertanya,
“Langsung ke rumah, Pak?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Kemudian dia melihat ponsel.
Tidak ada pesan.
Dia menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Akhirnya ponselnya bergetar.
Sudah masuk rumah. Terima kasih sudah mengantar.
Raka tersenyum.
Dia membalas:
Istirahat.
Alya:
Bapak juga.
Raka meletakkan ponsel.
Entah kenapa, dua kata terakhir itu membuat malamnya terasa lebih tenang.
PAGI BERIKUTNYA
Pukul 09.05.
Alya tiba di kantor.
Sedikit terlambat dari biasanya.
Dia langsung menuju meja.
“Pagi.”
Maya menoleh.
“Pagi.”
Alya meletakkan tas.
“Pak Raka sudah datang?”
Maya tersenyum.
“Sudah.”
“Meeting?”
“Tidak ada.”
Alya mengangguk.
Dia menyalakan laptop.
Tidak sampai satu menit kemudian—
pintu ruang Raka terbuka.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Ya, Pak?”
“Masuk.”
Maya langsung menahan senyum.
Alya masuk.
Raka sedang berdiri di dekat jendela.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka melihat jam.
“Kamu terlambat.”
Alya mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Macet.”
Raka menatapnya.
“Baik.”
Alya mengerutkan kening.
“Tidak dimarahi?”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Kamu baru pulang malam.”
Alya terdiam.
Raka kemudian berkata,
“Lain kali jangan terlalu memaksakan diri.”
Alya tersenyum.
“Bapak juga.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya menunggu.
“Bapak memanggil saya untuk apa?”
Raka tampak berpikir.
Kemudian menunjuk sebuah map.
“Ini.”
Alya mengambilnya.
“Laporan?”
“Iya.”
“Harus selesai kapan?”
“Besok.”
Alya membuka map.
“Baik.”
Dia berdiri.
Namun Raka berkata,
“Dan satu lagi.”
Alya menoleh.
“Ya?”
“Kopi.”
Alya tersenyum.
“Bapak mau?”
“Iya.”
“Americano?”
“Ya.”
“Tanpa gula?”
“Ya.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia keluar.
Begitu pintu tertutup, Raka duduk.
Ada rasa lega yang aneh.
Hal kecil seperti kopi.
Namun dia baru sadar betapa dia merindukan rutinitas itu.
PUKUL 10.00
Alya membawa kopi.
Dia meletakkannya di meja Raka.
“Ini.”
“Terima kasih.”
Alya hendak pergi.
Namun Raka berkata,
“Alya.”
“Ya?”
“Kamu masih marah?”
Alya menoleh.
“Tidak.”
“Masih ingin menjaga jarak?”
Alya terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Sedikit.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya mengangkat alis.
“Bapak menerima begitu saja?”
“Ya.”
“Tidak mencoba membantah?”
“Tidak.”
“Tumben.”
Raka menatapnya.
“Saya tidak mau membuatmu tidak nyaman.”
Alya terdiam.
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa penting.
“Terima kasih, Pak.”
Raka mengangguk.
Alya keluar.
Di luar, dia berdiri sebentar.
Dadanya terasa hangat.
Mungkin Raka benar-benar mulai memahami batas.
Dan anehnya—
itu justru membuat Alya semakin menyukainya.
PUKUL 13.00
Siang itu ada masalah.
Salah satu klien membatalkan kontrak secara sepihak.
Nilainya cukup besar.
Raka langsung mengadakan meeting.
Alya ikut.
Suasana ruangan tegang.
Manajer marketing menjelaskan,
“Mereka mengatakan strategi kita tidak sesuai dengan target awal.”
Raka bertanya,
“Siapa yang menyetujui target itu?”
Manajer tersebut diam.
Alya membaca dokumen.
“Pak.”
Raka menoleh.
“Ya?”
“Target awal memang terlalu tinggi.”
Manajer marketing menatap Alya.
