NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Menjadi Ibu Tiri Dari Anak Sang Kapten Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Perperangan / Akademi Sihir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Author Raf

Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.

Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.

Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.

Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.

Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.

Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Sisi Lain Sang Penskluk Badai

Keheningan malam kembali menguasai The Sky Leviathan setelah badai magnetik barat berhasil ditaklukkan.

Kapal layar terbang raksasa itu kini meluncur dengan tenang di atas hamparan awan yang berkilau keperakan di bawah siraman cahaya bulan purnama.

Di dalam kabin utama, anak-anak telah tertidur lelap akibat kelelahan emosional setelah menghadapi ketegangan besar beberapa jam yang lalu.

Toby meringkuk nyaman di ranjangnya, sementara Leo dan Rin telah kembali ke kamar mereka masing-masing dengan hati yang jauh lebih tenang.

Clara melangkah keluar dari koridor sayap kiri, membawa sebuah nampan perak berisi secangkir teh herbal hangat dari daun kamomil langit yang dicampur madu hutan.

Langkah kakinya yang ringan bergaung lembut di atas karpet tebal saat ia meniti anak tangga menuju dek pengamatan atas, tempat di mana Bernet memberi tahu bahwa sang Kapten belum juga beristirahat sejak badai mereda.

Saat mendorong pintu kayu menuju dek luar, hembusan angin malam yang dingin langsung menyapa kulit wajah Clara. Di sana, bersandar pada pembatas perak kapal dengan tatapan kosong lurus ke arah cakrawala, berdiri Kapten Alden.

Pria itu telah mengganti pakaian militernya yang basah dengan kemeja hitam longgar. Namun, bahu tegapnya tampak merosot, tidak setegak biasanya saat ia berdiri di depan para pasukannya.

Sepasang mata abu-abu badainya memancarkan keletihan yang teramat sangat, bukan hanya keletihan fisik akibat bertempur melawan elemen alam, melainkan keletihan jiwa yang telah lama ia sembunyikan di balik topeng ketegasannya.

"Anda bisa jatuh sakit jika terus berdiri di bawah angin malam dengan rambut setengah basah seperti itu, Kapten," tegor Clara lembut sembari melangkah mendekat.

Alden tersentak kecil dari lamunannya. Ia menoleh, memperhatikan kehadiran Clara yang berjalan ke arahnya dengan gaun malam yang dilapisi jubah wol hangat. Tatapan Alden sempat tertuju pada sepasang sarung tangan perak tipis yang masih melekat pas di tangan Clara.

"Kenapa kau belum tidur, Clara? Tugasmu menjaga anak-anak sudah selesai untuk hari ini," kata Alden, suaranya terdengar serak dan berat.

"Anak-anak sudah tidur dengan sangat nyenyak, Alden. Sekarang adalah tugas saya untuk memastikan sang Kapten juga tidak mengabaikan kesehatannya sendiri," jawab Clara dengan senyum tipis.

Ia meletakkan nampan perak di atas meja kecil dekat kemudi, lalu menyodorkan cangkir teh hangat itu kepada suaminya. "Minumlah. Ini akan membantu meredakan ketegangan di saraf Anda."

Alden menatap cangkir teh itu sesaat sebelum akhirnya menerimanya. Kehangatan dari porselen menjalar ke telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan akibat bertahun-tahun memegang kemudi kapal dan pedang perang.

Ia meminum teh herbal itu dalam beberapa tegukan lambat, membiarkan aroma kamomil yang menenangkan mengalir di tenggorokannya.

"Terima kasih," gumam Alden, meletakkan kembali cangkir kosong itu ke atas nampan. Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap samudra awan di bawah mereka. "Tadi sore... kau memanggil namaku tanpa gelar."

Wajah Clara memerah samar di bawah temaram cahaya bulan, namun ia tetap mempertahankan ketenangannya. "Apakah itu membuat Anda merasa tidak nyaman, Kapten? Jika iya, saya meminta maaf. Di tengah situasi genting tadi, saya hanya ingin Anda tahu bahwa Anda tidak sedang menghadapi badai itu sendirian sebagai seorang komandan, melainkan ada sebuah keluarga yang menunggu Anda kembali di dalam kabin."

Alden terdiam untuk beberapa saat yang cukup lama. Lolongan angin malam menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di antara mereka. Pria itu mencengkeram pembatas perak kapal dengan erat, hingga rona putih muncul di buku-buku jarinya.

"Sudah lima tahun, Clara," bisik Alden tiba-tiba, sebuah awal dari pengakuan yang tidak pernah ia bagikan kepada siapa pun sebelumnya di atas kapal ini.

"Lima tahun sejak mendiang istriku tiada akibat tragedi mengerikan itu. Sejak hari itu, setiap kali kapal ini menghadapi badai atau serangan musuh, aku selalu berdiri di ruang kemudi dengan satu ketakutan terbesar yang menghantui kepalaku."

