Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
“Oma… Oma! Key pulang!” teriak Keysa sambil berlari, napasnya terengah-engah dalam kegembiraan yang tak tertahankan.
Margareth mengerutkan kening, suaranya penuh kekhawatiran yang nyata. “Cucu oma dari mana saja kamu? Kenapa tadi nggak tunggu sopir dulu? Kalau sampai diculik, nanti oma nggak punya cucu lagi, huh?”
Keysa cuma nyengir, lalu menggandeng lengan Margareth erat. “Key ke kantol papa, oma. Lagi cali ictli buat papa, bial nda cendilian telus dia. Hampa kali hidupnya, nda ada walnanya.”
Margareth duduk perlahan di sofa, mengusap rambut cucunya dengan lembut sambil matanya menyiratkan harap dan ragu. “Oh ya? Terus kamu sudah nemu?” tanya Margareth antusias.
Keysa mengangkat bahu, tapi wajah cerianya mendadak meredup. Arya, yang tadi ada di dekat situ, cuma menggeleng pelan lalu pergi naik ke kamar, meninggalkan suasana yang tiba-tiba jadi berat.
“Udah, oma, aunty nya cantik cih, tapi cepeltinya cucah. Cepelti kulang teltalik cama papa” suara Keysa melemah, kata-katanya mengandung keputusasaan yang tersembunyi.
Margareth menatap cucunya penuh curiga. “Kenapa susah? Kamu sudah tanya langsung sama orangnya?”
Keysa menggeleng pelan, pandangannya sayu. “Belum, oma, tapi lihat aja, papa itu pilih-pilih cepelti kain lap kotol, kaku kali lah tuh olang. Nda bicanya layu-layu pelempuan"
Margareth menghela napas, seolah menelan segala resah dalam hati yang mulai runtuh. Di balik senyuman cucunya yang polos, ada jarum-jarum ketidakpastian yang menusuk lebih dalam dari yang bisa ia bayangkan. Putranya dari dulu memang kaku, tidak bisa mendekati perempuan.
"Kamu aja yang rayu aunty nya. Nanti papa biar jadi urusan oma" ucap Margareth.
“Benalkah? Nanti Oma pakca-pakca Papa ya?” tanya Keysa.
Margareth mengangguk-angguk antusias, mata bulatnya berbinar cerah seperti lampu disco. Dia tak bisa menahan senyum lebar. Ia mengulurkan tangan kanannya ke depan.
“Deal!”
Keysa langsung menepuk tangan Oma-nya dengan penuh semangat.
Mereka bertos ria ala cucu dan nenek yang sedang bersekongkol itu terdengar keras di ruang keluarga. Keduanya tertawa kecil, seperti dua penjahat kecil yang baru merencanakan aksi hebat.
“Key mau ke kamal dulu, Oma. Mau menyucun lencana buat becok, bial belhasil layu aunty-nya,” ucap Keysa dengan logat khas anak kecilnya yang masih belepotan. Ia melompat turun dari sofa dan langsung berlari kecil menuju tangga.
Margareth menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. “Anak itu ada-ada aja tingkahnya”
Keysa menaiki tangga dengan penuh hati-hati, satu tangan memegang pegangan tangga, satu tangan lagi memeluk boneka beruangnya erat-erat. Langkahnya kecil tapi penuh tekad, seolah sedang mendaki gunung untuk mencari harta karun. Sesekali ia berhenti, menoleh ke bawah dan melambai ke Oma-nya.
“Jangan lupa ya Oma! Papa halus luluh!” serunya sebelum menghilang di belokan tangga.
Margareth hanya bisa tertawa pelan sambil mengusap dadanya. “Anak ini, benar-benar mewarisi sifat mamanya" ucapnya sambil mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes.
Di dalam kamarnya yang sudah disulap menjadi markas kecil, Keysa langsung duduk di lantai karpet. Ia mengeluarkan kertas warna-warni, crayon, dan stiker dari laci. Mulailah proyek besar, membuat Rencana Rahasia Rayu Aunty Alya. Ada gambar hati, bunga, dan stick figure yang mirip Alya, meski kepalanya lebih besar dari badannya
Sementara itu, Margareth masih duduk di sofa ruang keluarga, tersenyum-senyum sendiri. Dalam hati ia berpikir bahwa mungkin memang sudah saatnya Arya memiliki pasangan. Dan kalau alatnya adalah cucu kesayangannya yang imut ini, kenapa tidak?
Tak lama kemudian, suara langkah kaki Keysa kembali terdengar dari tangga. Kali ini ia turun dengan membawa selembar kertas yang penuh coretan warna-warni.
“Oma lihat! Ini cudah Key buat. Becok kita kacih ke Papa!” katanya bangga sambil menunjukkan masterplannya yang penuh hati dan tulisan “Alya \= Mama Baru” dengan huruf miring-miring lucu.