“Bu Alya…”
Alya melanjutkan,
“Dan proposal yang dikirim ke klien menggunakan angka yang sama.”
Raka mengambil dokumen.
Dia membacanya.
Kemudian menatap manajer.
“Kenapa?”
Manajer terlihat gugup.
“Waktu itu…”
“Kenapa?”
“Karena kami ingin memenangkan kontrak.”
Raka menghela napas.
“Dan sekarang kita kehilangan kontrak.”
Ruangan hening.
Alya melihat Raka.
Dia tahu pria itu sedang marah.
Namun Raka tidak membentak.
Dia hanya berkata,
“Cari solusi.”
Meeting selesai.
Setelah semua orang keluar, Alya masih berada di ruangan.
Raka menatapnya.
“Kamu punya ide?”
Alya mengangguk.
“Mungkin.”
“Jelaskan.”
“Jangan langsung mengejar kontrak.”
Raka mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena klien sedang kecewa.”
“Lalu?”
“Kita akui kesalahan.”
Raka diam.
“Dan tawarkan revisi target yang realistis.”
“Kalau mereka tetap menolak?”
“Kita kehilangan kontrak.”
Raka menatapnya.
“Kamu berani mengatakan itu?”
Alya mengangguk.
“Lebih baik kehilangan satu kontrak daripada mempertahankan kontrak yang sejak awal tidak sehat.”
Raka terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
“Kirimkan konsepnya.”
“Baik.”
Alya berdiri.
Namun Raka berkata,
“Dan Alya.”
“Ya?”
“Jangan pernah takut mengatakan sesuatu yang menurutmu benar.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
PUKUL 16.30
Konsep Alya ternyata diterima.
Klien bersedia melakukan pertemuan ulang.
Raka mengirimkan email kepada seluruh tim.
Pertemuan berhasil dijadwalkan ulang.
Alya membaca email itu.
Dia tersenyum.
Beberapa menit kemudian Raka keluar.
“Alya.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
“Kamu membantu menyelesaikan masalah.”
Alya mengangguk.
“Bagian dari pekerjaan.”
Raka menatapnya.
“Tidak hanya itu.”
Alya terdiam.
Raka melanjutkan,
“Kamu punya cara berpikir yang bagus.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Raka masuk kembali.
Namun kali ini Alya tidak bisa berhenti tersenyum.
Pujian itu berbeda.
Dia merasa Raka benar-benar melihat kemampuannya.
Bukan sekadar sebagai asistennya.
PUKUL 18.00
Kantor mulai sepi.
Alya sedang merapikan meja.
Raka keluar membawa jas.
“Kamu pulang?”
“Iya.”
“Bagus.”
Alya melihat jasnya.
“Bapak ada acara?”
“Dinner dengan investor.”
“Oh.”
Alya mengangguk.
“Selamat makan.”
Raka berjalan beberapa langkah.
Kemudian berhenti.
“Kamu mau ikut?”
Alya terkejut.
“Sebagai apa?”
“Sebagai asisten.”
Alya tersenyum.
“Bapak serius?”
“Iya.”
Alya melihat jam.
“Boleh.”
Mereka berjalan menuju lift.
Namun ketika pintu lift terbuka—
seorang perempuan sudah berdiri di dalam.
Clara.
Alya langsung terdiam.
Clara melihat Raka.
Kemudian Alya.
Senyumnya menghilang sedikit.
“Oh.”
Raka masuk.
Alya mengikutinya.
Clara berdiri di tengah mereka.
“Raka.”
“Clara.”
“Aku kira malam ini kamu makan sendiri.”
“Saya ada urusan.”
Clara melihat Alya.
“Dengan asistenmu?”
Raka mengangguk.
“Iya.”
Clara tersenyum tipis.
“Menarik.”
Alya tidak berkata apa-apa.
Lift turun.
Clara kemudian berkata,
“Raka, kita perlu bicara setelah ini.”
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Saya ada makan malam.”
Clara menatap Alya.
Kemudian kembali menatap Raka.
“Baik.”
