Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 9: Retakan yang Mulai Membesar
Di dalam kamar tidur mereka yang remang-remang, keheningan yang dingin terasa begitu pekat. Aldi baru saja selesai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan duduk di tepi ranjang, sementara Kirana sedang merapikan meja riasnya dengan gerakan yang kaku.
"Mas..." panggil Kirana akhirnya, memecah keheningan setelah beberapa menit berlalu. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Aldi dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kamu marah sama aku?"
Aldi mendongak, lalu tersenyum tipis—senyuman yang biasanya menenangkan, namun malam ini terasa agak berjarak di mata Kirana. "Marah untuk hal apa, Kirana?"
"Soal aku yang pulang bareng Rendy sore tadi. Dan... soal kata-kata Mama dan Riko di bawah tadi," bisik Kirana, jemarinya bertautan dengan gelisah.
"Mas tidak marah kalau kamu pulang bersamanya karena alasan cuaca atau efisiensi waktu, Kirana," jawab Aldi lembut, namun pandangan matanya sangat lurus menusuk netra istrinya.
"Tapi Mas kecewa karena kamu membiarkan pria lain masuk ke dalam urusan rumah tangga kita, dan membiarkan ibu serta adikmu merendahkan suamimu sendiri di depan orang luar tanpa kamu cegah sedikit pun."
Wajah Kirana memerah, egonya mendadak tersengat. Rasa lelah dan tekanan dari lingkungan kantor serta hasutan ibunya selama beberapa hari ini mendadak tumpah begitu saja. "Mas, kamu harusnya paham posisi aku! Aku terjepit di tengah-tengah! Mama selalu menuntut ini itu, Riko juga butuh biaya kuliah yang semakin besar. Di kantor, semua orang membicarakan kita karena posisi kamu yang cuma mentok jadi manajer sementara mantan aku kembali sebagai CEO dengan segala kemewahannya!"
Kirana berjalan mendekat ke arah ranjang, suaranya mulai meninggi karena emosi yang tidak stabil. "Aku juga punya rasa gengsi, Mas! Aku lelah setiap kali kumpul keluarga besar atau teman-teman, mereka selalu pamer tentang suami mereka yang beli mobil baru, atau liburan ke luar negeri. Sementara kita?
Uang kamu habis hanya untuk menutup lubang kebutuhan rumah ini tanpa ada sisa untuk kita bisa tampil mewah di depan orang lain! Rendy tadi bahkan menawarkan bantuan untuk karier kamu dan magang Riko, kenapa kamu malah pasang wajah dingin begitu?!"
Aldi terdiam mendengarkan luapan emosi istrinya. Kata-kata Kirana menjadi bukti nyata bahwa wanita yang dulu dicintainya karena kesederhanaannya, kini telah benar-benar teracuni oleh gemerlap duniawi dan gengsi yang semu. Ketulusan yang selama ini Aldi berikan dengan menanggung seluruh beban keluarga Sitorus ternyata dianggap tidak ada artinya hanya karena dia tidak memamerkannya dalam bentuk kemewahan yang mencolok.
Aldi berdiri dari ranjang, menatap Kirana dengan tatapan yang tidak lagi hangat, melainkan dingin dan penuh kekecewaan yang mendalam.
"Jadi, menurutmu semua pengorbananku selama dua tahun ini membiayai gaya hidup keluargamu tidak ada artinya dibanding bantuan instan dari seorang CEO baru?" tanya Aldi, suaranya sangat tenang namun terasa begitu menusuk.
"Bukan gak ada artinya, Mas! Tapi kita butuh status! Kita butuh pengakuan di mata orang lain agar gak terus-menerus diremehkan!" balas Kirana defensif, air matanya mulai menetes karena ego dan rasa frustrasinya sendiri.
Aldi menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
Dia berbalik badan menuju lemari untuk mengambil bantal dan selimut ekstra. "Mas rasa malam ini kita sama-sama lelah untuk berbicara ego. Mas tidur di kamar kerja sebelah dulu. Selamat malam, Kirana."
Aldi melangkah keluar dari kamar mereka, menutup pintu dengan pelan tanpa ada suara benturan keras. Di dalam kamar, Kirana menjatuhkan dirinya ke ranjang, menangis sesenggukan. Dia tidak menyadari bahwa malam itu, satu persatu utas benang pernikahan yang ditenun Aldi dengan ketulusan rahasianya, telah mulai terputus, dan jarak yang terbentang di antara mereka kini sudah terlalu lebar untuk dijembatani kembali dengan mudah.