Alden menoleh perlahan, menatap Clara dengan sepasang mata yang kini tampak begitu rapuh, menanggalkan seluruh otoritas militernya. "Aku takut jika aku membuat satu saja kesalahan dalam navigasi, kapal ini akan jatuh, dan aku akan kehilangan anak-anakku seperti aku kehilangan ibunya. Semua orang di Kekaisaran Langit menganggapku sebagai Sang Penakluk Badai yang tidak memiliki rasa takut. Mereka menganggapku monster perang yang kejam. Namun kenyatannya... aku hanyalah seorang ayah yang ketakutan setengah mati setiap kali langit mulai menggelap."

Hati Clara berdenyut nyeri mendengar pengakuan jujur dari pria di hadapannya. Di balik reputasi agung dan jubah hitamnya yang mengintimidasi, Alden hanyalah seorang manusia biasa yang memikul beban yang terlalu berat sendirian.

Pria itu harus menjadi perisai bagi seluruh kru kapal, sekaligus menjadi benteng pertahanan bagi ketiga anak blasterannya yang trauma, tanpa pernah memiliki tempat untuk bersandar atau membagikan ketakutannya sendiri.

Clara melangkah maju satu langkah, memperkecil jarak di antara mereka hingga ia bisa merasakan kehangatan tubuh Alden di tengah dinginnya angin malam.

Dengan gerakan yang sangat lembut, Clara meletakkan tangan kanannya yang terbalut sarung tangan perak di atas punggung tangan Alden yang sedang mencengkeram pembatas kapal.

"Anda bukan monster, Alden. Dan Anda tidak gagal sebagai seorang ayah," kata Clara dengan nada suara yang bergetar penuh empati yang mendalam. "Ketakutan Anda adalah bukti betapa besar rasa cinta Anda kepada Leo, Rin, dan Toby. Selama lima tahun ini, Anda telah menjaga mereka tetap hidup di tengah dunia yang kejam ini, dan itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang pria yang berjuang sendirian."

Clara menatap lurus ke dalam sepasang mata abu-abu badai milik Alden, memberikan seluruh ketulusan dan kekuatan batin yang ia miliki melalui tatapannya.

"Namun mulai hari ini, Anda tidak perlu memikul beban ketakutan itu sendirian lagi. Saya mungkin tidak memiliki sihir untuk membantu Anda mengemudikan kapal ini di tengah badai, tetapi saya memiliki sepasang tangan untuk memeluk anak-anak Anda saat mereka ketakutan, dan saya memiliki hati yang akan selalu mendoakan keselamatan Anda setiap kali Anda pergi bertempur. Bagilah beban itu bersama saya, Alden."

Kata-kata Clara mengalir masuk ke dalam relung hati Alden seperti air segar yang membasahi tanah kering yang telah lama gersang. Cengkeraman tangan Alden pada pembatas besi perlahan mengendur.

Pria itu membalikkan telapak tangannya, lalu membalas genggaman tangan Clara. Jari-jemarinya yang besar dan kokoh menyelusup di antara jemari Clara, menggenggamnya dengan remasan lembut namun penuh dengan rasa ketergantungan yang baru saja lahir.

Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, Alden merasakan dinding es yang membentengi hatinya runtuh sepenuhnya di satu sisi. Rasa hangat yang asing, yang bukan berasal dari sihir atau api Phoenix, mulai menjalar di dalam dadanya, sebuah benih kekaguman yang teramat dalam yang siap bertumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.

"Terima kasih... Clara," bisik Alden rendah, matanya tidak lagi memancarkan keletihan yang hampa, melainkan sebuah kilasan binar kehidupan yang baru.

Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan wajahnya hingga Clara bisa merasakan hembusan napasnya yang hangat di keningnya. "Tetaplah berada di sisiku. Jangan pernah tinggalkan kapal ini."

"Saya tidak akan pergi ke mana-mana, Alden. Saya adalah istri Anda, dan saya adalah ibu dari anak-anak Anda," jawab Clara dengan senyum tulus paling indah yang pernah Alden lihat di bawah siraman cahaya bulan purnama.

Malam itu, di atas dek pengamatan The Sky Leviathan yang melayang tinggi di antara bintang-bintang, sebuah ikatan batin yang tak kasat mata telah resmi terjalin di antara sepasang suami istri kontrak tersebut.

Badai di langit luar mungkin telah berlalu, namun badai emosional yang baru saja meruntuhkan ketegangan di antara hati mereka berdua baru saja dimulai, membawa serta secercah harapan tentang akhir yang bahagia di ujung cakrawala pelayaran mereka.

1
Al Ranai
semangat kakkk
HaRas_DeHas: Makasih banyak Kak. Jangan lupa follow ya.
total 1 replies
Al Ranai
semangatt kakk, di tunggu kelanjutannya yaaa💪💪😁
HaRas_DeHas: Siap...
total 1 replies
Al Ranai
bagus kakkk ceritanya, semangatt kakkk😊
HaRas_DeHas: Wahhh... makasih banyak Kak sudah mampir. Alhamdulillah, saat sepi pembaca ternyata ada yang mampir dan beri komen. Jangan lupa follow akun saya ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!