Pintu lift terbuka.
Clara keluar lebih dulu.
Sebelum pergi, dia berkata,
“Jangan sampai kamu menyesal.”
Pintu tertutup.
Alya menatap Raka.
“Dia maksud apa?”
Raka diam.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Tidak ada.”
“Pak.”
Raka menatapnya.
“Clara hanya masa lalu.”
Alya terdiam.
“Dan kamu…”
Raka berhenti.
“Apa?”
Dia hampir mengatakan sesuatu.
Namun akhirnya hanya berkata,
“Kamu jangan khawatir.”
Alya mengangguk.
Namun kalimat itu justru membuatnya semakin penasaran.
MAKAN MALAM
Restoran cukup tenang.
Raka duduk di satu sisi meja.
Alya di seberangnya.
Mereka membahas pekerjaan.
Tidak ada yang aneh.
Sampai Alya tiba-tiba bertanya,
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak pernah benar-benar mencintai Clara?”
Raka diam.
Pertanyaan itu membuat suasana berubah.
“Pernah.”
Alya menunduk.
“Oh.”
“Dulu.”
Alya mengangguk.
“Kenapa berakhir?”
Raka menarik napas.
“Karena kami menginginkan kehidupan yang berbeda.”
Alya menatapnya.
“Masih ada perasaan?”
Raka diam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Tidak seperti dulu.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Raka menatapnya.
“Kenapa kamu bertanya?”
“Tidak tahu.”
“Cemburu?”
Alya langsung mengangkat wajah.
“Tidak.”
Raka tersenyum tipis.
“Kamu yakin?”
“Yakin.”
“Bagus.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa Bapak terlihat senang?”
Raka tidak menjawab.
Makanan datang.
Percakapan berhenti.
Namun kali ini keduanya tahu—
mereka sudah mulai memasuki wilayah yang seharusnya tidak mereka masuki.
SETELAH MAKAN MALAM
Mereka keluar dari restoran.
Udara malam cukup dingin.
Alya berjalan di samping Raka.
“Pak.”
“Hm?”
“Terima kasih sudah menjelaskan tentang Clara.”
Raka mengangguk.
“Saya tidak ingin kamu salah paham.”
Alya menatapnya.
“Bapak tidak perlu menjelaskan.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa?”
Raka berhenti berjalan.
Alya ikut berhenti.
Raka menatapnya.
“Karena saya peduli apa yang kamu pikirkan tentang saya.”
Alya terdiam.
Jantungnya berdebar.
“Pak…”
Raka melanjutkan,
“Dan saya tahu saya mungkin sudah membuat kamu bingung.”
Alya tidak menjawab.
“Maaf.”
Itu pertama kalinya Raka meminta maaf kepadanya.
Alya tersenyum kecil.
“Tidak apa-apa.”
Mereka saling menatap.
Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Namun Raka mundur satu langkah.
Seolah mengingatkan dirinya sendiri.
“Kita harus hati-hati.”
Alya mengangguk.
“Iya.”
“Karena saya atasanmu.”
“Iya.”
“Dan kamu…”
Raka berhenti.
“Kamu penting bagi saya.”
Alya menahan napas.
Kalimat itu begitu sederhana.
Namun cukup untuk membuat seluruh pertahanannya runtuh sedikit.
Raka berbalik.
“Ayo.”
Mereka berjalan kembali menuju mobil.
Tidak ada pengakuan cinta.
Belum.
Tetapi malam itu, Alya tahu satu hal.
Perasaannya bukan lagi sekadar kagum.
Dan Raka juga tahu—
menjaga jarak ternyata jauh lebih sulit daripada yang dia kira.
Karena semakin dia mencoba bersikap profesional…
semakin jelas satu kenyataan yang tidak bisa lagi dia abaikan:
Alya bukan lagi sekadar asistennya.
Dia sudah menjadi seseorang yang keberadaannya mulai memiliki tempat khusus di hidup Raka.
Dan itu adalah awal dari masalah yang jauh lebih besar.