Margareth menerima kertas itu sambil tertawa lepas. “Oke, besok Oma bantu eksekusi. Tapi jangan sampai Papa tahu kita berdua yang dalang ya.”
Keysa mengangguk serius, jari telunjuknya diletakkan di depan bibir. “Rahasia!”
Dua konspirator kecil ini kembali tos ria untuk kedua kalinya. Sementara di lantai atas, Arya yang baru selesai mandi tak sengaja mendengar sebagian percakapan hanya bisa mengusap wajahnya lelah.
“Kenapa rasanya aku ini lagi dikepung ya?” gumamnya pelan sambil tersenyum kecil.
Rumah yang biasanya sepi, kini penuh dengan rencana-rencana gila dari seorang nenek dan cucunya yang tak kenal lelah. Dan entah kenapa, Arya merasa… tidak terlalu keberatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kembali ramai seperti pasar malam. Lampu makan menyala hangat, aroma masakan Oma Margareth menguar nikmat, dan yang paling dominan adalah suara Keysa yang tak pernah kehabisan bahan cerita.
Seperti biasanya, gadis kecil itu menjadi pusat perhatian. Mulutnya mengunyah nasi dan lauk sambil terus berceloteh tanpa henti, seolah ada kuota bicara yang harus dicapai sebelum tidur.
"Becok, cetelah cekolah Key ke kantol papa lagi ya," ucap Keysa santai sambil mengunyah kentang goreng dengan mulut penuh.
Arya yang sedang menuang air langsung berhenti. Ia menatap putrinya dengan pandangan curiga. “Tidak usah. Kamu langsung pulang aja sama pak Giman,” larangnya tegas.
Ia tahu betul apa tujuan putrinya. Kalau terus di biarkan bisa kacau suasana di kantornya.
Keysa langsung meletakkan sendoknya. Wajahnya berubah dalam sekejap. Mata bulatnya dibuat sedih maksimal, bibirnya manyun, dan bahunya ditekan ke bawah seolah sedang menanggung seluruh beban dunia.
“Papa cudah nda cayang Key lagi ya?” tanyanya dengan suara lemah, hampir bergetar. “Nda mau ketemu banyak-banyak cama Key?”
Drama level Oscar langsung dimainkan sempurna. Keysa bahkan menambahkan aksi mengusap mata dengan punggung tangan, meski tidak ada air mata. Oma Margareth di sebelahnya pura-pura sibuk dengan makanannya, tapi sudut bibirnya sudah naik tinggi menahan tawa.
Arya menghela napas panjang dan sabar. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan. Ini anak, kapan belajar aktingnya? batinnya.
Setiap kali Keysa memasang wajah sedih seperti ini, pertahanan Arya langsung ambruk. Hatinya langsung luluh seperti es krim di bawah terik matahari.
“Key, papa tetap sayang kamu. Tapi kantor papa bukan tempat bermain, di sana banyak orang kerja,” bujuk Arya dengan suara lembut.
Keysa tidak menyerah. Ia menundukkan kepala semakin dalam, suaranya semakin kecil dan pilu, “Tapi Key kangen papa, Key mau ketemu Aunty Alya lagi, bial dia jadi teman Key…”
Serangan telak.
Arya diam beberapa detik. Ia melirik ke arah ibunya, namun margareth hanya mengendikkan bahunya acuh.
“Baiklah sayang” jawab Arya dengan nada pasrah yang sudah sangat familiar.
Keysa langsung mengangkat kepala. Sedihnya hilang dalam dalam nol koma satu detik. Matanya berbinar cerah seperti lampu mobil, senyumnya mengembang lebar sampai giginya kelihatan semua.
“Yeee! Makacih Papa! Papa paling baik cedunia!” serunya sambil turun dari kursi dan memeluk kaki Arya dengan dramatis.
Oma Margareth akhirnya tak tahan dan tertawa kecil. “Kamu ini, Ar, tiap hari kalah sama anak sendiri.”
Arya hanya bisa tersenyum miris sambil mengelus rambut Keysa. “Iya, mom. Aku tidak bsia melihat dia sedih"
Keysa yang masih memeluk kaki papanya menengadah dengan wajah polos, “Becok Key janji nda nakal kok, nda ganggu-gangu olang kelja. Key cuma mau kacih culat ke aunty Alya"
Arya langsung memijat pelipisnya. “Surat apa itu?”
“Lahacia, Papa nda boleh baca!” kata Keysa cepat sambil meletakkan jari di depan bibir.
Meja makan yang tadinya tenang, kembali riuh oleh tawa Oma Margareth dan celotehan Keysa yang sudah kembali normal. Arya hanya bisa pasrah sambil melanjutkan makan malamnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, besok di kantor apa lagi yang akan terjadi.
Misi cari mama baru yang di lakukan putrinya sepertinya baru memasuki babak yang jauh lebih serius. Dan Arya, sang ayah sekaligus CEO, rupanya tidak punya senjata ampuh untuk melawan putrinya.